
Nafsu membunuh yang keluar dari tubuh kecil itu langsung membuat monster biasa disana pingsan hanya dengan tekanannya.
⟨ *Siapa baji*gan yang berani-beraninya memasuki wilayah ku*?! ⟩
Suara maskulin serak-serak basah terdengar bergema hingga mencapai telinga Aqua. Tatapan dingin Aqua yang seolah bisa membekukan apapun yang dilihatnya memandang rendah asal suara itu.
Langit penuh bintang yang terlihat indah tadi, tertutup kabut hitam pekat. Suara tapak kaki kuda terdengar dari arah sana. Terlihat seekor kuda hitam besar yang dikendarai oleh makhluk beramor gelap tanpa kepala. Makhluk itu mengacungkan pedangnya lurus ke Aqua.
Hanya dengan keberadaan makhluk itu saja, tidak ada monster dalam radius 1 km di sekeliling mereka. Aqua sama sekali tidak panik maupun takut. Hanya rasa kemarahan dan haus darah saja yang ada pada dirinya.
"Dullahan!" seru Aqua.
< Dullahan >
Dullahan merupakan monster tak berkepala yang mengendarai kuda hitam sambil menbawa bawa kepalanya di tanganya. Mata pada wajah yang dibawanya dikerebungi lalar dan senyuman manis di wajahnya dikatkan hampir mencapai telinga. Daging pada kepalanya mempunyai warna seperti keju basi. Dikatakan tatapan mata dulahan mampu membuat korbanya lumpuh dan melihat tak berdaya apa yang akan dia lakukan.
(Ilustrasi Dullahan from Google :v)
⟨ *Kukira siapa baj*ngan yang berani memasuki wilayah ku. Ternyata cuma bocah* ⟩
Nada Dullahan terdengar mengejek dan meremehkan Aqua. Namun Dullahan sebenarnya tidak pernah meremehkan siapapun musuhnya. Siapapun yang berhasil sampai sejauh ini dan bertemu dengannya, artinya dia sangat kuat sampai berhasil mengalahkan para boss lantai sebelumnya.
Jauh didalam hatinya, Dullahan mengetahui kalau anak didepannya berbahaya.
"Senjatanya cambuk... daya serangnya cukup mengurangi banyak HP. Jangkauan sedang. Kelenturan... yang paling berbahaya dari semua senjata."
Aqua langsung menganalisis Dullahan tepat setelah dia muncul. Hanya dengan informasi di mata kirinya saja tidak cukup. Dia harus memiliki ketajaman penilaian pada musuhnya.
"Kekurangan cambuk... sekali di pegang musuh, cambuk tidak akan berguna."
⟨ Apa kau datang sendiri, bocah? ⟩
"Aku tidak punya kewajiban menjawab pertanyaanmu," jawab Aqua dingin.
⟨ Kurang ajar!!! Apa kamu kira dirimu berhak menolak pertanyaanku?! ⟩
"Aku akan menjawab pertanyaanmu kalau kamu menjawab pertanyaanku."
⟨ Wahahaha!!! Menarik. Sudah lama tidak ada yang berani bicara seperti itu denganku. Baiklah! Kamu boleh bertanya 2 pertanyaan padaku, tapi kamu harus menjawab 4 pertanyaanku!! ⟩
"...... Terserahlah. Tanyakan saja duluan."
⟨ Oho... baiklah, kalau begitu. Empat pertanyaanku adalah satu, apakah kamu datang kesini sendirian saja? ⟩
"Tidak. Aku masuk ke dungeon ini berlima. Tapi untuk berbagai alasan kami terpisah. Sekarang hanya aku."
⟨ Hmm... hebat juga kamu berhasil sampai sini sendirian. Dua! Apakah kamu punya hubungan dengan Kekaisaran Anessa?! ⟩
"Kekaisaran Benua Suci? Tidak sama sekali."
⟨ Hahahaha!!! Bagus, bagus! Tiga! Apa kamu anggota party pahlawan?! ⟩
"Bukan."
⟨ Hmmrghh... Terakhir! Apa kamu mengenal wanita itu? ⟩
"!"
Dullahan menunjuk perempuan yang tergantung di altar. Tatapan Aqua menjadi lebih dingin dari sebelumnya.
"Bisa dibilang kenal, bisa juga dibilang tidak kenal."
⟨ Jawaban ambigu macam apa itu? Yasudahlah. Aku anggap kamu mengenal wanita itu ⟩
"......."
⟨ Jadi? Pertanyaan macam apa yang ingin kamu tanyakan? ⟩
"Sederhana saja. Apa kamu yang membuatnya menjadi seperti itu? Kalau tidak, apa kamu punya hubungan dengan baji*gan yang membuatnya seperti itu?" tanya Aqua kesal.
⟨ Tidak keduanya. Aku dibawa kesini secara paksa untuk melindungi... tidak, untuk memastikan wanita itu tetap seperti itu. Apa kamu puas? ⟩
Aqua diam memikirkan sesuatu.
"Dugaanku benar. Tujuan dungeon ini dibentuk adalah demi menyegel perempuan ini."
"Hei. Apa kamu membuat kesepakatan denganku?"
Seringai licik terukir di wajah tampan Aqua.
"Aku akan mengeluarkanmu dari tempat ini dan... aku akan membantumu balas dendam ke Kekaisaran Anessa. Sebagai gantinya, kamu akan menjadi bawahanku. Bagaimana?"
⟨ !!! ⟩
Lengkingan kuda terdengar nyaring. Dullahan marah mendengar tawaran Aqua. Dia menyambuk kemana-mana tanpa pandang bulu. Makhluk itu mendekati Aqua dengan cepat. Dia turun dari kudanya yang berjalan di langit langsung ke depan Aqua.
Tengkorak di tangannya di angkat ke depan wajah Aqua.
⟨ Bagaimana?! Bagaimana kamu bisa tau tentang dendamku ke Kekaisaran Anessa?!! ⟩
Aqua mengangkat sudut bibirnya. Dagunya naik ke atas, dia memandang rendah Dullahan.
"Itu bukan urusanmu. Aku hanya akan memberitahumu kalau kamu bersedia menjadi bawahanku."
⟨ ........ ⟩
⟨ Jangan bercanda denganku, bocah!! Memangnya kau bisa apa melawan Kekaisaran Anessa?! ⟩
"Aku yang sekarang mungkin tidak bisa. Beri aku waktu... 5 tahun saja. Aku akan memastikan dalam 5 tahun, Kekaisaran Anessa akan menghilang dari Demetria," jawab Aqua yakin.
Tatapan yang penuh kepercayaan diri tertanam kuat di mata Aqua. Dullahan berpikir sejenak, jika demi balas dendamnya, menjadi bawahan Aqua pun akan dia lakukan. Namun situasi saat ini tidak memungkinkannya membuat kesepakatan.
⟨ ...... Baiklah. Begini saja, aku akan memberimu 3 syarat. Jika kamu memenuhi ketiganya, maka aku akan mengakui mu sebagai tuanku. Terlepas dari kamu lebih lemah dariku ⟩
"Itu sudah cukup. Katakan syaratmu!"
Meskipun terlihat sangat percaya diri dan seolah dia bisa melakukan segalanya. Anak itu sebenarnya memendam cukup banyak kecemasan dalam dirinya.
"Makhluk didepanku terlalu berbahaya. Seperti kata Aure, dia rank EX dengan level 950. Hanya selisih 50 level dari Raja Iblis. Aku tidak yakin bisa melawannya dengan selamat."
"Dengan makhluk seperti ini... sebisa mungkin aku harus menghindari pertarungan."
⟨ Syaratku sederhana. Pertama, kamu harus bisa mengeluarkanku dari dungeon ini tanpa membunuhku! Kedua, kau harus memastikan Kekaisaran Anessa hilang dalam 5 tahun! Aku adalah penguasa kegelapan, syarat terakhir dariku adalah jangan membuatku melawan para Arc-Angel!! ⟩
Aqua tersenyum mendengarnya.
"Aku bisa memenuhi ketiga syaratmu."
⟨ Wahahaha!!! Kepercayaan diri yang tinggi sekali. Bagaimana caramu keluar dari dungeon ini tanpa membunuhku? Asal kau tau saja, jika kau mendekati inti dungeon maupun melepas wanita itu, tubuhku akan bergerak sendiri untuk membunuhmu! ⟩
"Dullahan... kamu adalah mayat hidup seperti halnya Lich. Memang kamu bisa dibilang 'hidup' tapi kamu juga bisa dibilang mati."
⟨ Lalu? Apa hubungannya? ⟩
"Kamu memintaku untuk tidak membunuhmu. Tapi kamu tidak melarangku untuk mengurung mu. Sebentar saja, sampai aku menghancurkan inti dungeon dan keluar dari sini. Aku akan mengurungmu selama itu."
⟨ Hmm... kamu cerdas juga. Memang benar cara untuk menyelesaikan dungeon ini tidak harus mengalahkanku. Yang terpenting adalah menghancurkan inti dungeon. Tapi bagaimana caramu mengurungku? Dengan kurungan biasa, aku bisa langsung keluar ⟩
"Aku punya skill yang membuatmu tidak bisa keluar tanpa izinku," jawab Aqua santai.
Aqua berjalan mendekati altar sembari melewati Dullahan.
"Dullahan, aku tidak punya banyak waktu. Aku harus segera menyelamatkannya. Maaf tapi... bisakah aku mengurungmu sekarang?"
⟨ Dasar bocah tidak sabaran. Baiklah, karena kamu sangat percaya diri dengan skillmu. Coba kurung aku sekarang! ⟩
Aqua berbalik perlahan. Tangan kanannya terangkat, menyentuh lengan armor Dullahan.
"Ini tidak hanya sekedar mencoba. Saat kamu keluar dari sana, akan kupastikan yang kamu lihat adalah pemandangan luar dungeon."
⟨ Kahahahaha!!! Menarik, bocah! Cepat lakukanlah! Kalau ucapanmu benar, kita akan bertemu lagi nanti di luar dungeon ⟩
"Ya. Sampai bertemu lagi di luar dungeon."
Hanya dalam waktu sepersekian detik sejak Aqua mengucapkan salam, tubuh Dullahan dan kudanya langsung menghilang seperti berteleportasi ke suatu tempat. Jejaknya benar-benar sudah tak tertinggal.
Aqua menatap tangannya sendiri dengan raut wajah bermasalah.
"Aku hanya menggertak dan iseng mencobanya. Tapi itu benar-benar bekerja."
Skill yang dimaksud Aqua bukanlah skill luar biasa yang baru dia dapatkan. Skill ini adalah skill bawaan yang sudah bersamanya sejak masih kecil.
"Siapa sangka... Inventory bisa menyimpan Dullahan juga."