
RUBY POV
Namaku Rubylia Arsilla, seorang bangsawan demi human di Kekaisaran Levana. Leluhurku membantu Raja Levana mengembangkan Kerajaan Humaria menjadi Kekaisaran Levana, jadi Kaisar memberikan gelar bangsawan dan wilayah kekuasaan padanya.
Vampir sebenarnya bukanlah ras yang suka berhubungan dengan ras lain. Mereka tipe penyendiri yang tidak suka terlibat dengan dunia. Namun leluhurku, demi sang Kaisar yang menjadi tuannya, beliau rela mendekatkan diri pada ras lain dan bersosialisasi dengan mereka.
Tak peduli sebaik apapun dan seramah apapun keluarga Arsilla pada manusia. Para manusia selalu memandang sebelah mata kami yang merupakan vampir. Kuakui kami memang cukup berbahaya karena vampir adalah ras yang kuat dan berumur panjang, serta karena makanan utama kami adalah darah. Namun bukan berarti kami akan menghisap darah semua orang sampai mati begitu saja.
Sejak dulu, keluarga kami memilih membeli darah dari manusia yang sukarela menawarkan darahnya pada kami. Terkadang juga anggota keluarga kami hanya meminum darah dari tunangan atau sahabat saja. Darah yang minum tidak banyak, hanya butuh secangkir gelas teh untuk 2 bulan.
Jumlah itu bisa bertambah kalau kami sakit atau terluka, namun itu jarang terjadi.
Demi memperlihatkan bahwa kami, Keluarga Arsilla tidak membahayakan Kekaisaran. Keluarga kami secara turun temurun bersumpah setia pada Keluarga Kekaisaran dengan sumpah sihir.
Berbeda dengan sumpah darah yang mengikat jiwa, sumpah sihir adalah sumpah yang mengikat raga. Dengan kata lain, keturunan pesumpah juga akan terkena dampaknya. Satu-satunya cara mematahkan sumpah hanyalah menikah dengan Keluarga Kekaisaran. Sebagai ganti sumpah sihir, pengantin dari keluarga kami akan setia pada pasangannya.
Sejujurnya itu tidak ada bedanya. Hanya cara mengikat saja yang berbeda.
Awalnya semua berjalan seperti biasa. Keluarga kami akan membantu Kekaisaran dari bayangan dan tidak terlibat terlalu dalam dengan faksi manapun.
Tapi akhir-akhir ini Keluarga Kekaisaran menjadi serakah. Karena tidak mempunyai keturunan yang memiliki Dragon's Eye, mereka menginginkan kekuatan yang berbeda. Mereka mengincar kekuatan dan umur panjang Keluarga kami. Untuk itu, dengan dalih mencari tunangan Putra Mahkota yang sudah hampir dewasa, Keluarga Kekaisaran bermaksud menjadikanku boneka yang menambah kekuatan mereka.
Tidak ada seorangpun di dunia ini yang secara sukarela mau menjadi boneka orang lain. Jadi saat aku bertemu dengan Aqua, aku merasa kesempatan seperti ini tidak datang 2x.
Aku bersyukur Aqua tidak menolak permintaanku. Meski terlihat enggan, dia tetap menolongku. Wajahnya terlihat seperti melihat anak kecil yang meminta orang dewasa menikah dengannya dan akan membatalkannya suatu saat nanti.
Sejujurnya aku tidak keberatan kalau sumpah ini tidak dibatalkan. Dia bukan orang yang buruk sebagai tunangan. Malahan justru kandidat yang sangat bagus, mengingat dia adalah murid satu-satunya Ratu Sihir.
Saat aku pulang hari itu, aku tidak memberitahu siapapun selain ayah dengan siapa aku bertunangan. Aku hanya mengatakan aku bertunangan dengan anak laki-laki yang menolongku saat aku dalam bahaya. Itu saja.
Tentu saja Keluarga Kekaisaran marah besar pada ayah dan aku. Tapi didepan publik, mereka tidak bisa mencemooh begitu saja. Didepan publik, mereka tersenyum dan memberi selamat padaku yang sudah menemukan tunanganku.
Kukira itu saja sudah cukup untuk menghindari keserakahan mereka.
Namun keserakahan mereka lebih besar dari yang kupikir. Karena tidak berhasil mendapatkanku, mereka mengincar ayah yang statusnya seorang duda. Ayah sudah berumur 200 tahun lebih, tapi fisiknya masih seperti pria berumur 20-an. Tidak ada gadis bangsawan yang bisa menolak pesona ayah.
Kaisar menyodorkan adik perempuan satu-satunya pada ayah agar bisa dinikahi. Ayah sangat enggan, meski begitu dia tidak bisa menolak karena itu perintah Kaisar. Jadi ayah terpaksa menikahi janda 1 anak itu.
Sepertinya tugas sang putri adalah mempunyai anak dengan ayah yang akan menjadi pasangan keluarga kekaisaran nantinya.
Sayang sekali, karena Dewa Kejahatan bangkit, ayah ditarik masuk ke Medan perang bersama guru Aqua. Itu terjadi tepat 2 hari setelah pernikahan mereka.
Rencana mereka hancur.
Mencoba memasukkanku ke Keluarga Kekaisaran gagal.
Menikahkan ayah dengan sang putri dan memiliki anak juga gagal.
Karena keduanya gagal, kemungkinan mereka akan memikirkan rencana lain yang tidak kalah berbahaya.
Saat ini, sang putri dan anaknya sudah menjadi Machioness dan nona kedua keluarga Arsilla. Entah karena aku bukan manusia atau karena kegagalan rencana mereka, Machioness selalu melampiaskan amarahnya padaku. Itu bertambah parah sejak dia mengetahui kalau tunanganku bukan bangsawan.
Aqua memang bukan bangsawan... tapi rasanya dia tidak kalah hebat dengan bangsawan.
Sejak pertama kali aku bertemu dengannya, aku merasakan sesuatu yang berbeda darinya terlepas dari penampilan dan kekuatan. Aku tidak bisa menjelaskannya...
Rasanya seperti... hangat.
Orang itu sangat hangat. Perasaan bahwa dia orang yang bisa dipercaya, orang yang tidak akan melukai dan mengkhianatiku, orang yang akan selalu melindungiku.
Anehnya perasaan seperti itu muncul hanya dalam pandangan pertama.
Kenapa?
Mengingatnya saja membuat air mataku mengalir... Sebenarnya siapa dia sampai membuatku bisa merasa seperti bertemu keluarga. Perasaan seperti ini... hanya muncul saat melihat ayah dan bunda saja.
.
.
.
.
"Hehe… padahal aku mau main bareng kakak setelah sekian lama kakak baru pulang."
NGINGGGGGGGGGGG
"!"
Kepalaku sakit. Itu lagi?
Sebenarnya siapa perempuan itu? Kenapa selalu muncul mendadak di kepalaku?!! Sejak dulu selalu seperti ini... rasanya... seperti aku melupakan sesuatu yang penting.
"Tentu. Kenapa tidak?"
"Janji?!"
"Aku janji."
"Akhhhhh!!!! Sakit!! Kepalaku..." aku memegangi kepalaku yang mendadak terasa sakit. Meski tubuhku meringkuk menahan sakit, rasa sakit ini tidak berkurang.
Bukan hanya kepala... kenapa perasaanku juga ikut sakit?
Padahal aku bukan anak yang cengeng yang sering menangis. Namun air mata ini tidak bisa kuhentikan dan melaju begitu saja.
"Hiks... hiks... hiks... pembohong... kakak pembohong..."
Suara lirih yang keluar dari mulutku tak bisa kukendalikan. Aku tidak tau apa yang kukatakan dan pada siapa aku mengatakannya. Hanya sebuah... kemarahan dan kerinduan besar yang entah untuk siapa yang kuingat.
Kepalaku pusing... terlalu pusing untuk mempertahankan kesadaranku. Aku tidak tau lagi apa yang terjadi setelah itu. Mataku basahku terpejam, kesadaranku sudah menghilang bersamaan dengan hilangnya sinar bulan yang memasuki jendela kamar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[ Author Cha_nyann desu!! Sudah lama tidak menulis tambahan aku ini. Di chapter ini, biar aku jelasin bagian-bagian yang mungkin sulit dipahami sebagian pembaca!
Pertama, ibu tiri si Ruby ini mantan tuan putri Kekaisaran, adiknya kaisar saat ini! Jadi dia dan anaknya ini adalah Keluarga Kekaisaran juga. Dengan kata lain! Tidak peduli sekuat apapun Ruby, dia tidak bisa melawan karena sumpah sialan itu!
Kedua, sejarah berubah guys. Karena Ruby dan Aqua bertunangan. Ayahnya Ruby menikah dengan tuan putri karena terpaksa. Dengan kata lain! Ayahnya Ruby gak nikah sama ibu Heroine sebagaimana cerita dalam game. Ngerti?
Waduh... gimana nasib di Heroine ya?
Ketiga, ini gak penting sih. Tapi karena Author suka jejepangan, jadi pas nulis itu bisa dibaca begini juga bagi yang wibu.
Kakak ( Tiara ke Aqua ) \= Onii-chan!
Kak Rin \= Rin nee-san.
Kak Vira & Kak Vina \= Vira/Vina nee.
Tuan/Nyonya/Nona/Tuan Muda \= -sama.
Tuan Putri \= Hime-sama.
Pangeran \= Ojii-sama.
Nona muda \= Oujo-sama.
Monster \= Bakemono!
Untuk -kun, -chan, -san itu gak kupakai. Karena udah diwakili nama panggilan.
Itu aja guys.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya!!
Bye bye!!! ]