
Aqua minum teh dengan tenang sambil membaca buku. Ruby diam melihatnya, dari tadi ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Karena tatapan Ruby terlalu dalam, mau tidak mau Aqua menyadarinya.
"Ada apa?" tanya Aqua canggung.
"Kenapa? Kenapa kamu tidak bertanya mengapa aku mendadak disini?" balas Ruby.
Ruby jarang mengeluarkan ekspresi, jika tak ada sesuatu yang khusus, wajahnya hanya akan terkesan datar dan tenang. Bahkan di situasi tak biasa, ekspresi Ruby tak terlalu berubah.
"Apa ini yang disebut Kuudere?"
"Bukankah aku sudah bilang? Kalau kamu tidak mau menceritakannya, aku tidak akan bertanya. Kamu boleh mengatakannya kapanpun kamu mau," jawab Aqua ramah.
"...."
"Boleh aku mengatakannya? Aku tidak mau kamu berpikir aku orang mencurigakan," ucap Ruby.
"Tentu, aku akan mendengarkan."
"Tadi aku sudah cerita. Karena aku adalah kandidat utama untuk menjadi tunangan Putra Mahkota, banyak pihak yang mencoba menyingkirkanku demi tujuan pribadinya," kata Ruby datar.
"Ukhh, pembicaraan ini berat."
"Dari mereka semua, ada satu yang paling berbahaya. Itu adalah fraksi pangeran Pertama."
"Hmm… Putra Mahkota adalah Pangeran Kedua, Pangeran Pertama adalah anak kandung ratu saat ini. Jadi banyak yang mendukung fraksi Pangeran Pertama. Apalagi karena kedua pangeran tak punya mata Dragon's Eye. Jadi kedudukan mereka hampir setara. Jika Putra Mahkota mendapat dukungan keluarga Arsilla melalui pertunangan, kekuatan Putra Mahkota akan terlalu jauh dari Pangeran Pertama," pikir Aqua serius.
"Mencelakakan Putra Mahkota terlalu sulit, jadi mereka memilih mencelakakan calon tunangannya ya."
"Kukira fraksi Pangeran Pertama mencoba menjauhkanku dari Kekaisaran selama beberapa waktu. Tapi ternyata mereka lebih nekat dari dugaan. Mereka membuatku ke suatu titik tertentu yang disana sudah ada lingkaran sihir teleportasi. Aku tidak menyangka kalau tujuan dari lingkaran sihir itu adalah area terdalam hutan sihir. Jika aku tidak bertemu denganmu, aku mungkin sudah mati. Untuk itu, sekali lagi terimakasih," ujar Ruby mengakhiri penjelasannya.
"Aku mengerti. Sepertinya hidup sebagai bangsawan merepotkan juga," balas Aqua.
"Kamu sendiri? Kenapa tinggal ditempat seperti ini?" tanya Ruby penasaran.
Wajah Ruby masih sama saja, datar tak berekspresi. Tapi matanya berbinar-binar karena keingintahuannya. Aqua tidak bisa menolaknya setelah melihat mata anak kecil itu.
"Aku cuma anak yatim piatu biasa. Guruku menjadikanku muridnya saat umurku 10 tahun. Sejak itu aku tinggal bersama guruku sampai sekarang, itu saja. Tidak ada yang menarik."
Aqua tersenyum santai menjawabnya.
"... Begitu."
Binar mata Ruby meredup mendengarnya. Dia mengira akan bisa mendengar sesuatu yang menarik.
"Pfftt, dia kecewa," tawa Aqua dalam hati.
"Guruku akan kembali sekitar seminggu lebih. Kamu boleh tinggal disini sampai dia datang. Aku tidak bisa mengantarmu keluar, tapi master bisa."
Ruby mengangguk mendengarnya. Dia mencemaskan keluarganya, tapi memang tidak ada yang bisa dilakukan tentang itu.
"Baiklah."
Setelah itu Aqua mengajak Ruby berkeliling, Aqua menikmati perubahan suasana hati Ruby yang selalu berubah-ubah meski ekspresinya masih datar.
"Aku seperti bisa melihat suasana hatinya dari aura disekitarnya."
Malam hari tiba, Aqua memasak makanan dan meletakkannya di meja. Dua anak itu makan bersama. Begitu makanan habis, Aqua mencucinya dengan sihir air dan mengeringkannya dengan sihir angin dan api. Ruby seolah berada di dunia lain, karena baginya menggunakan sihir seperti itu sangat tak biasa.
Aqua mengantar Ruby ke pemandian, tak lupa meminjamkan bajunya juga. Sementara Ruby di dalam, Aqua menata tempat tidur supaya Ruby merasa lebih nyaman.
"Airnya hangat…" kata Ruby saat dia menyentuh air bak dengan tangan putihnya.
BYUUUR
Ruby masuk dan berendam di pemandian, dia menoleh sekelilingnya. Meski rumah Aqua tak besar seperti rumah bangsawan, Ruby merasa tempat itu lebih nyaman dari rumah bangsawan yang mewah dan besar.
"Biasanya saat aku mandi, selalu ada pelayan di sampingku. Mandi seperti ini, lebih menyenangkan dari yang kukira," ucapnya senang.
Tak lama, Ruby keluar pemandian dengan wajah merah padam karena kepanasan.
"Pfftt… sepertinya kamu terlalu lama berendam," tawa Aqua.
"Itu karena disana terlalu nyaman," elak Ruby.
"Hahaha… baik, baik."
Aqua melambaikan tangan menyuruh Ruby mendekat. Aqua mendudukkan Ruby di kursi dan menyentuh rambut Ruby. Dengan sihir angin dan api, Aqua membuat angin panas untuk mengeringkan rambut Ruby.
"Ohh…"
Ruby menikmati pelayanan Aqua dengan sepenuh hati. Kepalanya terasa sangat nyaman dan dia mulai mengantuk.
"Bahkan istana tidak menyediakan layanan seperti ini."
Aqua terkikik karena gadis kecil di depannya tertidur saat rambutnya dikeringkan. Dia menggendong Ruby dan menidurkan gadis itu di kasurnya. Aqua menarik selimut dan menyelimuti Ruby agar dia tidak kedinginan. Setelah itu, Aqua mematikan lampu lalu keluar kamar pelan-pelan.
"Rasanya seperti kembali ke saat adikku masih kecil."
...***...
RUBY POV
Sinar matahari memaksaku bangun dari tidur. Sejak kapan aku tertidur?
Sebuah selimut terlapis di atasku, aku juga berada di kasur yang lembut. Apa anak itu yang menidurkanku disini?
Aku bangun dan mengintip jendela, bukan pemandangan mewah dengan banyak pelayan yang kulihat. Namun pemandangan alam yang indah dan menyegarkan.
"Suatu saat… tinggal seperti ini tidak buruk juga."
Begitu keluar kamar, seorang anak laki-laki menyapaku dengan piring dan roti bakar diatasnya. Anak itu meletakkan piring di meja dan membuat 2 gelas teh.
"Ayo sarapan dulu," kata anak itu ramah.
Anak yang aneh. Berada di tengah hutan berbahaya saja sudah aneh. Tapi dia hidup dengan baik di sini. Aqua… ya. Nama itu terlalu mewah untuk rakyat biasa. Begitu mendengarnya, aku sempat berpikir kalau dia anak orang kaya atau semacamnya.
"Namaku juga mengandung permata di dalamnya. Kami agak mirip."
"Hmm? Apa kamu lagi senang?" tanya Aqua hangat.
Bagaimana anak ini bisa tau? Jarang ada orang yang bisa memahami perasaan kami karena keluarga kami sulit berekspresi. Tapi dia bisa dengan mudah memahamiku.
Aku tau dia tak biasa sama sekali. Dia juga bisa melakukan sihir tanpa rapalan. Terkadang aku penasaran, siapa gurunya?
"Aku sudah mengirim surat ke Master. Sepertinya dia hampir menyelesaikan pekerjaannya. Jadi beberapa hari lagi dia akan pulang," kata Aqua.
Entah kenapa aku tidak senang. Aku ingin pulang, itu tidak berubah dari kemarin. Namun, memikirkan aku akan meninggalkan tempat ini lebih cepat… membuatku sedikit sedih.
Aku mengangguk dan duduk di kursi depan Aqua. Sambil memakan rotiku, aku mencoba mengamati rumah ini.
"!"
Ada sebuah selimut di sofa! Apa Aqua tidur di sofa semalam? Karena aku memakai kasurnya, Aqua jadi tidur di sofa.
"Kenapa kamu terlihat murung?" tanya Aqua tiba-tiba. "Apa rotinya tidak enak?"
Aku? Murung? Kenapa?
"Tidak… bukan begitu," jawab Ruby seadanya.
Anak ini… kenapa dia memperlakukan ku sebaik itu? Biasanya manusia akan menjauhiku atau takut padaku begitu mereka tau kalau aku ini vampir penghisap darah. Tapi dia… sikapnya tak berubah. Kenapa?
Setelah itu, kami makan dalam keheningan. Aqua tak banyak bicara, meski begitu dia selalu bersikap ramah dan membantuku. Dia bilang aku boleh melakukan apapun yang kumau selama dia berlatih pedang di halaman.
Aku menontonnya dari teras rumah. Rambut coklatnya basah oleh keringat. Mata birunya terlihat indah dengan pantulan sinar matahari. Telinganya agak runcing, sedikit lebih runcing dari ras vampir tapi tak sepanjang ras Elf. Apa dia Half-Elf? Itulah mengapa dia bilang umurnya panjang.
Kenapa dia memakai penutup mata di mata kirinya? Apa dia pernah terluka? Meski aku punya banyak pertanyaan untuknya, tak satupun dari mereka terucap di mulutku. Aku takut… aku takut jika aku bertanya lebih dari ini, Aqua akan pergi karenanya.
Aku bangun, melihatnya lebih lama lagi akan membuatku banyak pikiran. Lebih baik aku melihat-lihat rumah ini saja.
Tak ada yang begitu spesial di rumah ini, cuma rumah minimalis biasa yang indah dan sederhana. Meskipun begitu, kenapa ada banyak alat sihir dirumah ini? Apa gurunya adalah penyihir ternama? Gurunya pasti penyihir hebat, karena membangun rumah di tengah hutan sihir terlalu nekat dan berbahaya.
"Aqua… boleh aku tanya siapa gurumu?"
Aku keluar untuk bertanya tentang itu ke Aqua. Kalau pertanyaan seperti ini, tak berlebihan, kan?
"Master ya… namanya Ashlan. Dia adalah wanita dari ras rubah," jawab Aqua sambil terus berlatih pedang.
Wanita ras rubah? Ashlan? Aku tidak pernah mendengarnya. Kalau dia penyihir terkenal, keluargaku pasti mengenalnya karena keluargaku juga keluarga penyihir.
Begitu pulang nanti aku akan mencari tau, siapa penyihir bernama Ashlan itu.