
Dalam sekali lihatpun aku juga tau, perempuan yang terbaring koma di atas ranjang ini adalah malaikat. Masalahnya, kenapa ada malaikat yang mempunyai wajah serupa dengan wajahku di kehidupan sebelumnya!?
Meski agak ragu, aku memberanikan diri untuk mendekat agar bisa melihatnya lebih jelas.
"Dia dan aku seperti pinang di belah dua..." gumamku.
"Tapi wajahnya yang dibuat lebih putih dan mulus terasa menyebalkan."
Aku memandangi wajahnya cukup lama. Perasaan shock dan terkejut ini lama-lama berganti dengan rasa penasaran. Aku tidak bisa melakukan apapun, tepatnya tidak bisa. Hanya diam mematung di sebelahnya.
"......."
Entah kenapa tanganku ingin bergerak untuk menyentuhnya.
"Dingin..."
Wajahnya sangat dingin... seperti orang yang sudah mati saja. Tapi aku tau dia masih hidup dan bernapas. Hanya saja...
HP [ ———– ]
Aku punya sebuah skill spesial. Skill "Blood Sight" ini memungkinkanku untuk melihat bar HP, MP dan level orang. Meski beberapa tidak bisa dilihat jelas karena perbedaan level yang terlalu tinggi seperti Aqua. Gadis ini juga sama, aku tidak bisa melihat detail angkanya, hanya garis HP nya saja.
Dan sekarang... bar HP-nya terus menurun...
Perlahan namun pasti.
"...... Aneh. Bar HP nya naik dan turun terus."
Untuk mencari tau apa yang terjadi, aku memperhatikan dengan rinci setiap benda di ruangan ini.
"!"
Jadi begitu. Ada item sihir yang diisi kristal mana dengan kemurnian tinggi untuk mengisi HP nya setiap saat. Pasti ada array sihir suci didalamnya.
Mereka yang di luar sangat berusaha menjaga gadis ini tetap hidup. Tanpa item itu, HPnya akan terus turun hingga 0. Aqua sebelumnya memintaku menyelamatkan seseorang. Pasti yang dimaksud adalah gadis ini.
Tapi yang semacam ini harusnya diserahkan ke Saintess. Kalau gak salah, Saintess saat ini adalah Tuan Putri Citrine Caller El Vittacelar, kakak sepupu Aqua. Kenapa dia malah minta tolong padaku?
Sebenarnya aku sempat berpikir... jangan katakan kalau semua keganjilan yang kutemui di dunia ini karena aku bereinkarnasi kemari? Apa kedatanganku saja bisa mengubah alur sampai sejauh ini? Mustahil, saat ingatanku sebagai Tiara kembali, aku terus terjebak di bawah tanah.
Tapi tidak ada alasan lain semua hal begitu berbeda selain itu. Bahkan wajah gadis malaikat ini sangat mirip denganku. Tidak mungkin ini kebetulan semata. Rasanya seperti kami dipermainkan oleh takdir.
"......."
Aku sempat tidak sadar karena ini terlalu mengejutkan. Perasaan aneh dan menyesakkan yang terkunci didadaku langsung reda begitu aku melihatnya.
Gadis ini pasti sumber perasaan itu. Dan ini juga pasti ada hubungannya denganku.
Tapi tak peduli bagaimana aku memikirkannya... jawabannya tidak ditemukan.
"Aku berniat menemuimu karena melihat Eli mengejar Pietro. Tak kusangka kamu justru berada di sini."
"!!!"
Badanku berbalik dengan cepat ke asal suara yang tiba-tiba terdengar dari belakangku.
Itu Aqua!
Dia berdiri bersandar di pintu dan menatapku dengan mata misterius. Aku ketahuan!! Sekarang bagaimana!!?
"Ha~ahh... tidak perlu panik begitu. Aku tidak akan memarahimu," ucap Aqua lebih tenang dari yang kukira.
Aku tidak mengerti. Dia tidak marah? Bohong!! Dia melindungi tempat ini sampai sebegitunya tapi dia tidak marah saat aku masuk tanpa izin!?
Aqua berjalan menuju ke ranjang dan duduk di sebelah gadis itu berbaring. "Aku tau kau pasti ingin menanyakan banyak hal."
Tangannya membelai lembut rambut gadis itu. "Kau pasti sudah menduganya, aku menginginkanmu untuk menyelamatkan dirinya. Tapi aku tidak akan memaksamu."
"..... Kenapa aku? Seperti yang pernah kukatakan. Saintess akan lebih baik dalam menyembuhkannya," balasku curiga.
Aqua sempat terdiam sebelum akhirnya menjawabku, "Sudah kubilang juga. Hanya kamu yang bisa menyelamatkannya."
Apa-apaan itu? Hanya aku!? Memangnya aku tokoh utama manga shoujo yang punya kekuatan super!? Bukan... dia memintaku menyelamatkan gadis ini... mungkin manga Harem?
Tidak tidak... apa yang kupikirkan. Kok malah melenceng jauh.
Aqua seharusnya tidak tau fakta wajahku dikehidupan sebelumnya sama persis dengan gadis ini, jadi bagaimana dia bisa tau kalau hanya aku yang bisa menolongnya?
"Kenapa aku?" tanyaku kurang yakin.
Aqua tidak menjawabku, sepertinya dia berpikir apa yang harus dia katakan.
"Apa itu sesuatu yang tidak seharusnya aku tau?" tanyaku lagi.
"Hmm... bukan seperti itu juga. Hanya saja... aku tidak tau harus menjelaskan mulai dari mana," jawab Aqua bingung.
"?"
"Mudahnya... kalian terikat suatu hubungan yang sulit diartikan. Seseorang yang bisa dipercaya mengatakan bahwa hanya kamu yang punya hubungan aneh itu saja yang bisa menolongnya."
Jawaban yang Aqua katakan sangat ambigu. Aku hampir tidak bisa mengerti itu. Namun... jika ditanya apa aku mengerti atau tidak... tidak mungkin aku tidak tau. Apa ini yang dia maksud, mungkin aku bisa mengerti kalau bertemu langsung?
Jangan bilang ini sesuatu seperti... saat reinkarnasi, tubuh dan jiwaku terpisah!
Jiwaku masuk ke tubuh Ruby dan tubuhku menjadi malaikat ini! Karena tubuhku tidak bisa bertahan tanpa jiwa, makanya ingatan kehidupan sebelumnya kembali agar aku bisa mencari tubuhku.
Semacam itu?
Kalau benar begitu... tidak heran hanya aku yang bisa menyelamatkannya. Tapi kenapa tubuh ini bisa bersama Aqua?
"Penjelasanku sulit dipahami ya? Maaf, untuk sekarang aku tidak bisa menjelaskan lebih jauh," sesal Aqua.
"Tak apa, kurang lebih aku paham."
"Kau paham?"
Aku mengangguk. Mungkin aneh baginya melihat aku paham, tapi dia tidak bertanya lebih jauh.
"Baguslah kalau begitu. Aku tidak tau sejauh apa yang kau pahami, mungkin ada beberapa yang benar. Untuk saat ini... tolong sering-seringlah bersama dengannya. Mungkin akan terjadi sesuatu... seperti... keajaiban."
Mata Aqua saat mengatakan itu terlihat sendu. Dia pasti sangat menyayangi gadis ini. Ah, jangan salah paham! Aku bukannya cemburu atau semacamnya. Kalau Aqua mau, aku akan membatalkan pertunangan dengan senang hati. Lagipula aku harus mencari Kakak.
"Aku mengerti, akan kulakukan kalau itu bisa membantumu. Selain itu... apa ada yang bisa kulakukan untuknya?" jawabku senang hati.
"Kami masih mencari tau cara menyelamatkannya lewat dirimu. Sejauh yang kami tau, ini hanya mungkin jika dia sadar. Tapi dalam kondisinya yang sekarang... aku tidak tau harus berbuat apa lagi."
Ekspresinya terlihat sangat terluka. Hatiku ikut sakit melihatnya. Rasanya aku ingin menghapus air mata yang bisa jatuh kapan saja.
"Aku sudah mengatakannya. Aku pasti akan membantumu! Aku tidak tau apa aku bisa menyelamatkannya atau tidak. Yang pasti aku akan berusaha."
Kata-kata penenang muncul demi mengurangi kesedihannya. Aku tulus mengatakan itu. Aku benar-benar berharap Aqua menjadi lebih baik.
Kalau gadis ini adalah tubuhku... apa cara menyelamatkannya semacam... jiwaku harus masuk ke tubuh ini? Kalau itu terjadi... apa yang akan terjadi dengan tubuh Ruby? Tidak mungkin mati begitu saja kan.
Mustahil mengatakan pada Aqua kalau kemungkinan itu bisa saja terjadi. Dia akan menganggapku gila jika aku bilang gadis ini mungkin tubuhku dan aku pemilik jiwanya yang bereinkarnasi dari dunia yang berbeda.
Yap, itu mustahil.
Untuk sekarang aku akan diam saja. Sampai kebenarannya menjadi lebih jelas.
"Terimakasih... aku benar-benar berterimakasih padamu," ucap Aqua lembut.
"////////"
Tidak adil mengatakan hal itu dengan wajah tampannya!! Wajah itu... ekspresi itu... bisa menaklukkan wanita manapun!
"Tidak apa-apa. Lagipula kamu duluan yang membantuku," jawabku setelah menenangkan jantung.
Aqua tersenyum lembut, tangannya menggenggam erat tangan gadis itu penuh kehangatan. Entah kenapa... ada perasaan aneh dalam diriku. Cemburu? Iri? Bukan hal semacam itu...
Rasanya... sesak...
Perasaan sesak yang sama... namun lebih memilukan...
Seolah-olah aku... tidak ingin melihatnya seperti itu... Bukan dalam sudut pandang orang ketiga...
Lebih ke... perasaan sesak saat melihat orang yang kucintai terluka karenaku.