The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 136 [ Saudara Seperguruan ]



Semua orang bersyukur pangeran dan putri telah sadar dan pulih dari luka mereka. Jadi pesta bisa kembali dilakukan.


[ ♫ ♪ ♩ ♬ ♩ ♪ ♫ ♬ ♪ ♫ ♬ ♩ ♬ ♩ ♪ ♪ ♩ ♬ ♩ ♪ ♫ ]


Alunan musik yang lebih lembut dari sebelumnya mulai di mainkan melalui biola, piano, Lyra dan alat musik lainnya. Jika sesuai urutan pesta, maka bagian ini adalah saatnya dansa terakhir sebagai penutup pesta.


Seperti yang diharapkan, para tuan muda mulai mengajak nona mereka untuk berdansa. Tak terkecuali para pangeran dan putri yang telah siuman. Selayaknya anggota keluarga kekaisaran, meski tubuh mereka terlalu lelah maupun terlalu sakit, sudah sepatutnya mereka mengikuti etika dengan benar.


Tentu saja ada beberapa orang yang tidak berdansa dan hanya memilih menonton saja. Kebanyakan dari mereka adalah bangsawan tanpa pasangan. Ada juga wanita tanpa tunangan yang menolak undangan dansa dari siapapun, Ashlan termasuk kedalamnya.


Meski ada ratusan pasang bangsawan yang tengah berdansa sekarang. Semua pandangan hanya tertuju pada seseorang.


TAP TAP TAP TAP


Aqua mendekati kursi tempat Ruby duduk sebelumnya. Senyum lembut yang sangat jarang dia keluarkan sekarang terlukis sempurna di wajahnya. Sebenarnya sulit baginya tersenyum bebas pada siapapun. Namun Aqua mengakalinya, dia membayangkan Ruby dan Mika adalah orang yang sama. Meski mereka memang sama pada dasarnya.


Tapi tetap saja tidak sopan memikirkan wanita lain saat berada di depan tunangannya.


"Nona Rubylia, maukah anda memberi saya kesempatan untuk menjadi partner dansa anda?" tanya Aqua sambil mengulurkan tangan dan berlutut didepan Ruby dengan satu kakinya.


Ruby sedikit risih dengan reaksi nona lain yang melihatnya. Mereka menjerit-jerit histeris seakan sedang melihat langsung adegan dalam dunia dongeng.


"...... Tentu, Yang Mulia."


Ruby menerima uluran tangan Aqua. Bersamaan dengan itu, Aqua bangun dan berjalan berdampingan dengan Ruby ke area dansa. Setelah memberi salam secara formal pada satu sama lain, barulah dansa bisa dimulai.


Sungguh luar biasa.


Dansa mereka begitu sempurna dan elegan sampai membuat penonton terpana meskipun keduanya hampir tidak pernah berlatih dansa sebelumnya. Langkah mereka begitu serasi dan tidak ada yang menginjak satu sama lain. Mereka tidak melakukan gerakan yang tidak perlu sehingga dansa mereka terasa ringan namun berkarisma.


Mata merah Ruby memandang wajah Aqua yang tersenyum lembut padanya.


"Yang Mulia, kenapa anda berperilaku seperti ini pada saya?"


"!"


Mendengar itu, Aqua berpikir sebentar. Sulit menjelaskan alasan sebenarnya pada gadis ini.


"Bukankah ini tindakan yang normal dari seorang tunangan?"


"Tapi... saya rasa anda terlalu baik pada saya. Saat menerima pertunangan kala itu, anda tidak perlu melakukannya karena itu tidak ada untungnya untuk anda. Dan sekarang anda juga menolong saya meski itu tidak ada untungnya untuk anda. Kenapa?"


Sebenarnya Ruby merasa tidak pantas mengatakan itu karena dirinyalah yang telah melibatkan Aqua tanpa memberinya keuntungan apapun.


"Hmm... baguslah kamu menyadari itu. Benar, aku membantumu meski itu tidak ada untungnya bagiku," balas Aqua.


"Sudah kuduga. Karakter Aqua tidak seharusnya seperti ini. Dia adalah pria yang tidak akan melakukan hal yang tidak menguntungkan kecuali itu bersangkutan dengan orang yang dicintainya," batin Ruby.


"Tapi itu berbeda sekarang."


"!"


Aqua tiba-tiba mengejutkan Ruby dengan satu kalimat itu.


"Apanya yang berbeda?" tanya Ruby.


Tepat setelah Ruby menanyakan itu, ekspresi hangat yang Aqua keluarkan memudar. Matanya terlihat sendu sekaligus dingin. Rasanya Ruby telah menanyakan hal yang tidak seharusnya dia tanyakan.


"Ada 1 hal... yang bisa kaulakukan untukku jika kau benar-benar ingin membalas budi perbuatanku," ucap Aqua.


"Katakan saja apa itu!" seru Ruby.


"Aqua bisa menarikku dari neraka ini. Jika ada yang bisa kulakukan untuk membantunya, akan kulakukan! Barulah setelah hutang budi ini selesai, aku bisa berkelana mencari kakak!"


Aqua sedikit terkejut dengan antusiasme Ruby. Perasaannya campur aduk antara ingin Ruby membantunya dan tidak ingin melibatkan Ruby. Namun kali ini, dia benar-benar butuh bantuan Ruby, hanya Ruby seorang. Bahkan jika itu harus memaksanya dan membuatnya membenci Aqua.


"....... Ada seseorang... yang aku ingin kamu menolongnya."


Nada lirih penuh luka itu membuat perasaan Ruby menjadi aneh.


Seseorang yang Aqua ingin menolongnya sampai dia mengeluarkan ekspresi semacam itu?


"Apa dia terluka? Kalau begitu harusnya anda membawanya ke Saintess atau healer tingkat tinggi," bingung Ruby.


"Dia terluka, tapi itu bukan luka fisik. Itu adalah......"


" ....... lebih baik kamu melihatnya sendiri. Sepertinya kamu akan langsung paham jika melihatnya langsung."


"?"


Aqua mengucapkan hal yang membingungkan setelah jeda yang cukup lama. Sekarang kepala Ruby penuh dengan pertanyaan. Tapi dia menyampingkan itu semua untuk nanti.


"Baiklah, setelah masalah disini selesai... saya akan melihatnya. Dan jika bisa, saya akan menolongnya," jawab Ruby yakin.


"Terima kasih..." senyum Aqua.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ashlan tengah menikmati wine kelas atas di gelas mewahnya sembari menonton dansa muridnya.


Dia sendiri tidak tertarik dengan dansa manusia seperti itu. Makanya meski banyak kalangan atas yang mengajaknya berdansa, dia tidak menanggapi mereka dan hanya memandang dingin sampai tidak ada lagi yang mengajaknya berdansa.


TAP TAP TAP TAP


"Berdiri di pojokan seperti ini, kamu benar-benar tidak mau melepas status jomblomu ya," ejek seorang wanita.


Seperti yang Ashlan duga dari suaranya. Dia adalah Permaisuri Kekaisaran, Kaleena Fern de Levana.


"Apa maumu Lena? Kau berdansa saja dengan Kaisar sana!"


"Apa kamu harus sedingin ini pada teman lamamu, Ashlan?"


Ashlan tidak melirik Permaisuri sedikitpun dan hanya memutar gelasnya.


"Teman lama... benar juga, kita sudah lama tidak bertemu. Tapi begitu bertemu lagi kamu sudah menikah dengan manusia. Lucu!"


"Kaisar itu... kamu tidak mencintainya, kan?"


Permaisuri tidak mengatakan apapun untuk menjawab Ashlan. Namun senyumannya menjawab semuanya.


"Muridmu itu anaknya siapa? Amethyst atau Sapphire?"


"Jala*g sialan, mengubah pembicaraan begitu saja," kesal Ashlan.


Tapi meski berkata begitu, Ashlan tetap menjawabnya.


"Dia anaknya Sapphire."


"Ohh, jadi dia keponakannya Ratu Elf yang sekarang. Sungguh menakjubkan dia bisa menjadi seorang pangeran dengan darah campuran."


"Yah, bocah itu tidak pernah berhenti mengejutkanku."


Mata Permaisuri sedikit terbelalak melihat senyum Ashlan saat mengatakan itu.


"Kau benar-benar menyukainya, ya."


"Tentu saja, dia murid yang bisa kubanggakan!"


Sangat jarang melihat Ashlan begitu membanggakan seseorang. Bagi Permaisuri, ini pemandangan langka.


Permaisuri Kaleena ikut mengambil wine yang sama dengan milik Ashlan di meja yang tidak jauh dari sana.


"Aku tidak pernah menyangka, kalau kamu yang sudah menjadi guru... akan sangat mirip dengan Master."


"......."


Ashlan berhenti minum begitu mendengar itu.


"Kenapa sekarang kau bawa-bawa Master?"


"Kenapa? Tentu saja karena sekarang kita sedang berdua saja. Tidak perlu menyembunyikannya. Kamu bilang kalau aku adalah teman Agate yang overprotektif... meski itu tidak salah, tapi kamu tidak mengatakan hal yang paling penting pada anak itu."


Permaisuri Kaleena menuangkan winenya ke gelas Ashlan karena gelas wanita itu telah kosong.


"Bahwa kita adalah saudara seperguruan."


"💢"


Ashlan mengembalikan wine itu ke gelas Permaisuri.


"Kamu memang menyebalkan sejak dulu, Lena. Sudah kubilang itu tidak perlu lagi dibahas. Master Charrlain sudah mati lebih dari 1000 tahun lalu. Tidak ada gunanya mengungkitnya lagi sekarang."


Seperti yang bisa di duga dari percakapan mereka berdua. Ashlan dan Kaleena adalah saudara seperguruan. Mereka berdua adalah murid dari Penyihir Agung, Charrlain yang sudah meninggal dunia lebih dari 1000 tahun lalu.


Tapi tunggu, sepertinya ada yang aneh. Padahal Penyihir Agung sudah meninggal lebih dari 1000 tahun lalu, tapi kenapa Ashlan yang baru berusia 600 tahun lebih bisa menjadi muridnya?


"Ayolah Ashlan, tidak ada ruginya mengenang masa lalu saat sedang berdua seperti ini. Hiks, padahal dulu saat masih kecil kamu sangat imut... selalu mengikutiku kemanapun aku pergi sambil bilang 'Kakak' begitu..." canda Permaisuri.


Wajah Ashlan langsung memerah malu.


"Sudah berapa lama sejak itu terjadi sialan!! Lupakan saja hal semacam itu!!!"


"Ahahahaha.... meski 1 milenium telah berlalu, sepertinya bagian Tsundere dalam dirimu tidak berubah, ya."


Permaisuri tertawa sedikit kencang melihat reaksi Ashlan.


"1 Milenium... bukankah kamu sudah sesepuh. Diumur itu menikahi pria yang 1000 tahun lebih muda darimu bukan lagi sebatas shotacon."


Senyum mengejek Ashlan membuat Permaisuri yang selalu tersenyum memancarkan aura menyeramkan.


"Siapa yang kau panggil sesepuh, sialan!?" kesal Permaisuri.


"Kamukan gak jauh beda dariku."


"Mana ada, aku baru 600 tahun kok..." elak Ashlan.


Permaisuri hendak membalas ejekan Ashlan dengan ejekan lain. Namun dirinya tidak bisa melakukannya, kalau mengingat kejadian 600 tahun lalu. Mendadak wajahnya menampilkan rasa bersalah yang begitu jelas sampai membuat Ashlan merasa kesal.


"Kalau kamu memikirkan kejadian itu, lupakan saja. Sudah sangat lama, tidak ada gunanya memikirkan itu."


Meski Ashlan bilang begitu, tidak mudah menghilangkan rasa bersalah dihati permaisuri.


"Apa kamu benar-benar sudah tidak memikirkan kejadian itu lagi, Ashlan? Tidak... biar kuralat. Apa kamu benar-benar sudah tidak memikirkan kejadian itu lagi, Mio?"


Aura Ashlan yang selalu terkontrol dan tenang itu langsung menyeruak keluar dengan menyeramkan. Ekspresinya seakan mampu membunuh siapapun yang ada di sekitarnya.


"Jangan berani-berani kamu menyebut nama itu lagi kalau kamu masih sayang nyawamu! Bahkan jika itu kamu Lena, aku tidak akan memaafkanmu jika kamu mengatakannya lagi!"


Permaisuri Kaleena sempat tertegun sesaat sebelum dia kembali tenang dengan cepat.


"Sepertinya kamu sama sekali tidak lupa dengan kejadian itu."


"Maafkan aku..."


"Aku benar-benar minta maaf... Mio."