
Tak ada yang berani angkat bicara. Setiap penawaran yang diberikan Aqua selalu jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Pangeran semakin kesal, harga dirinya tak mengizinkannya kalah disini.
"2… 25.000!" serunya sedikit ragu. Sejujurnya pangeran tak membawa terlalu banyak uang sekarang. Lebih dari itu dan dia bisa kehabisan uang.
"Ha~ahh… ini melelahkan," keluh Aqua.
"Aku benci basa basi, langsung saja! 50.000 koin emas!"
"!!!!!!!!!!!!!!!!"
Harga yang awalnya di tawar 5000 koin emas melonjak menjadi 50.000 koin. Siapa yang tidak terkejut mendengarnya? Dengan uang segitu, Aqua bisa membeli senjata tingkat Legend. Banyak orang menganggap Aqua bodoh dan boros karena menghabiskan uang sebanyak itu hanya untuk senjata tingkat Epic.
"Aku bukan orang bodoh. Justru kalian yang bodoh. Senjata tingkat Epic? Jangan bercanda! Sekarang memang cuma sebatas tingkat Epic, tapi itu karena tombak itu kurang bagian terpenting. Dwarf yang membuatnya belum memasukkan inti tombak, Permata Freyja dan Freyr," pikir Aqua tenang.
"Setelah intinya dimasukkan, tombak itu akan menjadi lengkap dan ranknya naik drastis. Benar, rank sebenarnya Tombak kembar Freyja dan Freyr adalah Mythic. Harga aslinya itu sekitar 5.000.000 koin emas. 50.000 hanya jumlah kecil."
Tidak ada suara yang terdengar lagi. Sang pangeran juga diam. Dia marah besar, meski begitu karena uangnya tidak sampai 30.000, dia tidak bisa melanjutkan penawaran.
"Ba-baiklah… apa ada lagi? Kalau tidak ada maka Tombak kembar Freyja dan Freyr terjual pada pelanggan itu dengan harga 50.000 koin emas!!"
"Ap-apa… apa itu tadi?" ucap Elvina gagap.
"Aqua! Kenapa kamu membayar tombak itu sebanyak itu?!" kaget Elvira.
"Hmm? Aku hanya membeli barang yang kuinginkan. Apa itu salah?" jawab Aqua dengan nada polos.
Elvira dan Elvina membelalakkan matanya. Mereka tidak tahu harus merespon seperti apa. Mereka memilih membiarkan saja Aqua melakukan apapun yang dia inginkan.
"Padahal aku tidak melakukan apapun. Tapi justru aku yang capek," pikir mereka.
Pelelangan terus berlanjut. Sejauh ini hanya tombak kembar yang dibeli Aqua, tak ada lagi barang yang menarik perhatiannya. Meski beberapa membuatnya senang, tapi tak sampai membuatnya ingin membelinya.
Sampai pada akhir pelelangan dimana Embun kehidupan dijual. Hanya sebuah botol kecil saja sudah membuat orang-orang berbondong-bondong menawar dengan harga tinggi.
Aqua berhasil memenangkan pelelangan dengan harga yang fantastis. Alesta memberi Aqua uang sebanyak 100.000 koin emas untuk menawar itu. Hanya dengan sekali penawaran, Aqua langsung menawarkan semuanya. Dengan uang sebanyak itu, tak ada satupun yang berani mengeluarkan uang lebih tinggi. Begitulah bagaimana pelelangan yang melelahkan telah berakhir.
"Kamu benar-benar menghabiskan banyak uang hari ini, Aqua," kata Alvira lelah.
"Aku tau kamu pasti kaya karena berasal dari Keluarga Kerajaan, tetap saja… dalam waktu kurang dari 1 jam menghabiskan 150.000 koin emas…"
Elvina tertawa sambil menepuk punggung Aqua pelan.
Aqua tersenyum, anak itu maju beberapa langkah ke depan Elvira dan Elvina. Dia mengeluarkan tombak kembar dari inventory nya.
"Kak Vira! Kak Vina! Ini hadiah untuk kalian!" seru Aqua sambil menyerahkan tombak kembar itu ke si kembar.
"!"
"Ap? Bagaimana bisa kami menerima tombak semahal itu?!!!" kaget Elvira.
"Bukankah kamu membelinya untukmu?! Kenapa memberikannya ke kami?!!" panik Elvina.
"Tidak, tidak! Dari awal aku memang membelinya untuk kalian. Lagipula aku tidak terlalu bisa memakai tombak! Jadi ambilah!"
Elvira dan Elvina terus mencoba menolak Aqua.
"Ck, apa boleh buat!" kesal Aqua.
Mata Aqua mulai sedikit berair.
"Padahal aku sudah susah-susah membelikan ini untuk kalian. Karena kalian menganggapku tuan kalian… akukan jadi ingin memberi hadiah… hiks…"
"Awawa…"
Elvira dan Elvina panik, mereka sangat merasa bersalah karena membuat Aqua menangis. Mereka tak tau harus berbuat apa untuk menenangkan Aqua.
"Ukhhh…."
Dengan berat hati, perempuan kembar itu mengambil tombak itu.
"Baiklah, baiklah!!! Kami akan menerimanya dan menjaganya dengan baik. Jadi tolong jangan menangis!!" ucap mereka panik.
"Sungguh? Kalian akan menerima dan menjaganya?" tanya Aqua dengan mata berbinar.
"Iya! Kami akan melakukannya! Sungguh! Janji deh!!!!"
"Aku mengerti!! Syukurlah!!!"
Aqua tersenyum lebar, senyuman manis itu seakan memanah hati siapapun yang melihatnya.
"Aku akan repot kalau mereka tidak mengambilnya. Mereka harus menerimanya, peningkatan kekuatan mereka akan menguntungkanku!"
"Terima kasih banyak, Aqua. Aku akan menjaganya dan menggunakannya sebaik mungkin," kata Elvira terharu.
"Aku juga berterima kasih. Kami pasti akan menggunakannya untuk melindungimu," lanjut Elvina.
"Hehe… terima kasih kembali!!" Aqua senang mereka menerimanya dengan berbagai alasan.
"Baiklah, ayo kita segera pulang ke Kerajaan Vittacelar. Aku akan mengenalkan kalian ke teman-temanku!"
Aqua berbalik, dia menjulurkan lidahnya.
"Meniru Yue itu banyak untungnya, haha."
Aqua mengeluarkan kertas teleportasi dari Inventory nya. Belum sempat kertas itu dia sobek, beberapa ksatria menghalangi di depannya. Ksatria-ksatria itu mengelilingi Aqua dan si kembar. Elvira dan Elvina langsung masuk ke kuda-kuda siap tempur sambil melindungi Aqua.
Raut wajah Aqua terlihat tenang dan biasa saja. Tapi dalam hatinya dia memaki-maki Pangeran Cyrilo.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Aqua dengan nada sesopan mungkin.
"Kamu! Apa maksudmu tadi?!!" marah Pangeran Cyrilo.
"Apa yang anda bicarakan itu tentang penawaran saya pada tombak kembar?"
"Iya!!!! Padahal kamu tau aku menawar untuk itu! Kenapa kamu tetap menawar?!" jeritnya kesal.
"Apa ada peraturan bahwa saya tidak boleh menawar hanya karena anda juga menawar?" balas Aqua tepat sasaran.
"Itu… memangnya kamu tidak tau siapa aku?!!!!"
"Saya tau kok, Pangeran Cyrilo dari Kekaisaran Levana, kan?"
"Meski sudah tau kamu tetap melakukannya?!!!" marahnya.
"Haaahh… kan saya sudah bilang. Apa ada peraturan saya tidak boleh menawar?"
"Kamu! Apa kamu tidak takut!? Aku itu Pangeran loh!!!"
Aqua berdecak kesal.
"Inilah kenapa aku benci bangsawan gadungan. Cuma minta hak tapi gak mau kewajiban. Anak ini terlalu dimanjakan… yang begini mau jadi Kaisar? Jangan bercanda!"
"Tidak ada alasan untuk takut ketika saya sama sekali tidak salah. Lagipula apa anda lupa? Tempat ini adalah Kota Aranyu, kota mandiri yang tidak berada dalam wilayah kekuasaan siapapun."
Pangeran Cyrilo tak bisa membalas Aqua lagi. Semua yang dibilang Aqua memang benar adanya. Tapi tetap saja dia kesal karena rakyat biasa berani melawannya.
"Aku bisa saja membunuhmu begitu keluar dari kota ini. Sebenarnya kenapa kamu berani mencari masalah dengan pangeran sepertiku?!!!" marahnya.
"Membunuh saya? Apa anda yakin?" tanya Aqua dengan nada mengejek.
"Untung orang seperti ini, melawan kekuasaan dengan kekuasaan adalah cara paling pas."
"Ke-kenapa aku tidak yakin? Membunuhmu itu sangat mudah bagiku!"
"Meskipun itu bisa menimbulkan perang?"
"Kenapa bisa jadi perang?!!"
Aqua terkikik, dia menyibak poninya ke atas. Warna rambut coklat gandumnya kembali seperti semula. Dengan nada sombong dia berkata.
"Sekali lagi saya tanya, apa anda yakin mau membunuh saya karena itu? Kalau anda membunuh saya, nanti bisa terjadi perang antara Kekaisaran dan Kerajaan Vittacelar, loh."
"!"
"Pa-pangeran! Rambut itu… dia Keluarga Kerajaan Vittacelar!!!" bisik salah satu Ksatria.
"Aku juga tau! Tapi kenapa dia ada disini?!!" bisiknya.
"Oy! Apa anda tidak mau menjawab?" tanya Aqua malas.
"It-itu…"
Pangeran mendadak jadi panik.
"Meski cuma Kerajaan kecil, namun hampir semua penduduknya adalah penyihir. Apalagi Penyihir dari ras Elf itu selalu jauh lebih hebat dari manusia. Menjadikan kerajaan itu lawan, ayah bisa membunuhku…"
"Itu?"
"Sa-saya minta maaf!! Tolong anggap saja kejadian ini tidak pernah terjadi," paniknya.
"Menganggap tidak pernah terjadi ya… terserah saja. Saya tidak peduli. Pastikan saja kejadian seperti ini tidak terjadi lagi. Mengerti?" kecam Aqua.
"Saya mengerti!"
Pangeran dan ksatrianya langsung pergi setelah membungkuk sedikit.
Aqua menghela napas malas.
"Dasar merepotkan," keluhnya.
Aqua berbalik ke Elvina dan Elvira. Dia tersenyum seolah tak terjadi apapun.
"Biarkan saja mereka! Kak, tolong pegang tanganku. Aku akan menggunakan kertas teleportasi dan segera pulang."
Elvira dan Elvina mengangguk dan segera menggandeng tangan Aqua. Mereka terkagum-kagum dengan sifat Aqua yang tetap tenang dan bermartabat tanpa mengabaikan sopan santun.
Aqua menyobek kertasnya, mereka langsung berpindah tempat dalam waktu sepersekian detik. Dari lorong gelap tempat pelelangan, menjadi ruangan terang dan rapi.
.
.
.
.
[ Error muluk nih. Padahal biasa aja loh. Maaf baru bener sekarang, tadi author baru nyiapin nganten tetangga :v Btw coba tebak berapa uang yang dikeluarkan Aqua dalam jumlah rupiah~ ]