
"Tuan Leviathan itu... sosoknya seperti kakek yang menyayangi cucunya. Aku tidak akan melupakan kebaikannya! Alasanku menyelesaikan dungeon jadi ini bertambah."
Aqua memejamkan matanya sesaat.
"Jadi tadi lantai 96. Empat lantai lagi..." gumamnya.
Begitu anak itu membuka mata, sosok kekanakan yang ramah langsung menghilang. Wajahnya kembali dingin tanpa ekspresi. Ada yang sedikit berubah dari Aqua sekarang. Entah karena dinginnya laut atau yang lainnya, aura dingin yang memancar dari tubuhnya bertambah.
Sebuah lorong gelap yang panjang menunggu Aqua. Ujung awal dari lorong itu adalah goa bawah laut yang dijaga Leviathan. Sekarang Aqua sedang menuju ujung lainnya, lantai 97 berada. Cahaya mulai memasuki mata Aqua. Saat cahaya semakin kuat, artinya ujung lorong sudah dekat.
"Lantai 95 goa, lantai 96 salju dan laut, lantai 97 juga tidak kalah ekstrim," kesal Aqua.
"Kalau ini komik atau anime, ratingnya pasti akan berubah menjadi R-18."
Pemandangan yang dilihat Aqua merupakan pemandangan indah sebuah hutan di tepi sungai. Tempat itu begitu indah, rasanya Aqua seperti memasuki lukisan. Namun bukan itu yang mengejutkan Aqua.
Yang membuat Aqua tak melangkah lebih jauh adalah sosok beberapa wanita tel*njang dengan wajah yang sangat luar biasa cantiknya. Mereka saling mengobrol satu sama lain di pinggir sungai. Jangankan laki-laki, perempuan saja tidak bisa menahan godaan wanita-wanita cantik itu. Pesona mereka mirip namun berbeda dengan Succubus.
"!"
Begitu menyadari keberadaan Aqua, wanita-wanita itu melambai dan menggodanya. Meski digoda wanita cantik yang tel*njang, Aqua sama sekali tidak bergeming. Anak itu menatap dingin semua wanita tidak senonoh didepannya.
"Laki-laki normal pasti akan sulit berpikir jernih dan mudah jatuh kedalam napsu begitu saja. Tapi aku berbeda. Jangan meremehkanku yang tumbuh di kelilingi perempuan cantik! Kecantikan kalian bahkan tidak ada sepersepuluh Kak Rin atau Yue."
Aqua mengangkat jarinya. Hanya dengan satu gerakkan, tombak-tombak es melaju cepat menembus kepala wanita-wanita tel*njang itu.
"Lemah."
"Bisa-bisanya monster selemah ini ada di lantai 97."
Aqua berjalan mendekati mayat wanita itu. Tanpa memilih-milih, Aqua langsung menghisap semuanya dengan Gluttony.
"Huldra... pembuat dungeon ini hebat juga. Sampai bisa memasukkan Huldra yang hampir punah kedalam dungeon."
< Huldra >
Huldra adalah makhluk legendaris yang berasal dari hutan. Biasanya berjenis kelamin wanita.
Dilihat dari depan, mereka tela*jang dengan wajah yang sangat luar biasa cantiknya, namun jika dilihat dari belakang, punggungnya berlubang seperti lubang pohon pada batang pohon yang sudah tua.
Dalam informasi yang tersebar, Huldra memancing lelaki supaya masuk ke hutan untuk diajak berhubungan badan. Mereka akan memberi balasan bagi lelaki yang telah memuaskan ***** mereka dan membunuh lelaki yang tidak bersedia.
Namun itu adalah kesalahan besar. Nyatanya, tidak peduli lelaki itu mau atau tidak, Huldra akan tetap membunuh mereka. Lelaki yang berhubungan badan dengannya akan dihisap sampai kering sebagai sumber kehidupan bagi Huldra. Bukan hanya cairan bawah, namun semua cairan yang ada dalam tubuh akan terhisap, termasuk darah.
(Ilustrasi Huldra from Google)
"Dasar menjijikkan. Bahkan Succubus masih lebih baik dari mereka," kata Aqua dengan ekspresi jijik.
Karena sudah tidak ada Huldra sepanjang deteksi Aqua, anak itu meninggalkan sungai untuk mencari monster lainnya. Tak perlu berjalan begitu jauh, anak itu sudah menemuka banyak monster dengan ras yang sama.
< Cyclops >
Cyclops adalah anggota dari ras manusia purba raksasa, yang mempunyai satu mata ditengah-tengah dahinya. Senjata utamanya adalah kapak atau palu raksasa yang terbuat dari bijih Titanium murni.
(Ilustrasi Cyclops from Google)
"Bagus! Bertemu Cyclops lebih baik daripada Huldra. Titanium ya... titanium memiliki kepadatan yang sedikit lebih rendah dari baja. Meski begitu logam titanium adalah jenis logam yang memiliki kekuatan tinggi, kelenturan tinggi dan sangat tahan terhadap korosi," ucapnya senang.
"Selain itu, titanium memiliki titik lebur yang sangat tinggi, hingga mencapai 1.650 derajat Celcius atau sekitar 1.923 K, dilengkapi dengan kekuatan tarik yang mencapai 63.000 psi. Titanium sendiri hampir sama kuatnya dengan baja, dengan berat sekitar 60 persen dari baja."
"Aku bisa membuat senjata dari itu!"
Aqua mulai bersemangat. Bersamaan dengan seringai licik yang muncul di mulutnya, anak itu berlari menuju Cyclops dan membantai mereka tanpa membiarkan Cyclops memberikan perlawanan.
Ada alasan kenapa Aqua begitu menginginkan senjata, selain karena daggernya rusak. Entah kenapa sejak dari lantai Medusa, hadiah penyelesaian lantai adalah buku sihir atau item pembantu. Tidak ada senjata yang bisa dia gunakan. Karena itu Aqua bermaksud membuatnya sendiri.
"Cyclops mungkin punya kekuatan penghancur yang luar biasa, tapi dia lambat. Gerakannya mudah dibaca, Assassin sepertiku adalah musuh alami bagi makhluk itu."
"Masalahnya... semua senjata yang kubawa di inventory sudah tidak ada yang bisa dipakai. Ketahanan sihir makhluk itu juga hebat, apa yang harus kugunakan untuk membunuhnya..."
Aqua menoleh kesana kemari, mencari sesuatu yang bisa dia pakai.
"!"
"Benar juga."
Seringai licik terlukis.
Anak itu membuat sebuah labirin yang berisi banyak jebakan. Memang membutuhkan banyak waktu untuk membuat labirin sebesar itu, tapi hasilnya setimpal. Agar Cyclops tidak menyerangnya secara bersamaan, Aqua berusaha memisahkan mereka dengan labirin itu.
Awalnya, Aqua berhasil memancing 4-5 Cyclops masuk ke labirin dan membunuh mereka satu per satu.
"Ini dia!" ucapnya senang.
"Selesai!"
Itulah bagaimana labirin mematikan Aqua telah berhasil dia buat.
"Bagus! Sekarang tinggal memancing mereka semua masuk ke sini, lalu labirin ini yang akan membunuhnya."
...***...
BRUUUUKKKKK
Tubuh gadis kecil itu menghantam lantai dengan keras.
"Sudah kubilang jangan keluar saat sedang ada tamu!! Dasar monster!!!" jerit wanita paruh baya marah.
"Maafkan aku, ibu."
Tatapan mata gadis itu terlihat kosong. Tidak ada harapan ataupun semangat dalam matanya. Yang ada hanya keputusasaan dan kelelahan saja.
Wanita itu menjambak rambut gadis kecil.
"Berapa kali kubilang padamu!? Jangan panggil aku ibu saat tidak didepan ayahmu!!!!"
"..... Baik, Yang mulia."
"Hmmph!"
Wanita itu melempar gadis kecil dengan kasar.
"Renungkan dirimu didalam sana. Tidak ada makan malam untukmu! Yah... lagipula vampir sepertimu tidak butuh makanan manusia, bukan?!" oloknya.
BRAKKK
Pintu ruangan ditutup dengan kasar. Wanita tadi meninggalkan gadis kecil sendirian di dalam ruangan gelap yang kotor. Gadis itu terhuyung pelan ke kasur dan menjatuhkan dirinya ke kasur yang sama sekali tidak empuk.
"..... Monster, huh. Satu-satunya manusia yang tidak menganggapku monster... hanya Aqua saja."
Hanya dengan mengingat sosok anak laki-laki baik hati yang menolongnya itu, sudah membuat hati gadis itu menghangat.
Gadis itu, nona pertama keluarga Arsilla, Rubylia Arsilla adalah tunangan dari anak laki-laki bernama Aquamarine yang biasa di panggil Aqua.
Ruby membuka pakaiannya yang sudah kotor oleh jejak kaki. Tubuh kurus penuh lebam terlihat di sekujur tubuhnya. Namun semua lebam itu dengan cepat pulih tanpa bekas. Gadis itu mengambil salah satu pakaian jelek dari lemari dan memakainya. Setelah selesai, dia tiduran di kasur yang sama.
"Semuanya berubah sejak 1 tahun lalu. Lebih tepatnya sejak aku bertunangan dengan Aqua."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[ Karena Author baik hati dan tidak sombong. Ditambah karena vote Minggu kemarin lebih dari 10 dan like lebih dari 50, maka author akan mengabulkan permintaan kalian untuk Crazy Up!!!!!!! ]
(≧▽≦)
<( ̄︶ ̄)>
(。•̀ᴗ-)✧
[ Ah, tapi kalau karena ini like nya jadi kurang dari 50... awas ya... bakal Hiatus nanti sampai like nya lebih dari 50 semua, wahahaha!!!! ]
ಡ ͜ ʖ ಡ