The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 90 [ Pertemuan dan Perpisahan ]



"........" Neelima sedikit tidak nyaman dengan keheningan ini.


"Mmm... Aqua?"


Aqua yang mengangkat kepalanya.


"Ya?"


"..... Ukh... jadi... sejauh yang kupahami... kamu itu MC anime Harem dengan Heroine three in one gitu? Atau one to three?" canda Neelima.


Aqua menatap Neelima dingin lalu menghela napas. Entah kenapa Neelima merasa dia di ejek.


"Kok aku kesal, ya."


"Yah... bisa dibilang begitu. Tapi jangan samakan hidupku dengan kisah anime!" balas Aqua dingin.


Neelima mendengus, anak ini berjalan dan duduk di ayunan sebelah Aqua.


"Kamu sudah dengar, kan? Aku adalah guardian yang dikirim Dewi Hestia untuk menjaga anak kembar Dewi Athena. Dengan kata lain, aku dikirim ke dunia ini untuk menjagamu dan kekasihmu."


Neelima mengayunkan ayunan itu agak tinggi.


"Aku tidak percaya takdir, tapi ini semua sudah seperti di atur, kan?"


"...... Bukannya memang gitu? Aku bertemu Ruby, Yue dan akhirnya Mika. Dan sekarang mengetahui mereka adalah satu orang yang sama. Ditambah mereka memang sengaja di pisah untuk mengujiku," balas Aqua.


"Takdir... tidak, Dewi Athena sendiri yang mempermainkan hidup kami."


"........"


Neelima tersenyum memandang langit malam.


"Jangan bilang begitu! Biar bagaimanapun beliau adalah ibumu, kan? Lagipula... Dewi juga sangat baik hati pada kalian."


"Contohnya mengirimkan guardian op dari dunia lain sepertiku," candanya.


Aqua menatap Neelima dengan wajah mengejek.


"Pfftt... OP? Kalau kamu OP, kamu tidak akan ada di pelelangan."


"šŸ’¢"


"Oi! Dasar tidak sopan!! Aku ini lebih tua darimu, tau?! Kembalikan Zwein yang imut dan ceria!!!" kesal Neelima.


"Lebih tua? Itukan dulu, sekarang kita seumuran."


Aqua terkikik melihat Neelima yang merajuk.


"Sudahlah. Lupakan saja itu!"


"......."


"......."


"......."


"......."


"....... Neelima."


"Eli!"


"?"


Neelima menunjuk Aqua.


"Panggil aku Eli! Neelima itu tidak ada estetik nya sama sekali!" seru anak itu.


"...... Eli? Itukan nama perempuan."


"Apa maksudmu?!! Aku itu perempuan!!!" marah Neelima.


"Tidak tidak... kamu itu genderless, kan?" ejek Aqua.


"Sekarang mungkin iya, tapi nanti aku akan kembali menjadi perempuan tulen!!!!" jerit Neelima.


"Hahaha, baik baik. Eli..."


"Apa?!"


"Apa yang mau kau lakukan sekarang? Apa kamu tidak mau pergi mencari ibu dan ayahmu" tanya Aqua.


Mata Eli menyipit, ekspresinya terlihat bermasalah.


"Aku ingin. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Setidaknya aku tidak perlu khawatir keselamatan mereka. Toh, kami abadi. Entah bagaimana caranya, mereka pasti baik-baik saja. Kami sudah membuat janji, bahwa kami akan pulang sendiri begitu mendapat kesempatan."


"Lagipula..."


"Lagipula?"


Mengelus kasar rambut Aqua.


"Aku harus melindungi kedua adikku di kehidupan saat ini!!" senyumnya.


Aqua tertegun mendengar Eli mengatakan itu.


"Eli... terima kasih..."


"Sama-sama!!"


Aqua tiba-tiba teringat sesuatu. Sampai saat ini dia masih belum menemukan pengganti Citrine yang mengisi garis belakang Raven. Sebenarnya daripada Citrine, kemampuan Eli dalam serangan jarak jauh adalah yang terbaik di dunianya, dia sama sekali tidak pernah meleset mengenai target.


"Eli! Kamu bilang mau mengikutiku, kan?" ucap Aqua tiba-tiba.


"I-Iya, ada apa? Jangan bilang kamu mau aku bergabung dengan Harem mu atau semacamnya?" balasnya merinding.


"Ahaha, lalu?"


"Bergabunglah dengan kelompokku! Aku membuat sebuah tim ku sendiri! Tidak ada penembak jarak jauh sebaik dirimu," pinta Aqua.


"Kelompok? Apa itu? Kelihatannya menyenangkan. Okelah!"


Melihat Eli menjawabnya langsung tanpa keraguan memang sifatnya dia banget.


"Terimakasih, aku mengandalkan bantuanmu!"


"Tenang saja! Serahkan garis belakang padaku!! Meski sudah lama tidak memegang senapan, bukan berarti kemampuanku menumpul!!"


"...... Di dunia ini tidak ada senapan, kau tau."


"EHHHHHHHHHHHH???? BOHONG, KAN!!!???"


...***...


Sementara itu...


"Mika, kamu harus bergabung dengan Ruby dan membantu Aqua. Masing-masing dari kita saja tidak cukup kuat," ucap Yue tiba-tiba.


"Bagaimana denganmu?" tanya Mika khawatir.


"Aku... harus pergi ke Benua Iblis..." jawab Yue agak ragu.


"Itu nekat!!! Benua Iblis sangat berbahaya untuk makhluk didalam batasan!!" jerit Mika.


"Aku tau. Tapi aku harus segera menyelesaikannya, ini tidak bisa ditunda lagi."


Yue bangun dari kasurnya dan memandang Mika penuh tekad.


"Yue... aku mengerti. Kamu sudah membuat keputusan yang tidak bisa diganggu lagi.


"Aqua tidak akan membiarkanmu pergi kalau dia tau, itulah kenapa kamu belum memberitahunya, kan?"


Mika memeluk Yue erat-erat seolah akan berpisah lama.


Yue membalas pelukan Mika.


"Iya. Aku, kamu dan pasti Ruby juga. Kita semua mencintai Aqua, setelah mendengar perkataan Ratu tadi, kehidupan kali ini adalah cobaan terakhir. Kalau kita bisa menyelesaikannya, kita tidak akan berpisah lagi."


"Itulah kenapa! Aku pasti tidak akan membiarkan siapapun mengganggu kita kali ini!! Untuk itu, aku akan membereskan dulu gangguan yang datang dari identitasku!" lanjutnya penuh keyakinan.


Mika melepas pelukan Yue dan memandang matanya baik-baik.


"Berhati-hatilah... aku akan membantu menjelaskan ke Aqua. Ketahuilah bahwa kegagalanmu adalah kegagalan Airella! Jadi kalau kamu butuh bantuan, aku akan langsung membantumu!"


Yue tersenyum manis seperti anak kecil.


"Jangan khawatir! Aku pasti tidak akan menjadi Raja Iblis!"


Mika memasang wajah sedih, padahal dia baru sebentar bertemu dengan Yue. Tapi kenapa dia harus dipisahkan lagi? Hatinya juga ikut sakit saat membayangkan perasaan Aqua dan Yue yang terpisah lama tapi harus kembali dipisahkan.


Mika gemetar sambil menunduk dan membenamkan kepalanya di dada Yue. Melihatnya membuat Yue tersenyum pahit.


"Mika, aku titipkan Aqua padamu. Tolong jaga dia baik-baik! Aku juga akan memberikan nama 'Envy' dari Raven padamu sampai kita kembali menjadi Airella yang sesungguhnya."


Yue mengatakan itu sambil memberikan topeng dan anting Envy padanya.


Mika mengigit bibirnya saat menerima pemberian Yue itu.


"Aku mohon... kamu harus kembali lagi padaku nanti... Terlepas dari kita adalah Airella... aku akan merindukanmu..."


Yue mengelus lembut kepala Mika seperti yang biasa dilakukan Aqua padanya.


"Tentu!"


Perpisahan yang datang tepat setelah pertemuan jelas akan menoreh luka di hati siapapun. Namun itu lebih berdampak pada Mika dan Yue, hanya dengan sekali pertemuan, mereka yang saling berbagi ingatan akan sama seperti sudah bersama selama hidup mereka masing-masing.


Dengan berat hati, Mika melepas kepergian Yue sambil melambaikan tangannya.


Yue menyembunyikan keberadaannya dengan bantuan Mika agar tidak disadari Aqua. Setelah Yue tidak lagi ada di deteksi Mika, gadis itu menatap jendela dengan perasaan yang rumit.


"Ya Dewi... kalau Anda benar-benar menyayangi kami sebagai anak anda... tolong... tolong lindungi Yue, diri saya yang lainnya...


"Karena anda sudah membuatnya terlahir sebagai 'putri raja iblis sebelumnya'... Anda harus bertanggung jawab menjaganya dari tangan Dewa Kejahatan..."


.


.


.


.


.


.


.


TOK TOK TOK


CEKLEKK


Aqua dan Eli memasuki kamar bersama. Dikamar hanya ada Mika yang memakai topeng dan anting "Envy" untuk menyembunyikan air matanya.


Aqua langsung mengerti apa yang terjadi dan bergegas mencari Yue. Namun begitu keluar penginapan, bulu putih bersinar turun dari langit dalam jumlah yang sama dengan air hujan. Cukup dengan satu sentuhan dari bulu itu, tidak ada seorangpun yang bisa bergerak.


Hanya satu hal yang bisa mereka lakukan. Yaitu melihat keindahan alami seorang malaikat bersayap putih bersih saat sedang memeluk anak laki-laki dengan lembut di dadanya.


"Aqua... maafkan aku... ini adalah keputusan kami sebagai Malaikat dan Iblis serta sebagai Airella."