
"WAAAAAARRRRRRHGGGHHHHH!!!!!!!!!!"
Bersamaan dengan jeritan yang keluar dan mata yang menangis darah, simbol yang ada di mata kiri Aqua berubah. Simbol yang tadinya berbentuk kepala naga seakan bergerak dan membentuk lingkaran sihir kecil. Dua benda hitam panjang keluar dari kening Aqua.
Bola mata kanan biru cantiknya jadi mirip seperti mata kucing. Kedua mata cantik itu tidak berwarna putih lagi, melainkan hitam legam segelap malam. Kukunya meruncing dan taringnya menajam seolah bisa merobek apapun.
Mana yang tadinya menolak masuk, dihisap dengan kecepatan luar biasa.
BRAAAAKKKK
Aqua melemparkan batu besar yang menimpa Citrine hanya dengan kekuatan fisik. Sang pemilik cakar menarik cakarnya, Aqua bisa melihat bahwa yang menusuk dada kakaknya adalah anjing raksasa berkepala 3, Cerberus.
Anak itu menggendong kakaknya di tangannya dan menidurkannya di belakang. Dia mengeluarkan daggernya, lalu mengalirinya dengan mana. Dalam kondisi dimana kewarasannya sedang dipertanyakan, dia menatap Cerberus dengan hawa membunuh luar biasa.
Seperti sedang mengamuk, Aqua menyerang Cerberus membabi buta. Cerberus tentu juga menyerangnya, namun setiap luka yang diterima Aqua, separah apapun itu langsung sembuh saat itu juga. Aqua sama sekali tidak menggunakan sihir. Dia mengalokasikan seluruh mana yang masuk dengan cepat itu ke sihir pemulihan. Dia menyerang Cerberus murni dengan fisik luar biasa saja.
Kondisi Aqua sekarang sulit dijelaskan. Sembari menangis dan meraung-raung, anak itu mengamuk dan menyerang Cerberus hanya dengan kegilaan. Tak ada teknik maupun strategi. Hanya serangan yang murni dari ***** membunuh saja. Meski begitu, entah kenapa pertarungan terlihat sengit. Padahal Cerberus adalah monster rank SSS dengan level 700-an.
Aqua bukan sedang mengalami kerasukan atau sejenisnya. Mungkin akan lebih tepat kalau dibilang segelnya lepas.
"Waaaaaaarrrrrrgggggghhhhhh!!!!!!"
Badannya bergerak sempoyongan, nafasnya berat, matanya sangat basah, kondisinya sekarang sangat memprihatikan. Seiring berjalannya pertarungan, bukan hanya taring, cakar dan tanduk, tubuhnya semakin dipenuhi sisik berwarna silver cantik yang berlumuran darah. Kalau sudah begini, hanya ada 3 kata yang bisa menjelaskan situasinya.
< Kebangkitan Sang Naga >
Naga adalah makhluk legendaris yang dari lahir sudah jauh lebih kuat dari yang lain. Bayi naga saja sudah berlevel 500-an. Apalagi naga dewasa, True Dragon yang levelnya bisa lebih dari 2000. Meski sangat jarang ditemukan, keturunan naga juga bisa menjadi naga sepenuhnya selama memenuhi kondisi tertentu. Salah satunya adalah sinkronisasi total dengan darah naga.
Memang tidak mustahil keturunan di Kekaisaran Levana bisa menjadi naga. Namun kemungkinannya sangat rendah, yaitu kurang dari 2% saja. Dan itu hanya berlaku untuk pemilik Dragon's Eye.
Darah naga, penyembuhan Elf, berkah peri, dengan semua itu, saat ini Aqua ada di kondisi terbaiknya. Tidak... Aqua masih kekurangan dua hal, Rasionalitas dan akal sehat. Seperti halnya anak kecil yang mengamuk dan menghancurkan barang-barang, Aqua hanga menyerang membabi-buta tanpa peduli apapun. Terus menyerang sampai tubuhnya lelah atau musuhnya mati.
Pertarungan sengit itu sudah berakhir. Seorang anak laki-laki yang seluruh tubuhnya berwarna biru darah Cerberus berdiri di atas mayat anjing mengenaskan itu. Tanduk dan sisiknya mulai menghilang. Taring dan cakarnya kembali seperti semula. Begitu juga dengan matanya.
BRUKKK
Anak itu ambruk di atas mayat Cerberus. Fisik dan mentalnya sudah lelah dengan semua kejadian itu.
Sementara itu, diberbagai tempat ...
Kerajaan Vittacelar
"Dengan ini, aku Turquoise Caller El Vittacelar menyatakan bahwa Feirlyx si Ashura dan Yue si Iblis dinyatakan bersalah karena pembunuhan keluarga kerajaan!! Sebagai hukuman telah membunuh kedua adikku, kalian berdua dihukum mati!!!!"
"Wooahhhh!!!!!!!"
"Hukum mereka, Yang Mulia!!"
"Balaskan dendam Tuan Putri dan Pangeran kedua!!!!!"
Kerajaan sedang heboh dikarenakan Turquoise kembali tanpa membawa Citrine dan Aqua. Baji*gan itu menuduh Lix dan Yue sebagai pelaku pembunuhan. Tentu Lix dan Yue menyangkal keras tuduhan salah sasaran itu. Tapi siapa yang akan lebih percaya orang asing daripada pangeran kerajaannya sendiri?
"Baji*gan kau!!!! Padahal mereka itu adikmu sendiri!!!!" jerit Lix sangat marah. Anak itu belum pernah semarah itu sebelumnya, bahkan saat hidupnya ada dititik terendah sekalipun.
"Aqua!! Aqua pasti akan membunuhmu!!! Aqua tidak akan mati semudah itu!!!!!" jerit Yue sama marahnya.
Turquoise memandang rendah Lix dan Yue yang diborgol dan dituntun ke tempat pemenggalan. Dia berusaha menahan tawanya yang siap keluar kapan saja.
"Ku..ku..ku... ha~ah... Aqua? Akan membunuhku? Ahahahaha... lelucon apa yang kau katakan?! Mungkin dia memang bisa selamat setelah jatuh ke jurang. Tapi memangnya dia bisa selamat melawan monster di lantai bawah dengan kemampuannya yang sekarang?!!"
"Itu!!!"
Lix sendiri juga sadar itu. Meski begitu dia tetap mempercayai Aqua, pemimpin yang dia pilih.
"Berbicara dengan orang yang akan mati hanya buang-buang waktu. Lakukan!"
Dengan satu kata dadi Turquoise, Lix dan Yue di dorong ke Guillotine. Para Elf yang menonton bersorak marah pada pembunuh putri dan pangeran yang mereka sayangi. Tak peduli mau membantah sebanyak apapun, tak ada yang mendengar Lix dan Yue.
Kepala mereka kini telah ada di Guillotine, bersiap untuk dipenggal.
"Mulai hitungannya!" seru Turquoise.
"1!!!"
Lix berdecak kesal karena tidak bisa melakukan apapun. Saat itu dia bersumpah, kalau dia masih hidup nanti, dia pasti akan menghancurkan Turquoise dan siapapun yang membuat temannya menderita.
"2!!!"
Yue diam tak bergerak. Bukan karena putus asa, diamnya Yue itu lebih berbahaya dari yang biasanya. Anak itu sudah siap menghancurkan seluruh Kerajaan Vittacelar sekarang juga. Meski samar-samar, Yue tau dia memiliki kekuatan tersembunyi dalam dirinya yang berbahaya kalau dibiarkan keluar, jadi dia berjanji tidak akan membiarkannya keluar. Tapi anak itu bermaksud melanggar janjinya sekarang.
"3-"
CRIIIIIIIINGGGGG
Belum sempat hitungan ketiga di ucapkan. Sebuah cahaya yang sangat menyilaukan keluar didepan Guillotine. Orang lain mungkin tidak tau apa yang terjadi. Namun seorang Elf pasti tau, apa yang ada di depan Guillotine itu.
Bahkan diantara ras Elf sekalipun, melihat peri tingkat tinggi sangat jarang terjadi. Tapi mereka semua melihatnya sekarang. Peri angin tingkat tinggi, Zephyr yang memandang mereka semua dengan amarah. Tanpa mengucapkan apapun, Zephyr mengayunkan tangannya dan membawa Lix dan Yue bersamanya. Mereka menghilang dengan cepat entah kemana.
"A-apa yang barusan terjadi?!"
"Kenapa peri tingkat tinggi datang?!!"
"Bukan itu! Kenapa peri menolong pendosa?!!"
"Sebenarnya kenapa?"
Sementara rakyat sedang heboh sendiri, Turquoise membanting meja karena marah dan beranjak ke istana.
"Kenapa!? Sebenarnya kenapa?!! Kenapa semuanya memihak Citrine dan Aqua!!! Aku itu Pangeran pertama dan raja selanjutnya, loh!!! Harusnya peri memihakku!!! Tapi apa-apaan tatapan marah peri itu?!!!"
Medan Perang, Benua Melayang
Wanita rubah pirang mendapat sebuah surat darurat dari Menara Sihir. Setelah membacanya singkat, wanita itu merobeknya hingga menjadi potongan-potongan kecil.
"Omong kosong!!" ucapnya kesal.
Didalam surat tertulis bahwa Pangeran Kedua Kerajaan Vittacelar telah tewas saat penjelajahan dungeon di tangan iblis.
"Sera! Bagaimana keadaan Nona Arsilla?" tanya wanita itu pada wanita lain didepannya.
"Nyonya Vashlana... Nona Rubylia Arsilla hidup seperti biasa di bawah siksaan ibu tirinya."
"Dia masih hidup..." gumam Ashlan lega.
"Maaf?"
"Murid nakalku... dia masih hidup. Dalam pertunangan kontrak darah vampir, kalau salah satunya mati, yang lain akan ikut mati. Jadi selama Nona Arsilla masih hidup, kita bisa yakin bahwa bocah itu juga masih hidup."
"Murid... Sang Pangeran Aquamarine? Beliau masih hidup? Syukurlah..."
"Ya, dia masih hidup. Tapi mungkin itu tidak lama. Dungeon yang baru terbentuk itu... ciptaan si jal*ng itu. Pasti banyak monster kuat disana. Aku harus segera menyelesaikan perang ini dan menjemput bocah nakal itu."
"Baik, nyonya!"
Mansion Keluarga Arsilla
"Bersih-bersih begini saja kamu tidak bisa!!!! Lalu apa yang bisa kau lakukan?!!" ucap seorang wanita sambil menendang gadis kecil.
"Maafkan saya... Ibu..."
Gadis itu menunduk tanpa ekspresi.
Wanita itu menjambak rambut gadis kecil itu. Dia juga mencekram pipinya kasar.
"Asal kau tau ya!! Aku itu selalu membenci wajah tanpa ekspresimu itu!!!"
"Tolong maafkan saya."
Setelah berdecak kesal, wanita itu membanting sang gadis ke dinding. Tubuh kecilnya gemetar, banyak lebam dimana-mana. Tak ada yang akan menyangka kalau gadis itu adalah nona pertama keluarga Arsilla.
Wanita itu menarik gadis itu dan mengurungnya di dalam lemari. Meski gadis itu terus memberontak tidak mau dikurung, wanita itu tidak peduli dan mengunci lemarinya.
"Kalau ada yang mau kau salahkan, salahkan ayahmu yang pergi ke medan perang itu atau tunangan tidak bergunamu!! Dasar monster!!!"
BRUKKK
Lemari ditutup dengan kasar. Hanya kegelapan yang menemani gadis itu. Terlihat banyak goresan di dalam lemari, sepertinya sekarang bukan kali pertama gadis itu di kurung. Seperti sudah biasa dengan kegelapan, gadis itu diam dengan tenang dan meringkuk memeluk kakinya. Walau tanpa ekspresi, bukan berarti dia tak memiliki perasaan. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
"Aqua..."