
Dungeon, Lantai 97
"!"
"Skill Gluttony naik level?"
Dalam layar Status Aqua, terlihat sedikit perubahan daripada sebelumnya.
"Kenapa malah jadi 7 dosa besar?" bingung anak itu.
"7 Dosa besar ya... ini pasti karena aku terlalu sering memakai Gluttony."
"Memberi skill sebagai simbol kesetiaan? Pfftt... ini skill yang menarik. Tapi dengan level skill yang sekarang, membuka selain Gluttony saja masih sulit."
"7 Dosa besar dan 7 anggota Raven... Itu sangat cocok. Kalau sudah meningkat nanti, aku akan memberikannya masing-masing ke anggota Raven lainnya."
Aqua sudah berada di lantai itu selama 6 bulan. Anak itu hanya tidur-tiduran santai menunggu Cyclops masuk jebakan dan dia naik level dengan sendirinya. Yang harus dia lakukan cuma menghisap Cyclops dengan Gluttony setiap 6 jam sekali. Itu saja.
{ Aqua!!! Apa kamu merindukanku? }
"! Suara cempreng ini!! Aure?!!"
{ Benar! Ini aku! }
Aqua tersenyum senang mendengar suara yang sudah lama tak dia dengar.
"Kamu lama. Kaupikir ini sudah berapa tahun?"
{ Tidak ada satu tahun!!! Itukan karena perbedaan waktunya saja!! }
"Hahaha... benar juga. Jadi? Apa ada informasi yang kamu bawa?" tanya Aqua serius.
{ To the point sekali kamu. Kalau aku kesini, sudah pasti ada }
"Aku tau itu. Waktumu pasti tidak banyak. Cepat katakan padaku!" desak anak itu.
{ Dasar! Padahal aku sudah jauh-jauh kesini. Sambut lebih ramah, kek! }
Nada marah dari peri kecil itu sedikit membuat Aqua terkiki geli. Sudah lama dia tidak mendengar seseorang marah padanya. Rasanya sedikit dibuat rindu.
{ Ekhm! Aku akan langsung mulai. Si gadis iblis sampai sekarang dan mungkin sampai gurumu kembali dari Medan perang akan terus berada di dunia peri. Anak rambut merah sudah masuk Akademi. Serigala kembar sedang jaya-jayanya. Guild informasi yang mereka bangun sudah tersebar luas. Karena belum punya nama, mereka disebut Tuan Ungu dan Tuan Pink }
"Bagaimana situasi perang saat ini?"
{ Sudah cukup membaik. Berkat penyelidikan dari para Arc-Angel dibantu kecerdasan pemilik Menara sihir, pengkhianat sudah ditemukan. Jala*g itu sekarang berada di pihak Dewa Kejahatan. Aqua, gurumu dan si kembar berhasil mengetahui kalau pengkhianat itu yang menciptakan dungeon ini dengan tujuan tertentu. Kamu harus lebih berhati-hati, diperkirakan boss akhirnya itu Rank EX! }
"Rank EX ya..."
"Katakan sejujurnya padaku. Siapa pengkhianatnya?!"
{ Itu... kamu pasti tidak menyangka... }
"?"
{ Pengkhianat yang membuat kekuatan pasukan turun drastis adalah... salah satu Arc-Angel }
"!!!??"
Aqua membelalakkan matanya. Tepat seperi kata Aure, dia sama sekali tidak menyangka kalau pengkhianat adalah seorang Arc-Angel. Karena dalam kisah dan cerita manapun, Arc-Angel selalu digambarkan sebagai sosok dengan hati paling murni setelah sang Dewi. Jika sosok seperti itu berkhianat, pasti akan menjadi pukulan mental besar pada yang lainnya.
"Arc-Angel?? Pengkhianatnya adalah seorang Arc-Angel?!! Tapi kenapa? Kurasa tidak ada alasan seorang Arc-Angel pergi ke pihak Dewa Kejahatan. Para Arc-Angel memiliki loyalitas sangat tinggi pada Dewi Athena, pasti ada sesuatu yang salah disini," pikir Aqua serius.
"Aku mengerti. Terimakasih, Aure."
{ Sama-sama. Apa ada yang ingin kamu ketahui? Aku bisa menanyakannya nanti saat kembali! }
"Untuk sekarang tidak ada. Aku akan meminta informasi lengkap apa yang terjadi nanti langsung ke Kak Vira dan Kak Vina," tolak Aqua.
{ Ok. Kalau gitu, aku pergi dulu ya! }
"!"
Sesuatu tiba-tiba terlintas di kepala anak itu.
"Tunggu, Aure!!! Bisa aku titip beberapa hal padamu?!"
{ Tentu. Apa itu? }
"Pertama, aku belum mengucapkan terimakasih pada Nona Zephyr dan Baginda Ratu peri karena sudah menyelamatkan temanku. Tolong bantu aku sampaikan rasa terima kasihku."
{ Itu gampang! }
"Kedua, tolong sampaikan pada mereka juga. Aku sudah memikirkan 'nama' untuk anggota Raven."
Aqua tersenyum membuat Aure penasaran. Anak itu mendekatkan mulutnya ke telinga Aure lalu membisikkan sesuatu. Setelah mendengarnya, mata Aure berbinar senang.
{ Itu terdengar keren! Oke, akan kubantu! }
"Sekali lagi terimakasih!"
{ UmU }
Suara Aure tak terdengar lagi. Aqua bangun sambil membersihkan bajunya dari debu. Dia merentangkan tangannya keatas untuk peregangan.
"Ergghh... yosh! Kayaknya aku harus di dungeon ini lebih lama lagi. Rank EX, huh... ini menarik," senyumnya.
"Kalau demi musuh Rank EX, mau tidak mau aku harus meningkatkan kekuatan nagaku juga. Bayi naga? Pfftt... sudah sebesar ini aku masih disebut bayi."
"Akan kumanfaatkan semua yang bisa kumanfaatkan. Semuanya hanya demi satu tujuan."
Tatapan tajam dari mata cantik berbeda warna mengarah langsung ke atas langit. Rasanya seolah mata itu mampu menghancurkan segala sesuatu yang menghalangi pandangannya.
Gigi taring dan kuku Aqua meruncing. Tanduk silver mencuat dari kepalanya. Ekor tumbuh seperti bukan apa-apa. Sebuah aura yang menekan tak lagi bisa di tahan.
"Untuk itu... aku harus bisa mengendalikan perubahan ini."
...***...
Akademi Sihir Mackenzie
Peri kecil terbang melewati kerumunan siswa yang lalu lalang. Tidak ada yang menyadari kalah cahaya kecil yang lewat itu adalah seorang peri. Peri kecil itu menuju seorang anak berambut merah yang sedang berbincang dengan teman-temannya.
"Cahaya itu..."
Sang anak menyadari kehadiran cahaya kecil yang mengarah padanya. Dia meminta maaf pada temannya karena dia harus pergi ke suatu tempat.
Peri kecil dan anak merah bertemu di kebun belakang akademi dimana tak ada siapapun disana.
"Yo, Aure! Tumben mendatangiku!" sapa anak itu dengan senyum lebarnya.
{ Ini bukan seperti aku mau mau mendatangimu tanpa alasan }
"Sifat tsunderemu tidak pernah berubah, ya!" ejek anak itu.
{ Siapa yang kau sebut tsundere, dasar anak nakal!!!! }
"Hahahaha... aduhh, perutku sakit," anak itu tertawa cukup keras sampai menitikkan air mata.
"Haa... jadi? Kalau kamu mendatangiku, itu pasti tentang Aqua. Apa kabar anak itu?" tanya Lix setelah selesai dengan tawanya.
{ ..... Aqua tidak apa-apa. Anak itu bukan anak sembarangan, kayaknya mau dibunuh berapa kali pun dia gak akan mati. Yang lebih penting, aku punya pesan untukmu darinya! }
"Pesan? Apa itu...? Jangan bilang... misi lagi," ucap Lix agak takut.
Peri kecil menghela napas capek. Dari semua anggota Raven, dia paling tidak suka dengan Lix. Yah... karena berbagai alasan.
"Nama?!!!"
Lix langsung memasang ekspresi senang. Dia sudah cukup lama menunggu 'nama' untuknya.
"Sudah kuduga! Kalau bentuk kelompok itu memang harus ada nama samaran!!!"
"Apa 'nama'ku?" tanyanya bersemangat.
Aure tersenyum sombong. Entah kenapa dia merasakan kebanggaan pemberian nama meskipun bukan dia yang menamai mereka.
{ Wrath! Mulai dari sekarang Feirlyx dari Raven akan dipanggil Wrath! }
"Wrath, ya... itu terdengar agak keren. Aku suka!" kata Lix senang. "Bisa aku tau nama yang lainnya?"
{ Tentu! }
...***...
Guild Informasi, Benua Manusia
{ Oi! Fenrir kembar!!!! Aku kembali!!! }
Wanita berambut ungu muda cantik menyambut Aure yang terbang padanya.
"Ara... kamu sudah kembali. Apa kamu baik-baik saja?"
{ Huhu... memang cuma Elvira saja yang mencemaskanku... }
Elvira menyebut kata "kembali" karena sebelumnya Aure sudah mendatangi mereka dulu untuk mendapatkan informasi ke Aqua. Aure berhubungan cukup baik dengan Elvira dan Elvina karena Ratu Tiana dan Zephyr terkadang mengutusnya sebagai penghubung dengan guild informasi dan Raven.
"Hiks... sedihnya... Aure gak menganggapku ada..." sambung seseorang dari balik pintu.
Elvina kembali dari perjalanannya setelah 12 hari meninggalkan Guild informasi. Sangat kebetulan bahwa dia kembali bersamaan dengan datangnya Aure.
{ Geh... Elvina... }
"Pfftt... hahahaha!! Apa-apaan raut wajahmu itu? Setidak suka itukah kamu melihatku?" tawa wanita itu.
{ Kamu paling tidak kusuka setelah Feirlyx! Habis setiap aku datang, kamu selalu mempermainkanku seperti boneka!!!! Aku ini masih peri tau!!!!! Apa kamu tidak takut akibat dari menganiaya peri?!!! }
"Ayolah, jangan marah-marah gitu... Mengingat kamu kembali kesini daripada pulang ke dunia peri, itu artinya ada sesuatu yang harus kami tau dari Aqua, kan?" alih Elvina.
Elvira tersenyum ringan. Wanita satu ini memang sulit dimengerti pikirannya karena senyuman itu.
"Dia mengalihkan pembicaraan."
{ Ada. Aqua sudah memberikan 'nama' untuk seluruh anggota Raven }
"Nama?!!! Yang benar?!! Yeah!!!! Akhirnya!!!!" sorak Elvina.
{ Kenapa anak ini sesenang itu? }
Elvira mengambil tehnya lalu meminumnya perlahan.
"Itu karena sebelum ini kami selalu dipanggil Tuan Ungu dan Tuan Pink menurut 'warna' kami. Anak itu tidak suka dipanggil seperti itu. Jadi dia sangat menginginkan nama."
{ Kalau sangat ingin, kenapa tidak buat saja sendiri? }
"Itu tidak mungkin. Hak untuk memberikan nama samaran pada anggota kelompok selalu ada pada pemimpin kelompok tersebut. Kami tidak bisa seenaknya membuat nama untuk kami sendiri," timpal Elvina.
{ Kenapa? }
"Kalau ditanya kenapa... karena pemimpin lah yang menciptakan kelompok, yang membuat tittle status bertambah. Jadi hanya pemimpin juga yang bisa menamakan anggota kelompok itu dan mengeluarkan atau menambahkannya."
"Ah... sebagai catatan, tidak semua kelompok akan bisa tercantum di status. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Karena Raven adalah kelompok yang tercantum di status, artinya keberadaan Raven sudah disetujui Dewi."
{ Jadi begitu ya }
"Yap, begitulah. Jadi!! Apa 'nama' kami???"
{ Dasar tidak sabaran... }
{ Aqua mengambil nama dari 7 Dosa besar untuk 7 anggota Raven. Mulai dari sekarang... Elvira dari Raven akan dikenal sebagai "Pride" dan Elvina dari Raven akan dikenal sebagai "Lust" }
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[ Dengan kata lain begini. Orang-orang non-Raven akan menyebut mereka seperti...
Pride-sama
Envy-sama
Wrath-sama... dll
Tapi tetap aja, aku akan tulis pakai Tuan/Nyonya. Biar para non-wibu tetap bisa menikmati.
Oh iya, yg suka Korea juga bisa sebut -sama sebagai -ssi. Jadi kayak
"Aqua-ssi"
Pakai oppa/hyung/unnie/noona juga oke.
( ╹▽╹ )
Untuk para fans China juga boleh nyebut jadi pakai Koko/Cece.
Misal.... "Vira-cece atau Vina-cece. Aqua-koko... gitu deh!"
( ꈍᴗꈍ)
Yah intinya... terserah kalian mau menyebut gimana. Senyaman kalian aja. Tapi tetap di mangatoon akan ditulis dalam bahasa Indonesia, oke! ]
(◠‿◕)