The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 158 [ Dia Itu Sudah Gila, Ya!? ]



RUBY POV


Sebelumnya aku berpikir tidak masalah kalau dia tau aku juga dari Bumi, karena itu tidak akan membuat terlalu banyak masalah untukku. Tapi lain ceritanya kalau dia juga seorang "player", karena beberapa informasi yang dia dapat itu akan menjadikan semuanya jauh lebih merepotkan.


Sekarang, apa yang harus kukatakan padanya ya...


"Aku tidak paham sebagian ucapanmu itu. Tapi kalau tentang alasan aku memanggilmu '-san' itu karena pengetahuan dasar tentang orang dunia lain yang kutahu," jawabku mencampurkan kebohongan dan kejujuran.


Anak itu terlihat tidak mempercayai ucapan ku sedikitpun.


"Kamu mungkin tidak tau karena kamu orang dari dunia lain, tapi sudah bukan rahasia bagi para ras umur panjang kalau Penyihir Agung, guru dari Ratu Sihir adalah orang dunia lain. Dia juga berasal dari Jepang sepertimu."


"!!!"


Matanya terbelalak kaget. Sepertinya dia sama sekali tidak tau tentang itu. Ekspresinya seolah-olah mencoba mengingat segala informasi yang memungkinkan. Dia pasti mencari itu di ingatan tentang Dragons Wing.


Kuhela napasku ringan, "Orang itu salah satu manusia paling terkenal pada masanya. Beberapa pengetahuannya sudah diturunkan pada makhluk dunia ini."


"Termasuk yang kamu sebut 'Honorfik' itu."


"A-Apa yang kamu-"


Si Shirasaki Aoi ini bahkan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena kata-kataku tadi.


"Harusnya aku yang bingung disini. Kamu tiba-tiba datang dan mengatakan aku orang dari dunia lain dan aku merubah alur atau semacamnya. Apa kamu tidak punya sopan santun?" sindirku.


Wajah Aoi memerah, dia pasti malu begitu menyadari tingkahnya tadi yang belum pasti. Dia segera menjauh beberapa langkah dariku dan berdeham mengalihkan pembicaraan.


"Lalu bagaimana kamu menjelaskan tentang pertunanganmu dengan Aqua?" tanyanya setelah menenangkan diri.


Aqua?


Dia memanggil Pangeran Kedua Kerajaan Vittacelar hanya dengan nama panggilannya?


Meski dia tidak punya hubungan apapun dengannya?


Kalau ada yang dengar, dia pasti dihukum berat atas dasar penghinaan pada keluarga kerajaan. Kupikir dia orang yang tenang dan rasional sebelumnya. Ternyata sama saja dengan anak SMA bodoh lainnya. Sulit menyesuaikan diri, naif, tidak peka dengan keadaan dan terlalu meninggikan dirinya.


"Dan kenapa aku harus menjelaskan tentang itu padamu?" jawabku dengan pertanyaan lainnya.


Aku tidak punya kewajiban menjawabmu.


"Hah!? Jawab saja kenapa sih!! Kamu mau cari masalah denganku?" gertak anak itu.


Menyebalkan.


Dia pikir dirinya siapa.


Ahh... kalau bukan karena aku sedang menahan diri agar kekuatan asliku tidak ketahuan, sudah keplindes-plindes nih anak sampai jadi rempeyek.


"Pertama, aku tidak punya kewajiban mematuhi ucapanmu. Kedua, kamu duluan yang bersikap tidak sopan dengan mendorongku kemari lalu menanyakan persoalan pribadi dengan ancaman. Ketiga..."


Tanpa kusadari, mata merahku menggelap dan tanda (➕) berwarna emasnya menyala tajam. Aku tak lagi memasang poker face dan berakhir membuat ekspresi menekan yang tak disengaja.


"Aku masihlah seorang bangsawan dan tunangan dari Pangeran Aquamarine. Tindakanmu yang satu ini sudah melanggar martabat bangsawan dan keluarga kerajaan. Tidak peduli apakah kamu anggota party pahlawan atau tidak, begitu kamu keluar dari Akademi. Jangan harap kamu bisa lolos dari hukuman."


"Aku-!!"


Gadis itu merinding ketakutan, sepertinya bukan hanya karena ekspresiku tapi juga karena aura membunuhku yang agak bocor. Begitu menyadari itu, aku menariknya kembali dan kembali memasang wajah poker face.


Aku berjalan meninggalkannya yang mematung di tempat. Tadi aura membunuhku sempat dia rasakan, levelnya pasti belum terlalu tinggi. Tidak heran efeknya bisa seberat itu meski hanya kebocoran kecil.


"......"


Ahh... menyebalkan sekali, akukan jadi tidak enak meninggalkannya sendiri disana. Setidaknya aku katakan ini saja.


"Aku bertunangan dengan Pangeran Aquamarine 5 tahun lalu di Hutan Sihir. Kalau kau ingin tahu detailnya, kenapa tidak tanyakan padanya sendiri."


Aoi, ".....!"


Begitu aku meninggalkannya disana, aku tidak tau lagi apa yang terjadi padanya. Sementara dia mematung di tempat dan berekspresi seakan menyadari sesuatu yang penting. Yah, apapun itu bukan urusanku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Pikiranku jadi kacau karena anak itu. Kepalaku sudah pusing duluan karena memikirkan cara menyelamatkan kekasih Aqua, tapi malah si tambahin masalah-masalah gak penting yang datang tiba-tiba.


Menyebalkan.


TIIING


Begitu sampai didepan pintu asrama, meletakkan tanganku di suatu detektor guna membuka pintu asrama. Pintu asrama yang terbuka menyamping mengeluarkan bunyi seperti itu, dengan begitu penjaga asrama didalam akan menyadari seseorang telah masuk.


"Selamat datang, kamu pulang cepat hari ini ya, Nak Rubylia."


Seorang wanita tua yang duduk di ruangan lain dengan sekat kaca layaknya resepsionis di rumah sakit menyambutku.


Beliau adalah penjaga asrama, Nenek Boya. Jangan menilai sampul dari bukunya, meski nenek-nenek seperti itu, aku diberitahu kalau beliau adalah salah satu rekan dari Nyonya Vashlana Magiya saat ia membangun akademi ini. Beliau juga salah satu orang yang tetap ramah dan hangat padaku meski identitas ku seperti ini.


Kujawab salam Nenek Boya yang ramah itu dengan senyum juga, "Iya Nek. Saya harus melakukan sesuatu di asrama, jadi saya pulang lebih cepat."


Nenek Boya tersenyum lembut, "Oya... Oya... Kalau begitu, lakukan apapun itu dengan baik. Karena sepertinya itu sesuatu yang penting."


"Baik, Nek. Terimakasih sarannya."


"Hohoho... tentu saja, Nak Rubylia."


Setelah membungkuk 45° sebagai bentuk sopan santun, aku pergi meninggalkan Nenek Boya yang terus tersenyum sampai beliau tak lagi melihatku.


Moodku membaik hanya dengan beberapa kata dari Nenek Boya. Langkahku jadi terasa lebih ringan sekarang. Namun itu tidak bertahan lama.


"......."


Langkahku semakin dan semakin berat setiap kali tempat yang kutuju semakin dekat hingga akhirnya aku berhenti tepat didepan kamar dengan nomer A-312. Kamarku dan Aqua mengapit kamar itu dari sisi kanan dan kiri di nomer A-311 dan A-313. Artinya... benar... kamar inilah, kamar yang menyimpan tubuh dingin kekasih Aqua yang berada di ambang hidup dan mati.


Kupikir aku sudah diam didepan kamar itu selama kurang lebih 15 menit. Orang-orang yang lewat sampai berbisik-bisik curiga. Tentu saja, lagipula aku hanya diam saja, bahkan mengetuk pintupun aku tidak bisa. Kenapa? Padahal saat di mansion Aqua, aku langsung masuk karena penasaran. Padahal sensasi yang kurasakan sekarang juga sama dengan saat itu. Tapi kenapa, bukannya ingin segera masuk, aku justru ingin pergi dari sini?


Apa aku... takut?


Tapi kenapa aku takut?


"......"


"......"


KRIIIIIETTTTT


"!!!"


Aku tersentak kaget, tiba-tiba pintu terbuka sebelum aku sempat melakukan apapun. Seseorang yang keluar dari sana juga terlihat sama kagetnya dengan diriku.


"Saya kira siapa, ternyata Nona Arsilla. Kenapa anda hanya berdiri di depan? Apa anda ingin masuk?" tanya gadis itu ramah.


"Rubylia Arsilla itu perempuan yang dimaksud Yang Mulia itu kan? Perempuan yang katanya boleh menemui Nona Mika kapanpun dia datang? Karena dia belum pernah datang, kupikir ada masalah yang terjadi. Kenapa dia baru datang sekarang? Jangan-jangan karena ada aku!!?" batinnya panik dengan wajah tetap ramah dan tenang.


"......"


Aku tidak bisa berkata-kata tuk menjawab pertanyaannya karena terlalu shock dengan sesuatu.


Cle... lia...?


Dia... Clelia... kan?


Kenapa... dia ada disini?


Karena dia tidak ada di divisi Attack Magic, kukira dia tidak ada di Akademi seperti si Heroine asli yang sampai sekarang gak kelihatan. Tapi blazer biru...? Dia ada di divisi Healing Magic?! Jadi teman sekamar si Mika!?


"Kamu yang namanya Clelia?" tanyaku memastikan.


Wajahnya terlihat bersinar dengan senyum cerah, "Benar, Nona Arsilla. Suatu kehormatan bagi saya dapat diingat oleh Anda."


Beneran dong anjirr!!!


Apa yang sebenarnya terjadi disini!!?


Apa ini ulah Aqua lagi?


Cowok itu memang pernah bilang kalau dia meminta asistennya dari divisi Healing Magic untuk membantu merawat Mika selama di akademi. Tapi dari semua orang, si Aqua itu meminta ke Clelia!!???


Dia juga memanfaatkan pahlawan dalam game, bukan... pahlawan asli dunia ini demi merawat kekasihnya!?


Perempuan yang paling di cari di seluruh dunia, sang pahlawan generasi ini!!?


Demi merawat kekasihnya!!??


Pahlawan yang harusnya dilatih untuk menyelamatkan dunia dan mengalahkan raja iblis!!??


Demi merawat kekasihnya (2)!!??


"No-Nona Arsilla? Apa ada yang salah?" ekspresinya terlihat gugup saat menanyakan itu.


SI AQUA ITU UDAH GILA YA!!!???


APA-APAAN TINGKAT BUCIN GAK KETOLONGAN INI!!!?????


"Tidak. Tolong biarkan aku masuk," jawabku tetap tenang meski batinku menjerit-jerit.