The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 157 [ Kedua Player Bertemu ]



FUIIIINNGGG FUIIIINNGGG FUIIIINNGGG


Sirine penanda akhir dari kelas telah berbunyi. Jam terakhir di divisi attack magic adalah kelas teori, strategi kelompok oleh seorang kakek-kakek pengajar. Banyak yang menganggap itu adalah kelas yang membosankan dan tidak memperhatikan, namun banyak juga yang tetap fokus mempelajari semua itu, Ruby adalah salah satu diantaranya.


Anak sekelas segera berhamburan keluar untuk pulang atau berkumpul dengan teman mereka. Jam belajar mereka dimulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 16.00. Setelahnya adalah jam bebas dimana mereka dapat melakukan kegiatan apapun yang mereka inginkan selama mereka kembali ke asrama sebelum jam malam, pukul 22.00. Bagi murid yang melanggar, akan dikenai hukuman oleh kepala asrama masing-masing.


Selama Ruby sibuk merapikan bukunya, terlihat Putra Mahkota dan bangsawan Kekaisaran Levana lainnya berkumpul menuju ke suatu tempat, kebanyakan murid dari tempat yang sama memang cenderung berkumpul bersama, entah sebagai teman satu klub, atau sekedar komunitas.


Anggota party pahlawan dunia lain juga sempat berkumpul sebelum akhirnya mereka berpencar didepan pintu masuk. Kanzaki Kazuki dan Akabane Sora terlihat menghela napas mereka karena Shirasaki Aoi pergi meninggalkan mereka agak dingin.


"Mau pergi ke klub?" tanya Eli tiba-tiba.


Gadis (?) itu berdiri disebelah kursi Ruby sembari menyapanya ramah. Pietro juga mengekor di belakangnya. Ruby menggeleng pelan sebagai jawaban.


"Maaf, ada yang harus kulakukan sebelumnya. Jadi hari ini aku tidak bisa datang."


Eli tidak mempermasalahkannya dan membalas Ruby dengan senyuman, "Oke! Nikmati waktumu. Lagian bukannya kita ada urusan penting di klub juga sih. Aqua gak nyuruh apa-apa selain belajar segiat mungkin. Sendirinya malah ngambil quest dari divisi sana sini."


"Kalau kamu butuh sesuatu, bilang aja ya! Kami akan membantumu sebisa mungkin! Soalnya kitakan teman!" senyumnya.


Ruby terdiam sesaat, "Teman?"


Sebelum akhirnya tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. "Ya, terimakasih..."


Setalah melambai pada Ruby, Eli meninggalkan Ruby dikelas yang sudah sepi sambil menarik tangan Pietro. Tak perlu ditanya lagi, mereka menuju ruang klub mereka. Dan karena Ruby tidak hadir, ini saat yang tepat untuk membahas rencana Raven kedepannya. Meski ketuanya juga tidak hadir.


Ditinggal oleh Eli, Ruby kembali menata meja dan tasnya sebelum meninggalkan ruang kelas. Bisikan demi bisikan terdengar dari anak-anak yang tersisa dikelas. Berkat indra Ruby yang memang lebih kuat dari manusia, dia bisa mendengar semuanya dengan jelas.


Siswi A, "Psstt... Lihat, apa dia ini gak mau bersosialisasi?"


Siswi B, "Memangnya ada yang mau main sama dia? Serem ah, masak temenan sama orang yang bisa hisap darah kita sampai mati gitu."


Siswa A, "Si Kynlaus sama bocil Oren itu satu-satunya yang ngajak dia ngomong, kan? Memang ya, orang aneh kumpulnya sama orang aneh."


Siswi C, "Hihihi... Yang Mulia Putra Mahkota juga dingin ke dia, kan? Padahal dia dulu calon tunangan Putra Mahkota yang paling diakui."


Siswa B, "Oi, oi, oi... cuma bersikap dingin aja tuh dah kebaikan tau. Kalau itu aku, aku pasti sudah menghukumnya. Berani sekali dia bertunangan dengan orang random sebelum pertunangan dengan Putra Mahkota terjadi. Untung orang random itu Pangeran Vittacelar."


Siswi B, "Bener banget. Kalau bukan pangeran elf, pasti keluarga kerajaan akan menjatuhkan hukuman berat padanya. Apalagi kalau rakyat biasa, hukuman mati sangat mungkin."


Siswa A, "Kalau bukan karena Pangeran Aquamarine, mana mungkin monster itu bisa sebebas itu."


Siswa B, "Tunangan Putra Mahkota, adik tirinya si vampir itu yang malah jadi tunangannya. Sayang banget."


Siswi A, "Oi! Jangan bahas dia! Kamu bisa dianggap menghina keluarga kekaisaran loh!"


Siswa A, "Opss, benar juga."


Siswi C, "Si Ruby ini, dia habisin keberuntungan seumur hidup buat jadi tunangan Pangeran Aquamarine."


Siswa A, "Iri bilang boss!"


Siswi C, "Ya aku iri!! Emang kenapa!!? Dia punya tunangan yang bisa nyelesaiin masalah apapun gitu! Siapa yang gak iri coba!"


Siswi A, B dan Siswa A, B, "Wkwkkwkw, sabar, sabar."


Meski mendengar semua itu, ekspresi Ruby tetap datar hingga dia keluar kelas. Namun hatinya mendidih karena berbagai alasan.


"Padahal mereka tidak tau apapun."


Gadis itu berjalan dengan kecepatan sedang keluar dari gedung. Pikirannya ramai oleh dirinya sendiri. Ruby sudah sering menerima perlakuan semacam itu. Setiap kali dia berjalan didepan orang lain, orang yang mengetahui identitasnya pasti akan selalu berbisik-bisik. Dia memang populer seperti Aqua yang menyamar menjadi Citrine, namun karena alasan yang 180° berbeda.


Jika kepopuleran Citrine datang dari wajah yang jelita, sifat yang dingin, status yang tinggi dan prestasi yang luar biasa sehingga orang-orang kagum dan iri. Maka kepopuleran Ruby datang dari status sebagai anjing Kekaisaran, ras yang menakutkan bagi manusia dan insiden yang menimpanya baru-baru ini. Tatapan yang terarah pada Ruby adalah tatapan mencibir, iri, cemburu, benci dan berbagai emosi negatif lainnya. Meski sering mendapatkannya, Ruby tak pernah bisa terbiasa dengan itu. Tidak, mungkin Ruby bisa. Jika ingatan yang ada padanya hanya ingatan Ruby yang tersiksa sejak kecil.


.


.


.


.


RUBY POV


Kalian yang tidak tau seperti apa hidupku sebelumnya tidak berhak mengatakan itu! Aku akui, menjadi tunangan Aqua adalah salah satu keberuntungan dalam hidupku. Karena dengan itu berbagai masalah dalam hidupku dapat terselesaikan.


Tapi kalau demi menjadi tunangannya, aku harus mengalami berbagai masalah lainnya yang bahkan bisa melebihi Heroine aslinya, dihh... gak mau! Kenapa aku harus terlibat dengan masalah merepotkan semacam itu!? Satu-satunya keinginanku cuma ketemu lagi sama kakak, bukan punya kekasih kaya, tampan dan statusnya tinggi.


Aku bukan protagonis manga shoujo!


Aku tidak tertarik sama kumpulan cowok tampan yang cuma nambahin masalah dalam hidupku!


Aku bukan perempuan yang butuh kasih sayang mereka dan bergantung pada mereka kayak gitu!!


Sejak kecil aku dididik untuk menjadi wanita yang mandiri oleh kakak dan ibuku! Bergantung pada tunangan! Itu bukan gayaku!! Kalau kalian mau jadi kayak gitu, lakuin aja sendiri! Jangan menyeretku seenaknya!


"Ck..."


"......"


"......"


"......"


TAP TAP TAP


Perasaanku terlalu semrawut karena orang-orang itu. "Tenanglah diriku, ini gak kayak kamu aja."


Aku berusaha menenangkan diriku sebisa mungkin. Tapi belum juga aku berjalan cukup jauh dari gedung, tanganku mendadak ditarik oleh seseorang jauh ke samping gedung. Karena tubuhku terlalu kecil untuk anak seusiaku, tubuhku bisa ditarik terlalu mudah oleh orang itu.


BRUUUUKKKKK


"!!"


Seorang gadis remaja dengan rambut hitam dan mata birunya memojokkanku ke dinding cukup keras dan mengunci pergerakanku dengan tangannya (kabedon).


Ah, aku tau dia. Dia salah satu anak SMA yang dipanggil dari Jepang. Kalau gak salah namanya...


"Apa yang kau mau dariku, Shirasaki Aoi-san?" tanyaku dingin.


Pupil gadis itu agak bergetar, ".... -san?" batinnya.


Wajahnya terlihat semakin menakutkan. Dia benar-benar marah sekarang. Padahal aku tidak ingat pernah mencari masalah dengannya. Kenapa dia tiba-tiba begini?


"Memanggilku dengan honorfik '-san'. Sudah kuduga, kau orang dari Bumi, kan?" ucapnya dengan nada mengecam.


Hmm... bagaimana aku harus menjawab ini. Aku memang memanggilnya -san. Tapi aku tidak bermaksud mengatakan aku dari Bumi juga. Tentu aku juga bukannya gak kepikiran kalau dia akan sadar dengan itu, tapi aku tetap melakukannya tanpa alasan. Mungkin karena gak penting dia tau atau gak.


"Jawab pertanyaanku!!" bentaknya.


Ha~ahh... merepotkan. Cewek kayak gini, gak ada masalah, dianya yang nyari masalah. Benar-benar jauh dari sifatku yang jauh-jauh dari masalah tapi malah terlibat masalah.


Aku menepis pelan tangan kirinya yang bersandar di dinding dan mengunci pergerakanku.


"Apa itu ada hubungannya denganmu?"


Matanya terbelalak, "Tentu saja ada!!! Dari mana kau berasal!?! Jepang!? Korea!!? Atau China!!?"


Semua yang dia sebut cuma negara Asia Timur aja. Memangnya orang yang ke Isekai cuma orang Jepang, Korea dan China? Negara lain di Bumi gak dianggap kah? Bodoh sekali. Cuma karena cerita-cerita novel dan komik tentang Isekai berasal dari negara-negara itu, bukan berarti orang yang ke Isekai beneran cuma dari sana, kan?


"Kukatakan sekali lagi. Apa hubungannya denganmu?" ucapku dingin, tak ada gunanya melibatkan diri dengan ini lebih dari ini.


Shirasaki Aoi mengepalkan tangannya dengan wajah geram, sepertinya kesabarannya sudah habis. Meski aku yang harusnya begitu.


"Kelihatannya kau tidak mau mengatakannya. Baiklah, tak akan kutanyakan lagi. Aku juga tidak akan penasaran dengan bagaimana caramu bisa jadi Rubylia Arsilla. Yang pasti, entah kamu punya ingatan orang lain, reinkarnasi atau menggantikan tubuh Rubylia yang jiwanya menghilang, itu semua artinya kamu punya pengetahuan dari Bumi," katanya.


"Melihat alur dunia ini jadi seruwet dan seberbeda ini, kamu kan! Kamu kan yang mengubah alurnya!!?"


"Apa yang kamu bicarakan?"


"Jangan berpura-pura tidak tau!! Kamukan yang mengubah alur asli Dragon Wing hingga semua informasi yang kupunya jadi tidak berguna!!! Itu pasti kamu!!! Kalau tidak mana mungkin heroin yang asli menghilang!! Mana mungkin Putra Mahkota tidak punya tunangan lagi!! Mana mungkin villain sepertimu bisa jadi tunangan target tersembunyi, Pangeran Aquamarine!!!!"


"......."


Ah... jadi begitu. Gadis ini... dia juga seorang 'player'.