The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 78 [ Sesekali Begini Tak Apakan? ]



10 Tahun Kemudian


Lantai 100, Dungeon Waktu Eilan


Aqua bangun di kasurnya dengan rambut panjang berantakan. Wajah mengantuk itu menoleh ke samping, dimana terlihat gadis dengan kecantikan maksimum sedang terbaring disebelahnya.


Matanya seolah berkedut melihat pemandangan agak mesum ini, habisnya pakaian gadis itu sedikit berantakan dan memperlihatkan bagian tubuhnya. Aqua menghela napas sambil memijat bagian di antara matanya. Tangan ramping putih bersih sang gadis tengah memeluk lengan Aqua yang mulai berotot. Wajah gadis itu terlihat dipenuhi kebahagiaan. Entah apa yang sebenarnya dimimpikannya.


"Lagi-lagi begini..."


Aqua menciptakan dua kamar untuk masing-masing dari mereka. Namun sejak beberapa tahun lalu, gadis ini mulai memilih tidur di kamarnya.


Dengan ekspresi yang tenang, Aqua membenarkan baju gadis itu dan melepas tangannya perlahan sebelum keluar kamar. Sebenarnya tak sekali dua kali Aqua terangs*ng karena situasi semacam ini. Yahh, bagaimanapun dia anak laki-laki normal. Tapi Aqua selalu menahan dirinya sekuat yang dia bisa dan menyembunyikannya dari Mika. Bahkan kerap kali dia melakukan ritual rahasia diam-diam karena tingkah Mika yang terlalu terbuka dan tanpa pertahanan itu.


Aqua menuruni tangga sambil menguap beberapa kali. Dia segera pergi ke dapur dan membuatkan sarapan untuk mereka berdua. Karena Mika cukup pemalas, dia tidak bisa bangun pagi. Jadi Aqua yang biasanya membuat sarapan dan Mika akan membuat makan siang & malam.


Sarapan hari ini cukup sederhana. Cuma sandwich dengan isian daging rusa pelangi dari lantai 98 dan sayur-sayuran dari lantai 97. Mika itu sangat pintar, berkat penelitiannya, dia berhasil menemukan cara agar tubuh monster tidak menghilang setelah dibunuh. Karena itulah, persediaan makanan Aqua dan Mika cukup banyak.


Setelah sarapan selesai ditata rapi di meja makan, Aqua menoleh sekelilingnya. Dia tak melihat Mika dimanapun.


"Anak ini pasti masih tidur... padahal aku sudah sering bilang kalau tidak boleh melewatkan sarapan," ocehnya dalam hati.


"Kenapa perempuan di sekitarku sifatnya pada gini. Cuma Kak Vira yang bener."


Meskipun dia bilang begitu dan sering menasehatinya, Aqua tidak pernah memaksa atau benar-benar keras pada Mika. Bisa dibilang anak ini terlalu memanjakannya.


Aqua naik tangga sambil sesekali memanggil Mika. Namun tak ada jawaban yang terdengar. Dilihatnya Mika yang tertidur pulas di kasurnya.


"Pasti saat di Benua Melayang juga ada yang mengurusnya."


Aqua mendekati Mika, dia hendak menggoyang tubuhnya untuk membangunkan Mika. Tapi begitu dia melihat wajah tidur gadis itu, terpintas sebuah pikiran jail. Aqua menyeringai, dia membuat sebuah gelembung air berwarna hitam yang merupakan tinta. Lalu mencelupkan jarinya ke sana dan mengoleskan ke wajah putih Mika.


Di dahinya ditulis "Aku nolep" dan di pipinya di gambari maskot lucu dari anime yang pernah dilihatnya. Aqua senang melihat karyanya sendiri sampai kesulitan menahan tawa. Anal itu berusaha mengatur ekspresinya sebaik mungkin sebelum membangunkan Mika.


"Oyy... bangun... kalau tidak..." ucapnya di telinga Mika.


Wajah Muka menggeliat imut. Sepertinya dia geli dengan tindakan Aqua tadi. Sambil mengeram seakan menolak bangun, tubuh gadis itu berbalik memunggungi Aqua.


"Hufth..."


"Dasar kukang satu ini... berapa lama dia begadang tadi malam?"


Aqua mengulurkan tangannya dan menggendong Mika di pelukannya. Dia berjalan keluar sambil membawa Mika yang masih terlelap. Setelah menuruni tangga dan mencapai depan meja makan, Aqua mendudukkan Mika di sofa panjang dekat mereka.


Mika itu sulit dibangunkan. Jadi teknik yang digunakan Aqua adalah menggodanya dengan aroma enak makanan buatan Aqua. Entah kenapa, sepertinya dia berbakat dalam memanjangkan seseorang. Tiara, Ashlan, Yue dan sekarang Mika.


Tepat seperti rencana Aqua, Mika yang sedari tadi enggan bangun langsung menggeliat begitu mencium aroma enak Darjeeling dan sandwich bakar buatan Aqua. Matanya kedap kedip mencoba bangun.


"Aqua...?"


"Akhirnya bangun. Ayo cepat sarapan, nanti keburu dingin. Jangan lupa cuci tangan dan basuh wajah dulu!" seru Aqua sambil menuangkan teh dari teko.


Mika mengucek matanya malas.


"Baik..."


Gadis itu berjalan ke kamar mandi sambil terhuyung-huyung seperti orang mabuk.


.


.


.


.


.


DAP DAP DAP DAP


"AQUAAA!!!!!!!!!" jeritan marah terdengar dari kamar mandi.


"Apa maksudnya ini?!!!" marah Mika sambil menunjuk wajahnya.


Aqua gemetar menahan tawa.


"Itu hukuman..."


"Kamu-!!"


Mika mengeluarkan raut wajah tidak percaya. Banyak keluhan yang ingin dia lontarkan, namun itu semua hanya akan membuat Aqua semakin tertawa. Jadi dia menahan semuanya dan berjalan ke kamar mandi dengan langkah berat menahan marah.


Aqua tersenyum, tangan kanannya menutupi mulutnya.


"Pfftt... imut."


Baginya keberadaan Mika adalah hiburan dan tempat rileks nya dalam wilayah yang keras ini. Dalam 10 tahun ini Aqua sudah belajar banyak. Dia sudah mampu menggunakan semua skill dan sihir yang didapatkan dari dungeon ini, bahkan sampai skill tingkat Mythic yang sangat jarang ada makhluk didalam batasan yang bisa.


Membunuh monster tingkat tinggi sudah menjadi rutinitas baginya. Saat ini semua monster kecuali Leviathan dan Dullahan sudah dikalahkannya. Bagaimana ya... dungeon sekarang seperti rumahnya sendiri.


Seperti halnya Aqua, Mika juga tidak sepenuhnya bermalas-malasan. Dia berusaha meningkatkan kekuatannya tanpa cincin dan berhasil naik banyak. Selain itu, Mika juga serius mengajari Aqua. Tanpa Aqua sangka, ternyata Mika mengetahui ribuan sihir yang luar biasa dan sangat membantu.


Dari seluruh ajaran Mika, ajaran yang paling dibutuhkan Aqua dan paling berdampak padanya adalah pengendalian diri.


Aqua pasti akan menjadi monster kalau keluar dungeon begitu saja. Berbeda dari di dalam dungeon dimana dia bisa menggunakan sihir semaunya. Saat diluar, akan ada saat dimana kekerasan tidak diperbolehkan. Cara pengendalian diri dan penahanan emosi yang tidak perlu telah diajarkan Mika dengan baik.


Sejujurnya Mika sangat pandai mengendalikan diri dan emosinya. Hanya saja, kalau berhubungan dengan Arc-Angel lain, semua itu langsung lenyap begitu saja. Jadi sembari melatih Aqua, dia juga belajar lebih untuk dirinya sendiri.


Lebih dari itu, Mika juga mengajarkan bahwa setiap orang membutuhkan 'topeng' untuk bersosialisasi di dunia. Topeng yang ceria, hangat, ramah dan bijak yang mampu menyembunyikan sifat asli seseorang.


Keberadaan Mika sendiri sudah membuktikan itu. Mika bisa dibilang memiliki 3 wajah. Wajah yang keluar saat bersama keluarga dan orang terdekat. Wajah yang ditampilkan pada orang lain. Dan wajah asli yang tersembunyi dari siapapun. Sampai saat ini... setidaknya tidak ada yang mengetahui wajah asli Arc-Angel ramah bernama Michael.


"Hahaha... maafkan aku..." ucap Aqua.


"Jangan tertawa! Kenapa kamu melakukan itu?!" kesalnya.


"Kenapa? Hmm... sebagai balasan kamu yang mengagetkanku begitu bangun tidur," sindir Aqua.


"Heh! Harusnya kamu senang! Aku berani bilang, tidak ada seorangpun didunia ini yang tidak senang melihat wajahku begitu bangun dari tidurnya. Baik pria maupun wanita akan terpesona melihatku," sombong Mika.


"Iya, iya. Kamu benar. Memang tidak seorangpun yang lebih indah darimu."


Kata-kata Aqua seolah sedang mengejek. Namun dia benar-benar tulus saat mengatakannya.


"Kamu tau itu!"


Akhirnya mereka makan bersama sambil sesekali saling melempar candaan. Suasana hangat inilah yang membuat Aqua tidak ingin pergi keluar dungeon.


Aqua memandang wajah Mika yang terlihat begitu bersinar. Rasanya kalau dia difoto, pasti akan ada cahaya ilahi yang menutupi wajah terlalu cantik ini.


"Aku sudah bersamanya 10 tahun... mungkin setelah ini, seluruh perempuan akan terlihat jelek dimataku..."


"Aqua? Kenapa menatapku terus?" ucap Mika risih.


".................................. Tidak ada."


"Apa-apaan jeda itu?"


"Yah... hanya saja... kamu selalu terlihat cantik."


Aqua hanya mengatakan fakta, tanpa dia sadari pujiannya membuat pipi Mika memerah.


"Bodoh..." gumam Mika pelan.


"Hm?"


"Tidak apa."


Sarapan yang hangat berakhir dengan cepat. Mika berjalan dengan piring di tangannya lalu membersihkannya dengan sihir dan merapikannya di rak. Setelah itu Aqua mengeringkannya dengan sihir angin hangat.


Mereka menghabiskan hari damai biasa itu bersama. Sementara Mika terus meneliti sihir baru di meja kerjanya, Aqua tidur di pangkuan Mika sambil membaca hasil penelitiannya. Mika sama sekali tidak mempersalahkan itu. Dia sudah terbiasa, sesekali gadis itu juga membelai lembut rambut Aqua.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sampai...


{ ......... Beneran deh. Jangan membuat jomblo iri mentang-mentang kamu sudah punya tunangan, Aqua! }


Suara tak asing yang sesekali mendatangi Aqua si dungeon akhirnya terdengar setelah sekian lama.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


[ Hmm... karena kemarin banyak yang komen diluar voting, author jadi bingung itu udah ngisi voting atau belum yang pada komen. Jadi author tidak akan menganggap yang komen sendiri sebagai "suara voting" tapi sebagai saran untuk kedepannya. Hasil akhir voting hanya di ambil lewat komen yang udah Author siapkan!! ]


[ Dengan kata lain, kalian yang pada komen sendiri kemarin, tetep harus nge "like" komen author di bagian yang kalian pilih, oke?! ]