The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 101 [ Request Senapan Dwarf ]



"Murid Vashlana Magiya katamu?!!!!" jerit Recho tua sambil menghentakkan meja.


"Bukan cuma cucu Mantan Saintess, tapi juga murid Ratu Sihir?!!!"


Lama-kelamaan Aqua lelah dengan respon yang selalu sama itu. Meski di sisi lain dia juga menikmatinya.


"Ya."


Recho tua menepuk punggung Aqua hingga berbunyi cukup keras.


"Hahahahaha!!!! Bocah! Kau punya identitas yang hebat!!!" pujinya dengan tawa keras.


Hell terlihat kesal pada dwarf rendahan yang berani-beraninya melakukan itu pada tuannya. Lain halnya dengan Eli dan Mika yang tertawa kecil karena melihat Aqua berwajah kesulitan seperti itu.


"Bocah, bisa dibilang kamu membawa dua permata bersamamu. Katakan! Apa yang kau inginkan jauh-jauh datang ke sini?" ucapnya ramah dengan nada keras.


Aqua menghela napas panjang, dia tidak terbiasa dengan sikap ramah dwarf yang agak kasar. Anak itu mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari kantung (inventory) nya. Kertas itu cukup besar, ukurannya sekitar 50×50 cm. Aqua membuka gulungan itu di meja besar Recho tua.


Terlihat rancangan rumit mendetail sebuah senjata modern yang telah dimodifikasi sedemikian rupa oleh Aqua. ( Ilustrasi hanya hasil jadi )



"A-Apa-apaan benda ini?!!!" kaget Recho tua.


Aqua menyeringai senang melihat reaksi Recho tua.


"Bagaimana menurutmu? Apa kamu bisa membuatnya?" tantang Aqua.


Recho tua menatap tajam Aqua dan mengguncang lengannya.


"Apa kau yang membuat rancangan ini???!!!"


"Itu tidak penting. Apa kau bisa? Kalau tidak aku akan menanyakannya pada dwarf lain."


Aqua menggulung kembali rancangan itu.


"Tu-tunggu!!! Aku bisa!!!! Jangan tunjukkan ke Dwarf lain!!!" bentak Recho tua.


"Bagus. Ini adalah requestku. Apa kau menerimanya?" tawar Aqua.


"Benda itu adalah maha karya!! Kalau dengan benda itu, aku yakin aku bisa melampaui ayah!!! Jangan khawatir bocah! Aku pasti akan menyelesaikannya!!!" jawab Recho tua tanpa ragu-ragu.


Bagi dwarf yang selalu berusaha menciptakan item paling menakjubkan, keberadaan senjata modern seperti itu adalah sesuatu yang sangat menakjubkan dan menggairahkan semangat mereka. Tidak akan ada dwarf yang mampu menolak hak untuk membuat sebuah mahakarya seperti itu. Namun tidak semua dwarf bisa membuatnya dan tidak semua dwarf bisa dipercaya untuk membuatnya.


Aqua tersenyum senang dengan keberhasilan rencananya.


"Aku akan menyerahkannya padamu. Tolong lakukan yang terbaik untuk membuat benda ini. Lalu... berapa banyak waktu dan biaya untuk menyelesaikan benda itu?"


"Ini rumit, akan butuh setidaknya 3-6 bulan jika dwarf biasa yang membuatnya. Tapi jangan khawatir, karena ini adalah aku, kamu hanya akan menunggu selama 1 bulan saja! Masalah biaya itu tidak penting! Aku hanya akan menarik biaya bahan saja!! Bisa membuat benda ini saja sudah cukup bagiku" ucapnya yakin.


"Sebagai gantinya, biarkan aku meletakkan tanda tanganku di sana!"


"Baiklah, terima kasih. Kamu bisa menanyakan detail penting dan yang lainnya pada anak ini," balas Aqua sambil menepuk pelan kepala Eli.


"Dia yang akan menggunakannya dan dia juga ahli tentang itu. Kamu bisa mengandalkan anak ini," lanjut Aqua.


"Sudah selesai, kan!Kalau gitu aku akan langsung mulai, bocah!!! Kalian bisa tinggal di rumahku sampai aku menyelesaikannya!!"


Tanpa membuang waktu, Recho tua dengan cepat mengambil rancangan itu dan menarik tangan Eli ke bengkelnya.


"Ehh...! Tu-tunggu sebentar!!!!!!!!" jerit Eli saat ditarik Recho tua yang bersemangat menjauh.


Aqua, Mika dan Hell ditinggalkan sendirian di sana.


"Dasar dwarf tua itu... dia terlalu bersemangat," keluh Aqua sambil tertawa kecil.


"......"


"Hell, maaf. Kembalilah ke cincin untuk saat ini," pinta Aqua. Bukan tanpa alasan, keberadaan Hell yang terlalu lama di satu tempat bisa mempengaruhi lingkungannya.


"Tidak apa-apa, Tuan Aqua. Panggil saja saya kapanpun anda membutuhkan. Saya kembali dulu, manga yang anda berikan belum selesai saya baca," senang Hell.


Tak butuh waktu lama, Hell langsung masuk lagi ke dalam cincin. Seperti kata Hell, agar Hell dan Eli tidak bosan, Mika menciptakan ulang beberapa manga dari ingatan Aqua dengan skill yang sama saat dia menyalin lingkaran sihir teleportasi desa dwarf dengan matanya. 10 tahun di dalam dungeon pasti membosankan, meskipun Mika dan Aqua juga sibuk dengan penelitian dan leveling, mereka juga beberapa kali menciptakan hiburan untuk mereka sendiri. Manga adalah salah satunya.


"Apa gunanya dia keluar dari awal?" sindir Mika.


"Hahaha... benar juga."


"Tidak apa-apa. Recho tua itu bisa dipercaya," jawab Aqua.


Mika, "Karena dia anak Jasper Chalcedony?"


Aqua, "Bukan. Karena dia Recho Chalcedony."


Mika, "Kamu sangat mempercayainya, ya."


"Yahh... aku tidak akan kemari kalau aku tidak mempercayainya," senyum Aqua.


"Memang sih."


Sepasang mata diam-diam memperhatikan Mika dan Aqua yang sedang mengobrol santai. Mata itu penuh kecurigaan dan kewaspadaan pada orang tak dikenal yang mampu membuat Recho tua seperti itu.


Namun tanpa pemilik mata itu sadari, sebenarnya Aqua dan Mika juga memperhatikannya tanpa melihat dia secara langsung.


« Dia memperhatikan kita. Apa kita akan bergerak sekarang? » tanya Mika.


« Tunggu dulu. Biarkan kewaspadaannya mengendur setelah beberapa hari » jawab Aqua santai.


« Oke, itu ide bagus. Artinya kita punya waktu istirahat cukup lama. Ayo lihat-lihat desa! » ajak Mika riang.


« Baik, Ratuku! » canda Aqua.


"Kita bisa jalan-jalan lihat desa. Tapi sebelum itu, biar aku mengabari Raven lain dulu kalau kita sudah sampai. Sekalian menjelaskan situasi tentang Yue dan kamu," kata Aqua sambil mengeluarkan sebuah kertas dengan lingkaran sihir kecil di ujungnya.


"Apa kamu juga akan menjelaskan tentang kita?" ragu Mika.


"Mereka harus tau itu, tapi tidak sekarang. Informasi seberat itu akan menganggu konsentrasi mereka nantinya," jawab Aqua agak dingin.


Mika mengangguk, informasi tentang Aidan dan Airella yang terus mengalami reinkarnasi dan fakta kalau mereka adalah anak kembar Dewi Athena memang terlalu berat.


Aqua meletakkan kertas itu dimeja dan menuliskan beberapa kalimat di atasnya. Anak itu menjelaskan secara garis besar informasi penting yang harus diketahui Anggota Raven lainnya. Beberapa informasi tersebut antara lain:


★ Arc-Angel Michael di segel di dasar dungeon dan Aqua menyelamatkannya.


★ Aqua membawa Michael bersamanya.


★ Identitas Michael tidak boleh diketahui orang lain.


★ Anggota ke-6 Raven telah di temukan, dia Kynlaus.


★ Aqua sudah bertemu Yue, ingatan Yue kembali.


★ Yue dan Michael sebenarnya 1 orang yang sama.


★ Jiwa mereka terpisah karena beberapa hal.


★ Yue kembali ke Benua Iblis untuk menyelesaikan masalahnya.


★ Yue memindahkan status "Envy" ke Michael sementara.


★ Aqua, Michael dan Kynlaus ada di desa dwarf.


★ Akan menetap 1 bulan, setelah itu anggota Raven akan lengkap.


★ Perintah! Semua anggota harus berkumpul di Kota Aranyu tanggal 2 (1 bulan lagi).


★ Bantu aku cari informasi keberadaan Rainbow Crystal Flower.


"Ini saja harusnya sudah cukup," gumam Aqua sembari memasukkan pena-nya.


Mika tertegun melihat surat Aqua, wajahnya terlihat lelah.


"Bukannya itu terlalu to the point? Mereka pasti akan bingung melihat itu."


"Tidak masalah. Kak Vira dan Kak Vina pasti bisa memahaminya hanya dengan itu."


Aqua membakar kertas itu dengan api hitam dari tangannya. Sesaat setelah kertas hangus menjadi abu, abu itu terbang dibawa angin keluar jendela menuju suatu tempat. Kertas itu mirip sihir teleportasi, fungsinya adalah mengirimkan surat tanpa harus memakai mana. Namun layaknya kertas teleportasi, tidak banyak yang menggunakan kertas itu karena harganya yang mahal.


"Tidak bisa memakai sihir itu merepotkan, ya?" sindir Mika.


Aqua terkikik pelan, "Yah... kita sudah hidup berdampingan dengan sihir dalam waktu terlalu lama sampai keberadaannya sudah seperti udara."


"Sangat penting namun tak terlihat ada," lanjut Mika dengan tawa kecilnya.