The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 103 [ Berbeda Dari Yang Lain ]



Salah satu penelitian Mika saat didalam dungeon adalah ramuan yang menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Bahan utamanya adalah Rainbow Crystal Flower dan dicampur beberapa bahan lain dengan takaran dan suhu yang tepat. Bisa dibilang proses ini masih masuk dalam lingkup Alkimia.


Namun ramuan tabu seperti ini juga syarat dan ketentuan sehingga tidak setiap orang mati bisa dibangkitkan.



Wadah jiwa (tubuh) harus dalam kondisi baik, tanpa kerusakan.


Jiwa tidak hancur/memudar.


Jiwa harus memiliki keinginan hidup.


Tubuh harus memiliki fondasi yang kuat (level cukup tinggi) agar bisa menahan efek ramuan.


Ramuan harus diminumkan bersamaan dengan pemberian mana yang sangat besar.



Selama 5 syarat itu terpenuhi, maka ramuan pasti akan berhasil dan orang yang sudah mati bisa dibangkitkan kembali. Untuk ramuan sehebat itu tentu membutuhkan bahan-bahan yang luar biasa. Selain 3 bahan yang disebutkan sebelumnya, ada 14 bahan lain yang tergolong tingkat Epic ke atas.


Aqua sudah mendapatkan ke-14 itu di Dungeon dan kota perdagangan, Aranyu. Hanya tersisa 3 bahan yang belum Aqua dapatkan. Hanya dengan bahannya saja membutuhkan biaya yang sangat besar, apalagi ditambah proses pembuatannya. Mika mungkin bisa mendapatkan lebih dari 1 milliar gold jika menjual ramuan itu.


"Aku sudah repot-repot melakukan semua penelitian ini demi kamu yang kehilangan kakak tercintamu. Apa yang akan kamu lakukan untukku sebagai balasannya?" goda Mika.


Aqua terdiam. Mika memang sudah banyak melakukan sesuatu untuknya. Sejujurnya dia tidak mau merepotkan Mika lebih dari ini. Setidaknya dia ingin mengumpulkan sendiri semua bahan yang dibutuhkan.


"Apapun yang kamu mau, selama aku bi- tidak aku pasti akan mendapatkan apapun yang kamu mau," jawab Aqua serius.


"Apa kau yakin? Aku bisa saja meminta sesuatu yang mustahil," cengir Mika.


"Tidak masalah. Jika itu untukmu, bahkan menyerahkan dunia akan kulakukan," senyum Aqua hangat. Aqua setengah menggoda dan setengah tulus mengatakannya.


Wajah Mika memerah. Bagaimana bisa Aqua mengatakan hal memalukan itu begitu saja? Mungkin itu yang dipikirkan.


"Go-gombalan semacam itu tidak mempan untukku!! Apa si Citrine begitu berharga sampai kamu rela sejauh itu?!"


"Pfftt... hahahaha, wajahmu merah padam," ejek Aqua.


Aqua menertawakan Mika sambil meletakkan tangannya di kepala Mika. Gadis itu memerah karena malu dan kesal, ingin rasanya dia memukul Aqua hingga terpental jauh sekarang.


Aqua maju beberapa langkah didepan Mika.


"Bukan cuma karena Kak Rin. Aku bisa mengatakan itu karena kamu adalah Mika."


"......"


Mika terdiam, dia tidak bisa melihat wajah Aqua sekarang. Tapi telinga panjangnya terlihat agak memerah sekarang.


"Pfftt..."


Kali ini giliran Mika yang tertawa cukup keras sampai matanya berair. Aqua tersenyum saat melirik gadis itu, dia kembali berjalan meninggalkan Mika yang sibuk menertawai dirinya.


"Hei, jangan tinggalkan aku!!!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hari demi hari berlalu. Sementara Eli sibuk membantu Recho tua membuat senapan runduk, Aqua dan Mika menghabiskan waktu bersantai di desa. Sudah lama mereka tidak setenang itu sebelumnya. Para dwarf juga sudah terbiasa dengan keberadaan mereka, ditambah karena Aqua dan Mika sering membantu mereka untuk mengisi waktu luang, para dwarf semakin membuka hati dan ramah.


Aqua tiduran di rerumputan bawah pohon rindang. Similir angin yang menerbangkan rambutnya dan meniup pelan wajahnya ini terasa sangat nyaman. Matahari bersinar terang namun tidak berlebihan. Sungguh, suasana yang sangat sesuai untuk bermalas-malasan.


"Mika sedang mengajari dwarf wanita memasak... Eli masih sibuk membantu Recho... Aku bosan..." batin Aqua saat memejamkan matanya.


Aqua membuka matanya perlahan, melihat pergerakan awan yang cukup lambat.


"Bukankah sekarang sudah saatnya kamu menampakkan dirimu?" ucap Aqua tiba-tiba.


Aqua mendengar pernapasan seseorang menjadi tidak teratur. Orang itu terkejut karena Aqua menyadari keberadaannya. Nyatanya dia sudah mengawasi Aqua sejak pertama kali Aqua datang ke desa ini.


Meski penuh keraguan, dwarf yang disindir Aqua tadi perlahan keluar dari balik pohon besar di belakang Aqua.


Namun...


Dwarf yang muncul dari balik pohon sangat jauh berbeda dari dwarf pada umumnya. Dia memiliki wujud seorang anak laki-laki manusia berusia 12 tahun dengan tinggi ±150 cm. Kulitnya coklat gelap seperti dark Elf. Rambutnya hijau daun dan matanya berwarna kelabu. Telinga anak itu sedikit runcing seperti dwarf biasa. Tidak ada otot yang terlihat di tubuhnya, dia benar-benar terlihat seperti anak 12 tahun biasa.


Meski penampilannya seperti itu, anak itu 100% dwarf. Dia bukan seorang half atau semacamnya. Dia murni ras dwarf.


Aqua menyeringai tipis.


"Dia keluar juga."


"Kamu sudah mengikutiku sejak lama, kan? Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Aqua dingin.


Anak itu menatap Aqua tajam. Dia benar-benar mengingatkan Aqua pada Recho Chalcedony saat baru pertama kali bertemu.


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya anak itu membuka mulutnya.


"Anda! Anda dari... luar desa, kan?!" tanya anak itu gugup.


"Ya."


"Tolong...! Tolong bawa saya pergi bersama anda!!!" jeritnya sambil memejamkan matanya gugup.


Tanpa anak itu sadari, Aqua mengeluarkan senyuman liciknya.


"Dan kenapa aku harus membawamu? Bukannya kalian para dwarf tidak ingin berhubungan dengan dunia luar?" pancing Aqua.


"I-Itu...!"


Anak dwarf itu melirik ke sekeliling secara acak sambil mengaitkan kedua tangannya.


Aqua merasa dia sudah cukup memojokkan anak itu. Jadi Aqua bangun dari tidurnya dan duduk santai. Dia juga menepuk-nepuk rumput disebelahnya, pertanda menyuruh dwarf muda itu duduk disebelahnya. Walau masih tidak yakin, anak dwarf itu pelan-pelan berjalan ke sebelah Aqua dan duduk di sana.


"Pertama, perkenalan dulu dirimu padaku!" ucap Aqua agak ramah.


"........"


"......... Saya... Nama saya... Pi-Pietro, Pietro... Chalcedony. Saya putra dari dwarf yang membuatkan senjata untuk teman anda tadi..." jawab anak itu terbata-bata.


Aqua mengeluarkan wajah yang seakan bilang 'Aku sudah tau' tanpa dilihat Pietro.


"Pietro, ya. Itu nama yang bagus. Namaku Aquamarine Valler El Vittacelar. Kau boleh memanggilku Aqua saja."


"Saya tidak sengaja mendengar kalau... Anda adalah Pangeran Kerajaan Vittacelar... kalau begitu, anda pasti bisa membawa saya, kan? Tolong bawa saya saat anda pergi meninggalkan desa!!" pinta Pietro.


"Kenapa? Kalau kau tetap disini, kau akan aman dan tidak perlu mengkhawatirkan monster atau ras lain. Asal kau tau, dunia luar desamu itu berbahaya."


"....... Apa saya harus menceritakan alasannya?"


"Aku harus tau kalau aku mau membawamu, kan?"


"Benar..."


Pietro menunduk ke bawah dengan wajah sedih.


"Saya... sejak saya lahir saya dianggap aneh oleh dwarf lain. Saya sama sekali tidak berotot dan saya lebih tinggi dari yang lain. Penampilan saya juga tumbuh sesuai usia dan berhenti saat saya masih 12 tahun. Kakek saya bilang... saya mungkin terkena kelainan Humanisme."


"Humanisme? Apa itu kebalikan dwarfisme?" batin Aqua.


"Kakek meminta saya tidak berkecil hati... karena penampilan tidak terlalu penting. Yang paling penting bagi dwarf adalah kemampuan penempaan. Tapi di bagian itu juga... saya mengecewakan kakek. Saya bahkan tidak bisa mengangkat palu tempa... apalagi sampai menempa sesuatu."


"Tidak peduli berapa banyak saya olahraga, otot saya tidak tumbuh. Meski sekarang saya sudah berusia 29 tahun... saya sama sekali tidak bisa mengangkat palu tempa... Semua dwarf kecewa pada saya... padahal saya cucu dari dwarf terhebat, tapi saya justru mencoreng nama kakek..."


Pietro mulai mengeluarkan air mata seperti anak kecil yang orang tuanya tidak hadir saat acara orang tua disekolah. Sebagai catatan, usia ras dwarf 2x lebih lama dari manusia. Jadi 29 tahun di ras dwarf setara dengan 14,5 tahun ras manusia.


"Ayah dan kakek tidak pernah mengejek saya... mereka tidak pernah berkata saya memalukan... tapi saya tau... kalau saya cuma aib di keluarga Chalcedony..." tangisnya.


Aqua menghela napasnya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah langit yang bergerak pelan.


"Di langit... tidak ada perbedaan antara timur dan barat, orang membuat perbedaan dari pikiran mereka sendiri dan kemudian percaya bahwa itu benar."


"?"


"Kita semua hidup di bawah langit yang sama, tetapi tidak kita semua memiliki cakrawala yang sama. Buka pikiranmu. Kamu bukan seorang tahanan. Kamu adalah burung yang terbang, mencari mimpi di langit."


Pietro terpana melihat Aqua mengucapkan kata-kata itu dan ikut memandang langit yang sama dengan Aqua.


"Aku tidak tau seberat apa masalahmu dan aku juga tidak peduli dengan itu. Semua orang memiliki masalah mereka masing-masing. Satu hal yang bisa kukatakan padamu."


"Jangan biarkan satu awan melenyapkan seluruh langitmu! Bahkan ketika langit dipenuhi awan, matahari masih bersinar terang di balik awan itu."


"......."


Aqua berdiri sambil merapikan pakaiannya. Dia mengulurkan tangannya pada Pietro.


Pietro, "?"


"Apa yang tunggu? Tadi kau bilang ingin aku membawamu, kan? Kalau begitu kita harus mendapatkan persetujuan dari ayahmu dulu."


Pietro membelalakkan matanya, dia memang meminta Aqua membawanya, tapi dia tidak menyangka Aqua setuju membawanya. Dengan wajah terharu, Pietro menerima uluran tangan Aqua.


"Baik!!!"