The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
Chapter 44 [ Kabar Duka ]



"Apa Ruby dan Yue ada hubungannya dengan Tiara?!"


Ratu tersenyum melihat Aqua kebingungan. Dia mengayunkan tangannya. Seketika Aqua melayang dan portal terbentuk di atasnya.


"Tu-tunggu sebentar, Baginda!!! Masih ada yang ingin saya-"


Aqua di arahkan masuk ke portal dengan cepat. Dia tidak bisa melawan, hanya bisa melihat Ratu peri, Zephyr dan Aure melambai padanya.


".... tanyakan."


Dalam waktu sepersekian detik Aqua sudah kembali ke Aula istana.


"Sialan!" keluh Aqua.


"Cih, misterinya bertambah lagi. Raja iblis, Airella dan Tiara... sekarang ditambah adikku ada di dunia ini?!"


"Apa dia juga bereinkarnasi? Tunggu! Kalau begitu artinya anak itu juga sudah mati?! Sial!!"


Aqua keluar aula dengan amarah dalam dirinya. Namun amarahnya tak berlangsung lama. Saat dia melihat cincinnya, dia sedikit merasa senang.


"Kalau Tiara sudah mati dan bereinkarnasi ke dunia ini... Apa artinya aku bisa bertemu dengannya lagi? Tiara... kakak merindukanmu."


"!!"


"Hmm? Sebentar! Kalau menurut perkataan Ratu peri, aku akan bisa mengenali adikku saat melihatnya meski dalam wujud berbeda. Dari semua orang yang pernah kutemui, Yue dan Ruby adalah gadis yang mengingatkanku pada Tiara. Tapi kenapa ada 2? Apa salah satunya adalah reinkarnasi Tiara??"


Aqua mengacak rambutnya bingung.


"Sampai ketemu jawabannya, aku akan memperlakukan mereka seperti biasa saja. Soal cincin, untuk sementara kusimpan di inventory dulu."


Aqua memasukan cincinnya ke dalam inventory. Lalu anak itu keluar aula dan pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, anak itu memikirkan banyak hal hingga dia tidak merasa kalau sudah sampai. Rumahnya gelap, hanya cahaya redup yang menyinari depan rumah. Menandakan kalau orang yang ada didalamnya sudah tertidur.


Aqua membuka pintu pelan-pelan tanpa mengeluarkan suara. Dia naik ke lantai dua dan pergi ke kamar. Setelah menyikat gigi dan membasuh wajah, anak itu bersiap untuk tidur.


"Apa yang akan terjadi nanti, akan kusersahkan pada diriku yang nanti."


...***...


Hari demi hari demi berlalu dengan damainya. Aqua, Lix dan Yue berlatih sihir dengan ketat oleh Alesta. Sementara itu Elvira dan Elvina akan membantu penelitian Alesta. Dua kembar itu juga terkadang mengajari Aqua dan Lix teknik berpedang dan kombinasi pertarungan.


Awalnya Yue juga ikut diajari, namun Yue sama sekali tidak punya bakat penggunaan senjata jarak dekat apapun. Saat sedang sedih tentang itu, Citrine datang dan mengajak Yue mencoba berlatih panah.


Yue seakan bertemu dengan takdirnya, anak itu sangat berbakat dalam serangan jarak jauh. Setiap tembakan yang dia luncurkan selalu berhasil mengenai sasaran. Aqua dan Lix ikut senang dengannya.


Selain sesi berlatih sihir dan pedang, Aqua juga mendapat pelajaran lainnya. Karena Amethyst sudah mengangkat Aqua menjadi pangeran, tentu Aqua harus belajar tata Krama keluarga kerajaan, dll. Turquoise mengajarkan semua yang harus Aqua ketahui dalam menjadi pangeran dengan senang hati. Mungkin dia sudah menanti datangnya adik laki-laki?


Tata Krama, politik, strategi, dll yang dipelajari Aqua dengan cepat dia kuasai dengan baik. Selain karena otaknya memang sudah encer dari dulu, Ashlan sudah mengajarkan dasar-dasar semua itu padanya.


Kabar baik lainnya adalah Alesta sudah menemukan cara untuk membuka segel Elvira dan Elvina. Sekalian sebagai ujian terakhir darinya sebagai guru, Aqua, Lix dan Yue harus mengambilkan bahan pembuka segel. Mereka dengan senang hati melakukannya. Ketiga anak itu ditugaskan untuk mengambil Mutiara Avrill, mutiara yang hanya bisa ditemukan di lautan benua sihir. Untuk mendapatkannya, mereka harus berhadapan dengan monster kerang raksasa dengan level 200-an.


Syaratnya adalah Elvira dan Elvina dilarang untuk membantu mereka. Tapi tak ada yang perlu dikhawatirkan. Ketiga anak itu sudah puluhan kali berburu bersama sejak menjadi murid Alesta. Mereka juga sudah dilatih dengan ketat agar tidak mati menghadapi monster semacam itu.


Perburuan berhasil, anak-anak itu membawakan mutiara itu dengan antusias. Citrine, Elvira dan Elvina menyambut mereka dengan pelukan hangat.


Pembukaan segel si kembar segera terjadi tak lama kemudian. Karena Alesta sibuk, dia segera melakukannya tanpa membuang waktu. Seperti yang diharapkan dari Sang Master Kegelapan, segel Elvira dan Elvina sepenuhnya hilang. Mereka benar-benar kembali ke kekuatan asli mereka. Aqua, Lix dan Yue sampai terharu melihatnya.


Beribu ucapan terimakasih diucapkan, Alesta berkata cukup dengan bantuan mereka saja. Dengan penuh sukacita, para anggota Raven ditambah Citrine dan Turquoise berkumpul di rumah Aqua untuk berpesta.


"Ukhh... kepalaku pusing," keluh Aqua sambil memegang kepalanya.


Anak itu bangun dan melihat pemandangan disekitarnya. Kalau ada kata yang bisa menjelaskannya, maka itu adalah 'sangat berantakan.' Barang-barang pesta tersebar di mana-mana. Orang selain dia tidur tak pada tempatnya. Bahkan ada yang terlihat masih mabuk diantara mereka.


Anak itu berjalan keluar rumah untuk menghirup udara pagi. Sepertinya bukan dia satu-satunya yang ada di luar.


"Kau sudah bangun?" sapa Turquoise.


"Ah, kakak. Sudah," jawab Aqua dengan senyum canggung.


Turquoise merentangkan tangannya.


"Semalam heboh sekali, ya. Terutama si Citrine itu."


"Ahahaha... Kak Citrine yang mabuk cukup berbahaya."


Saat sedang mabuk, Citrine akan mengambil panah sihirnya dan menyerang orang-orang dengan sihir pelumpuh. Panah sihir miliknya itu spesial, panah itu dihadiahkan Mantan Ratu untuk ulang tahunnya. Panah itu bisa muncul saat dibutuhkan dan hilang saat tidak.


"Omong-omong... ini sudah 6 bulan sejak kamu datang di Kerajaan Vittacelar. Apa kamu nyaman disini?" tanyanya ramah.


"Nyaman kak. Aku yang dulu tidak akan bisa membayangkan punya teman yang ramah dan keluarga yang baik."


Aqua menjawab sepenuhnya pertanyaan Turquoise.


"Karena aku yang dulu hanya punya guru yang sedikit belok. Meski begitu, guru tetap keluargaku yang berharga juga."


"Keluarga ya... begitu, keluarga."


Gumaman Turquoise sedikit membingungkan Aqua.


"Kau tau, aku dulu cukup dekat dengan Bibi Sapphire sampai umurku 30-an. Nenek dan ibuku sangat sibuk mengurus ini itu. Hanya bibi saja yang menemaniku bermain."


Nada suara Turquoise terdengar penuh kerinduan.


"Begitu ya. Kak! Tolong ceritakan lebih banyak tentang ibu!"


"Hahahaha... baiklah."


Turquoise menceritakan tentang Putri Sapphire sebanyak yang dia tau pada Aqua. Sejujurnya Aqua tak terlalu ingat tentang ibunya, jadi mendengarnya membuatnya sangat senang. Bagaimana ya? Rasanya seperti mendengarnya akan membuat dirinya teringat sosok ibu dalam pikirannya.


Disela-sela percakapan mereka, Citrine keluar dari rumah dengan wajah berantakan. Turquoise dan Aqua menertawakannya. Aqua menggunakan sihir angin dan air untuk merapikan Citrine.


Setelah tampil rapi, Citrine memeluk Aqua. Dia mendudukkan Aqua di pangkuannya.


"K-kak! Aku sudah besar!!! Turunkan aku!!"


"Tidak mau!!!"


Meski Aqua terus meronta dengan wajah memerah, Citrine hanya tertawa dan terus mendekapnya. Turquoise juga ikut tertawa melihat tingkah 2 adiknya itu. Hawa kekeluargaan yang bahagia itu menyebar. Elvira dan Elvina tersenyum saat menontonnya dari dalam rumah.


Namun...


Hawa kebahagiaan itu tak berlangsung lama.


Dua ksatria Elf berlari dengan tergesa-gesa menghampiri 3 anak itu. Dengan wajah sangat panik dia meminta kehadiran mereka diistana.


"Setidaknya jelaskan padaku kenapa panggilan darurat di lakukan!!" seru Turquoise marah.


"I-itu... Yang Mulia Pangeran... Kerajaan baru saja mendapatkan kabar bahwa... Mantan Ratu... telah meninggal dunia..."


"!!!!!!!"