
Sudah beberapa tahun anak itu tinggal di dungeon dan hanya membunuh ular saja. Dia tidak bisa naik maupun turun, terjebak di lantai 95 yang hanya berisi ular saja. Baik fisik maupun mentalnya sudah lelah. Saat ini, dia hanya ingin segera pergi dari sana.
Setiap hari tanpa terkecuali, anak itu menggores satu garis didinding untuk menghitung waktu yang berlalu. Sudah ada sekitar 3800 goresan yang terpampang nyata di dinding dungeon.
Artinya anak itu sudah 10 tahun berada di sana, membasmi semua ular yang ada. Levelnya naik sangat tinggi dengan cepat. Di tahun pertama sang anak sangat kesulitan mengalahkan satu ular saja. Di tahun kedua dia mulai memahami pola gerakan mereka dan bisa membunuh mereka dalam waktu 3 jam saja. Di tahun ketiga hanya butuh 1 jam. Di tahun keempat, levelnya sudah menyamai satu ular. Di tahun kelima, bahkan jika dikerumuni dia tetap menang. Di tahun keenam, sihirnya bisa membasmi ¼ dari mereka sekali serang. Di tahun ketujuh, hanya dengan satu gerakan dengan dagger rusaknya dia masih menang. Di tahun kedelapan, ular sudah seperti camilan saja. Di tahun kesembilan, hanya butuh waktu kurang dari 1 menit untuk membasmi mereka semua. Di tahun kesepuluh, levelnya sudah dekat dengan Medusa.
"Sepertinya sekarang sudah waktunya," gumam anak itu.
"10 tahun ya... di dunia nyata baru 0,422454 tahun. Atau sekitar 5,069448 bulan. Sepertinya aku melewatkan ulang tahun ke 14 ku."
"Dagger juga sudah rusak, apa boleh buat. Sekarang akan menjadi pertarungan sihir. Lagipula manaku naik drastis 10 tahun ini."
Aqua bangun dari tumpukan mayat ular yang sudah dibunuhnya itu. Dia merasa sedikit senang karena akhirnya bisa berpisah dari rasa tidak enak daging ular. Setelah semua ular terhisap oleh Gluttony, anak itu membuang daggernya dan berjalan menaiki tangga.
Di ujung tangga, sebuah ruangan yang tak terlihat berbeda dari sebelumnya terlihat. Wanita cantik mematikan dengan rambut ularnya terlihat waspada dengan kedatangan Aqua.
Anak itu menyeringai.
"Jadi kali ini keberadaanku cukup membuatmu tertarik, huh."
"Bersiaplah! Karena orang yang kamu anggap serangga lewat ini yang akan membunuhmu."
"SHAAAAAAA!!!!!!!"
Medusa langsung melaju dengan kecepatan tinggi ke Aqua sambil melontarkan tatapan pembatu padanya.
Dengan tenang, Aqua menutup matanya dan menghindari semua serangan fisik Medusa. Anak itu sudah melatihnya sebelumnya, cara bertarung dengan mata tertutup dan menguatkan insting bahaya. Dan karena latihannya, dia mendapat skill baru. Skill yang membuatnya bisa meningkatkan Indra secara drastis dan bisa melihat meski matanya tertutup.
Pertarungan terlihat begitu cepat hingga mata orang biasa tak akan bisa mengikutinya. Satu-satunya perbedaan Medusa dan Aqua yang sama kuat itu adalah Medusa tidak berkembang. Aqua selalu mengembangkan kemampuannya, namun Medusa hanya bersantai-santai menunggu mangsa di wilayahnya.
Satu serangan Medusa bisa langsung menghancurkan batu besar. Terkena sedikit saja bisa fatal akibatnya. Medusa juga melontarkan sihir racun terus menerus.
Untuk mengatasi itu, beberapa kali Aqua memasang barrier dan menahan serangannya. Anak itu juga kerap menyerang Medusa dengan sihir tingkat tinggi dan Epic. Karena mana Aqua sudah meningkat drastis, dia tidak akan pingsan karena mengeluarkan 1/2 sihir Epic.
Pertarungan yang sengit terjadi. Luka yang diderita Aqua tidak sedikit, namun karena terbiasa menggunakan Recovery setiap terluka, sihir Recovery telah menjadi skill pasif Aqua yang akan menyembuhkan Aqua setiap dia terluka. Berkatnya, tidak ada luka fatal yang diderita anak itu. Tidak... bahkan tidak ada goresan yang ada di tubuhnya.
Semua itu berakhir ketika Aqua menggunakan sihir 7 tombak yang sebelumnya sulit dikeluarkan Aqua. Kali ini berbeda dengan sebelumnya, anak itu berhasil menggunakan sihir tingkat Legend dimana dia bisa mengeluarkan ketujuh tombak. Serangan dari tombak terakhir sangat berbeda dengan tombak pertama hingga keenam. Di serangan terakhirnya, Aqua berhasil menguras HP Medusa sampai 0.
Pertarungan ini dimenangkan Aqua dalam waktu 14 jam.
"Hahh... hah... hahh..."
Anak itu tepar di atas lantai yang dingin. Tepat disebelah nya, terdapat mayat Medusa yang terbagi dua.
Aqua menolehkan kepalanya ke Medusa, tangannya terangkat dan menghisap Medusa dengan Gluttony.
"Levelku naik 9... sudah kuduga, bahkan dengan perbedaan level sejauh itu, akan sulit naik level sedrastis sebelumnya. Semakin tinggi levelmu, semakin sulit juga menaikkannya..."
Aqua perlahan bangun. Dia duduk dengan satu kaki di atas kaki lain sambil menatap ke langit-langit.
"Aku harus belajar sihir tingkat Legend lebih banyak..."
Dia berdiri setelah duduk cukup lama. Berjalan pelan menuruni tangga ke lantai selanjutnya. Levelnya sekarang sudah 600-an. Hanya dalam waktu 10 tahun, anak itu hampir mendekati level Ashlan yang sudah hidup ratusan tahun. Lantai selanjutnya berbeda dari lantai 95 yang merupakan zona bebatuan yang rapi. Lantai 96 langsung menyambut Aqua dengan badai salju yang sangat dingin.
"Haahhh... tipe musim dingin? Ini menyebalkan!"
Aqua punya pengalaman bertahan hidup di tengah hutan salju di kehidupan sebelumnya. Dalam salah satu misinya dulu, Aqua ditempatkan di Siberia oleh markas. Siberia adalah dataran luas tempat terdapatnya pegunungan Ural dan berbatasan dengan samudra Pasifik di Asia Utara. Suhu di Siberia merata. Pada bulan Januari bisa mencapai -48°C.
Pakaian yang dikenakan Aqua terlalu tipis untuk wilayah bersalju. Namun berkat sihir api, anak itu bisa mengontrol suhu di sekitar tubuhnya. Jadi dia tidak kedinginan.
"Aku pasti akan disini agak lama, sebaiknya aku membuat tempat tinggal darurat pakai pohon. Sebenarnya bisa juga dengan menggali salju dan membuat lubang seperti gua salju. Udara ditahan di antara kristal es, sehingga baik sebagai insulator. Tapi itu agak merepotkan membuatnya ditengah badai salju."
Aqua mencari pohon yang terlihat sesuai. Dia mencari pohon besar sebagai tiang penyangga, lalu menggali salju sampai bertemu dengan lapisan tanah. Aqua menutup bagian atasnya dengan rantung pohon yang lain untuk mencegah masuknya angin dan salju.
"Ahh!!! Sial, kebiasaan!" kagetnya.
"Aku lupa... tempat ini adalah dunia pedang dan sihir. Informasi bertahan hidup yang kupelajari dulu tidak terlalu berguna sekarang."
Seperti kata Aqua, semua permasalahan tentang bertahan hidup langsung bisa terselesaikan dengan sihir. Aqua membangun sebuah gubuk kecil dari kayu dengan gabungan sihir air dan tanah. Didalam gubuk itu dipasang api unggun yang tidak akan membakar rumah dengan sihir api.
"Sebenarnya kenapa aku repot-repot membangun benda seperti itu..." gumamnya saat melihat rumah darurat yang tadi dibuatnya.
Aqua juga membuat sebuah sofa dari kayu dan tiduran di sana. Sihir pelindung dan deteksi telah disiapkan. Sekarang dia tinggal bersantai sambil tiduran sampai badai salju selesai.
.
.
.
.
.
.
Ilustrasi Tokoh Aqua (14 Tahun)
(Sauce: Twitter @nevakuma)