The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 171 [ Penggabungan Pertama (4) ]



Status Ruby yang bahkan jarang dilihat oleh dirinya sendiri, kini terpampang jelas didepannya dan Mika. Wanita malaikat itu menatap Ruby yang terlihat kebingungan dengan senyum geli.


"Halo~ apa kau mendengarku?" tanya Mika dengan nada riang sembari melambaikan jari-jarinya ke depan wajah Ruby.


"!"


Ruby tersentak, sesaat pikirannya teralihkan dengan statusnya yang muncul tiba-tiba dan terbukanya tittle aneh yang selalu membuat dirinya penasaran selama ini.


"Ah, iya..." jawab Ruby masih kebingungan.


Mika tersenyum lembut, "Kamu pasti sudah tau siapa aku, jadi aku tidak perlu memperkenalkan diri, bukan?"


Pertanyaan Mika hanya dijawab oleh anggukan Ruby. "Kalau begitu kita bisa langsung ke intinya, karena waktu kita terbatas," ucap Mika.


"Aku tau ada banyak hal yang ingin kau tanyakan. Tenang saja, aku akan menjawab semua yang kutahu nanti. Pertama-tama, apa kamu sudah bertemu Airella?"


Ruby memiringkan kepalanya, "Ai..rella?"


"Gadis berambut hitam dan mata hitam yang bisa berubah jadi banyak wujud. Karena namanya begitu banyak, jadi aku memutuskan memanggilnya Airella saja. Toh itu tidak salah, karena dia adalah pembawa ingatan kehidupan pertama hingga kelima," jawab Mika.


Tentu Ruby mengingatnya, dia bertemu gadis aneh tadi baru beberapa saat yang lalu. "Sudah."


Mika tersenyum lega, dia mengelus-elus kepala Ruby dengan lembut.


"Kalau begitu syukurlah. Tidak heran kamu bisa masuk kesini."


Entah kenapa Ruby merasa kesal, dia tidak suka diperlakukan seperti anak kecil, terutama oleh Mika, meski dirinya sendiri tidak tau alasannya. Setelah menepis pelan tangan Mika, Ruby mengatakan sesuatu. "Bisa tolong jelaskan yang sebenarnya padaku? Baik gadis itu atau yang lain tidak memberikan penjelasan lengkap yang mana itu hanya membuatku semakin bingung."


"Hmm... tentu. Lagipula aku sudah bilang akan menjelaskan padamu tadi. Tapi kalau jelasin dari awal pasti panjang... begini saja, aku akan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu. Tolong pikirkan mana yang paling ingin kau tau, oke? Karena waktu kita tidak banyak," balas Mika dengan senyum lembutnya.


Ruby kembali mengangguk, dia berpikir sejenak. Mencoba meringkas hal-hal yang paling ingin dia tanyakan.


"......."


Ketika Ruby membutuhkan waktu untuk berpikir, Mika membalik tubuhnya dan bersandar pada pagar balkon. Dia menatap langit malam yang indah dari sana. Ruby pasti tidak tau, tapi tempat ini adalah salah satu tempat yang paling Mika sukai. Tempat inilah tempatnya dan sang tercinta tinggal selama 10 tahun. Ya, tempat yang Ruby datangi adalah fatamorgana dari ingatan Mika tentang rumah sederhana Mika dan Aqua di dasar dungeon.


"Aku sudah memutuskannya," kata Ruby menyadarkan Mika.


"Jadi? Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Mika ramah.


Ruby mengerutkan keningnya, "Pertanyaan pertamaku, bagaimana kamu bisa mengenalku? Dan apa hubunganmu dengan Airella?"


Mata Mika sedikit bergetar, "Pfft... ahahaha, kau sebut itu satu pertanyaan? Baiklah, baik..."


Mika duduk pagar balkon dan mengarah ke lautan tak berbatas didepannya. "Aku... juga sudah pernah didatangi Airella. Dia juga pernah menyelamatkan nyawaku, meski caranya berbeda dengan dirimu yang diberikan ingatan kehidupan kelima."


"Intinya, berkat itu aku bisa sesekali menghubungi Airella."


"Tentu saja setelah ingatan pengulangan waktuku kembali," batinnya.


"Sebelum aku mengalami koma, Airella datang padaku dan mengatakan kalau jiwaku yang tidak lengkap ini akan hancur kalau aku tidak segera menemukan sebagian jiwaku yang lain, jadi aku harus segera menemukannya sebelum diriku mencapai batas."


Mika menoleh ke Ruby dengan senyum sendu, "Tapi meski tau itu... aku tidak melakukan apapun dan akhirnya benar-benar koma. Maaf sudah merepotkan kalian semua."


"Lalu... tentang bagaimana aku mengenalmu... selama aku koma, aku dan Airella selalu memperhatikan dirimu dari alam pertigaan. Tentu aku tidak bermaksud mengintipmu atau semacamnya... hanya saja Airella menyuruhku memperhatikan dengan seksama agar aku bisa lebih mengenalmu."


Hanya dari penjelasan singkat itu, Ruby dapat memahami garis besar ceritanya.


"Dari kata-katamu... dan semua yang terjadi padaku akhir-akhir ini... termasuk perubahan statusku... apa kita ini sebenarnya orang yang sama? Itulah kenapa Aqua dan yang lain bersikeras meminta bantuanku untuk menyelamatkanmu?"


Mika mengangguk pelan, "Benar."


"Ha~ahhh... sebentar... biarkan otakku memproses dulu!" ucap Ruby sembari memegangi kepalanya yang mulai pusing.


"Dugaanku benar kalau kami itu orang yang sama. Fakta ini menghubungkan semua hal membingungkan yang terjadi padaku selama ini. Kalau menurut si Airella itu, Tiara kan kehidupan kelima. Sekarang kehidupan keenam. Artinya kami berdua adalah Tiara, tapi dia cuma bawa wujudnya dan aku cuma bawa ingatannya... kok jadi rumit banget gini sih..."


Perasaan Ruby campur aduk. Namun karena dia sudah menduganya, dirinya tidak seterkejut yang dia bayangkan. Atau malah mungkin karena sifatnya sebagai Tiara yang kuat, tenang dan berkepala dingin itu makanya Ruby bisa tetap tenang dan tidak panik duluan.


Mata lelah Ruby melirik Mika yang khawatir padanya.


"Pertanyaan kedua. Apa caraku menyelamatkanmu itu dengan cara bergabung kembali dengan dirimu?"


Mika tersentak, tak dia sangka Ruby akan secepat itu menarik kesimpulan. Mana kesimpulannya sangat tepat sasaran lagi. "Benar..."


Ruby tak bergeming, dia memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam agar dapat mempertahankan ketenangannya. "Pertanyaan ketiga. Apa yang akan padamu terjadi kalau aku menolak bergabung?"


Senyum Mika agak memudar, dia sedikit bingung harus menjawab apa. "Mungkin... aku hanya akan menghilang? Tidak akan reinkarnasi ataupun pergi ke surga atau neraka."


BRAAAKKK


Ruby tidak bisa mempertahankan ketenangannya begitu mendengar jawaban Mika. Dia mendepak jendela hingga mengeluarkan suara yang cukup keras.


"KALAU BUKAN KARENA AQUA DAN YANG LAIN MENCARIKU UNTUKMU, APA KAMU HANYA AKAN DIAM MENANTI KEMATIAN BEGITU SAJA!!!??"


Mika sama sekali tidak menyangka Ruby akan semarah itu. Mika mengira Ruby hanya akan menganggapnya orang asing. Meski dia dan Ruby adalah orang yang sama, tetap saja. Sebelum ini mereka sama sekali tidak pernah mengobrol.


Entah kenapa walau emosi Ruby memuncak, Mika justru merasa sedikit senang mendengar Ruby memarahi dirinya. "Aku tidak mungkin bisa memaksamu bergabung kalau kamu tidak ingin, bukan?"


"Yang kita bicarakan sekarang bukanlah hal remeh seperti meminta sedikit darahmu atau semacamnya. Kalau kita bergabung, kamu mungkin tidak akan menjadi dirimu yang sekarang sepenuhnya, kau tau? Normalnya orang tidak akan menginginkan itu terjadi."


Ruby semakin kesal mendengar balasan Mika. Dirinya ingin sekali lagi membentak wanita itu, namun dia menahan diri. Helaan napas yang sangat berat dia keluarkan didepan wanita itu.


"Kenapa kamu seenaknya memutuskan itu bahkan sebelum kamu bertemu denganku!?"


"Pertanyaan ketiga. Apa yang akan terjadi kalau aku setuju bergabung?"


"Kalau kamu setuju, tentu kita akan bergabung menjadi satu. Saat itu terjadi, jiwaku yang nyaris hancur akan kembali stabil. Ingatan-ingatan yang kita berdua miliki akan menjadi satu, itu sedikit membebani otak dan membuat linglung sesaat. Namun tidak berbahaya. Disisi lain, bukan hanya ingatan yang menjadi satu. Kekuatan, penampilan fisik, skill, level, tittle dan beberapa hal lainnya juga akan menyatu," jawab Mika.


"......."


Ruby berusaha mencerna semua itu. Terjadi pertarungan batin pada dirinya selama beberapa menit.


".... Pertanyaan keempat. Apa yang lainnya dan kamu sendiri setuju kalau kita bergabung?"


Mika mengangguk, "Sudah pasti. Akunya setuju-setuju saja. Karena selama hidupku ini... rasanya ada yang kosong dalam diriku. Tak peduli siapapun orang yang kutemui, rasanya tidak akan pernah lengkap. Aku juga baru mengetahui alasannya belum lama ini."


"Jadi yang merasakan itu bukan hanya aku, huh. Jiwa yang tidak lengkap... perasaan kosong yang aneh... bahkan rasanya ada sifat yang tidak pernah dimiliki Rubylia Arsilla. Apa karena sifat lemah lembut, tenang dan dewasa itu lari ke Mika semua?" batin Ruby.


"Sebelum aku menanyakan pertanyaan terakhir. Aku ingin mengatakan sesuatu dulu," ucap Ruby.


"Tentu, silahkan."


"Si Airella bilang dirimu punya banyak informasi yang tidak kutahu, termasuk keberadaan kakakku. Aku... ingin mencari kakak. Kakaknya Tiara, Kak Syam yang melanggar janjinya padaku. Aku ingin meninjunya begitu aku menemukannya. Walaupun kita bergabung lagi nanti, aku tidak akan kehilangan jati diriku sebagai Tiara dan Ruby. Aku akan tetap menuntaskan tujuanku apapun yang terjadi."


Mata Mika sedikit terbelalak, "Itu maksudnya..."


Ruby sudah memantapkan hatinya. Sebenarnya dia sudah memantapkan hati kalau hal semacam ini benar-benar terjadi sejak kali pertama dia bertemu Mika di mansion Aqua.


"Pertanyaan kelima. Apa kamu tidak masalah kehilangan cintamu pada Aqua kalau kita bergabung nanti? Apa kamu tidak masalah kalau 'aku' memilih pergi meninggalkannya demi mencari kakak nanti? Apa kamu tidak masalah kalau ingatanku sebagai Tiara akan mendominasi nanti?" tanya Ruby dengan senyum percaya diri.


Mika terdiam, sejujurnya perasaannya rumit saat ini.


"Aku..."


"Akulah yang seharusnya menanyakan itu," jawab Mika tak kalah percaya diri.


"Rubylia Arsilla, jangan meremehkanku! Alasan utama aku ragu untuk bergabung dan ragu untuk memaksamu, itu semua karena aku tau bahwa ingatankulah yang akan mendominasi!"


"Mencari kakak? Meninggalkan Aqua? Pfftt... ahahahaha, lucu sekali. Itu semua tidak mungkin bisa terjadi," tawa Mika hingga matanya menitikkan air mata kecil.


Ruby, "💢"


"Oh ya? Kita lihat saja nanti!!" kesal Ruby.


"......."


Mika tersenyum kembali, "Hei. Kau yakin? Setelah bergabung, kita tidak akan bisa kembali, kau tau?"


"Asal kau tau saja. Ingatanku mengandung banyak sekali informasi penting yang pasti langsung menjawab semua pertanyaanmu. Namun juga bisa membuatmu kehilangan tujuanmu. Meski kamu juga akan mendapatkan tujuan baru, sih."


Ruby menghela napas kecil, "Itu semua bukan masalah sama sekali. Justru bagus kalau semua pertanyaan yang belum kau jawab sekarang bisa terjawab semua. Tentang tujuan, kalau itu menghilang artinya sudah terkabul, kan? Malah bagus dong."


"Heh... sifatmu mudahan juga," ejek Mika membuat Ruby kembali kesal.


"Siapa juga yang mudahan!? Aku memutuskan ini setelah memikirkannya matang-matang, kau tau!? Dari Ruby murni bergabung dengan ingatan Tiara. Dan dari itu bergabung dengan ingatan Mika, tidak akan ada bedanya."


"Tidak akan menyesal, nih?" goda Mika.


"Tidak akan!!!"


"Jadi kau ini mau atau gak!!? Daritadi kayaknya malah kamu yang gak mau bergabung! 💢" geram Ruby.


Mika terkikik geli, "Apa terlihat begitu?"


"Bangettt!!"


"Ahahahahaha.... kalau begitu maafkan aku."


Sangat aneh memang. Padahal ini adalah kali pertama Mika dan Ruby bertemu satu sama lain dalam keadaan sadar. Dan inilah kali pertama mereka mengobrol juga. Tapi entah kenapa... mereka dari awal merasa dapat mempercayai satu sama lain. Dari awal mereka merasakan rasa tertarik pada sama satu sama lain. Dari awal mereka merasa nyaman pada satu sama lain, meski disisi lain juga sedikit tidak nyaman. Perasaan aneh yang membuat mereka yang baru pertama kali bertemu dapat merasa seolah sudah saling mengenal selama ratusan tahun inilah yang mampu menyatukan mereka.