
"I-IBUNDAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!"
Aqua menutup telinganya, rasanya gendang telinga anak itu bisa pecah seketika.
BUUUURGGGGGHHH
Sesuatu jatuh dari tempat tinggi tepat di depan Aqua dan kakak beradik. Debu dari pendaratan bebas itu menutupi sesuatu yang jatuh. Tak lama sampai debu itu memperlihatkan sesosok wanita iblis dengan perubahan penuh menacing tajam penuh kemarahan.
"Ibunda!!!" girang Veni dan Khorin melihat ibunya.
"Apa kau yang melakukannya?!" tanya wanita iblis penuh hawa membunuh.
Aqua hanya tersenyum santai, dia sama sekali tidak ketakutan.
"Menurutmu?"
Seluruh saraf wanita itu memanas. Wajahnya mengerut tajam, bagai bisa membunuh siapa saja hanya dengan tatapannya. Cakarnya meruncing dan memanjang.
"BAJINGAN!!!!!"
Tanpa mencari tau lebih dulu kekuatan lawannya, sang wanita iblis langsung menerjang Aqua dengan seluruh kemampuannya. Dia dipenuhi naf*u membunuh pada anak manusia yang sudah melukai anaknya.
Serangan berat dan tajam diarahkan dengan cepat, namun seperti sedang bermain dengan anak kecil, Aqua menghindari semuanya dengan mudah.
"Woah, woah... santai... apa kamu tidak takut para Elf tau kalian itu iblis?"
"Hmph! Mereka tidak akan tau! Selama aku membunuhmu disini!!!" ucapnya percaya diri.
Aqua tertegun sejenak, dia gemetaran menahan tawa.
"Pfftt... Ahahahaha!!! Kamu?! Membunuhku?! Aduh... aku belum pernah mendengar lelucon selucu ini sebelumnya."
"š¢"
"Kamu terlalu sombong bocah! Hanya karena bisa menghindari seranganku sedikit!"
Wanita iblis itu melompat mundur. Dia merapalkan beberapa mantra hingga lingkaran sihir keluar.
Namun...
PYAAAARRRRR
Lingkaran sihir yang dia ciptakan pecah seperti kaca yang terjatuh di beton.
"?!"
"Ap-apa yang terjadi?!!" kagetnya.
"Aku sudah tau kalau kita melakukan pertempuran sihir, pasti korbannya akan sangat banyak. Jadi mari kita begini saja! Aku sudah memasang penghalang sihir!" senyum Aqua.
"?!!"
"Dasar gila! Bukankah sihirmu juga akan terkunci?!" balas wanita iblis.
Aqua hanya mengangkat pundaknya sambil menggeleng pelan.
"Aku tidak butuh sihir untuk melawanmu."
"Dasar bocah sombong!!!!!!" jerit sang wanita iblis.
Dia menerjang langsung Aqua dengan seluruh kekuatannya. Secara teknis, kemampuan bawaan iblis jauh lebih hebat dari manusia. Jadi dia sudah berumur lebih dari 100 tahun pasti bisa menang melawan bocah bau kencur yang baru dewasa.
Sayangnya yang dia hadapi bukan bocah biasa. Anak yang dia remehkan adalah anak jenius yang mampu selamat dari Dungeon rank EX yang dianggap mustahil bahkan oleh ratu sihir.
Hanya dalam satu kedipan mata, Aqua menghindari serangannya dan menusukkan tangannya yang bertransformasi ke bentuk naga langsung ke arah jantung wanita itu.
"!!"
Tidak punya tenaga lagi, sang wanita ambruk di tangan Aqua. Sementara Aqua memegang jantungnya dengan tangan kanan.
"Uhuk..." batuknya berdarah.
"IBUNDAA!!!!!!!!!!!"
Kedua anak Turquoise menangis melihat tubuh tak bernyawa ibunya yang masih menempel di tangan Aqua.
Tidak mempedulikan mereka, Aqua menarik tangan kanan beserta jantung sang ibu yang masih berdetak. Tubuhnya dibiarkan jatuh ke tanah begitu saja. Diliriknya Veni dan Khorin yang menggeret diri mereka mendekati jasad sang ibu.
"IBUNDAA!!!!!!"
Kedua anak ini menangis meraung-raung sembari menggoyangkan tubuh sang ibu atau sekedar berusaha menutup pendarahannya. Namun sayang, sekali jantungnya tercabut, detik itu juga nyawanya sudah melayang.
Aqua menghela napasnya.
"Sepertinya rasa kemanusiaanku sudah sepenuhnya hilang. Aku sama sekali tidak merasakan apapun."
Aqua berjongkok, menyamakan tingginya dengan kedua anak itu.
"Hei, apa kehilangan ibu itu sakit?"
Veni mengerutkan kening dan menatap Aqua tajam dengan mata bengkak.
"DASAR JAHAT!!! BAJINGAN!!!!!! BERANI-BERANINYA KAU MELAKUKAN INI PADA IBUNDA!!!!! AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMU!!!!!!!!!"
Tidak terlalu mempedulikan geraman Veni, Aqua menatapnya dingin.
"Kalau begitu bagaimana dengan anak-anak lain?"
"?"
"Apa menurutmu hanya kamu dan adikmu yang punya orang tua di dunia ini? Para Elf yang kalian makan... apa kau pikir mereka tidak punya anak?" kata Aqua dingin.
Aqua menjambak rambut Veni dan mengangkat kepalanya hingga mata Veni melihat langsung kebencian di mata Aqua.
"Kalian menyiksa, membunuh dan memakan mereka tanpa memikirkan anak yang mereka tinggalkan sama sekali, bukan? Aku memang seorang bajingan, tapi kamu tidak berhak menyebutku begitu."
Dilemparnya kepala Veni hingga terbentur ke tanah. Aqua mengalihkan pandangannya ke sang adik, Khorin yang sedari tadi terlalu ketakutan bahkan untuk berbicara.
"Asal kalian tau, aku ini menyukai anak-anak loh! Meski aku seorang bajingan, aku masih punya belas kasihan pada anak-anak," senyum Aqua.
[ Shadow ]
"Meski tidak sehebat Yue, aku masih bisa menggunakan sihir ini."
"Kurung mereka di kamar mereka. Masukkan juga ibu mereka ke dalam. Hmm... kalau begitu... mari kita beri mereka waktu bersama selama 7 hari sampai kepulangan Turquoise. Jangan lupa jaga baik-baik kamar itu!" seru Aqua.
Mematuhi perintah Aqua, para bayangan langsung menggendong Veni dan Khorin yang masih shock seperti karung beras. Ibu mereka juga dibawa.
"LEPASKAN AKU!!!! LEPASKAN AKU SIALAN!!!!!"
"DASAR BAJINGAN!!!!! LIHAT SAJA!!!!!!! SAAT AYAH KEMBALI, KAMU PASTI AKAN MATI!!!!!!!" jerit Veni sepanjang perjalanan.
Hal terakhir yang Veni lihat sebelum di buat pingsan oleh bayangan adalah Aqua yang menyeringai seram sambil melambaikan tangannya.
Aqua merenggangkan tangannya.
"Ergghh... sekarang tinggal menunggu Turquoise pulang saja."
Tanpa tanda-tanda, sesosok gadis serba hitam muncul di sebelah Aqua.
"Kamu menyelesaikannya cukup cepat juga."
"Yah... saat mereka menyebut ibu mereka, itu mengingatkanku dengan hal yang menyebalkan. Tapi bukan berarti aku berbaik hati karena itu," jawab Aqua santai.
"Aku tau. Kamu mengurang mereka tanpa air maupun makanan. Satu-satunya cara mereka bertahan hidup selama itu adalah dengan memakan satu sama lain atau..."
Gadis itu berhenti, belum mengatakannya saja dia sudah jijik.
"Begitulah. Abaikan itu, bagaimana wanita Elf yang mereka siksa tadi?" tanya Aqua.
"Envy sudah menyembuhkan fisiknya, untuk mental... kayaknya masih butuh waktu," jawab Sloth tak yakin.
"Hmm... lalu gundukannya?" tanya Aqua lagi.
"Kalau itu sudah di urus Wrath dan Greed. Mereka dibantu beberapa pelayan sudah menggalinya dan sedang mengkonfirmasi identitas aslinya dengan dokumen yang dibawa Pride dan Lust."
"Bagus, semua berjalan sesuai rencana. Sisanya tinggal bersantai, menunggu Turquoise pulang saja."
Aqua langsung berjalan santai memasuki istana, namun kerahnya di tahan oleh Sloth.
"Mau kemana kau?" tanya Sloth agak kesal.
".... Minum teh?"
Tanpa keraguan maupun rasa hormat, Sloth menarik Aqua menjauh dari istana.
"Sedang terjadi kehebohan besar di antara tetua dan pelayan. Tapi kamu minum teh?"
"Oh, tidak bisa kawanku. Kamu harus mengurus itu semua sebagai Pangeran Kedua Kerajaan Vittacelar."
"Eh... tapikan aku sedang bertingkah idiot..."
"Tidak lagi. Kalau kamu tidak segera mengurus ini, semua akan tambah merepotkan nanti!"
"Yes, Mam..."
...***...
"Apa? Diplomasi dibatalkan?!" kaget Turquoise begitu mereka sampai di depan gerbang Kekaisaran Levana.
"Bagaimana bisa?!!!" marah Turquoise hingga mengeluarkan auranya.
"Tolong maafkan, Yang Mulia Pangeran. Kami hanya menyampaikan titah Baginda."
Pembawa pesan menyikapi Turquoise tanpa rasa takut dan tetap tenang menjawab.
"Apa kau tau alasan kami datang jauh-jauh kemari?!!" kesal Turquoise.
"Ya, Yang Mulia. Anda datang jauh-jauh kemari sebagai perwakilan Kerajaan Vittacelar untuk menyambut kerja sama Kerajaan Vittacelar dan Kekaisaran Levana dalam bidang perputaran batu sihir," jawab pembawa pesan.
"Meski tau itu, kau tetap mengusir kami karena alasan yang tidak masuk akal?!!!!" jerit Turquoise tidak bisa menahan amarahnya.
"Apa kekaisaran ingin berperang dengan kami?!!"
Tidak hanya Turquoise, Elf lain yang datang bersamanya juga sangat marah atas tindakan lancang Kekaisaran Levana.
"Mohon maaf Yang Mulia, Kekaisaran tidak mengusir anda. Lalu alasan yang saya sampaikan bukan alasan tidak masuk akal."
"Mananya yang masuk akal?! Kamu bilang ini karena kedua belah pihak sudah setuju. Tapi aku tidak pernah menyetujuinya!!!"
"Yang menyetujuinya di pihak Kerajaan Vittacelar memang bukan anda. Melainkan Baginda Ratu Elf sendiri."
Begitu mendengar ibunya disebut, amarah Turquoise sedikit mereda.
"Ibunda? Ratu sendiri yang menyetujuinya? Kapan?"
"Saya juga kurang tau. Yang saya ketahui, bahwa pihak yang mewakili kami dan menyelesaikan kesepakatan dengan Baginda Ratu adalah Ratu Sihir. Anda bisa mengkonfirmasinya sendiri di Kerajaan Vittacelar karena mereka berdua akan kembali ke Kerajaan Vittacelar beberapa hari lagi."
"Ibunda dan Nyonya Vashlana ya... Kalah begitu itu mungkin benar," gumam Turquoise.
"Baiklah, untuk sekarang kami akan menginap satu hari dan kembali ke Kerajaan Vittacelar besok."
"Baik, Yang Mulia. Silahkan nikmati waktu anda."
Pembawa pesan memerintahkan ksatria untuk mengantar Turquoise dan pasukannya ke gedung diplomat ibukota. Karena tidak mungkin orang sepenting keluarga kerajaan tinggal di penginapan biasa. Meski merasa ada yang aneh, Turquoise tetap diam dan berusaha menyelesaikannya dengan tenang agar bisa segera kembali.
Sementara itu, sang pembawa pesan pergi ke sudut-sudut gang yang penuh dengan belokan dan masuk ke salah satu gedung disana. Dia melepas sesuatu yang membungkus wajahnya. Sesuatu yang mengejutkan terjadi, pembawa pesan yang tadinya berupa pria tua ubanan berubah menjadi wanita cantik dengan kulit putih mulus. Dia juga melepaskan wig dan menampakkan wujud aslinya.
Seorang wanita menghampiri sang pembawa pesan. Wanita itu memberikan topeng yang mirip dengan yang dia kenakan.
"Selamat datang kembali."
"Aku pulang, kak. Tugasku sudah selesai. Kalau kakak?" tanya pembawa pesan sambil memakai topengnya.
"Sudah selesai juga. Tidak perlu khawatir, semua berjalan sesuai rencana. Ayo kembali ke Raven, Lust."
"Oke, Kak! Harusnya disana juga sudah selesai, kan?"
"Tentu saja. Kita inikan sedang membicarakan mereka," senyum Pride.
"Benar juga!" balas Lust dengan senyumnya.