The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 107 [ Anggota Terakhir Raven ]



"Hah!!? Kau mau membawa bocah ini bersamamu!? Oke, ambil saja kalau dia berguna untukmu!" jawab Recho tua santai sambil mengelap senapan runduk ciptaannya.


"!?"


Respon Recho Chalcedony begitu mendengar usulan Aqua dan Mika berbeda dari yang mereka kira.


"Kami ini mau membawa anak semata wayangmu, loh! Kau yakin?" kaget Eli.


Sebelumnya Aqua dan Mika sudah menjelaskan semuanya ke Eli terlebih dulu. Lalu mereka bertiga bersama Pietro duduk bersimpuh di depan Recho tua untuk meminta izinnya.


"Heh! Buah apa? Dari pada membatu disini, lebih baik bocah itu keluar, melihat dunia!" acuh Recho tua.


Aqua dan Mika tak berkata-kata dibuatnya.


"Recho tua, kukira kau akan sedikit keras kepala tentang ini," timpal Aqua dengan senyum lega.


Recho tua berhenti mengelap senapan buatannya itu. Pikirannya entah ada dimana.


"Pietro."


"Ya, ayah!" jawab Pietro gugup.


"Kamu benar-benar bertekad ingin keluar desa, kan?" tanya Recho tua sambil menatap mata anaknya lurus.


"Aku sudah bertekad!"


Aqua, Mika dan Eli tersenyum melihat jawaban cepat tanpa keraguan yang keluar dari mulut Pietro.


"Bocah itu (Aqua) benar. Kurasa aku terlalu lunak kalau membiarkanmu keluar begitu saja. Aku akan mengizinkanmu keluar desa selama memenuhi 2 syarat dariku," tegas Recho tua.


"Baik, ayah! Sebutkan saja syaratnya!"


"Bagus, aku bisa melihat kegigihanmu. Aku bisa tenang karena yang menemanimu adalah cucu mantan Saintess dan murid Ratu Sihir. Jadi syarat pertama adalah kamu tidak boleh pergi dari sisi bocah itu. Ikutilah dia dan dengarkan perkataannya baik-baik."


"Baik, ayah!!"


Aqua sedikit tertegun. Rasanya ada yang tidak benar disini.


"Recho tua. Kita baru mengenal selama 1 bulan kurang, kenapa kau seyakin itu menitipkan putra tunggalmu padaku? Asal kau tau, aku tidak sebaik yang kau kira."


"WAHAHAHAHAHAHA!!!!!" tawa menggelegar Recho tua menggema ke seluruh bagian rumah. Eli dan Mika langsung menutup telinga mereka tanpa aba-aba.


"Bocah, bocah!! Kau kira pak tua ini gak bisa nilai orang?!" ejek Recho tua.


Senyuman tulus yang sedikit menyebalkan di mata Aqua terlihat di wajah Recho Chalcedony.


"Yah... orang yang berniat jahat pada anakku tidak akan sampai sebegitunya demi dia. Setidaknya aku tau, tindakanmu tulus."


Tidak disangka, Aqua akan mendengar pujian semacam itu dari pak tua menyebalkan sepertinya.


Aqua berdeham memecah keheningan itu. Mungkin yang lainnya tidak sadar, tapi Mika menyadari sesuatu yang imut dari Aqua. Ujung telinganya sedikit memerah mendengar pujian semacam itu.


"Fufufu... Dasar Tsundere..." batin Mika geli.


"Aku mengerti. Karena kamu mempercayakan putramu padaku, aku akan melakukan yang terbaik untuk menjaganya," ucap Aqua.


"Anda tidak perlu khawatir. Selama Pietro menjadi rekan kami, sebagai rekan, sudah pasti kami akan saling menjaga," timpal Mika.


"Aku sama sekali tidak khawatir."


Sepertinya Recho tua juga tidak terlalu jujur.


"Baiklah, syarat pertama adalah itu tadi. Syarat kedua... Pietro, kamu harus memantapkan dirimu untuk ini!"


Pietro menelan ludahnya, bersiap untuk apapun yang dikatakan ayahnya.


"Baik, ayah."


"Sekali kamu keluar dari desa, kamu tidak boleh kembali!!" seru Recho tua tegas.


"!!?"


Bagai tersambar petir di siang hari, syarat terakhir yang diajukan ayahnya sangat menyayat hati Pietro.


"Tapi kenapa?!! Bukankah tempat ini kampung halaman bocah ini?!!" marah Eli menggantikan Pietro.


"Tenanglah, nak. Aku belum selesai bicara. Pietro boleh kembali, tapi hanya setelah dia mengukir namanya di sejarah," sambung Recho tua.


"Mengukir nama?" tanya Pietro.


"Ya. Sepanjang sejarah kita, para dwarf. Dwarf yang keluar desa dan kembali dengan segunung prestasi hanyalah kakekmu, Jasper Chalcedony. Kalau kamu mau menempuh jalan yang sama dengannya, maka kamu juga harus mendapat hasil sepertinya. Sebelum itu terjadi, jangan berpikir kau boleh kembali!"


Pietro tidak bisa menjawab ayahnya. Sejujurnya dia tidak percaya diri bisa sehebat kakeknya. Dia saja tidak bisa mengangkat palu, bagaimana bisa dia mencetak prestasi sehebat kakeknya?


"Mana jawabmu Pietro?!"


"Itu..."


Tangannya mengepal erat gemetar. Dia takut... takut bahwa dirinya tidak bisa kembali jika dia mengiyakan ayahnya sekarang. Hampir saja mulutnya terbuka untuk menyuarakan penyerahan. Tapi...


"Kau tidak perlu memikirkan itu. Aku berani menjamin atas nama Pangeran Kedua Kerajaan Vittacelar kalau Pietro Chalcedony akan melampaui kakeknya!"


Pietro mengangkat kepalanya yang tertunduk dengan cepat. Dia terkejut mendengar pernyataan berani yang keluar dari mulut Aqua. Awalnya dia ingin marah karena Aqua seenaknya berkata seperti itu padahal Aqua tidak tau apapun tentang dirinya.


Tapi itu semua berubah. Mata yakin dan senyuman sombong penuh kepercayaan diri yang terlukis di wajah Aqua. Menandakan yang Aqua katakan tadi bukan sekedar omong kosong belaka namun sebuah fakta tak terbantahkan.


"Hoho... apa kau yakin putraku yang bahkan tidak bisa mengangkat palu bisa melampaui kakeknya?" goda Recho tua.


"Aku punya mata yang bagus. Mataku bisa melihat potensi anak itu. Itu sebabnya aku mengizinkannya ikut denganku," senyum Aqua.


"Jangan nangis kalau saat kau melihat anakmu lagi, kemampuan kalian sudah seperti langit dan bumi."


"WAHAHAHAHAHAHA!!!!!"


"Sudah kuduga kau memang menarik bocah!" ujar Recho tua sambil menepuk punggung Aqua agak kasar.


"Oi Pietro! Bocah ini sampai mengatakan itu. Kutanya sekali lagi, apa kau punya tekad dan keyakinan itu, hah?!!" tanya dwarf tua ini menggelegar.


Pietro yang penuh keraguan dan hampir menyerah sudah disingkirkan Aqua. Sekarang matanya memancarkan sinar keyakinan dan tekad kuat yang tidak akan runtuh meski jatuh berkali-kali.


"Ya!!!"


"Bagus!! Sekarang sudah tidak perlu dipikir lagi. Pergilah dan menjadi kuat bersama bocah itu!!" seru Recho tua dengan senyum lebarnya.


"Baik, ayah!"


Pietro menitikkan air mata, dia tidak menyangka hari ini akan benar-benar datang padanya.


Mika dan Eli mengusap kepala Pietro sambil tersenyum senang. Pemandangan yang mereka lihat tadi cukup menyentuh hati. Bukan berarti mereka terharu atau semacamnya, tapi tadi benar-benar "ukhhh" dihati mereka.


"Syukurlah, Pietro!" senang Mika.


"Itu tadi cukup keren, loh!" puji Eli.


"Te-terima kasih..." malu Pietro.


.


.


.


.


.


Sayangnya suasana tentram itu tak berlangsung terlalu lama.


"Jadi? Kapan kalian akan pergi?" tanya Recho tua tiba-tiba.


"........ Secepatnya. Sayang sekali, tapi masih banyak urusan yang harus kami selesaikan," jawab Aqua setelah jeda cukup lama.


"Begitu. Kalau begitu pergilah besok, aku dan dwarf lain akan membantu persiapan kalian."


Recho tua berdiri, dia menyerahkan senapan runduk itu pada Eli.


Di senapan runduk itu, tertulis sebuah kata dalam bahasa kuno Demetria. Tulisan itu dibaca...


"Devinna..." gumam Eli saat menyentuh senapan itu.


'Devinna' adalah nama yang diberikan Recho dan Eli saat senapan itu sudah jadi. Arti dari nama 'Devinna' itu sendiri adalah 'Kemenangan".


"Jaga baik-baik anak itu!" seru Recho tua saat berjalan menjauh meninggalkan mereka.


Dengan mata berbinar-binar, Eli membungkuk 45°. Itu adalah bentuk penghormatannya dan rasa terimakasihnya. Tindakan Eli diikuti Aqua dan Mika yang merasakan hal yang sama.


"Terimakasih banyak atas bantuannya!"


"Ya."