
PLAKKK
Bu Amanee menepukkan tangannya untuk mengambil perhatian kelas.
"Baiklah, cukup permulaannya. Sekarang waktunya kita serius."
"Kalian, siswa Divisi Healing Magic berbeda dari siswa Divisi lainnya, camkan itu! Kita adalah penyihir yang berurusan dengan nyawa, White Magician atau yang lebih dikenal dengan sebutan Healer. Tak seperti divisi lainnya, kita menggunakan kekuatan kita untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Jadi kalau kalian gagal dalam pembelajaran, nyawa orang lain adalah bayarannya."
"Karena itu kegagalan tidak diizinkan!"
Bu Amanee yang terlihat kecil itu mampu mengendalikan situasi kelas dengan baik. Dia berjalan mondar-mandir didepan siswa-siswi sembari berpidato dengan suara lantang, berkebalikan dengan tubuh kecilnya.
"Dalam pembelajaran ini, praktek yang akan kita lakukan tak jauh dari penyembuhan. Kalian akan sering menjumpai orang yang terluka mulai dari luka ringan hingga parah. Biasakan diri kalian dengan darah. Orang yang takut darah tidak mungkin dapat menyembuhkan luka dengan baik. Mengerti?"
"Yes, mam!!"
"Bagus."
"Seperti Divisi Attack Magic yang harus siap membantu ketika ada penaklukan dan Divisi Protective Magic yang harus siap melindungi dari serangan dadakan, kita Divisi Healing Magic harus siap 24 jam ketika seseorang membutuhkan pertolongan. Kalian pasti akan sering dipanggil di luar jam pembelajaran atau bahkan saat tengah malam. Ketika itu terjadi, keluhan adalah hal yang tabu. Mengerti!"
"Yes, mam!!"
"Cara setiap anak menyembuhkan pasti memiliki perbedaan. Tak masalah apapun caranya selama orang yang kalian coba selamatkan bisa selamat. Metode apapun itu, gunakan saja! Selama kalian tidak melanggar tabu Dewi. Selama 3,5 tahun kedepan, para pengajar akan membimbing kalian agar bisa menjadi healer yang bersertifikat."
"Selain kelas wajib di Divisi masing-masing, kalian juga dapat mengambil kelas peminatan di divisi yang berbeda serta mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang ada di Akademi. Masing-masing dari itu akan menambahkan poin yang cukup banyak jika kalian mengikutinya dengan serius."
Bu Amanee tersenyum lembut melihat ekspresi serius yang dikeluarkan siswa siswinya, "Pembelajaran akan dimulai 3 hari lagi. Selama itu, kalian dapat menyesuaikan diri di akademi dan melihat-lihat akademi dulu. Untuk hari ini, kalian hanya perlu mengetahui siapa pengajar utama kalian dan siapa saja teman sekelas kalian."
"Jadi, silahkan saling perkenalkan diri kalian mulai dari absen 1."
Begitu perintah dari sang guru telah diluncurkan. Siswa siswi divisi healing magic mulai saking memperkenalkan diri seperti nama, asal, dsb. Cukup banyak bangsawan yang memiliki marga di sini. Cukup banyak juga yang memiliki kedudukan tinggi di tempat asal mereka.
Dari semua itu, ada 2 anak yang paling mencolok di kelas. 2 anak itu tak lain tak bukan adalah sang tuan putri Elf serta siswi berambut hitam dan mata hitam layaknya ras iblis dengan nama yang aneh. Hitam dan putih, kedua anak yang sama mencoloknya dalam artian yang berbeda. Ditambah karena gadis bernama Himawari ini sama sekali tidak menyembunyikan apapun kalau dirinya datang dari dunia lain bersama teman-temannya.
Begitu bel berbunyi dan guru meninggalkan kelas, seketika kelas menjadi riuh dan orang-orang saling menghampiri satu sama lain. Tentu saja sebagai tuan putri, Aqua pasti akan langsung dikerubungi kalau dia diam saja. Karena itu, sebelum anak-anak sempat bangkit dari kursinya, Aqua langsung teleport jarak dekat ke luar kelas. Tak seperti teleport jarak jauh, untuk jarak kurang dari 100 m dapat digunakan kapan saja.
"?????"
"Loh? Perasaan Tuan Putri tadi masih disini?"
"Dia pergi kemana?"
"Ah, padahal ini kesempatan untuk membuat koneksi dengan elf..."
"Oi, aku kan juga Elf!"
"Dia beda!!!"
"Iya tau!!!"
Sebagai ganti Aqua, anak-anak langsung mengerubungi Himawari yang memperkenalkan diri sebagai orang dunia lain hingga gadis itu tidak bisa bergerak dari kursinya. Mereka menanyainya macam-macam tanpa memberikan kesempatan untuknya bernapas. Himawari akhirnya menyesal tidak mencoba menyembunyikan identitasnya. Karena itu pula dirinya tidak bisa mengejar dan meminta maaf pada Citrine yang telah menghilang dari kelas.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu...
"Hm... hm... hm...🎵🎶🎶🎵🎶"
Seseorang bersenandung riang sembari melangkah kecil ke suatu tempat. Orang itu adalah pengajar utama Divisi Healing Magic, Amanee Khadra.
"Ara... kelihatannya anda sedang senang, hm? Bu Amanee," sapa Elvira yang kebetulan baru saja keluar dari gedung Attack Magic.
Amanee menghentikan langkahnya begitu melihat Elvira, "Ya begitulah. Sejujurnya saya tidak menyangka ini akan berakhir baik, Bu Elvira. Saat mendengar saran dari direktur akademi bulan lalu, saya kira ini akan membuat anak-anak tersakiti, secara mental."
"Meski anda bilang begitu, sebenarnya anda cukup menikmatinya, bukan?"
"Benar. Murid-murid dikelasku terlalu agresif dalam beberapa hal, membuat mereka mengalami hal semacam ini dapat mengurangi itu meski hanya sedikit."
"Syukurlah kalau begitu. Sekarang anda akan pergi ke ruang guru, kan? Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Amanee mengakhiri pembicaraan.
"Tentu, silahkan," senyum Elvira.
Setelah saling berpamitan, mereka melambaikan tangan pada satu sama lain
ketika jalan yang mereka tuju bercabang. Elvira belok kiri ke tempat ruang guru, sedangkan Amanee lurus menuju tangga. Meski berada di gedung yang sama, tujuan mereka berbeda.
Amanee terus melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan mewah dengan tulisan "Ruang Kepala Sekolah" di pintunya. Sama seperti ruang kelas, ruang kepala sekolah juga memiliki sensor yang dapat membuat pintu otomatis terbuka untuk orang yang telah terdaftar. Namun dalam kasus ini, hanya kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan direktur akademi yang terdaftar di pintu itu. Yang lainnya perlu melewati prosedur khusus untuk bisa memasukinya.
Ketika pintu terbuka, ada suara TING yang terdengar sebagai pemberitahuan bahwa seseorang telah masuk. Karenanya, wanita yang duduk di meja kepala sekolah sembari mengerjakan beberapa dokumen dapat langsung menyadari keberadaan Amanee.
Wanita 20-an dengan rambut ungu gelap panjang dengan kacamata itu meletakkan dokumen yang dipegangnya ke meja. Mendadak ekspresinya yang tenang berubah kesal pada wanita didepannya.
"Amanee! Sudah cukup!! Kenapa harus aku yang mengerjakan ini semua!?" kesal wanita itu.
"Tadi pagi juga! Harusnya yang pidato itu kamu, kenapa kamu malah menyuruhku menggantikanmu!? Untung saja orang yang pernah melihatmu itu sedikit, jadi tidak ada yang curiga."
Amanee lagi-lagi tersenyum lembut seperti biasa. Dia berjalan mendekati wanita didepannya dan memijat pundak wanita itu pelan-pelan.
"Ma, ma... kan aku minta tolong cuma sehari. Tidak masalah, kan~"
Wanita berambut ungu itu menghela napasnya.
"Sudahlah, jadi gimana? Kau sudah melihat langsung anak itu?"
"Sudah kok," jawab Amanee sembari duduk di sofa dan menuangkan teh untuknya sendiri.
"Tidak heran Nyonya Vashlana tiba-tiba mengangkatnya sebagai murid. Dia punya bakat yang luar biasa dan mental yang mengagumkan. Dia juga cerdas dan berwawasan, jauh melebihi anak seumurannya. Dan yang terpenting, anak itu... punya jalan pikiran yang sama dengan Nyonya."
"Hmm... kalau kamu sampai memujinya sebegitunya, artinya dia memang hebat. Tapi seharusnya cukup bertemu sekali saja, kenapa kau tiba-tiba memutuskan mau jadi guru divisi healing magic tahun pertama?"
"Karena aku ingin melihatnya langsung. Perkembangan dan kemampuan seorang murid dari Vashlana Magiya dengan mata kepalaku sendiri."
"Dihentikan pun percuma ya. Biarlah, lakukan sesukamu. Tapi aku tidak mau kau mengoper pekerjaanmu lagi gara-gara kau menambah pekerjaan lainnya, ngerti!?" bentak wanita itu.
Amanee tersenyum kecut, "Baik, baik... aku ngerti kok, Vera."
Wanita yang dipanggil "Vera" itu adalah rekan dari Amanee Khadra, Vera Bluonna. Beberapa mungkin telah menyadarinya, Vera dan Amanee adalah sekretaris sekaligus tangan kanan dan kiri dari Sang Ratu Sihir, Vashlana Magiya. Seperti yang telah dijelaskan di chapter 146.
Setelah mendengar respon Amanee, Vera bangkit dari kursinya dan berjalan ke depan pintu yang lebih longgar dari tempat lainnya. Setiap langkah kakinya menghasilkan kabut hitam yang semakin lama semakin banyak hingga menutupi tubuhnya.
"Aku sudah mengerjakan beberapa hal untukmu, tapi ada masalah-masalah yang harus kau selesaikan sendiri. Sepertinya murid-murid tahun ini akan jauh lebih merepotkan dari sebelumnya," ucap Vera.
"Ehh... kau sudah mau pergi!?" rengek Amanee.
"Tentu saja! Aku itu wakil pemimpin menara sihir, tugasku di sana saja sudah banyak! Setelah ini juga, aku masih harus melakukan sesuatu pada Nyonya Vashlana yang badmood sejak kembali dari pesta itu. Belum lagi tumpukan laporan pasca perang, pergantian tahta di beberapa kerajaan, kedatangan penyihir baru di menara sihir, pemanggilan pahlawan illegal yang dilakukan Kekaisaran Anessa, pahlawan asli dunia ini yang menghilang dan masih banyak lagi!"
"A-Aku mengerti... tenanglah... tenang..." kata Amanee gugup.
Vera menacing tajam, "Kalau sudah mengerti maka jangan libatkan aku lagi! Akademi Mackenzie itu bagianmu!"
Tepat setelah mengatakan itu, Vera menghilang bersama kabut hitamnya. Dirinya langsung teleport ke Menara Sihir tanpa perlu kertas teleportasi. Ditinggal sendirian oleh Vera, Amanee menghela napas sambil mengaduk-aduk teh di gelasnya.
"Akukan tidak pernah minta diberikan tugas ini..." keluhnya setengah hati sembari melirik papan namanya sendiri di atas meja kepala sekolah.
"Ha~ahh..."
.
.
.
.
.
.
.
.