
"Gadis itu... pasti sangat penting bagimu, ya."
Aku tidak tau kenapa aku mengatakan itu.
Aqua mengangguk lembut. Sejujurnya sulit membayangkan seorang Aqua bisa melakukan hal semacam itu pada perempuan.
"Kamu pasti menyadarinya. Dia adalah malaikat, namanya... panggil saja Mika," ucap Aqua setelah jeda sesaat.
"Mika... nama yang cantik. Siapa dia bagimu?" tanyaku.
Ah, apa aku tidak seharusnya menanyakan itu?
Benar saja, Aqua tidak mengatakan apapun. Dia hanya tersenyum saja. Setelah mengecup pelan punggung tangan Mika sang malaikat, Aqua berjalan ke arahku.
"Sudah waktunya, mari pergi."
Yah, bukannya aku ingin dia mengatakan hubungan mereka padaku yang orang luar. Tapi... sedikit saja... sedikit saja aku ingin dia lebih terbuka padaku.
"Baiklah."
Kami berjalan berdampingan menuju ruang makan. Tak ada percakapan di antara kami setelah keluar dari kamar Mika. Aqua memberiku sebuah kunci, jadi aku bisa mengunjungi Mika kapanpun aku mau. Bukankah Aqua terlalu mempercayaiku? Apa dia tidak memikirkan kemungkinan aku akan menyelakai gadis itu?
CKLEKKKKK
Pintu ruang makan terbuka. Di sana, sebuah meja panjang dan 8 kursi yang mengelilinginya telah di tata rapi. Peralatan makan, minum, tak lupa dengan hiasan juga telah tersusun simetris.
Kursi paling ujung dalam dan 2 kursi berhadapan yang ada di kiri dan kanan kursi itu kosong. Kursi paling ujung luar telah diduduki pemuda tampan rambut merah. 2 kursi bersebelahan di kanan pemuda itu diduduki wanita beastskin kembar. Dan 2 kursi bersebelahan di kiri pemuda itu diduduki gadis yang tadi mengantarku dan anak laki-laki.
"Fufufu... kamu mungkin bingung kenapa kami menghindari kursi itu. Di rumah ini, semua ada pada tempatnya. Kursi kosong itu sudah ada pemiliknya," kata wanita beastskin rambut pink.
Dia seperti bisa membaca pikiranku saja.
"Siapa pemiliknya?" tanyaku.
Belum sempat wanita tadi menjawab, Aqua sudah menarik sedikit kursi paling dalam dan duduk dengan tenang. Tangan kirinya menepuk-nepuk bagian meja depan kursi kirinya. Sepertinya dia ingin aku duduk disana.
Melihat yang lain tidak protes, kuputuskan duduk dulu untuk makan.
"....... Apa kursi didepanku adalah kursinya Mika?"
Yang lain tampak terkejut. Aku melupakan fakta bahwa yang tau aku sudah bertemu Mika hanya Aqua.
"Benar. Kursi itu kursinya Mika," jawab Aqua.
"Jadi begitu..."
Semua ada pada tempatnya, huh. Biasanya kursi disebelah pemilik mansion adalah kekasih atau pasangannya. Meski cuma pertunangan politik, aku tetap tunangannya. Tapi Mika pasti... semacam kekasih Aqua, kan?
Aneh rasanya melihat tubuhku menjalin kasih dengan target Tersembunyi. Semoga semua ini tidak menimbulkan masalah nantinya.
"Sebelum mulai makan, kenapa kita tidak memperkenankan diri dulu?" tawar gadis di sebelah anak laki-laki.
KLIINGGG
Aqua membunyikan bel di depannya. "Boleh juga. Sambil menunggu makanannya datang."
"Baiklah, mari kita memperkenalkan diri melingkar! Mulai dari aku!" ucap gadis itu.
Tangannya terulur ke dada, "Namaku Neelima, panggil saja Eli. Kamu pasti belum pernah melihat orang yang sepertiku. Itu karena aku adalah ras kuno yang hampir punah, Kynlaus. Secara teknis kami abadi, tapi kamu tidak benar-benar tidak bisa mati."
Neelima... Eli... nama yang cantik. Kynlaus!? Kukira mereka hanya ada di dongeng. Bahkan dalam game, Kynlaus hampir tidak pernah disebut. Jadi itu alasan kulitnya biru.
"Na-namu! Ah!! Nama... namaku... Pietro. Pietro Chalcedony..."
Wajah Pietro memerah. Lidahnya tadi kepleset. Pasti dia sangat malu.
Imut! Anak ini imut banget!! Pietro bukan anggota Raven, dia terkenal berkat dirinya sendiri. Kenapa sekarang dia bersama Aqua? Apa secara tidak sengaja... Aqua bertemu dan melihat potensinya?
"Aku Feirlyx. Feirlyx Harley. Yang lain memanggilku Lix, kamu juga boleh begitu. Karena kamu akan memasuki Akademi Mackenzie sebagai bangsawan, sebaiknya kamu mengingat namaku baik-baik karena aku seniormu!" ucap pemuda merah itu.
Tunggu dulu! Apa!? Feirlyx!? Informan terkenal (dari game) Fox yang itu!? Pertemuan Aqua dengan Fox harusnya saat di Akademi. Semuanya benar-benar berubah.
Wanita kembar di sebelah Feir... Lix menatapku agak aneh.
"Kami adalah putri ras fenrir yang terlahir kembar. Namaku Elvira dan dia adikku Elvina. Apa yang harus kukatakan ya... hmm... ah, mungkin ada baiknya kamu tau ini. Kami adalah profesor pengajar dari Akademi Mackenzie," kata wanita rambut ungu lembut.
"Senang bertemu denganmu!!" sambung wanita disebelahnya.
Fenrir!?
Di dunia ini ada yang namanya ras beastskin, yaitu ras manusia setengah hewan. Kebanyakan orang, terutama manusia menganggap semua makhluk setengah hewan adalah beastskin. Tapi itu tidak benar, nyatanya ada tingkat yang lebih tinggi lagi.
⟨ Spirit Beast ⟩
Seperti namanya, ras ini merupakan ras setengah spirit dan beast. Tentu saja levelnya berbeda dengan beastskin. Spirit adalah makhluk yang menghasilkan mana dan alasan sihir bisa ada. Meski mereka tidak bisa turun ke Demetria langsung, mereka masih bisa membentuk wujud lain dan tinggal di dunia.
Wujud itu dibagi 3, yaitu "manusia", "hewan" dan "tumbuhan". Wujud manusia mereka adalah leluhur dari Saintess dan Pahlawan. Wujud hewan adalah leluhur spirit beast. Wujud tumbuhan adalah leluhur Dryad. Masing-masing memegang kekuatan sihir luar biasa dalam diri mereka. Namun resonansi dengan "Spirit Beast" lebih tinggi sehingga ras itu memiliki kekuatan dan kutukan yang besar.
Saat ini hanya diketahui beberapa subras yang termasuk spirit beast. Contohnya Kitsune, Fenrir, Dragonman, Nekomata, Unicorn, Pegasus, Moon Rabbit, Phoenix, dsb.
Aku tidak menyangka akan bertemu yang lain selain Vashlana Magiya.
"Tapi... Elvira Elvina? Kayak pernah dengar... tapi dimana?" batinku.
Sekarang giliranku memperkenalkan diri.
"Namaku Rubylia Arsilla, tunangan Pangeran Aquamarine. Pertunangan kami adalah pertunangan kontrak, jadi tolong jangan salah paham. Sebagai balasan Aqua membantuku menyelesaikan masalah di Kekaisaran, aku akan berusaha membantunya menyelamatkan gadis malaikat itu."
Yang lain menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan. Rasanya mereka ingin mengatakan sesuatu, namun tidak tega atau tidak enak mengatakannya. Ada apa ya?
TOK TOK TOK
Pintu diketuk tiga kali, setelah Aqua mengizinkan, para pelayan datang dengan berbagai makanan. Semua itu di tata rapi di atas meja. Tidak ada dari mereka yang tidak menggugah selera. Semuanya terlihat sangat lezat.
Yang anehnya... ada 5 pelayan yang masuk. Tapi... mereka semua tidak punya wujud fisik. Seperti bayangan yang dipakaikan baju pelayan. Ini sedikit menggangguku...
Setelah berterimakasih pada Heolstor Erebus, Aqua menyantap makanannya. Yang lain mengikuti dengan baik. Mereka semua makan dengan hati ringan. Aqua, Lix, Elvira dan Elvina terlihat begitu elegan. Sedangkan Eli dan Pietro terlihat kesulitan makan memakai garpu dan pisau, jadi mereka memojokkannya.
Suasana makan malam ini lebih baik dari yang kukira. Meski tengah makan, kami mengobrol ringan.
"Jadi kalian saling mengenal karena semuanya berhubungan dengan Akademi?" tanyaku.
Aqua menjawabku sambil memotong daging steaknya. "Benar. Aku, Eli dan Pietro akan masuk ke Akademi tahun ini, kami sudah saling kenal sejak lama. Kak Vira dan Kak Vina adalah guru yang baik bagi kami, tak terasa semakin kenal kami semakin akrab."
"Dan Lix..." Aqua berhenti berbicara sembari melirik Lix agak malas.
"Kenapa kau melihatku seperti itu!?" kesal Lix.
"Ha~ahh... Aqua dan aku sudah saling kenal sejak kecil. Dia menolongku saat aku di gang oleh kumpulan bajingan," jawabnya.
Jadi ada kejadian seperti itu ya. Semuanya memang tidak selalu berhubungan dengan game. Bahkan tanpa campur tanganku, alur game tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Obrolan ringan itu terus berlanjut bahkan saat makan malam telah usai. Tak seperti dugaanku, ternyata mereka cukup supel. Kak Elvira dan Elvina memang sedikit menyebalkan... mereka juga mengingatkanku pada kakak (perempuan)ku.
Yang paling membuatku nostalgia adalah Aqua dan Neelima. Saat mereka berdua saling melempar ejekan... aku seperti...
Melihat kembali saat kakak dan Kak Kirana bertengkar karena hal sepele.
"........"
Kakak dan Kak Kirana... sekarang gimana kabarnya ya...