The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 131 [ Pesta Debutante ]



Gemerlap cahaya begitu menyilaukan mata. Orang-orang berkerumun dan saling menyerang dengan kata. Baik yang muda maupun yang tua berkumpul disana. Menggunakan pakaian terbaik mereka.


Gadis itu merasa sendirian di tengah ratusan orang dirumahnya. Hanya berdiri menatap sepatunya. Terdengar gunjingan orang-orang akan dirinya. Entah itu kata-kata kasihan atau pujian menyindir.


"Kasihan sekali Nona Arsilla, padahal dia bangsawan tingkat tinggi, tapi tunangannya cuma rakyat biasa? Baginda pasti marah padanya."


"Bahkan di Pesta Debutante anaknya sendiri, Marques Arsilla tidak hadir. Apa beliau memang tidak menyayangi anaknya, ya?"


"Lihat Machioness dan Nona Kedua, mereka tampak membaur dengan tamu undangan. Tapi Nona pertamanya malah diam di pojokan. Apa dia tau tata Krama?"


"Mata merahnya membuatku merinding. Dia benar-benar bukan manusia, huh."


Bukan berarti gadis ini tidak mendengar ucapan yang di tunjukkan padanya. Nyatanya Indra vampir lebih tajam dari manusia. Dia mendengar semuanya dengan baik.


Perasaannya tercampur aduk. Sulit dibilang dia marah, sedih atau kecewa.


Dalam keadaan seperti itu, adik tirinya mendekat dengan dua gelas jus.


"Bagus, menurutlah seperti itu dan jangan berbuat sesuatu yang tidak perlu."


Ruby diam mendengarkan tanpa ekspresi.


"Lagipula tidak ada yang berada di pihakmu sekarang," ucap sang adik lagi.


"Ini kesalahanmu sendiri karena bertunangan dengan rakyat biasa tidak berguna, ka-ka-k."


Pupil Ruby bergetar. Dirinya tidak begitu marah saat dia di ejek. Tapi lain halnya dengan tunangannya.


"Memang benar Aqua yang sekarang tidak punya gelar dan hanya rakyat biasa. Tapi siapa kau berani menyebutnya tidak berguna!?"


"Tidak sepertimu yang bodoh itu, aku punya mata yang bagus~ lihat! Tunanganku begitu istimewa, ditambah dia adalah Putra Mahkota kekaisaran ini," sombong Nedura.


"Padahal kamu merengek tidak mau karena sudah menyukai Hyveno Demifa, sekarang justru membanggakan sepupumu," batin Ruby dengan wajah datar.


"Aku mendengar ada yang menyebutku sebelumnya, boleh aku tau itu nona-nona?"


Seorang lelaki remaja berambut pirang lemon berjalan mendekat ke tempat Ruby dan Nedura berdiri.


Tidak ada orang di kekaisaran ini yang tidak mengenalnya. Dia adalah Bintang Kekaisaran, Putra Mahkota Analic Rozon de Levana. Hanya dengan senyum tipisnya, para nona muda bangsawan yang berada disana langsung meleleh dan menjerit di hati mereka.


"Analic!!!!"


Nedura langsung meletakkan gelasnya dan memeluk lengan Putra Mahkota penuh kemanjaan. Sedangkan Ruby langsung memberi salam dengan cara menarik sedikit gaunnya dan menunduk 45°.


Ekspresi Putra Mahkota sedikit enggan, tapi dia tidak menolaknya.


"Apa kamu tadi membicarakanku, Nedura?"


"Iya!! Aku cuma membanggakanmu yang begitu sempurna. Betapa beraninya ada perempuan yang menolakmu," jawab Nedura mencibir.


Putra Mahkota tertawa kecil dan menyangkal. Tapi dalam hatinya, dia juga kesal pada Ruby yang berani menolak menjadi tunangannya. Karena meski tidak diumumkan secara jelas, tindakan Ruby yang memilih tunangan sendiri meski mengetahui dirinya adalah kandidat terkuat tunangan Putra Mahkota adalah bentuk penolakan yang tidak sopan.


"Apa kamu mencintainya, Nona Rubylia? Aku tidak sejahat itu untuk memisahkan dua orang yang saling mencintai. Jadi aku akan mendukung kalian!" seru Putra Mahkota.


Ruby melirik Putra Mahkota sesaat.


"Dia selalu seperti itu, bahkan didalam game. Maksud perkataanmu sebenarnya itu 'Aku tidak peduli kau bertunangan karena alasan apa. Tapi beraninya kau menolakku karena hal sepele seperti itu' kan?"


"Wah! Putra Mahkota, anda terlalu baik!"


"Betapa besarnya hati Putra Mahkota!"


"Aku iri dengan Nona Nedura."


"Memangnya siapa dia berani menolak Putra Mahkota!"


"Dasar gadis-gadis bodoh," batin Ruby kesal.


Ruby diam-diam mengejek Putra Mahkota.


"Aku sudah tidak suka dia dari awal. Sebagai karakter game, dia terlalu gampangan. Dia menyukai Heroine yang begitu murni dan bertindak berbeda. Tapi saat orang lain melakukan hal yang sama, dia justru menganggapnya penghinaan besar."


"Daripada disebut cinta... bagiku perasaan Putra Mahkota pada heroin lebih ke rasa tertarik pada mainan baru."


"Aqua ribuan kali lebih baik darinya."


Ruby tidak mendengar dengan baik apapun pembicaraan mereka setelahnya. Dia hanya diam seperti patung. Ucapan mereka masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri begitu saja. Perhatiannya dari tadi hanya pada pintu masuk.


Menunggu.


Menunggu dengan sabar seseorang yang telah berjanji padanya akan datang.


"Aku membenci situasi ini. Satu-satunya harapanku hanyalah Aqua saja. Aku mohon... tolong tarik aku keluar dari sini..." pikirnya kesepian.


"TURNT TURURUNT TURUNT"


Bunyi terompet terdengar sepanjang ruangan. Pandangan semua orang langsung teralih ke pintu masuk.


Ruby yang selalu membungkuk langsung mengadahkan kepalanya, berharap akan seseorang yang ditunggunya.


Namun harapannya sirna seketika.


"Yang Mulia Baginda Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri memasuki ruangan!!!!" seru ksatria penjaga dengan suara lantang.


RUBY POV


Kenapa aku merasa kecewa? Padahal aku sudah memperkirakan adanya kemungkinan Aqua tidak akan datang.


Meski begitu... sepertinya aku tidak bisa menahan perasaan ini. Bahkan di saat tubuhku membungkuk di hadapan Kaisar, pikiranku melayang entah kemana.


Selama ini aku sudah bertahan...


Menahan beratnya siksaan dan rasa kesepian... Kenapa ini harus terjadi padaku setelah aku kehilangan kakak dan ibu?


Karena sibuk sendiri dengan pikiranku, aku tidak menyadari bahwa Kaisar dan Permaisuri sudah berdiri di hadapanku. Machioness juga mengikuti mereka dari belakang.


"Hohohohoho... Nona Arsilla, sudah lama aku tidak melihatmu. Sepertinya kamu sudah tumbuh semakin cantik," puji Kaisar.


Basa basi saja. Kau pikir aku tidak sadar kalau dari tadi matamu melirik Putra Mahkota dan aku bergantian?


"Terimakasih atas pujian anda, Baginda. Saya yang rendah ini tidak pantas menerimanya."


"Jangan merendahkan dirimu seperti itu. Keluarga Arsilla selalu menjadi tangan kanan Kekaisaran. Identitasmu sama sekali tidak rendah," sangkal Kaisar.


Tangan kanan kekaisaran, huh... tidak ada seorangpun bangsawan yang tidak tau julukan Keluarga Arsilla kami.


Anjing Kekaisaran


Yah, itu tidak sepenuhnya salah. Memang benar kami tidak bisa melawan perintah tuan kami seperti anjing.


Permaisuri menyentuh pelan tangan Kaisar.


"Baginda, sudah lama kita tidak datang ke pesta. Mari kita biarkan anak-anak berkumpul dengan sesamanya."


"Hahaha, kau benar. Ayo kita pergi saja."


Mataku bertemu dengan Yang Mulia Permaisuri. Dia hanya tersenyum ramah seperti biasa.


Permaisuri Kekaisaran, Kaleena Fern de Levana.


Berbeda dari Ratu (ibu Pangeran pertama) dan Ratu sebelumnya (ibu Putra Mahkota), Yang Mulia Permaisuri sama sekali tidak tertarik dengan tahta. Sejak awal dia mengandung, dia sudah melepas hak waris anaknya, tidak peduli anaknya laki-laki atau perempuan.


Yang diinginkan Permaisuri hanyalah agar anaknya bebas melakukan apapun yang mereka mau. Karena itu para bangsawan tidak menganggapnya berbahaya dan membiarkan Permaisuri dan dua putrinya begitu saja. Selama dia tidak menganggu mereka.


Kebanyakan orang hanya mengetahui kalau Yang Mulia Permaisuri adalah Tuan Putri dari Kerajaan kecil bernama Oryza yang letaknya jauh di Benua Sihir. Namun kenyataannya sangat berbeda. Dari awal identitas Permaisuri ini tidak biasa.


Banyak yang tidak tau tempat seperti apa Kerajaan Oryza itu. Sebenarnya itu bukanlah Kerajaan kecil biasa. Karena penghuni kerajaan itu bukanlah manusia. Melainkan ras langka yang dekat dengan alam, Dryad.


Sebenarnya ini adalah plot twist besar dalam game. Ras Dryad adalah ras yang bisa bereproduksi hanya dengan satu induk saja. Permaisuri menikah dengan Kaisar karena alasan tertentu. Namun di saat tidur bersama, Kaisar akan di bius tanpa sadar dan Permaisuri membuat seolah-olah mereka sudah tidur bersama dan mengandung.


Tapi lagi-lagi itu tidak benar. Faktanya, Permaisuri melahirkan Putri Ketiga dan Keempat hanya dari dirinya sendiri. Mereka berdua sama sekali tidak membawa gen ayahnya.


Jadi Permaisuri, Putri Ketiga dan Putri Keempat adalah Dryad murni.


"Kakak! Sudah lama tidak bertemu, kenapa akhir-akhir ini kakak begitu sibuk?" tanya Machioness di tengah perjalanan Kaisar.


"Maafkan aku, Estifa. Aku memang sedang sibuk akhir-akhir ini," jawab Kaisar.


"Apa lagi-lagi karena sang pahlawan itu?"


"..... Benar."


"Tapi bukan hanya itu... aku tidak menemukan sedikitpun informasi tentang anak wanita itu. Sebenarnya kemana anak itu pergi?" batin Kaisar.


Machioness sepertinya menyadari ada yang aneh. Alisnya berkedut tadi.


Yah, itu bukan urusanku.


[ ♫ ♪ ♩ ♬ ♩ ♪ ♫ ♬ ♪ ♫ ♬ ♩ ♬ ♩ ♪ ♪ ♩ ♬ ♩ ♪ ♫ ]


"!"


Alunan musik yang lembut mulai terdengar memenuhi ruangan.


Ah, jadi begitu. Ini sudah waktunya dansa utama, huh.


Pantas saja para tuan muda bangsawan segera menghampiri para nona muda untuk meminta mereka berdansa.


"Hihihihi..."


Nedura tertawa kecil melihatku sendirian, tanpa ada seorangpun yang mengajakku berdansa. Dia berdansa setelah menerima ajakan Putra Mahkota dan menjadi pusat perhatian. Meskipun akulah seharusnya peran utama pesta ini.


Kebanyakan bangsawan tidak berani mengajakku karena di belakangku ada Machioness. Mereka yang tidak ingin menjadi musuh Machioness pasti akan berusaha menghindariku. Yang bisa mereka lakukan cuma mengejek dan menggunjingku dari belakang.


Ini menyebalkan.


Rasanya aku ingin membakar habis tempat ini.


Selama Keluarga Kekaisaran tidak terluka, tidak masalah kalau aku membunuh semuanya, kan?


"......"


Tidak, apa yang barusan kupikirkan? Aku tidak mau menjadi buronan hanya karena itu.


Mari bersabar sampai masuk akademi.