The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 120 [ Hilangnya Kepercayaan Elf ]



"KATAKAN PADAKU APA YANG KALIAN SEMUA LAKUKAN?!!!!"


Jeritan kemarahan Turquoise mengejutkan para Elf yang berkumpul disana.


"Ayahanda!!!!!"


Veni dan Khorin serentak memanggil ayahnya dengan wajah penuh kesedihan dan keputusasaan.


Melihat kondisi anaknya dan kepala istrinya yang ditaruh rapi di atas meja membuat Turquoise kehilangan kendali kesabarannya. Dia langsung berlari menuju tempat Veni dan Khorin.


"Ah, kakak!! Aku akan menolongmu!! Aku pasti akan melepaskan kamu dari tipuan dan siasat iblis sialan ini!!" ujar Aqua ceria.


Ucapan tanpa beban yang dilontarkan Aqua menambah kemarahan Turquoise. Tanpa mempedulikan tatapan rakyatnya, dia langsung mencengkeram leher Aqua hingga kakinya tidak menapak tanah.


"Apa kau yang melakukannya?!!!" tanya Turquoise penuh penekanan dan hawa membunuh.


"Bajingan ini! Aku tidak merasakan aliran mana berubah begitu banyak. Harusnya kekuatan bocah ini jauh di bawah Velina (kekasih Iblisnya). Pasti ada yang membantunya!!"


Aqua gemetaran ketakutan.


"Ka-kakak? Apa aku... berbuat salah? Aku hanya... ingin menolong kakak dari cengkeraman iblis itu..."


Jawaban Aqua mampu menyentuh hati para Elf. Karena bagi mereka semua, tindakan Aqua memang sama sekali tidak salah.


"Itu benar, Pangeran!!! Pangeran Aquamarine tidak salah!!!!"


"Iya!! Pangeran Aquamarine ingin menyadarkan anda!!!!".


"Jangan salahkan Pangeran Aquamarine!!!!!!"


Para Elf seketika membela Aqua. Bukan berarti mereka tidak ada di pihak Turquoise, mereka hanya merasa Turquoise sedang tidak bisa berpikir dengan benar karena ditipu.


"Turquoise sudah tidak bisa mengelak. Kedua anak dan kekasihnya sudah dalam wujud iblis mereka. Tidak ada gunanya mengelak lagi."


Tanpa disadari siapapun, Aqua menyeringai.


"Sekarang pilihlah! Melindungi keluarga kecilmu dan menjadi musuh Kerajaan Vittacelar atau membuang keluargamu sendiri demi mempertahankan posisimu."


Turquoise mengepalkan tangannya erat-erat. Dia juga menyadari bahwa hanya ada 2 pilihan yang bisa dia ambil.


Salah seorang tetua Elf maju ke hadapan Turquoise.


"Yang Mulia! Anda harus membuat keputusan. Saya tau ini pasti berat jika harus melihat kematian anak anda sendiri. Tapi iblis adalah musuh kerajaan. Bahkan jika itu adalah anak anda, anda tetap harus membuat keputusan rasional."


Pria Elf ini menggertakkan giginya dan mengerutkan keningnya hingga urat-uratnya terlihat.


"Tunggu sebentar, Tetua. Ada yang ingin aku pastikan."


Diarahkan tatapan membunuh itu langsung pada adik sepupunya.


"Apa ini semua rencanamu?! Menyusup ke tempat ini dan melakukan ini itu pada keluargaku?!!" marah Turquoise.


Tanpa beban sama sekali, Aqua menjawabnya.


"Iya."


"Apa kau melakukan ini karena aku mengkhianatimu?!!" tanya pria itu lagi di telinga Aqua.


"Tidak. Kalau ini demi aku, semua sudah cukup hanya dengan membunuhmu seorang," senyum Aqua.


Wajah bodoh dan polos yang selama hampir sebulan ini dia tunjukkan langsung hilang tanpa jejak.


"Kamu membuatku kehilangan orang yang berharga bagiku. Tidak cukup dengan aku membuatmu kehilangan nyawamu saja."


Aqua mencengkeram kuat pundak Turquoise.


"Aku akan membuatmu kehilangan semuanya. Itu adalah harga yang harus kau bayar dari mengusik Aquamarine Valler El Vittacelar!"


Pupil mata Turquoise bergetar. Dia tidak pernah merasakan niat membunuh sebesar itu. Bahkan dirinya sekarang tidak mempunyai itu sampai begitu besar hingga mampu membuat orang yang merasakannya langsung pingsan.


Namun itu tidak membuat Turquoise menyusut.


"Kuanggap itu peryataan perang darimu. Aku juga akan membuatmu membayar harga sudah membunuh kekasihku!"


BWOOOSSSSSSSHH


Benturan aura antara Pangeran Turquoise dan Pangeran Aquamarine langsung menyeruak dan membuat warga kesulitan bernapas. Aura hijau gelap Turquoise dan biru gelap Aqua bagai air dan minyak yang sama sekali tidak bisa menyatu.


"LA-LARII!!!!!!!!"


Satu-satunya yang bisa Elf lain lakukan hanyalah melarikan diri dari sana karena sepertinya pertumpahan darah akan terjadi.


"Pa-pangeran!!! Tenanglah!! Mari selesaikan semua ini baik-baik!!!!!"


Para tetua mencoba mencegah pertempuran yang akan terjadi ini. Namun kedua pangeran sama sekali tidak mendengarkan.


Dengan senyuman khasnya, Aqua meneriakkan kata-kata yang mengejutkan semua Elf.


"Dengarkan semua rakyatku!!!!! Pangeran Pertama, Turquoise Caller El Vittacelar telah dinyatakan bersalah!!! Dia tidak sekedar ditipu, melainkan dirinya sendirilah yang bekerja sama dengan iblis!!! Dia juga pelaku yang membunuh Tuan Putri Citrine kita!!!!!!"


Meski sangat terkejut, tidak semua Elf langsung mempercayai perkataan Aqua begitu saja. Ini karena image Turquoise sangat baik di mata mereka.


"Hmph! Kau pikir mereka akan mempercayaimu?! Daripada aku?! Hah!!!" ejek Turquoise.


Hanya dengan satu kalimat itu saja, pertujukan Aqua dimulai.


Kertas-kertas berjatuhan dari langit. Jumlahnya sangat banyak hingga bisa memenuhi Kerajaan Vittacelar. Hampir semua Elf berusaha menggapai kertas yang berjatuhan untuk melihat isinya. Dan apa yang terjadi?


Mereka semua tertegun dengan mata melotot marah.


Didalam kertas itu, tertulis bukti kejahatan Turquoise yang bekerja sama dengan iblis. Dan fakta bahwa dari awal Turquoise merencanakan semua ini demi melindungi iblis.


Pada detik itu juga, kepercayaan yang telah Turquoise bangun selama 70 tahun hancur berkeping-keping.


"Darimana... Darimana kau bisa mendapatkan semua ini?!!" shock Turquoise.


Aqua tidak menjawab, dia hanya tersenyum saja.


"Bukan urusanmu."


"Lalu jangan kau kira pertujukanku berakhir sampai disini."


Sebagai pukulan terakhir yang menghancurkan kepercayaan rakyat pada Turquoise. Aqua menampilkan layar raksasa dan sebuah rekaman disana.


Semua Elf hening seketika.


Yang mereka tonton adalah rekaman kejadian yang sudah lama berlalu. Tepatnya di dungeon, saat Turquoise mengkhianati kedua adiknya sampai pada kematian menyedihkan Citrine.


"Ini adalah rekaman ingatan. Semua ini disiarkan berdasarkan ingatanku. Jangan kau kira selama 10 tahun aku di dungeon, kerjaanku hanya bermalas-malasan. Ini adalah penelitian paling penting untuk balas dendamku."


"Sekarang, kamu tidak bisa mengelak lagi."


Aqua mengeluarkan pedang dari sarungnya dan mengarahkannya langsung ke leher Turquoise. Setelah menarik napasnya agak panjang, Aqua berkata dengan nada penuh tekanan dan karisma yang mirip dengan Ratu.


"Dengan ini aku, Aquamarine Valler El Vittacelar menyatakan bahwa Turquoise Caller El Vittacelar bersalah karena telah bekerjasama dan membuat anak dengan iblis, membunuh saudarinya sendiri, melakukan penculikan, penyiksaan dan kanibalisme terhadap 136 wanita Elf dan mengkhianati Kerajaan Vittacelar. Untuk itu sebagai Keluarga Kerajaan Vittacelar, aku nyatakan eksekusi sebagai hukumannya."


"Apa ada yang keberatan?" tegas Aqua.


Para tetua dan Elf sempat terdiam mendengar pernyataan Aqua. Tapi tak lama, keseluruhan dari mereka langsung berlutut menghadap Aqua.


"Kami menerima apapun keputusan Pangeran Aquamarine Valler El Vittacelar."


Semuanya serempak mengatakan itu, meski mereka tau kalau Turquoise adalah satu-satunya darah murni Keluarga Kerajaan Vittacelar. Tapi karena kejahatan yang dia lakukan sudah melampaui batas, tidak ada yang menentang hukuman yang Aqua berikan sama sekali.


Melihat tidak ada yang membelanya setelah semua yang Turquoise lakukan untuk rakyat, membuat kepala Turquoise hanya berisi kemarahan.


"Kaupikir aku akan diam saja menerima semua itu!!! Jangan bercanda!!!!!! Regu Veron!!!!!!"


Turquoise memanggil sesuatu dengan suara yang sangat keras.


Regu Veron adalah sebuah kelompok yang dibentuk secara khusus olehnya dan kekasih Iblisnya hingga mereka punya kesetiaan mutlak. Kekuatan regu itu sangat kuat. Tidak ada seorangpun anggota regu Veron yang berlevel dibawah 300.


Turquoise percaya, bahwa selama dia memiliki Regu Veron di tangannya, tak seorangpun di Kerajaan Vittacelar bisa melawannya. Pria itu merentangkan tangannya untuk melindungi kedua anaknya sampai Regu Veron tiba.


Tidak hanya Turquoise yang mengetahui keberadaan Regu Veron. Para Elf yang tau tentang regu itu atau sekedar mendengar rumornya langsung ketakutan. Masalahnya jumlah regu Veron cukup banyak. Dan petarung-petarung terkuat ras Elf masih belum kembali dari perang saat menemani Ratu mereka. Saat ini di Kerajaan, tidak ada yang mampu melawan Regu Veron kalau mereka dikerahkan.


Tapi...


"Regu Veron?"


Aqua menepuk tangannya begitu sadar.


"Ah... yang kelompok orang mencurigakan itu...!"


"Kalau yang itu..."


Kepala-kepala orang tak dikenal yang sudah terpenggal rapi berjatuhan ke panggung. Jumlah kepala itu ada kurang lebih 30-an kepala. Tak selang lama, 6 orang berpakaian serba hitam muncul dengan santainya. Pemimpin (sementara) mereka, Pride memegang satu kepala yang berbeda di tangannya.


"Ti-tidak mungkin..." gemetar Turquoise.


"Jangan bilang... itu...!"


Pride berjalan penuh wibawa beberapa langkah didepan Raven lainnya.


"Aquamarine Valler El Vittacelar! Kesepakatan kita sudah selesai. Sesuai kontrak, kami sudah membantumu membersihkan sampah Kerajaan Vittacelar."


Pride melempar kepala itu diantara Aqua dan Turquoise.


"Itu adalah kepala dari pemimpin Regu Veron."


"Kesepakatan kita berakhir disini."


Tepat setelah mengatakan itu, Pride berbalik dan pergi bersama Raven lainnya.


"Terima kasih banyak! Senang bisa berbisnis dengan Raven. Semoga kita bisa menjadi rekan bisnis lagi nantinya," sopan Aqua dibalas lambaian Raven sebelum mereka menghilang kembali ke dalam bayangan.


"Baiklah, Ver apalah itu sudah selesai. Mari kita lanjutkan urusan kita," senyum Aqua menyeramkan.


Para Elf merinding, orang dengan level tinggi sebanyak itu dengan mudah dikalahkan hanya dengan 6 orang saja. Itu artinya perbedaan kekuatan Regu Veron dan 6 orang tadi sangat besar. Mau tidak mau, nama "Raven" pasti akan membekas di hati para Elf yang menyaksikannya secara langsung.


Kejadian itu akan tercatat dalam sejarah nantinya. Karena untuk pertama kalinya, Raven menunjukkan diri pada dunia dan membuktikan kekuatan mereka dalam berbagai bidang. Lalu Pangeran Kedua, Aquamarine juga akan tercatat sebagai klien pertama Raven.


Sejak itulah, Raven mulai muncul untuk menyelesaikan berbagai misi. Ada kalanya mereka memang menunjukkan diri pada dunia, ada kalanya juga mereka bertindak diam-diam sambil meninggalkan kartu bersimbol Raven di TKP sebagai bukti keterlibatan mereka.


Tapi itu adalah cerita untuk lain waktu.