The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 142 [ Projects Declan ]



Sudah 1 jam lebih berlalu sejak Ruby bertemu Raven. Elvira dan Elvina baru berhenti setelah Aqua memaksa mereka. Meski enggan, karena menyadari Ruby juga sudah di batasnya, mereka merelakan saja.


Ekspresi Ruby terlihat lelah. Memang sudah banyak yang terjadi hari ini.


"Aku akan mengantarmu ke kamarmu. Setelah kamu ganti baju, kita akan makan malam. Baru saat itu aku akan mengenalkan mereka padamu," tawar Aqua.


Ruby mengangguk, dengan cepat gadis itu bergerak ke belakang Aqua seakan menghindari wanita kembar ini. Raut wajah kecewa bisa dilihat dari mereka.


"Apa boleh buat. Hari ini adalah hari yang panjang untukmu. Kita bersenang-senang lain kali saja," senyum Elvina membuat Ruby merinding.


"Kak Vina, tolong jangan menggodanya. Sebelumnya kalian juga begini dengan Yue dan Pietro," kata Aqua mengingatkan.


"Yue? Pietro?"


Ruby tidak asing dengan nama itu. Tak butuh waktu lama sampai sebuah ingatan terlintas.


"Pietro... Pietro Chalcedony!!? Dwarf legendaris yang bisa membuat senjata dan item tingkat Mythic!!?" batinnya.


"Mau gimana lagi, kami lemah terhadap anak imut!!!" elak Elvina bercanda diikuti anggukan setuju Elvira dan Eli.


Aqua tidak bisa berkata-kata. Dia ingat kakaknya dari kehidupan sebelumnya juga suka anak kecil.


"Apa semua perempuan memang begini?"


"Yasudahlah, aku akan mengantar Ruby dulu. Yang lain bersiap-siap. Kita bertemu lagi di ruang makan."


Sesaat setelah Aqua membalikkan badannya ke arah pintu, sebuah tangan menahan pemuda itu.


"?"


"Biar aku aja. Gak baik seorang pria dan wanita ditinggal berdua," senyum Eli mengejek.


"💢"


Aqua menepis tangan Eli.


"Kamu gak pantas bilang begitu, genderless."


"💢"


Meski tersenyum, urat kesal memenuhi wajah Eli.


"Aku Wa-ni-ta!!! Dari dulu sampai sekarang!!!!"


Eli yang kesal menarik tangan Ruby ke arah pintu keluar, meninggalkan Aqua dan yang lainnya. Ruby terlihat kesulitan mengikuti langkah gadis (?) itu.


"Serahkan dia padaku!! Mending urus saja urusanmu yang belum selesai!!!" marahnya.


"Tu-tunggu... sebentar..."


BRAAAAKKKK


Pintu di tutup dengan kasar oleh Eli. Sekarang Ruby dan dia tidak terlihat lagi. Aqua hanya diam saja melihatnya.


"...... Anak itu... dia yang mulai, dia yang kesal."


Elvina mengalungkan tangannya ke pundak Aqua.


"Mood perempuan itu berubah-ubah."


"Memangnya dia perempuan?"


"Selama dia menganggap dirinya seperti itu."


"Ha~aahh... terserah sajalah," senyum Aqua.


Begitu Ruby dibawa pergi oleh Eli, atmosfer dalam ruangan itu seketika berubah. Ekspresi bercanda Elvira dan Elvina mulai terganti dengan ekspresi lain. Lix tidak terlalu berbeda, hanya tersenyum saja sedangkan Pietro menjadi murung.


Aqua berjalan menjauhi pintu menuju ke sebuah rak buku yang terbuat dari kayu hitam dengan pahatan elegan khas Elf. Dia membelakangi teman-temannya sehingga ekspresi anak itu tidak terlihat.


"Aku sudah membawa Ruby kemari. Apa ada perubahan?" tanya Aqua sedikit putus asa.


Elvira memeluk lengan kirinya, dia bahkan tidak berani menatap anak itu.


"......"


Mendengar kesunyian tanpa jawaban adalah jawaban lain pertanyaannya.


"Begitu, jadi tidak ada perubahan."


"Maaf, Aqua... andai saja aku memberinya obat yang lebih kuat..." sesal Elvina.


"..... Tidak. Obat tidak akan memberikan dampak yang terlalu besar karena kondisinya sudah separah itu."


Wajah Aqua tidak terlihat, namun Raven seperti bisa melihatnya. Saat ini ekspresi anak itu pasti sangat pilu.


Lix tidak tahan terjebak di atmosfer ini.


"Kalian ini... bukankah kita sudah sepakat untuk menghindari topik seperti ini?"


"Padahal kamu sudah tau jawabannya, kenapa masih tanya?" sindir Lix sambil memukul pelan punggung Aqua.


"Maaf... hanya saja... kukira dia akan membaik dengan kedatangan Ruby."


Lix agak risih, pemuda didepannya seperti bukan Aqua saja.


"Dia itu bukan terkena penyakit mematikan atau semacamnya! Kendalikan dirimu!!"


Tentu Aqua yang paling tau itu. Namun sulit mengendalikan diri saat orang yang dia sayang dalam keadaan semacam itu.


"Kau benar. Aku akan melakukan semua yang kubisa nanti. Untuk saat ini, sebaiknya fokus ke hal yang lebih mendesak."


"Bagus!" seringai Lix.


"Hal yang lebih mendesak?" tanya Pietro bingung.


Elvira dan Elvina senang karena Aqua sudah kembali ke dirinya yang biasa. Mereka merasakan hal yang sama, tapi hanya menyesal dan merenung tidak akan menyelesaikan masalah, justru hanya membuang waktu. Saat ini waktu sangat berharga bagi Raven.


Entah bagaimana caranya, Elvira mengeluarkan dokumen agak tebal dari dadanya.


"Aku sudah menyelesaikan permintaanmu."


Wanita itu memberikan dokumen tersebut kepada sang pemimpin.


"Cepat juga, terimakasih."


Tak butuh waktu lama sampai Aqua selesia membacanya. Selama itu Pietro menatap anak itu penuh tanda tanya. Sebenarnya apa yang akan mereka lakukan?


"Apa sesuai keinginanmu? Asal kau tau saja, mencari informasi tentang itu sangat sulit!!" tanya Elvina sambil memakan cookies dari piring.


Seringai Aqua yang biasanya kembali, "Ini sempurna. Seperti yang diharapkan dari guild informasi."


"Oy oy oy!! Jangan lakukan sesuatu diam-diam begitu!!! Apa kau melupakan kami!?" canda Lix.


"Tidak mungkin, justru ini tugasmu dan Pietro," jawab Aqua.


"?"


Lix mengambil dokumen itu dari tangan Aqua. Dia penasaran apa yang sebenarnya Aqua cari.


"!"


Baru membaca halaman pertama saja dia sudah tau keseluruhannya.


"Kau bercanda?"


"Apa aku pernah bercanda tentang Raven?"


Lix tersenyum kecut, dia melambai-lambaikan dokumen itu didepan wajahnya.


"..... Tapi ini rencana gila. Kau pikir ini bisa berhasil seperti guild informasi!?"


Aqua duduk di sofa lalu menuangkan teh ke cangkirnya.


"Pasti bisa. Untuk itulah kita membuat pondasi di antara bangsawan bukan?"


"Ha~ahhh... harusnya aku tau kalau tugas para anggota pasti sama gilanya. Pride dan Lust menjadi pemimpin guild informasi yang paling dicari... tentu saja anggota lain harus punya koneksi dan menjadi pilar lain, huh."


Belum sempat Aqua meminum tehnya, Lix sudah mencuri gelas itu dari tangannya dan minum begitu saja.


"......."


Elvira dan Elvina ikut duduk di sofa depan Aqua sambil menyantap camilan. Hell yang berdiri di belakang Aqua beberapa saat lalu kini sudah disamping mereka, menuangkan teh dengan elegannya untuk sang master dan temannya.


"Memang harus begitu! Kalau setiap anggota menjadi pilar dunia, barulah Raven bisa mengakar kuat. Baru punya kita saja, Kerajaan dan Kekaisaran manapun tidak bisa asal sentuh," timpal Elvina.


"Ara~ aku juga setuju. Memang benar anggota lain tidak perlu sama mencoloknya. Tapi setidaknya pondasi Raven jangan hanya di guild informasi," sambung Elvira mengaduk gelasnya.


"Jadi itulah kenapa tugas merepotkan ini diserahkan padaku?" malas Lix.


"Nikmati saja. Kau mungkin akan menyukainya," senyum Aqua.


"Anu... sebenarnya apa tugas yang kalian bicarakan?" tanya Pietro tak tahan lagi.


Dari tadi sepertinya hanya Pietro yang tidak paham arah pembicaraan ini. Meski dia mencoba menyerap informasi dari percakapan, dia masih tidak tau apa yang sebenarnya mereka bicarakan.


Tanpa menjawab, Lix memberikan dokumen tadi ke Pietro. Pietro menoleh ke Raven lain, seakan meminta izin. Dan yang lainnya hanya tersenyum sembari minum teh dan makan camilan. Pietro tak segan membacanya. Sama seperti Lix, baru membaca halaman pertama yang mana pokoknya saja, dia sudah terkejut.


"!?"


"Ap-apa aku benar-benar harus membuat ini!!?" kaget Pietro.


Tidak ada yang menjawab. Ketiga Raven yang duduk di sofa hanya tersenyum saja. Lix disebelahnya juga hanya menggeleng lelah dengan senyum mengejek.


"Kita tidak punya pilihan lain. Ketua kitakan tiran tukang perintah."


Aqua tak marah, dia justru mengeluarkan senyum sadis.


"Ya. Karena aku tukang perintah, makanya kalian harus melakukannya sebaik mungkin."


"I-ini mustahil!!!!!!" jerit Pietro hampir menangis.


Sekilas isi dokumen yang di lempar Pietro saat melarikan diri terlihat.


⟨ Project Declan : Media Komunikasi dan Perdagangan Modern ⟩


Dimulai dari penciptaan beberapa item sihir yang terhubung satu sama lain. Pusat dari item adalah Raven dan item tidak bisa dipalsukan. Penghubung semua item itu adalah satelit mana.


Item ini akan berwujud hologram dan akan disebar mulai dari kalangan bangsawan dan orang kaya hingga akhirnya tidak ada orang yang tidak memilikinya. Fungsi akan dibatasi sebagai media komunikasi dan perdagangan. Raven juga akan memanfaatkan item ini untuk melelang item lain dengan harga fantastis karena setiap orang di seluruh dunia bisa mengaksesnya.


Penelitian dan penciptaan item akan diserahkan pada Pietro dan Mika sedangkan persebarannya di serahkan pada Lix. Informasi yang dibutuhkan terkait penciptaan, bahan, target pasar, rencana kedepannya, dsb bisa dilihat mulai halaman 2.