
"Hmm ♫ ♪ ♩ "
Senandung merdu terdengar bagai bisikan angin lembut di telinga. Gadis (?) berambut navy gelap dan kulit kebiruan itu terus bersenandung riang sembari menyisir rambut emas bercahaya Ruby.
"Lagu itu... dimana aku pernah mendengarnya ya?" pikir Ruby tenang.
Beberapa saat yang lalu, Eli telah selesai mengantar Ruby ke kamarnya. Mereka sempat mengobrol ringan walau tampak seperti percakapan satu arah. Eli bermaksud meninggalkan Ruby sebentar untuk menata hati dan pikirannya. Namun niat itu padam saat melihat Ruby kesulitan menata dirinya.
"Para nona bangsawan memang tidak bisa melakukan hal semacam ini sendiri, ya."
Di tengah senandungnya, Eli tertawa kecil.
Meski tak terlihat di ekspresi Ruby, sebenarnya dia merenggut kesal.
"Ini karena efek tinggal lama di dunia ini sebagai bangsawan dan pakaian di dunia ini sangat ribet. Bukan seperti aku tidak bisa ganti sendiri."
Selama menyisir, Eli terus mengoceh kan beberapa topik tidak penting untuk meramaikan suasana. Dia sebenarnya bukan gadis (?) yang banyak bicara, namun anehnya dia bisa berbicara lancar sekarang.
"Apa karena alam bawah sadarku menganggap gadis ini Tiara?" batinnya.
"...... Pangeran... Aquamarine..."
"?"
Eli sedikit terkejut. Sejujurnya ini adalah kali pertama dia mendengar suara Ruby karena gadis itu sejak tadi hanya diam mendengarkan.
"...... Kenapa... Pangeran Aquamarine sampai sejauh ini?" tanya Ruby agak ragu.
"Hmm~ entahlah. Aku juga tidak begitu mengerti apa yang dia pikirkan," jawab Eli tak sepenuhnya bohong.
Ruby melirik Eli tidak percaya. Karena gadis (?) itu menjawab seperti itu, Ruby menganggapnya tidak ingin membuka mulut.
"Kalau begitu... kalian... siapanya?" tanya gadis itu lagi.
Eli berpikir sejenak, "Setelah dipikir-pikir... hubungan kami dengan Aqua diluar Raven agak ambigu."
"Teman... atau rekan... bisa dibilang juga keluarga. Kamu bisa menganggap hubungan kami seperti itu," senyum Eli.
"Keluarga...?" batin Ruby.
"Nah selesai!!!"
Eli merendahkan tubuhnya hingga kepala gadis (?) itu sejajar dengan Ruby. Mereka berdua sama-sama menatap cermin di depan mereka.
"Bagus!! Hasilnya lebih baik dari yang kupikirkan!!" senangnya.
Ruby melihat cermin dengan mata penuh kekaguman. Rambutnya tadi acak-acakan karena efek lelah dengan semua yang terjadi hari ini. Namun sekarang jangankan acak-acak, rambutnya sangat lembut dan bersinar. Gaya rambutnya di tata sedemikian rupa oleh Eli.
"Cantik..." gumam Ruby.
"Tentu saja!! Kau pikir aku si-"
"INI TIDAK MUNGKIN!!!!!!!!!!!!"
Belum sempat Eli menyelesaikan kalimatnya, sebuah jeritan terdengar melewati kamar. Jeritan yang awalnya cukup keras itu terdengar semakin mengecil, tanda pemilik suara mulai menjauh.
"......"
Ruby dan Eli terdiam di tempat.
"Itu tadi... suara Pietro. Apa lagi sekarang?" tanya Eli agak tertekan.
"?"
Ruby tidak terlalu paham apa yang barusan terjadi. Namun mendengar Eli mengatakan "lagi" artinya hal ini pernah terjadi.
Eli menghela napasnya agak berat. Dia meletakkan sisir Ruby di meja rias dan berbalik menuju pintu.
"Kamu sudah pakai pakaian santai dan aku juga sudah menyisir rambutmu. Tadi juga aku sudah menjelaskan letak ruang makan padamu. Maaf Ruby, tolong pergilah sendiri ke ruang makan, aku akan mengecek keadaan sebentar."
"Ah... baik..." jawab Ruby singkat.
Sesaat tangan Eli membuat pose minta maaf sebelum dia membuka pintu dan mengejar Pietro untuk mengetahui apa yang terjadi. Gadis vampir ini ditinggal dalam keadaan bingung begitu saja.
RUBY POV
Dia kenapa? Lagi? Ini sudah sering terjadi?
Aku tidak paham. Kelompok ini sangat aneh. Dan lagi Pietro Chalcedony... Aqua, dia mengembangkan kekuatannya lebih cepat dari gamenya.
Tidak! Aku sudah memutuskan tidak akan membandingkan tempat ini dengan game lagi karena kenyataan sudah terlalu berbeda.
"Gadis tadi... dia banyak bicara tapi belum mengenalkan namanya," gumamku.
Seperti yang dia inginkan, aku beranjak dari kursi untuk pergi ke ruang makan. Sejenak aku memandangi kamar ini. Sebuah kamar bergaya barat yang sangat indah dan mewah dengan warna dominan merah muda. Bukan pink, ini merah tapi muda. Warna merah, hitam dan putih. Cocok sekali denganku.
Apa mereka memang mendesain kamar ini khusus untukku? ..... Tidak mungkin.
Setelah mengenakan sandal rumah, aku keluar dari kamar tanpa lupa mengunci pintunya. Letak ruang makan tidak terlalu jauh dari kamar. Hanya perlu berjalan lurus di lorong sekitar 25 m dan belok kanan 3 m.
Aneh rasanya mansion sebesar ini tidak ada pelayannya. Satu-satunya pelayan di rumah ini cuma pria bernama Heolstor Erebus itu. Sekarang aku ingat, aku memang pernah mendengar nama itu. Nama itu... adalah nama yang kakak pakai saat dia Chuunibyou dulu. Kenapa aib kakak jaman awal SMP malah bisa terdengar disini? Kebetulan macam apa ini!?
Semakin aku memikirkannya... semakin kesimpulannya menjadi abstrut.
DEGGG
Apa!!?
"Apa itu tadi!!!??"
Kepalaku langsung menoleh cepat ke arah kiri pertigaan menuju ruang makan.
Ada yang tidak benar!!!!
Perasaan merinding macam apa ini!? Tidak... bukan hanya merinding. Rasanya seperti... hawa menyesakkan menarikku ke arah sana.
Napasku berat... apapun yang memanggilku... itu bukan sesuatu yang normal.
Aku tau harusnya aku abaikan saja panggilan itu. Tapi kenapa... setiap langkah kakiku menjauh... perasaan sesak ini semakin terasa? Apa-apaan itu sebenarnya!?
Tanpa kusadari, begitu aku selesai berpikir... aku sudah ada tepat didepan pintu yang merupakan sumber perasaan sesak tadi. Pintu kayu berwarna biru alami yang besar dan cantik. Array sihir rumit terpahat di pintu itu.
BZZZTTTTTTT
"Ack..."
Sakit... ini... sengatan listrik? Aku bahkan belum menyentuhnya.
Apa yang ada didalam sini sampai Array sekuat itu terpahat di pintu!?
Sejujurnya aku tau ini tidak sopan dan kurang ajar bagi tamu sepertiku mencoba mencari tau terlalu dalam. Aku tau aku tidak seharusnya melakukan itu. Tapi... perasaan sesak yang memanggilku semakin terasa dan seperti ingin aku masuk sekarang juga.
Aku menoleh sekelilingku, tidak ada orang atau makhluk hidup sama sekali. Gigiku menggertak, diriku seperti terbagi menjadi dua bagian. Antara yang ingin segera pergi dari sini dan yang ingin memeriksa kamar ini.
Sepertinya bagian yang ingin memeriksa lebih unggul.
Tidak ada cara masuk selain lewat pintu. Di pintu pun diberi array yang mencegah siapapun masuk. Ini sulit... tapi tidak mustahil.
Ada celah! Meski hanya celah kecil, itu sudah cukup.
Aku menggigit jari telunjukku agak keras hingga meneteskan darah.
[ Blood Manipulation ]
Darah yang keluar dari jariku memasuki celah itu. Aku bisa melihat apa yang darahku lihat, ini cuma perumpamaan.
Aneh... aku tidak bisa melihat apapun. Jangan bilang ini... barrier!?
Sebelumnya array pelindung dan sekarang barrier!?
Apa yang mereka lindungi sampai seperti ini!!?
"......."
Rasanya tidak benar kalau melangkah lebih jauh. Namun aku tidak bisa mengendalikan diriku. Mustahil beberapa tetes darah bisa melewati barrier itu. Jadi aku memanfaatkan darah tadi untuk membuka pintu dari dalam.
CKLEKKKK
Pintu terbuka setelah beberapa kerumitan. Tadinya aku hanya berniat mengintip lalu pergi. Tapi karena barrier dan rasa menyesakkan ini... bagaimanapun caranya aku ingin melihat apa yang Barrier itu coba lindungi.
Sengatan listrik yang lebih kuat menyengatku saat jariku menyentuh barrier-nya.
"Tidak ada cara lain."
[ Blood Domination ]
Darah dari jariku mengalir keluar meskipun lukanya mulai pulih hingga menutupi keseluruhan barrier itu.
Sejujurnya aku tidak ingin menggunakan skill ini. Skill ini membuatku bisa mengambil alih sihir lawan. Namun hanya sebatas sihir yang aku mengerti baik cara kerjanya dan bisa kugunakan. Untung saja aku sudah banyak belajar sebelumnya.
Sekarang tinggal...
[ Break ]
Dinding barrier perlahan memudar seperti permen kertas yang terkena air. Makin lama penghalang pengelihatannya juga semakin luntur hingga aku bisa melihat sepenuhnya apa yang ada didalam barrier tadi.
DEGGG
"!!!!!!"
BRUGGGHH
Kakiku seketika kehilangan tenaganya. Aku tidak percaya apa yang mataku lihat.
Apa ini... nyata!?
Tidak... apa ini mungkin terjadi!!??
Apa-apaan ini!!!!!????
Seseorang... tolong katakan padaku kalau aku sedang bermimpi sekarang!!!
Mataku melihatnya... seorang perempuan remaja terbaring lemah di atas kasur besar tepat di tengahnya. Rambut biru langit, kecantikan mempesona dan sayap putih bersihnya memang mengejutkan. Tapi bukan itu yang membuatku terkejut!!
"Tidak mungkin... wajah itu... aku!!??"