The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 137 [ Kemurkaan Sang Tunangan ]



Permaisuri Kaleena menempelkan gelas wine dingin yang baru diambilnya ke pipi Ashlan.


"Nama itu masih membuatmu trauma, ya. Aku tau kamu masih dendam pada dirimu sendiri."


"Tapi tolong, jangan sampai kamu membuang nama itu Ashlan. 'Vashlana Magiya' adalah nama yang kuberikan. Berbeda dengan nama 'Kitsuna Mio' yang Master berikan padamu. Setidaknya setelah 1 milenium berlalu, hanya nama itu yang masih menjadi bukti bahwa kamu adalah murid Master."


Ashlan sebenarnya ingin marah begitu mendengar nama itu lagi. Tapi dia tidak bisa membantah perkataan Permaisuri Kaleena.


"......"


Permaisuri menghela napas agak panjang.


"Kau sendiri tau kalau aku sangat iri pada kalian karena aku satu-satunya murid Master yang tidak di namai olehnya. Jadi jangan membuangnya semudah itu."


"..... Aku tau, aku tau itu."


Ashlan mengepalkan tangannya erat-erat.


"Tapi apa menurutmu aku masih pantas menyandang nama itu setelah semua yang kulakukan!?"


Karena semakin lama Ashlan bisa semakin hilang kendali, Permaisuri sudah menyiapkan sihir area yang membuat area itu kedap suara, jadi tidak perlu khawatir percakapan pribadi mereka terdengar.


"Aku tidak ada di posisi yang berhak menilai itu. Tapi aku yakin, Master dan yang lainnya tidak akan menganggap kejadian itu salahmu. Jangan kamu tanggung dosa itu sendirian, kamu sendiri juga tau, aku juga salah disini. Kalau saja saat itu aku ada disana, setidaknya semua tidak akan separah itu," balas Permaisuri sendu.


Ashlan tersenyum mengejek namun ekspresinya terlihat ingin menangis.


"Hah! Kalau kamu disana, kamu mungkin juga akan mati."


Diamnya Permaisuri menjawab semuanya. Ashlan benar, dia bisa saja mati jika ada di sana saat itu, tapi setidaknya dia bisa mengurangi dampak terburuk yang terjadi jika ada disana. Daripada datang terlambat dan menyaksikan semua sudah berakhir.


"....... Sudah ½ milenium lebih sejak kejadian itu. Apa guna membahasnya lagi sekarang?" kesal Ashlan.


"Kalau yang kau inginkan adalah membuatku mengingat kembali mimpi buruk itu, selamat! Kamu sudah berhasil!"


Kata-kata yang keluar dari mulut wanita rubah itu menusuk hati permaisuri. Dia sama sekali tidak ada maksud seperti itu.


"..... Maaf, Ashlan. Aku hanya-"


SWWOOOOOOSSSHHHHHHH


"!?"


Belum sempat permaisuri menyelesaikan kalimatnya, ada sesuatu yang langsung menarik perhatian mereka berdua.


"Ini... aura membunuh?!" kaget Ashlan.


"Siapa yang bisa mengeluarkan aura membunuh sebesar ini!?"


"Siapa yang berani memancarkan aura membunuh saat pesta dansa!?" marah Permaisuri.


Tidak disangka, jawaban akan pertanyaan itu terjawab begitu cepat. Hanya dengan mengikuti asal aura membunuh itu, Ashlan langsung tau siapa yang mengeluarkannya.


"!!"


Mata Ashlan seketika terbelalak.


"Bocah itu!!!"


Seperti dugaan, orang yang memancarkan aura membunuh sebesar itu hingga orang-orang kesulitan bernapas dan ambruk dengan cepat adalah Aqua.


Dia berdiri di tengah aula sambil memegang tangan Ruby dan menatap tajam ke arah bangsawan dan keluarga kekaisaran. Matanya memancarkan niat membunuh luar biasa, seolah-olah yang ada di depan mereka ini bukan manusia melainkan naga yang perbedaan levelnya begitu besar.


Menyadari situasinya, Ashlan langsung menuju Aqua tanpa berpikir 2 kali. Permaisuri juga mengikutinya dari belakang.


"Bocah bodoh! Apa yang kau lakukan!?" marah Ashlan.


Aqua tidak menjawab, bahkan tidak mengurangi aura membunuhnya sedikitpun. Karena ini Ashlan mengambil tindakan tegas dengan cara mengeluarkan aura dalam jumlah yang sama untuk menekan aura Aqua.


"!"


"Master?!"


Barulah kali ini Aqua menyadari keberadaan Ashlan.


Tanpa basa basi, Ashlan langsung melayangkan tinjunya pada anak itu. Jika ini biasanya, Aqua akan terpental ke dinding seperti sebelumnya. Namun anak itu bahkan tidak bergeming. Dia menerima pukulan di pipinya itu sampai mulutnya mengeluarkan sedikit darah.


Mata Ashlan agak melotot karena terkejut.


Sebenarnya Aqua enggan menghentikan auranya, karena sekarang dia dalam keadaan murka. Tapi akal sehatnya kembali, dia tidak mungkin membunuh anak-anak yang tidak bersalah hanya karena kesalahan orang lain.


"Maafkan aku, Master."


Masuknya kembali aura ungu gelap yang mencekam itu membuat semua orang kembali bernapas dengan normal. Aura itu tidak bocor terlalu lama, tapi hanya dalam waktu singkat, aura Aqua sudah menanamkan ketakutan luar biasa di hati mereka.


Ashlan menyangga kening dan matanya yang kelelahan.


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


Meski Ashlan bertanya begitu, sebenarnya dia tau apa yang terjadi pada muridnya. Bagaimana tidak? Semua terlihat begitu jelas. Hanya orang bodoh yang tidak paham.


Aqua sedang menahan tangan kanan Ruby yang terbuka karena gaunnya tersibak. Di tangan yang putih dan lembut itu, terlihat bekas luka sayatan dan cambukan yang begitu besar seperti jejak ular.


Beberapa menit yang lalu, saat sedang berdansa, Ruby yang terpeleset lantai yang basah itu hampir jatuh. Beruntung Aqua menangkapnya tepat waktu sehingga Ruby tidak terluka. Namun dalam posisi itu, gaun lengan kanan Ruby tersibak sedikit hingga menunjukkan belang yang aneh. Karena curiga, Aqua sengaja melepas bagian itu.


Disitulah dia terkejut dengan fakta yang dia lihat. Tunangan yang jauh lebih kecil darinya ini memiliki bekas luka cambuk di tangannya. Tanpa sadar aura membunuh itu sudah keluar darinya. Dia marah, sangat marah karena berbagai alasan.


Hanya satu kalimat yang dia ucapkan setelah itu.


"Siapa bajingan yang melakukan ini!?"


Ashlan yang melihat muridnya tidak menjawab tidak berkata apapun. Dia melirik ke arah bangsawan, keluarga kekaisaran dan Ruby gantian.


Para bangsawan sudah ambruk dan gemetar hebat dengan ekspresi takut sampai trauma. Bahkan ada yang sampai kencing di celana saking takutnya. Keluarga kekaisaran menegang, mereka juga merasakan keringat dingin mengalir di punggung mereka dan perasaan mencekam bagai kematian berdiri didepan mereka, namun mereka mampu menjaga ketenangan mereka.


Terakhir Ruby, Ashlan bingung dengan respon gadis itu. Meski Aqua tidak mengarahkan auranya pada gadis itu, harusnya dia tetap merasa takut. Tapi bukannya takut, yang ada Ruby menatap Aqua penuh tanda tanya.


"Sebenarnya kenapa dia marah?"


Ekspresi gadis itu seolah menanyakan itu.


"Kita tidak bisa melanjutkan pestanya kalau seperti ini," ucap Ashlan lelah.


"Iya... aku setuju denganmu," jawab Permaisuri sama lelahnya.


Ekor Ashlan ada 9, namun dia tidak memperlihatkan ke-9 nya setiap saat. Hanya 1 ekor saja yang dia tampilkan saat keadaan normal. Dan ekor itu kini menyelimuti kepala Ruby dengan lembutnya. Seolah-olah dia sedang menenangkan gadis itu tanpa bicara.


"Sebaiknya segera akhiri pesta ini. Setelah itu mari kita bicara baik-baik tentang hal ini."


Ashlan menyarankan itu sembari menatap tajam pada Kaisar dan Machioness. Tentu dua dari mereka mampu menangkap maksud Ashlan, meski yang mereka tangkap berbeda.


"Sekali lagi aku setuju denganmu. Kalau kita tidak membicarakannya baik-baik... mungkin ini bisa menimbulkan perang antara Kekaisaran dan Kerajaan Vittacelar," angguk Permaisuri.


"Dan jika itu terjadi, menara sihir pasti akan berpihak sepenuhnya pada Kerajaan Vittacelar."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


[ Author baru bikin akun Trakteer nih. Sapa tau aja ada para pembaca kaya yang penuh uang dan ingin membagi sedikit hartanya untuk author. Hehe :v ]


https://trakteer.id/cpatra\_ha/tip