The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
Chapter 14 [ Kota Pertama (2) ]



Aqua punya tanda pengenal. Ashlan pernah membuatkan satu untuk Aqua. Tapi tanda itu bukan tanda biasa. Itu adalah tanda pengenal penyihir yang dibuat langsung oleh menara sihir. Disana tertulis tingkat penyihir seseorang, punya Aqua adalah tingkat tinggi.


"Orang-orang pasti akan heboh kalau melihat anak 13 tahun adalah seorang penyihir tingkat tinggi. Sudahlah…"


"Maaf, saya tidak memilikinya. Prosedur seperti apa yang harus kami lakukan?" bohong Aqua.


"Mudah saja, pertama kalian harus menyentuh kristal sihir ini. Kristal ini akan menyala biru jika kalian bersih dan merah jika kalian kriminal. Lalu kalian harus membayar 5 koin silver untuk orang dewasa dan 2 koin untuk anak-anak."


"Saya mengerti."


Aqua meletakkan tangannya di atas kristal itu. Kristal menyala biru begitu Aqua menyentuhnya. Aqua yakin itu akan menyala biru, karena dia tidak pernah berbuat kriminal. Begitu giliran Yue, Aqua sedikit khawatir tentang itu. Tapi kekhawatiran itu sia-sia. Kristal juga menyala biru saat disentuh Yue. Setelah itu Aqua membayar 4 koin silver dari tas kecilnya.


"Baik, kalian lolos."


Penjaga membukakan gerbang, Aqua dan Yue memasuki kota pertama yang mereka datangi saat melakukan perjalanan. Pemandangan ramai didalam mengejutkan Yue. Dia belum pernah melihat orang sebanyak itu sebelumnya. Meski takut, dia juga senang karena bisa melihatnya bersama Aqua.


"Lihat! Lihat! Ada yang bertelinga hewan! Aqua, lihat! Ada yang ekornya panjang. Woaahhhh…"


Aqua terkikik melihat tingkah Yue. Meski Aqua sendiri jarang melihat berbagai ras berkumpul di satu tempat, tapi dia tak pernah seheboh itu. Tentu saja, kali pertama dia melihat dikecualikan.


"Tenanglah Yue."


"Karena kita akan disini sebentar untuk mengisi persediaan kita dan menambah uang, kita akan mencari penginapan dulu."


Yue mengangguk imut. Dia terus menggandeng tangan Aqua seolah tak akan melepasnya. Orang-orang dewasa yang mereka lewati tersenyum hangat melihat kedekatan kakak beradik itu. Aqua sedikit memerah karena tak terbiasa dengan pandangan seperti itu. Berbeda dengan Yue yang tak mempedulikan mereka dan sibuk melihat sana sini.


Seorang pria berbadan besar dan berotot dengan pedang besar di punggungnya menabrak tubuh kecil Aqua. Karena stat str Aqua cukup tinggi, dia tidak terjungkal. Pria itu justru yang merasa sakit seolah menabrak dinding.


Dia berbalik dan menatap Aqua tajam.


"Oyy bocah! Kamu baru saja menabrakku!!" geram pria itu.


Aqua tetap tenang, namun dalam hati merendahkannya.


"Ah… tipe orang yang seperti ini cukup merepotkan."


"Maafkan saya tuan, apa anda merasa sakit karena saya?" sindir Aqua. Dia secara tidak langsung menghina pria itu jika merasa sakit karena menabrak anak kecil. Di balik Aqua yang tetap tenang, Yue kesal dengan orang itu. Aura merah gelap seolah muncul dari tubuh Yue yang menatap pria itu dengan tatapan membunuh.


"Ha… kau pikir tabrakan kecilmu bisa menyakitiku?" kesal pria itu.


Orang-orang menonton mereka dan berbisik-bisik menyindir pria itu. Mereka mengasihani Aqua karena harus terlibat dengannya, namun tak ada yang terlihat akan menolong.


Dari balik poni panjangnya, Aqua melihat status orang itu.


"Haaa… cuma baji*gan level 68 saja lagaknya sudah kayak orang hebat."


"Kalau begitu apakah yang menjadi masalah dengan tabrakan kecil saya?"


"Bocah sialan ini!!!!"


Pria itu marah dan mengangkat kerah Aqua tinggi-tinggi. Meski tubuhnya tak menapak tanah, Aqua sama sekali tidak panik. Dia memancarkan aura membunuh hanya pada pria itu. Seketika pria itu merinding. Dia merasa seolah memegang iblis kecil di tangannya.


"Ka-kali ini aku melepasmu bocah, jangan sampai bertemu denganku lagi," kata pria itu kasar. Dia segera menurunkan Aqua dan pergi bersama rombongannya.


Aqua merapikan bajunya, orang-orang yang menonton mereka segera dibubarkan pria besar itu.


"Aqua! Dia melarikan diri," bisik Yue.


"Iya, biarkan saja. Orang sepertinya hanya berani membully yang lebih lemah darinya. Yue, kamu tidak boleh mencontohnya."


"Hmm."


Yue mengangguk, seperti biasa setiap Yue belajar hal baru dan bertingkah imut, Aqua selalu mengelus kepalanya lembut.


Aqua menggandeng tangan Yue dan lanjut mencari penginapan. Sebelum pergi, secara tak sengaja Aqua mendengar percakapan pria tadi dengan seseorang.


"Apa baji*gan kecil itu sudah ketangkap?"


"Sudah bos, dia selalu berhasil kabur setiap kita mencarinya. Tapi kali ini kami berhasil menangkapnya."


"Bagus! Kali ini kita tunjukkan siapa bosnya ke anak sialan itu. Siapkan anak-anak!!!"


"Baik, bos!"


"...."


Aqua dan Yue bertanya rekomendasi penginapan pada orang-orang di jalan. Hampir semua orang mengarahkan mereka ke penginapan yang sama. Mereka berkata kalau itu adalah penginapan terbaik di kota itu.


Aqua dan Yue sepakat untuk pergi ke sana meski harganya sedikit mahal. Mereka berhenti di depan gedung yang cukup mewah bertuliskan "Penginapan Grasbeet."


"Aqua… Grasbeet itu apa?"


"Grasbeet itu artinya 'alas rumput' dalam bahasa Kerajaan Germania."


"Kerajaan Germania? Hebat… kok Aqua bisa tau?"


"Kerajaan Germania sekarang sudah bergabung dengan Kekaisaran, jadi kerajaan itu sudah tidak ada. Tapi Master memaksaku belajar banyak bahasa, jadi aku tau."


Wajah Aqua terlihat agak tertekan saat membicarakan itu.


"Karena master tau aku Pangeran Kekaisaran, dia memaksaku belajar banyak hal seperti bahasa, politik dan srategi militer."


"Suatu hari pasti berguna," ucap Ashlan dulu. "Aku tak berniat jadi kaisar, master."


"Aqua tau banyak hal ya. Yue juga mau belajar banyak!" kata Yue antusias.


"Baiklah, aku akan mengajarimu sepanjang perjalanan."


Yue terlihat bersemangat dan berlari memutari Aqua sambil bersorak girang. Perasaan Aqua terasa hangat setiap melihat Yue.


"Apa ini yang seorang ayah rasakan saat melihat anak perempuannya?"


"Ayo masuk Yue!"


"Um!!"


Mereka memasuki penginapan bersama. Di bagian depan terdapat meja resepsionis dan seorang ibu-ibu yang menyapa mereka ramah.


"Selamat datang di Penginapan Grasbeet! Apa ada yang bisa kubantu?"


"Tolong satu kamar dengan 2 kasur."


"Baiklah, apa mau ditambah porsi makanan untuk dua orang?"


"Tolong lakukan."


"Untuk berapa hari, nak?"


"Ah, cukup 3 hari saja."


"Aku mengerti. Kalau begitu 4 koin silver dan 5 koin tembaga."


Aqua mengeluarkan uang untuk membayar biaya itu. Lalu ibu itu memberi Aqua kunci dan mengantarnya ke kamarnya. Tak lupa meninggalkan Aqua dengan ramah dan sopan tanpa mempertanyakan pendamping mereka.


Di dunia ini, orang bisa disebut dewasa jika sudah berumur 15 tahun. Anak di bawah umur yang berkeliaran tanpa pendamping akan menarik perhatian banyak orang dewasa. Meski begitu, tak ada larangan khusus pada mereka karena banyak anak di bawah umur tanpa keluarga ada banyak di berbagai tempat.


Ruangan sedang dengan dua kasur dan jendela besar menyapa Aqua. Ruangan itu bersih dan ventilasinya bagus. Tentu saja tak bisa dibandingkan dengan hotel dan penginapan di dunia modern, tapi untuk ukuran dunia ini, itu adalah ruangan yang cukup mewah.


"Yue, kamu mau tidur dimana?"


"Yue mau di kasur dekat jendela!"


"Baiklah, aku yang didekat pintu."


Aqua berbaring sejenak di salah satu kasur. Yue ikut membaringkan dirinya di sebelah Aqua. Saat Aqua meliriknya, gadis itu menyengir imut.


"Bukankah kamu mau kasur di sebelah jendela?" tanya Aqua dengan nada menyindir.


"Disebelah Aqua lebih baik," balas gadis itu polos tanpa dosa.


"Anak ini… bukankah dia terlalu imut?"


Aqua bangun dan merapikan bajunya.


"Yosh… aku akan pergi ke guild tentara bayaran untuk menjual bangkai monster yang ku kalahkan kemarin. Yue… kamu tunggu saja disini, oke?"


"Eh?? Tapi Yue ingin ikut!!" rengek Yue manja.


"Tidak boleh! Guild tentara bayaran itu banyak orang berbahaya. Kamu tetap disini saja."