
"Apa tidak ada yang terlupakan?" tanya Ashlan cemas.
"Tenang saja master. Aku sudah membawa semua yang kubutuhkan!" jawab Aqua percaya diri.
Hari ini adalah hari perpisahan Ashlan dan Aqua. Tentu saja bukan berarti mereka tak akan bertemu lagi. Ashlan harus mengurus banyak dokumen dan penelitian terkait Raja iblis, dia sudah tidak sesenggang itu untuk menemani Aqua.
"Baiklah. Kabari aku jika kamu butuh bantuan. Aku percaya padamu, Aqua!"
Ashlan memutuskan akan berhenti mengkhawatirkan Aqua dan percaya pada murid kebanggaannya.
"Pergilah ke Kerajaan Vittacelar! Minta mereka menjamin identitasmu dan berlatihlah sihir kegelapan dengan pria bernama Alesta. Dia adalah penyihir spesialis kegelapan yang bisa dipercaya."
Perkataan Ashlan semalam terlintas dipikiran Aqua.
"Sepertinya aku tidak bisa menghindari takdir pergi ke sana, huh."
"Jangan lupa, kembali saat usiamu 15 tahun. Kita sudah membuat janji dengan tunanganmu bukan?"
"Baik, master. Kalau begitu… aku berangkat!"
Aqua mencium tangan gurunya dan terbang sambil melambaikan tangan pada gurunya. Ashlan menghela napas dan ikut melambaikan tangannya.
Setelah Aqua tak lagi kelihatan, ekspresi Ashlan mendadak serius. Dengan satu jentikan, bajunya berubah menjadi pakaian kerjanya. Ashlan langsung teleport ke menara sihir untuk memulai pekerjaannya.
Sihir teleportasi merupakan sihir elemen kegelapan. Ashlan tak punya berkah elemen kegelapan, jadi dia menggunakan kertas teleportasi yang harganya cukup mahal. Aqua memiliki elemen itu, namun dia belum bisa menggunakannya karena tak memahami prinsipnya.
Aqua terbang melewati hutan sihir, monster tak menjadi masalah untuknya. Dia sudah terbiasa dengan monster dari hutan sihir. Setelah terbang cukup lama, Aqua akan beristirahat dan tiduran di pohon. Itu terjadi berulang kali sampai Aqua keluar dari hutan.
Pemandangan Padang rumput yang luas terbentang di depan Aqua. Sudah lama dia tidak melihatnya.
"Sudah 3 tahun, ya."
Aqua memutuskan akan berjalan saja mulai dari sana. Hal ini karena sihir terbang sendiri terbilang cukup sulit. Jika Aqua tidak ingin menarik perhatian, maka berjalan adalah pilihan yang tepat.
Sambil berjalan dia menikmati pemandangan yang membuatnya bernostalgia itu. Meski ada beberapa monster disekitarnya, itu hanyalah monster rank rendah seperti slime. Sesekali Aqua menoel-noel slime itu dengan jarinya. Dia tertawa sendiri dengan tingkahnya.
"Kalau cuma jalan gini aja, bisa-bisa bulan depan aku baru sampai."
"Ayo kita percepat sedikit."
Aqua menambahkan sihir angin di kakinya dan kecepatan bertambah drastis. Hembusan angin yang menerpa wajahnya membuat rambut coklatnya terkibar kebelakang seperti kobaran api. Dia menikmati semua itu sepenuh hati.
Di tengah perjalanannya, Aqua melihat sebuah kereta kuda sedang diserang oleh kumpulan goblin. Mungkin terdengar kejam, tapi gurunya pernah mengajarinya agar tidak terlibat dengan orang yang diserang oleh monster dijalan.
"Aqua, monster biasanya tidak menyerang orang tanpa alasan. Biasanya mereka menyerang orang yang memasuki wilayahnya atau karena orang itu mencari masalah duluan. Tapi yang paling berbahaya adalah, monster itu dikendalikan atau dimanipulasi agar menyerang target. Karena itu, jangan bersikap sok pahlawan. Kamu bukan pahlawan, tak perlu berusaha menyelamatkan semua orang. Bisa saja karena sifat seperti itu, kamu justru membahayakan orang lain. Namun bukan berarti kamu tak boleh menolong orang. Amati dulu! Apakah menolong mereka adalah tindakan yang tepat atau tidak."
Nasihat gurunya terlintas dibenak Aqua.
"Bahkan tanpa dibilang aku juga tau."
Aqua menggunakan sihir untuk membuat tubuhnya tak terlihat, itu bisa dilakukan dengan membiaskan cahaya.
Di dekat kereta ada party tentara bayaran yang melindungi kereta dari goblin. Aqua memastikan level mereka dengan mata kirinya. Sekarang Aqua memanjangkan poninya hingga bisa menutupi mata kirinya, jadi dia tak perlu memakai penutup mata lagi. Sejujurnya Aqua sudah berharap tinggi melihat tentara bayaran pertama yang dilihatnya begitu keluar dari hutan.
Tapi anak itu kecewa.
"Cuma party rank rendah dengan level dibawah 50, huh…" keluh Aqua.
"Padahal mereka terlihat sudah agak tua. Tapi minim pengalaman…"
Aqua diam memperhatikan mereka. Kerja sama party itu buruk. Tank tidak berusaha melindungi garis belakang dan justru takut maju.
"Pilih salah satu! Mau melindungi atau kabur! Jangan maju mundur maju mundur."
Aqua geram sendiri melihat tingkah mereka. Bukan hanya tank yang saja yang buruk. Assassin mereka tak bisa mencari kesempatan, marksman yang terlalu maju dan swordman asal ayun pedang.
"Gawat nih… meskipun lawan mereka cuma goblin level 20 an. Tapi jumlah goblin itu cukup banyak dan kerjasama mereka bahkan lebih bagus. Apa karena aku terlalu terbiasa bertemu orang kuat seperti master dan temannya, mereka jadi kelihatan seperti bayi?"
Lama-kelamaan Aqua tak tahan menonton mereka. Penumpang kereta kuda ketakutan, tapi pelindungnya tak bisa diandalkan. Aqua kasihan melihatnya, dia mengambil batu di sekitarnya dan melemparkannya ke para goblin itu. Hanya dengan satu tembakan dari Aqua, kepala goblin-goblin itu pecah dan mati seketika.
Mereka tak bisa bergerak karena takut terkena serangan batu itu. Tanpa mereka sadari, sudah tak ada lagi goblin yang bertahan hidup.
Aqua meninggalkan mereka begitu saja dalam kondisi kebingungan. Jika Aqua menampakkan diri, mereka pasti akan meminta Aqua melindungi mereka dan lain sebagainya.
"Itu akan jadi merepotkan."
Aqua kembali bergerak dengan cepat menuju Kerajaan Vittacelar. Beberapa kali dia berhenti untuk menolong orang diam-diam. Sebenarnya dia juga tak mau repot-repot menolongnya. Tapi hari nuraninya menolak.
Hari sudah malam, Aqua tidur di pohon dekat tanah bebatuan. Dia membuat sihir penghalang kecil untuk melindungi diri dari serangan tiba-tiba.
"Master… sekarang pasti sedang sibuk. Apa yang sedang master lakukan ya…"
Ucap Aqua tepat sebelum matanya tertutup.
"…."
"Ong…"
"Tolong!!!!!"
Sebuah jeritan membangunkan Aqua. Dia mendengar suara orang meminta tolong. Aqua memasang sihir untuk meningkatkan pendengarannya. Selain jeritan meminta tolong itu, ada beberapa suara orang dewasa yang mengejarnya.
"Ck, sial… aku tak suka ini. Ini mengingatkanku tentang mama dulu," kesal Aqua.
Aqua segera berlari menuju asal suara itu. Dia berdiri di dahan pohon dan menoleh ke sekeliling. Beberapa orang dewasa membawa obor dan senjata tajam mengejar makhluk kecil yang entah apa.
Berkat Dragon's Eye, Aqua bisa melihat dalam kegelapan dengan jelas. Dia melompat dari satu pohon ke pohon lain. Setelah cukup dekat dengan makhluk kecil itu, Aqua menjulurkan tangannya dan menangkap makhluk itu. Lalu dengan cepat membawanya menjauh.
"Lepas!! Lepaskan aku!!! Siapa kamu!!!!!"
Makhluk itu meronta-ronta ingin dilepaskan. Namun pegangan Aqua terlalu kuat untuk dilepas.
Setelah merasa cukup aman, Aqua melepaskan makhluk kecil itu dengan hati-hati. Makhluk itu menatap Aqua waspada, namun Aqua hanya diam saja dengan pandangan tenang.
Makhluk itu berwujud anak kecil berambut hitam panjang hingga menyentuh tanah. Penampilannya berantakan dan kotor. Sepasang tanduk tertancap di kepalanya. Dia juga memiliki ekor hitam panjang yang indah. Serta mata emas berkilau yang menatap Aqua dengan galak. Dilihat dari penampilannya, anak itu sekitar umur 6-7 tahun.
"Oyy, apa kamu mendengarku!? Aku tanya siapa kamu!!!?"
"Dari suaranya, anak ini… laki-laki?"
Aqua tetap tenang dan tak menggubrisnya sama sekali.
"Apa yang dilakukan ras iblis disini?" tanya Aqua tenang.
Anak itu terkejut, dia tak bisa menjawab pertanyaan Aqua. Dia justru memandang Aqua dengan kesal dan waspada, seperti anjing yang siap menggigit kapan saja.
"Ha~ah… sepertinya aku terlibat hal yang merepotkan, master."
Aqua menghela nafas dan mengeluh sendiri. Dia menggerakkan tangannya, menyuruh anak itu mengikutinya.
"Kalau kamu masih mau hidup, ikuti aku."
Aqua berjalan begitu saja tanpa menoleh ke belakang, meski ragu anak itu mengikuti Aqua pelan pelan. Aqua menuju goa di dekatnya, dia masuk dan duduk. Anak iblis itu ikut duduk tak jauh dari Aqua.
[ Camouflage ]
Setelah mereka berdua masuk, Aqua memasang sihir penghalang dan kamuflase agar goa tak kelihatan.
[ Fire ]
Aqua menyalakan api dengan sihir agar udara menghangat. Anak itu diam memperhatikan Aqua. Aqua sama sekali tak peduli dengan apapun yang dilakukan anak itu. Dia mengeluarkan buku dari tas kecilnya ( kamuflase inventory ) lalu membacanya.
Anak itu semakin waspada dengan Aqua.
"Kamu… kenapa menolongku? Kenapa tak bertanya apapun padaku?!" tanya dia.