
Waktu Yang Sama Dengan Di Tinggalkannya Ruby dan Aqua di Kereta Kuda
Menara Sihir
Vashlana Magiya, sang pemilik menara sihir telah kembali ke tempat yang bisa disebut rumah keduanya. Para penyihir seketika memberikan hormat saat wanita itu berjalan melewati mereka. Ashlan tersenyum ramah dan menyapa bawahannya satu persatu.
Kedua kakinya terus menaiki anak tangga Menara Sihir hingga akhirnya mencapai ujung paling tinggi Menara Sihir. Lantai tertinggi Menara Sihir adalah lantai khusus pemilik Menara Sihir. Sejauh ini, hanya Vashlana Magiya dan asistennya yang bisa memasuki lantai itu.
ZWWWUUUUNGGG
Pintu menara sihir melakukan scan otomatis pada Ashlan yang berdiri didepannya. Tak butuh waktu lama sampai identitas Ashlan dikenali dan pintu terbuka.
Ashlan menutup kembali pintu itu setelah dirinya berada didalam. Sesuatu mulai terjadi. Wajah ramah Ashlan yang murah senyum dan berwibawa memudar. Perlahan tubuhnya terduduk didepan pintu. Kakinya lemas, seperti tak ada lagi tenaga untuk berdiri.
Tangan kanan Ashlan yang gemetaran menutupi wajahnya yang hampir mengeluarkan air mata. Perlahan perubahan pada fisik wanita itu mulai terjadi. Pada mulanya gigi Ashlan terlihat seperti manusia biasa, telinga rubahnya turun lemas dan hanya ada satu ekor saja. Namun sekarang gigi dan taringnya mulai meruncing, telinganya tegak keatas dan ekornya keluar satu per satu.
Wajah Ashlan yang putih polos juga mulai berubah. Wanita itu seperti sedang memakai eyeshadow merah terang di mata dan bibirnya menjadi lebih merah.
"SIALAN!!!!!!!"
PRAAAAAAANGGGGG
Ashlan bangkit dan menghempaskan segala benda disekitarnya. Vas mahal dari Kerajaan Cuvier yang tertata di atas rak pecah terbanting. Bukan hanya benda itu, barang-barang lain juga menjadi korban kemarahan Ashlan.
"Apa kamu benar-benar sudah tidak memikirkan kejadian itu lagi, Mio?"
"Nama itu masih membuatmu trauma, ya. Aku tau kamu masih dendam pada dirimu sendiri."
"Tapi tolong, jangan sampai kamu membuang nama itu Ashlan. 'Vashlana Magiya' adalah nama yang kuberikan. Berbeda dengan nama 'Kitsuna Mio' yang Master berikan padamu. Setidaknya setelah 1 milenium berlalu, hanya nama itu yang masih menjadi bukti bahwa kamu adalah murid Master."
Kata-kata Permaisuri Kaleena yang terlintas di pikirannya membuat wanita itu semakin menggila. Semua orang wajib bersyukur, karena meski begitu Ashlan tidak mengeluarkan lebih dari 1% kekuatannya sehingga dampak kemarahan wanita itu hanya sebatas pada lantai tertinggi.
"Sialan!!!!" murkanya meninju dinding hingga retak parah.
"Inilah kenapa aku tidak ingin pergi ke Kekaisaran... karena ada kemungkinan aku akan bertemu wanita itu," batin Ashlan sakit hati.
Wanita itu duduk terjatuh di tengah-tengah perabot rusak yang dia hancurkan. Matanya mulai berair karena mengingat kejadian yang tidak ingin dia ingat.
"Kenapa... kenapa kamu harus menyebut tentang itu...?" gumam Ashlan pilu.
Ashlan duduk termenung, dia memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya kebawah.
[ Mio!! Kamu lama banget!!!! Aku tinggal loh ]
[ Mio, kamu bolos lagi? Ha~aahh... apa boleh buat, aku akan menyembunyikanmu ]
[ Temani aku leveling, Mio! Aku tidak terima kalah dari otak otot itu!! ]
"Diam..."
Suara-suara dari berbagai orang di masa lalu terdengar di kepala Ashlan. Meski wanita itu terus meminta suara itu untuk diam, bahkan hingga menutup telinganya erat-erat, suara itu tidak meredup. Ekspresinya penuh luka, Ashlan terus menggeleng dan meminta suara itu berhenti.
[ Mio-sama!! Tolong cobalah menu baruku!! ]
[ Wahh, terimakasih sudah membantuku Mio-senpai! ]
[ Mio... apa yang sebenarnya harus kulakukan padamu? Padahal kamu saat kecil sangat imut begitu... ]
"Diam..."
[ Aku tidak akan kalah darimu selanjutnya, Mio!! Jangan kau pikir kamu sudah menang!! ]
"Kumohon... diam.."
[ Mio!! Kamu mengambil cemilanku lagi!!! Ini sudah yang keberapa kali!!? Dasar rubah pencuri!!!! ]
[ Mio... kamu itu... masih saja memakai logat aneh itu? ]
[ Tidak perlu terburu-buru... aku tau kamu jenius, tapi tidak asa salahnya mempelajari semuanya perlahan. Hidupmu masih panjang, Mio ]
"Aku mohon... diam..."
[ Hentikan Mio!!!!!!!! ]
[ Mio!!!! Kendalikan dirimu!!!!!!!! ]
[ Jangan Mio!!!! Kamu pasti bisa mengendalikannya!!!!!! ]
[ Mio-senpai!!!!!!!!!!! ]
[ Mio-sama... kenapa...? ]
[ Kerajaan Amamiya tidak akan pernah melupakan ini!! Kitsuna Mio!! Kau akan membayar dosa ini nanti!!! ]
"KUBILANG DIAM!!!!!!!" jerit Ashlan kesakitan.
[ Maafkan aku... Mi... o... ]
[ Maaf... Mio... senpai... ]
[ Bangunlah... Mio... ada orang... yang menunggumu... ]
[ Haha... ada apa dengan wajahmu...? Aku tidak apa... apa... jangan... menangis begitu... ]
"HENTIKAN!!!! SIAPAPUN!!!! TOLONG HENTIKAN SUARA INI!!!!!!!"
Ashlan semakin menggila. Kesembilan ekornya keluar. Aura yang selalu ditekan dan terkontrol mulai menyeruak tanpa arah dan menghancurkan apapun yang ditemuinya. Beruntung ada penghalang sihir di lantai tertinggi.
Tapi jika ini terus berlanjut... tidak ada yang tau apakah penghalang sihirnya bisa bertahan.
Suara terakhir yang terdengar persis seperti suara Permaisuri Kaleena menjadi pukulan terakhir pada Ashlan.
"ARRRGGGGGGGHHHHHHHHHHH!!!!!
Mata ungu Ashlan telah sepenuhnya memerah bersamaan dengan keluarnya seluruh ekor rubah wanita itu. Hanya dari jeritan itu saja, seluruh penyihir dalam radius puluhan kilometer langsung merasa merinding seperti ada sesuatu yang berbahaya datang.
Hanya dari perasaan aneh itu, beberapa penyihir tingkat Epic ke atas langsung tau bahwa asalnya dari Ashlan. Mereka berbondong-bondong berlari menaiki tangga untuk mengecek keadaan. Namun karena sihir penghalang, tidak ada satupun yang bisa masuk.
Diantara belasan penyihir yang berdiri didepan pintu masuk lantai tertinggi, seorang wanita maju dan masuk ke lantai itu dengan mudah. Melihat penyihir lain tidak terkejut, sepertinya wajah wanita itu sangat tidak asing bagi mereka.
"!!!"
Wanita 20-an berambut ungu gelap panjang dengan kacamata itu terkejut saat memasuki lantai tertinggi dan melihat kondisi disana.
"Astaga, Nyonya!! Wujud itu!!" kagetnya.
Wanita ini adalah sekretaris Vashlana Magiya sekaligus salah satu penyihir tingkat Legend yang jarang ada. Wanita itu terburu-buru menghampiri Ashlan setelah meletakkan dokumen yang dibawanya.
"Semua barang-barang ini... apa anda tau berapa harganya!?" marah wanita itu.
"Ma-maaf aku terlambat... Whoahh!!!!" kaget wanita berambut kream yang baru tiba di sana.
"Ap-apa yang terjadi?!" tanyanya.
Wanita yang berambut ungu dan kream itu adalah tangan kanan dan kiri sekaligus asisten Vashlana Magiya, Vera dan Amanee (pernah muncul sebelumnya di Chapter 63). Jika Vera bertugas mengatur para penyihir dan menara sihir menggantikan Ashlan seperti wakil, Amanee bertugas membantu pekerjaan Ashlan dari dalam.
Dalam pandangan Vera dan Amanee, terlihat Ashlan dalam wujud setengah perubahannya penuhnya berdiri di tengah-tengah tumpukan puing-puing perabot mahal.
"......."
Mereka tidak pernah melihat Ashlan menangis seumur hidup mereka. Tapi kali ini bukan hanya menangis, Ashlan bahkan sampai mengamuk karena kesedihan itu.
"Nyonya Vashlana pasti masih bisa mengendalikan dirinya. Terbukti dia tidak melanjutkan sampai penghalangnya rusak. Tapi ini pasti tidak berlangsung lama. Aku harus melakukan sesuatu," batin Vera.
"...... Amanee! Perkuat kekkainya! Aku akan mencoba menenangkan Nyonya Vashlana," seru Vera.
"Ta-tapi Vera! Apa kamu yakin... bisa menghentikan itu?" tanya Amanee tidak yakin sambil menunjuk Ashlan.
"..... Sejujurnya aku tidak tau. Tapi aku akan mencobanya dulu."
Amanee tidak bisa menghentikan Vera, karena memang benar di Menara Sihir, hanya Vera yang paling mendekati Ashlan. Amanee segera merapal mantra untuk memperkuat barrier. Sedangkan Vera mendekati Ashlan dengan hati-hati. Wanita itu bersiap untuk segala kemungkinan yang bisa terjadi.
Vera merinding meski Ashlan hanya meliriknya. Wanita itu segera memasang kuda-kuda.
"...... Nyonya Vashlana... tenangkan diri anda. Saya tidak tau apa yang terjadi. Meski begitu anda pasti akan menyesalinya jika melampiaskan disini," ucap Vera hati-hati.
"........"
Ashlan menatap Vera dengan mata kosong.
"?"
Ashlan melirik ke arah Vera, Amanee dan jendela bergiliran. Hari tengah hujan sehingga cahaya tidak begitu memasuki ruangan. Kali ini Ashlan melirik pecahan kaca yang memantulkan dirinya.
"Suaranya... hilang..." batin Ashlan.
Perlahan wujud Ashlan kembali seperti wujudnya yang biasanya. Ekornya masuk kembali satu persatu. Semua kembali normal, kecuali perasaannya yang terasa teriris-iris oleh ingatan masa lalu.
"Apa anda sudah tenang, Nyonya Vashlana?" tanya Vera memastikan.
".... Vera... Amanee..." panggil Ashlan lirih.
"Ya, Nyonya Vashlana!!" jawab Vera dan Amanee bersamaan.
".... Terimakasih sudah datang, maaf... tinggalkan aku sendiri."
Mata Ashlan terlihat lelah. Dia pasti menghabiskan banyak energi untuk meratakan lantai ini.
"Ta-tapi Nyonya Vashlana!!"
Saat Amanee hendak menyanggah, Vera memegang pundaknya sambil menggeleng.
"Apa anda akan mengamuk lagi?" tanya Vera.
"...... Aku tidak tau. Aku hanya... ingin merenung sejenak," jawab Ashlan ambigu.
"Tolong panggil kami saat anda merasa tidak bisa menanggungnya sendiri. Kami tidak bersama anda hanya setahun dua tahun," kata Vera diikuti anggukan Amanee.
Ashlan melirik ke arah lain, "Baiklah."
"......."
Meski agak ragu, Vera dan Amanee meninggalkan Ashlan sendiri disana. Mereka merasa tidak berguna karena baru datang langsung pergi lagi. Mereka tidak tau, kalau saat mendengar mereka, suara yang menghantui kepala Ashlan mulai menghilang.
Setelah bayangan Vera dan Amanee tak terlihat lagi, Ashlan mengacak rambutnya.
"Ha~ahh... apa yang sebenarnya kulakukan...?"
Meskipun hujan belum sepenuhnya reda, namun awan telah menunjukkan bulan. Cahaya bulan memasuki jendela dan menyentuh Ashlan lembut.
"....... Kenapa sekarang... kenapa sekarang aku teringat itu lagi?"
"Kitsuna Mio... hanya karena mendengar nama itu saja..." gumam Ashlan.
Ashlan memeluk lengannya dan menunduk. Air mata sekali lagi mengalir dengan deras.
"Maafkan aku... aku benar-benar minta maaf... akan kulakukan apapun agar kalian memaafkanku... jadi tolong... katakan padaku apa yang harus kulakukan untuk kalian..."