
"Kalau ada cara lain kenapa tidak katakan dari tadi?" kesal Aqua.
Eskpresi Amethyst terlihat agak ragu. Berbeda dengan Ashlan yang sedari tadi tersenyum jahil. Ini membuat Aqua merinding. Rasanya itu pasti bukan cara yang bagus.
"Ca-cara apa itu?" was-was Aqua melihat ekspresi Ashlan.
Tak tega, keponakannya dijahili seniornya, Amethyst memutuskan kalau dia sendiri yang akan menjelaskan.
"Ada orang selain keluarga kekaisaran yang bisa memasuki gudang harta. Tapi sangat sedikit yang bisa melakukannya. Karena orang itu harus punya pangkat tinggi dan menjadi orang kepercayaan kaisar."
"Tapi selain itu juga ada lagi..."
Amethyst agak ragu melanjutkannya.
"Pintu gudang harta selalu dibuka setiap 4 tahun sekali. Itu adalah saat kelulusan siswa Akademi Mackenzie."
"Saat kelulusan? Kenapa?" tanya Aqua.
"Saat itu, dua lulusan terbaik akademi akan diizinkan memasuki ruang harta," lanjut Amethyst.
Aqua sedikit bingung. Ini bukan hal yang dia takutkan. Memang dirinya malas untuk pergi ke akademi, mengingat itu adalah latar utama game ini. Tapi dia tidak sebegitu menghindarinya.
Terlihat mata Amethyst mencoba melirik ke arah lain.
"Ada yang aneh," batin Aqua.
"Apa ada yang belum Anda katakan?" tanya Aqua memastikan.
Tanpa menunggu jawaban Amethyst yang masih ragu-ragu, Ashlan mengambil kesempatan ini untuk merangkul Aqua.
"Di Benua Manusia masih ada Diskriminasi Gender!" timpal Ashlan.
"?"
"Tunggu senior!!!" seru Amethyst mencoba menghentikan seniornya.
"Lulusan laki-laki terbaik boleh memasuki dan mengambil satu senjata di gudang harta senjata dan lulusan perempuan terbaik boleh mengambil salah satu bahan di gudang harta obat!" senyum Ashlan jahil.
"?!!"
Aqua tersentak kaget. Dia belum pernah mendengar hal sebodoh itu sejak bereinkarnasi ke dunia ini.
"Apa-apaan Diskriminasi Gender itu!!!!!!!" jeritnya kesal.
Amethyst memegangi keningnya. Dia tau respon semacam itu akan keluar.
"Kekaisaran Levana memang maju dalam berbagai bidang. Tapi prinsip kebangsawanan dan hal-hal tentang itu belum berubah."
"Mereka masih memegang prinsip bahwa laki-laki itu yang harus memegang pedang dan perempuan berlindung di belakang."
"Lucu sekali, kan? Padahal nyatanya, di dunia ini lebih banyak perempuan yang mengacungkan pedangnya daripada laki-laki. Meski tau itu, karena ini tradisi lama... mereka lebih mementingkan tradisi itu," sindir Amethyst.
"Tunggu! Bukankah Akademi Mackenzie adalah sekolah yang didirikan dan ada di tangan Master sepenuhnya?" lelah Aqua.
Ashlan tersenyum santai.
"Memang. Tapi tentang 'hak masuk' itu adalah hadiah dari Kekaisaran. Mana mungkin aku menyuruh mereka memberi hadiah yang berbeda, kan? Karena diberi saja, sudah patut disyukuri."
"Itu... benar sih."
"Jadi pilihanku hanya menjadi Keluarga Kekaisaran atau lulus sebagai siswi terbaik ya... Yang manapun tidak bagus," batin Aqua.
"Master, apa tidak bisa kalau bertukar hak masuk? Bisa saja siswi terbaik ingin masuk ke gudang harta senjata," tanya anak itu dengan harapan penuh.
"Tidak! Itu tidak boleh! Sudah beberapa kali ada kasus seperti itu dan hasilnya Keluarga Kekaisaran hampir mencabut hak masuk mereka," balas Ashlan cepat.
Aqua membuat raut wajah yang kesal, jijik dan sangat terpaksa.
"Benar-benar tidak ada cara lain selain dua itu?"
"Tidak ada!" jawab Ashlan cepat dengan senyuman jahil.
"Ini pas sekali. Aku awalnya berencana memasukkanmu ke Akademi dengan iming-iming Hak Masuk Siswa. Lumayan, bisa dapat senjata tingkat Legend gratis, kan?"
Wajah datar Aqua menekuk.
"Apa gunanya saya masuk akademi? Level saya jauh di atas mereka."
"Memang, tapi itu yang aku incar."
"?"
Senyuman jahil Ashlan mulai menghilang, terganti dengan wajah bijak yang sangat jarang Aqua lihat. Masternya hanya seperti ini saat dia sedang serius saja.
"Kamu sudah menjadi terlalu kuat."
"Pada awalnya kamu hanyalah berlian kasar yang harus kupoles halus. Entah sejak kapan kamu menjadi begitu bersinar sekarang. Bagimu akademi mungkin hanyalah tempat yang berisi batu-batu kasar lainnya, tentu tidak bisa dibandingkan denganmu yang sudah hampir jadi."
"Master..."
Setelah sekian lama, Ashlan akhirnya bisa mengusap-usap rambut Aqua seperti dulu. Hal itu membuat wajah Aqua sedikit hangat. Tidak dia kira, masternya akan memikirkannya sampai seperti itu.
"Yah, meski tak disangka itu kau lakukan dalam wujud perempuan," ejek Ashlan merusak suasana.
"š¢"
Aqua menepis tangan Ashlan. Dia marah pada dirinya sendiri yang lupa kalau Masternya orang yang seperti itu.
"Senior, jangan terlalu menggodanya..." geli Amethyst.
"Maaf, maaf. Ayo kembali ke topik. Bagaimana menurutmu, bocah? Mau membongkar identitasmu sebagai pangeran atau membuang harga dirimu dan menyamar menjadi perempuan?" goda Ashlan.
Melihat Aqua membuat wajah sangat tidak ingin memilih, Mika mengangkat tangannya.
"Kenapa tidak serahkan saja padaku? Aku bisa ikut mendaftar dan menjadi siswi terbaik."
Seketika, pandangan mereka bertiga teralih ke Mika. Ashlan dan Amethyst beranggapan bahwa Mika yang dalam wujud manusia itu akan menyamar masuk ke akademi. Tapi Aqua tau yang Mika maksud itu masuk ke akademi setelah bergabung dengan Ruby. Yang manapun berakhir dengan satu kesimpulan.
"TIDAK BOLEH!!!!!" ucap mereka bersamaan hingga mengejutkan Mika.
"Siswi terbaik itu harus mencolok. Kamu lupa kalau kamu tidak boleh mencolok?!!" marah Aqua.
"Anak ini benar! Kalau sampai Lucifer mengetahui anda bagaimana?!! Tolong lebih berhati-hatilah!!!" marah Ashlan.
"Anda sudah sangat membantu dengan penelitian ini!! Tolong jangan terlalu berlebihan sampai menempatkan diri anda dalam bahaya!!!!" marah Amethyst khawatir.
Mika terdiam dengan senyuman canggung. Sudah sangat lama sejak terakhir dia diomeli sampai seperti ini.
"A-Aku mengerti... maafkan aku..."
Rasanya seperti dia dengan Luciel dan Uriel dulu. Mengingat mereka berduaseperti kakaknya yang sering marah karena hal kecil.
Aqua menghela napas panjang sembari mengacak-acak rambutnya.
"Bibi Amethyst benar. Kamu sudah sangat membantu dengan penelitian ini. Tidak perlu terlalu melibatkan dirimu lagi."
"Lagipula aku sudah bertekad sebelumnya. Kalau aku akan menghidupkan kembali Kak Rin dengan tanganku sendiri. Membuang harga diri? Itu tidak seberapa dibandingkan dengan Kak Rin yang mengorbankan hidupnya," sambung Aqua.
Meski telinga Aqua sedikit memancarkan rona merah, tapi matanya masih penuh dengan tekad yang sama.
"Aku sudah berjanji, bahkan jika harus pergi bolak-balik ke neraka, aku akan mengembalikan Kak Rin ke posisinya yang seharusnya."
"Dan seorang laki-laki tidak akan menarik janjinya," senyum anak itu.
Amethyst tersentuh sekaligus sesak di hati. Anak adiknya yang dia adopsi 1,5 tahun lalu memiliki tekad, tanggung jawab dan perasaan sebesar itu pada sepupunya. Tapi anak kandungnya justru mengkhianati saudaranya.
"Saphy... kamu mempunyai anak yang hebat. Mungkin memang, harusnya kamu saja yang berada di sini sekarang..."
"Adikku, tolong awasi anakmu baik-baik dari sana."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[ Aih, kok ada perayaan 2x berturut-turut gini. Baru 2 hari kemarin dapat 1000 komentar. Hari ini dapat 20.000 like!!!! ]
[ Yasudahlah, meski jatuhnya tabungan chapter author abis :") tapi selama readers senang, author juga senang ]
[ Ini author kasih bonus 1 chapter. Jangan lupa senantiasa memberikan like dan komen kalian ya!!!! ]