The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 127 [ Kebenaran Sisi Dewi Athena ]



Suatu Tempat Di Alam Dewa


Seorang wanita berambut pirang platinum seterang matahari duduk bersandar di gazebo yang letaknya tepat di tengah-tengah danau yang sangat jernih.


Matanya menatap danau itu dengan sendu. Terlihat adegan Aqua dan Mika berbicara dengan Ashlan dan Amethyst dari sana. Eskpresi wanita itu terlihat penuh kerinduan. Seperti sesosok kesepian yang tidak bisa bertemu tak peduli seberapa inginnya.


⟨⟨ Sosokmu yang seperti ini terlihat menyedihkan ⟩⟩


Wanita cantik berambut merah muda yang tubuhnya sangat terbuka itu tiba-tiba memberikan sedikit ejekan.


Tanpa menoleh ke asal suara itu, wanita pirang ini menjawabnya.


⟨⟨ Afrodit ya... ⟩⟩


⟨⟨ Kalau kamu sebegitunya merindukan mereka. Kan tinggal turun menemui mereka ⟩⟩


Dewi Afrodit dengan santainya tiduran sembari menyangga kepalanya.


⟨⟨ Andai semudah itu... Kesalahan yang kulakukan pada mereka rasanya... sulit dimaafkan ⟩⟩ jawabnya tanpa merasa marah sedikitpun.


Dewi Afrodit agak kesal dengan wanita ini.


⟨⟨ Kamu ini merepotkan juga, Athena... Bukannya itu hanya alasanmu saja? ⟩⟩


⟨⟨ Dan apa tadi? Kesalahan? Yang awalnya salah itu mereka berdua, kan? Kupikir justru kamu yang terlalu baik. Sudah jadi rahasia umum kalau Dewa Dewi termasuk anak mereka, dilarang jatuh cinta apalagi menikah dan mempunyai anak bersama ⟩⟩


⟨⟨ Karena kalau itu terjadi, akan ada restorasi pada dunia yang mereka pimpin dan itu menyebabkan disekuilibrium dimensi. Kalau kamu tidak memisahkan mereka dan mengirim mereka ke dunia, dua anak itu pasti akan mati baik di tanganmu, dewa lain atau bahkan Dewa Tertinggi ⟩⟩


Athena tersenyum sedih. Iya, dia memang melakukan hal kejam itu demi menyelamatkan anaknya.


⟨⟨ Tapi membuat mereka mengalami 5x reinkarnasi itu kejam, kan? ⟩⟩


Lagi-lagi Dewi Afrodit mendecak lidahnya. Dia bangun dari tidurnya dan menarik pipi Dewi Athena sampai melebar dengan kedua tangannya.


⟨⟨ Kalau tidak begitu, darah dan jiwa dewa mereka tidak akan menghilang dan bayang-bayang hukuman itu akan selalu menghantui mereka, kan? ⟩⟩


⟨⟨ Kamu ini diam-diam ingin dipuji apa gimana? ⟩⟩


⟨⟨ Mwaafkwan Akwu... ⟩⟩


Dewi Afrodit melepas cubitannya yang meninggalkan bekas merah di pipi Dewi Athena. Dia ikut mengintip rekaman dunia di danau itu.


⟨⟨ Bahkan untuk para Dewa Dewi, kita tidak diwajibkan untuk selalu berbuat baik oleh Dewa Tertinggi. Kita hanya diwajibkan menyelesaikan tugas kita saja ⟩⟩


⟨⟨ Julukan Dewi paling lembut dan baik memang sangat cocok padamu ⟩⟩ ucap Dewi Afrodit setengah mengejek sambil meninggalkan Dewi Athena sendirian di gazebo itu.


⟨⟨ ??? ⟩⟩


Dewi Afrodit membatin dengan hati yang penuh kekhawatiran pada Dewi Athena.


⟨⟨ Beneran... dia ini... terlalu baik. Di setiap kehidupan anaknya, baik Aidan maupun Airella... peran ibu mereka pasti akan dia ambil. Athena ini selalu merasuki tubuh 'ibu' kedua anaknya dengan kekuatan seminim mungkin agar tidak merusak keseimbangan dunia. Tentu Athena selalu memilih tubuh kosong yang memang sudah kehilangan jiwanya sebelum memasukan roh anaknya ke rahim mereka ⟩⟩


⟨⟨ Entah sudah berapa kali tubuh yang Athena rasuki mati karena mengorbankan nyawa untuk anaknya. Yang terakhir tubuh putri Elf itu ya? Harusnya di putri itu dan anaknya mati saat persalinan. Jadi yang hidup selama 5 tahun membesarkan Aqua dan mati melindunginya adalah Athena sendiri ⟩⟩


⟨⟨ Baik di dunia manapun maupun alam dewa. Aku tidak pernah melihat seorang ibu sebaik Athena. Dua bocah kembar itu... awas kalau kalian jadi anak durhaka. Aku sendiri yang akan memberikan hukuman dewa pada kalian nanti! ⟩⟩


Dewi Athena masih melihat Dewi Afrodit yang menjauh darinya sambil menggerutu.


⟨⟨ Jangan terlalu dipikirkan... Biarpun berkata begitu, Afrodit sebenarnya mencemaskanmu ⟩⟩ kata wanita cantik berambut biru muda langit yang baru saja datang.


⟨⟨ Artemis... Aku tau. Dia itu Tsundere, kan? ⟩⟩ senyum Dewi Athena sembari terkikik geli.


Dewi Artemis sedikit tersentak.


⟨⟨ Tsundere... kamu memilih kosakata yang lucu juga ⟩⟩


⟨⟨ Mungkin ini efek tinggal di dunia Hestia ⟩⟩ canda Dewi Athena.


⟨⟨ Ah... benar juga. Fufufufu... ⟩⟩ balas Dewi Artemis dengan tawanya.


Seorang pria menawan berkulit gelap dan rambut krim melihat mereka di tengah perjalanannya. Tangan pria itu memegang Lyra emas yang memancarkan aura suci.


⟨⟨ Artemis! Athena! Kalian tidak mengajakku saat piknik di tengah danau begini? ⟩⟩ goda pria itu.


Dewi Artemis mendecak lidahnya, kesal.


⟨⟨ Apollo! Sudah kubilang berapa kali! Berhenti main-main dan urusi duniamu dengan benar sana!! Diantara ke tujuh dunia yang kau pegang, hampir ketujuhnya jadi dunia yang mandiri, kan? ⟩⟩


⟨⟨ Ehh... bukankah bagus~ Dunia yang tidak di campuri Dewa... Terdengar keren, kan? ⟩⟩ elak Dewa Apollo.


⟨⟨ Dewa Tertinggi sedang tidak ada di tempat ⟩⟩ timpal Dewi Athena.


⟨⟨ Hah?! Kok bisa!? Kenapa!!? ⟩⟩ tanya Dewi Artemis agak kaget.


⟨⟨ Itu... ⟩⟩


Dewi Athena mengalihkan matanya menghindari tatapan Artemis. Kata-kata seolah menyangkut di tenggorokannya.


⟨⟨ Mana mungkin aku menjawab kalau Dewa Tertinggi sedang turun ke duniaku bersama Nona Aquarius, kan? ⟩⟩


⟨⟨ ??? ⟩⟩


⟨⟨ Tidak... Lupakan saja... ⟩⟩


...***...


Amethyst senang, Aqua sebegitunya memikirkan putrinya. Tapi tetap saja, dia memiliki keraguan untuk memaksa keponakannya menyamar menjadi perempuan demi itu.


"Terimakasih sudah bertekad seperti itu. Tapi kamu tidak perlu memaksakan dirimu. Citrine meninggal juga karena kelalaianku. Entah bagaimana, aku pasti bisa mendapatkan bunga itu lewat jalur diplomasi," tegun Amethyst.


Aqua tentu saja menyadari bahwa kemungkinan itu memang ada.


"Bibi, butuh berapa lama waktu untuk itu?" tanya anak itu terus terang.


Seketika Amethyst tersentak. Memang jika menggunakan caranya maupun menjadi orang penting di Kekaisaran akan butuh waktu bertahun-tahun. Karena Kerajaan Vittacelar tidak berhubungan sebaik itu dengan Kekaisaran sampai Kekaisaran rela memberikan harta negara.


Melihat bibinya agak murung, bukan seperti dia yang biasanya, membuat Aqua tidak terlalu menyukainya.


"Semua hal ada batasannya. Batas waktu menghidupkan kembali Kak Rin tanpa resiko tinggi hanya selama 3 tahun saja."


"Akademi butuh waktu 4 tahun untuk lulus. Entah bagaimana caranya, saya akan lulus dalam 2/3 tahun. Jadi bibi tidak perlu khawatir," ucap Aqua cukup santai.


Ashlan menepuk kepala Amethyst.


"Anak itu sudah berkata sampai seperti itu. Dia bahkan sudah berjanji. Jangan buat dia menjadi lelaki yang mengingkari janjinya."


"........"


Amethyst hanya mengangguk saja.


"Kalau begitu sudah diputuskan, kan?" tanya Ashlan memastikan.


"?"


"Iya... apa ada sesuatu?" jawab Aqua dengan pertanyaan lain.


Ashlan menyeringai, membuat Aqua merinding. Melihat gurunya mulai mendekat padanya, Aqua jadi waspada. Kini apa lagi yang ingin Ashlan lakukan pada Aqua?


Tangan Ashlan melayang ke arah Aqua. Aqua memejamkan matanya, bersiap untuk di tampar. Meski anak itu punya daya tahan fisik, tapi kalau di tampar gurunya, pasti ada yang sakit di tempat lain.


Namun....


BHUGH


Bukannya tamparan, wanita rubah ini menghadiahkan Aqua sebuah pelukan hangat yang sudah lama tak Aqua rasakan dari gurunya.


"???????"


Amethyst bisa melihat bagaimana seniornya itu memasang ekspresi penuh kelegaan bersamaan dengan setetes air mata yang mengalir menuruni pipinya.


"Ara?"


"Banyak yang terjadi hingga aku melupakannya," ucap Ashlan tiba-tiba.


Pelukan dari Ashlan terasa semakin erat.


"Terimakasih sudah kembali hidup-hidup. Kerja bagus kamu bisa bertahan selama ini... Selamat datang kembali, muridku."


Mendengar masternya mengatakan hal yang tak terduga membuat Aqua tidak bisa berkata-kata. Rasanya apa yang ingin dia katakan tidak bisa keluar dari mulutnya. Anak itu merasakan bahwa Ashlan tidak sedang bercanda, tubuh wanita itu sedikit gemetaran. Aqua tau Ashlan bersyukur dari lubuk hatinya.


Meski dia sudah bertekad tidak akan menangis lagi sejak kematian Citrine. Tapi setetes air mata kebahagiaan turun begitu saja.


Dibalasnya pelukan sang master dengan lembut.


"Ya. Aku kembali, Master."