
Kekesalan Eve membuncah. Gadis itu sudah siap melayangkan tinjunya yang terlapisi mana dengan senyuman yang menyeramkan. Pemuda yang terduduk di depannya seakan pasrah dan tidak berniat melakukan perlawanan meski dirinya sendiri tak mengerti alasan dari kemarahan gadis itu.
"Kakak, pukulan dari adik kecilmu ini nggak bakal terasa sakit, kok..." ucap gadis itu selembut mungkin.
Aqua sama sekali tidak merasa seperti itu, pasalnya dari kepalan tangan Eve, muncul aura-aura yang nampak berbahaya.
"Ha... hahaha..." senyum Aqua merinding.
"Tolong pelan-pelan sedikit..."
"Kupelankan banget kok, kak."
Eve sudah selesai menyiapkan tinjunya dan Aqua terlihat bersiap menahan rasa sakit yang pastinya tidak sedikit. Namun di saat Eve baru saja melayangkan tinjunya...
.
.
.
.
DRRREEEEGGGGG
.
.
.
.
Goncangan yang sangat kuat terjadi. Tanah mendadak bergetar hebat. Gempa bumi skala tinggi menyebar ke seluruh Demetria, tak terkecuali Kekaisaran Levana di Benua Manusia.
"!?"
Eve kehilangan keseimbangannya. Dia tidak sempat bereaksi karena gempa yang terjadi tiba-tiba tanpa tanda-tanda.
GREP
Berkat Aqua yang langsung menangkapnya, gadis itu tidak terluka. Yah, meski tidak ditangkap pun, dia tetap tidak akan terluka.
"Gempa!?" kaget Aqua.
Sekarang bukan lagi waktunya bagi mereka melakukan reuni yang mengharukan. Sesuatu yang besar telah terjadi. Fokus mereka berdua kini kembali ke dunia.
Di dalam pelukan Aqua yang mencoba melindunginya dari gempa itu, Eve merasakan sesuatu yang buruk.
"!!!"
[ Ice Blood Fortress ]
Tangannya dengan sigap langsung menyentuh pasir dan seketika sebuah benteng kristal merah yang terbuat dari es darah terbentuk di antara mereka dan lautan. Benteng yang Eve bentuk sangatlah besar, tingginya mencapai 100 meter dengan panjang dan lebar 1000×20 meter.
Eve menggabungkan elemen ice dan blood bukan tanpa alasan, darah lebih kental daripada air sehingga tingkat kekerasan yang dihasilkan sepenuhnya berbeda. Sihir itu adalah sihir tingkat Legend yang sangat menguras mana, apalagi karena skala sihir itu cukup luas. Tapi Eve tanpa pikir panjang menggunakan sihir itu karena dalam hitungan detik setelah gempa terjadi, Tsunami bergelombang tinggi datang menyusul.
Gelombang air laut yang menghantam benteng es darah Eve tidak berhenti dalam sekali hantaman. Ternyata yang datang pertama hanyalah awalnya saja, gelombang lanjutannya jauh lebih tinggi dari gelombang yang datang pertama.
Aqua tidak diam saja, dia menyentuh benteng es Eve dan menyalurkan mana-nya.
[ Hard High Ground ]
Mana yang Aqua keluarkan membuat tanah di bawah benteng itu mencuat naik hingga 500 meter. Namun sayangnya itu masih belum cukup untuk menahan sepenuhnya Tsunami yang datang.
BYUUUUUURRRRRR
Akibatnya, berton-ton air laut berhasil lolos dan menyembur dari puncak benteng. Untungnya alasan Eve dan Aqua mengeluarkan sihir semacam itu, bukanlah untuk melindungi diri namun untuk mengulur waktu juga. Mereka berdua sempat mengeluarkan sayap mereka masing-masing dan terbang lebih tinggi dari Tsunaminya.
Kenapa mereka tidak dari awal saja terbang?
Pertama, kalau mereka terbang, waktu akan habis hanya untuk menyelamatkan diri mereka dan Tsunami pasti menerjang permukaan dimana banyak orang biasa yang hidup tanpa mengetahui apa-apa. Sedangkan dengan mengeluarkan benteng itu dulu, mereka dapat mengurangi dampak Tsunami sekaligus menyelamatkan diri mereka.
Berkat semua usaha mereka, tidak ada lagi air yang lolos ke pemungkiman maupun hutan.
"Apa-apaan itu tadi?" kata Aqua tak percaya.
"Gempa memang datang tanpa tanda-tanda, tapi seharusnya Tsunami akan memunculkan tanda-tanda kedatangannya. Tapi tadi itu datang begitu tiba-tiba."
"Dan lagi, bahkan Tsunami dengan gelombang air laut tertinggi di Bumi mencapai 1.719 kaki atau sekitar 524 meter. Sedangkan yang tadi lebih dari 700 meter."
Eve memperhatikan lautan yang tidak tenang sembari mendengarkan kata-kata Aqua. ".....Tsunami normal pastinya begitu. Karena gempa yang terjadi di dasar laut pastinya membuat getaran di bawah permukaan air laut terlebih dahulu. Itulah yang membuat Tsunami bisa ada tanda-tandanya."
"Kau ingin bilang apa?" tanya Aqua tanpa basa basi.
Mata Eve menyipit penuh kecurigaan. "Aqua, kemungkinan besar ini bukan bencana alami."
"!!"
Aqua langsung menangkap maksud gadis itu.
"Maksudmu... sihir?"
Eve menggeleng, "Sihir juga memiliki tanda sisa-sisa mana. Kasus kali ini lebih mirip ketika ada asteroid atau meteor yang jatuh ke laut. Namun karena hal itu sangat langka terjadi di Bumi, aku tidak mengetahui perbedaannya dengan tepat."
"Memang benar... hal itu tak pernah lagi terjadi pada era manusia. Ketua Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional juga pernah mengatakan kalau 65 juta tahun lalu di Meksiko terjadi kejatuhan asteroid ke Bumi yang diduga menyebabkan hamburan debu secara global dan menyebabkan perubahan iklim global secara drastis yang memusnahkan dinosaurus," balas Aqua.
"Dengan fakta ini, kita bisa tau kalau Tsunami yang dihasilkan dari jatuhnya sesuatu yang asing itu memiliki dampak yang jauh lebih merusak dari Tsunami yang disebabkan gempa atau gunung meletus di dasar laut."
Ekspresi Eve menggelap, perasaannya tidak enak.
"Meski begitu... Tsunami yang terjadi saat ini memiliki dampak yang lebih kecil dari penelitian para ahli di Bumi... apa perbedaannya dengan kejatuhan meteor? Lebar? Tidak... mengingat skala Tsunami dan gempa ini, seharusnya lebar sesuatu yang jatuh itu tidaklah kecil."
Eve berpikir dengan keras menggunakan seluruh otaknya, "Kalau begitu... tinggi...?"
"!!!!"
Gadis itu menyadari sesuatu setelah berpikir keras, seketika tubuhnya lemas karena hal yang ia sadari itu. Sayapnya juga melemah karena rasa shock yang di alaminya.
Aqua dengan sigap menangkap gadis itu sebelum dia terjatuh.
"Eve!?"
"!?"
Tubuh ramping yang Aqua angkat gemetaran. Hal itu membuat Aqua kebingungan.
"Eve... Oi!! Kau kenapa!?"
"A... Aqua..."
Tak hanya tubuhnya yang lemas dan gemetaran, matanya juga bergetar tak percaya. Keringat dinginpun mengalir dari kepalanya.
"Iya. Ada apa? Tenanglah dulu. Kamu mengetahui sesuatu?" tanya Aqua agak panik dengan kondisi gadis itu.
Eve mencengkram kerah Aqua dengan tangan yang masih gemetaran dan menatapnya lekat-lekat.
"Benua... Benua... Benua Melayang..."
"!!"
Aqua langsung paham maksud Eve. Pemuda itu menggertakkan giginya dan menggendong Eve yang masih shock dan tak bertenaga menjauh dari sana.
Sayap naganya membuat kecepatan terbang Aqua meningkat drastis meski sebagai gantinya dia akan menarik perhatian jika ada yang melihatnya. Namun sekarang bukan waktunya dia mempedulikan hal itu.
Aqua hanya fokus terbang cepat kembali ke Akademi. Tangannya juga memeluk Eve erat-erat agar gadis itu menjadi lebih tenang. Kali ini perasaan Eve bukanlah haru seperti sebelumnya. Dada Eve sangat sesak dan berdebar dengan kencang, pikirannya mulai kemana-mana. Dirinya tak lagi bisa memikirkan hal-hal yang positif. Bayangan wajah sahabat-sahabat malaikatnya yang terluka memenuhi kepala Eve.
"Dunia sialan ini benar-benar tidak memberikan waktu istirahat!!!" batin Aqua geram.
Aqua mengaktifkan antingnya, "Keadaan darurat! Segera berkumpul di titik C! Sekali lagi, keadaan darurat! Segera berkumpul di titik C!!"