The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 88 [ Pertemuan Jiwa Terpisah ]



Begitu puas memeluk Aqua, Yue melepasnya sambil mengusap air mata.


"Syukurlah Aqua baik-baik saja..."


"Iya, maaf sudah membuatmu khawatir," jawab Aqua hangat. "Omong-omong kenapa kamu tumbuh begitu cepat?"


"Ah... ini... penjelasannya panjang. Nanti Yue jelaskan."


"Hei, apa kamu tidak mau memperkenalkan kami?!" seru Mika sambil memegang pundak Aqua.


Karena Aqua menoleh ke arah Mika, seketika pandangan Yue dan Mika saling bertemu untuk pertama kalinya.


NGIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINGGGGGGGGG


Kepala Yue dan Mika langsung berdengung. Rasanya seolah mereka sedikit tersengat listrik.


"AAAAAAAAHHHHHH!!!!!!!" jerit Mika dan Yue bersamaan sambil memegangi kepala mereka yang terasa sakit.


Baik Mika maupun Yue tidak bisa menahan rasa sakit itu. Mereka meringkuk kesakitan di atas karpet merah ruang singgasana.


"Mika?!! Yue?!!!" panik Aqua.


"Baginda?! Apa yang terjadi?!"


Ratu diam memperhatikan sambil sesekali menepukkan jarinya di singgasana.


{ Itu reaksi yang normal, tenanglah! Mereka akan baik-baik saja }


Aqua sulit mempercayai bahwa itu normal. Dia memberikan sihir penyembuhan sebisa mungkin pada dua gadis itu agar rasa sakit mereka berkurang. Namun hasilnya nihil, tak terlihat perubahan sebelum dan sesudah Aqua memakai sihirnya.


Zephyr menahan tangan Aqua ke atas.


{ Jangan buang-buang sihirmu! Baginda sudah bilang kalau itu normal, kan? }


"Tapi!!!"


{ Ini adalah pertemuan pertama jiwa yang terpisah, tentu pasti akan terjadi sesuatu. Kamu tidak perlu khawatir, mereka tidak akan terluka } sela Ratu Tiana.


Aqua mengepalkan tangannya dan mengigit giginya kuat-kuat.


"Baiklah... tolong katakan pada saya apa yang sebenarnya terjadi pada mereka."


{ Tentu. Saat 1 jiwa yang terpisah bertemu, akan terjadi resonansi pada satu sama lain. Alasan mereka kesakitan begitu adalah karena resonansi itu. Hmm bagaimana caraku menjelaskan yang mudah dipahami ya... }


{ Anggap saja mereka memasuki ruang kesadaran utama mereka. Dan disana mereka sedang berbagi penderitaan, rasa sakit, rasa bahagia dan ingatan mereka. Tapi itu tidak sempurna karena mereka hanya saling bertemu bukannya bergabung. Apa kau mengerti? }


"Berbagi... ingatan?"


{ Iya, sebenarnya daripada berbagi ingatan lebih ke melihat ingatan satu sama lain. Beban informasi yang terlalu banyak itulah yang membuat kepala mereka sakit }


"Jadi begitu, terimakasih sudah menjelaskan pada saya, Baginda."


Aqua membungkukkan tubuhnya sedikit sambil meletakkan tangan didepan dada.


{ Sama-sama. Tunggulah sebentar, nanti mereka akan membaik }


Meski Ratu sudah mengatakan demikian, Aqua tidak bisa berhenti khawatir melihat Mika dan Yue yang terlihat sangat kesakitan. Karena sihir tidak bekerja, satu-satunya yang bisa Aqua lakukan hanyalah memegangi tangan mereka erat-erat agar mereka tidak merasa sendirian.


"???????????????????????????????"


"Sebenarnya apa yang terjadi sekarang?!!!!!!" jerit Neelima dalam hatinya.


.


.


.


.


.


.


Setelah beberapa saat, napas Mika dan Yue kembali normal dan rasa sakit mereka mereda. Hal pertama yang mereka lakukan setelah mendapatkan kembali kesadaran mereka adalah memandang satu sama lain baik-baik.


Ekspresi Mika sedikit sulit dijelaskan. Dia menatap Yue antara tidak percaya dan shock.


"Yue... kamu...? Itu... sungguhan??" tanyanya tidak jelas.


Yue terdiam mengemut bibirnya. Tak lama gadis itu mengangguk.


"Yang benar saja??" gumam Mika tak mau percaya.


"Apa kalian baik-baik saja?!!" tanya Aqua khawatir.


"Aku baik-baik saja... hanya sedikit lelah," jawab Mika capek.


"Yue tidak apa-apa. Sekarang Yue jadi tau sesuatu yang bagus," jawab Yue dengan cengiran lebar diwajahnya.


Aqua tau kalau Yue pasti sudah melihat ingatan Mika terutama ketika mereka tinggal bersama dan fakta mengejutkan yang mereka baru ketahui.


"Apa kamu... tidak kaget dengan itu?"


"Aqua ini bilang apa? Tentu saja Yue kaget!!! Tapi... Yue pikir ini hal yang patut disyukuri," balas gadis itu.


"?"


Mika memegangi lengannya sambil mengalihkan pandangan begitu Yue bilang itu.


"Yue... apa kamu tidak mau mengatakannya pada Aqua?"


"??"


Yue terdiam, dia benar-benar tidak ingin mengatakannya.


"???"


Saat ini Aqua sama sekali tidak mengerti percakapan Mika dan Yue. Satu hal yang Aqua tau, mereka membicarakan sesuatu yang penting tentang ingatan Yue.


PROOOKK


Suara tepukan tangan terdengar dan mengalihkan perhatian semua orang. Sang Ratulah yang menepukkan tangannya sekali demi mencuri perhatian.


{ Kalian lanjutkan pembicaraan pribadi kalian nanti. Berbeda dengan Yue, beberapa dari kalian tidak baik berada di dunia peri terlalu lama. Jadi ayo kita mulai penjelasannya secepat mungkin! } seru sang Ratu.


Ekspresi Aqua, Mika dan Yue langsung serius. Mereka sudah tidak tahan lagi dengan misteri yang ada pada diri mereka satu sama lain. Ini sudah saatnya bagi mereka menghadapi kenyataan kebenaran dari semua masalah yang mereka hadapi.


{ Kalau begitu, mari kita mulai penjelasannya }


...***...


Kekaisaran Levana, Guild Informasi


BRAAAAKKKK


"Apa Kekaisaran Anessa sudah gila?!!!!!" marah Elvina sambil memukul mejanya karena kesal.


Elvira duduk di sofa dengan meja Elvina sambil menyeruput teh.


"Tenanglah!"


"Bagaimana aku bisa tenang kak?!!!"


Elvina memegangi kepalanya yang terasa nyut-nyutan dengan kelakuan Kekaisaran Anessa.


"Hanya kerena mereka tidak bisa menemukan sang pahlawan sampai sekarang... mereka melakukan hal tabu seperti itu!!!!" kesal Elvina.


"Aku juga marah, dan aku yakin semua Raven juga akan marah kalau mendengarnya. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Mereka sudah melakukannya. Saat ini yang paling harus kita lakukan adalah memberitahu Aqua, Yue dan Lix tentang itu," balas sang kakak.


"Haa~ah... benar. Kita harus segera memberitahukan Aqua kalau Kekaisaran Anessa melakukan pemanggilan pahlawan dari dunia lain karena gagal menemukan pahlawan dari dunia ini."


Elvina membentuk sebuah burung yang tercipta dari cahaya biru dan membisikkan sesuatu di telinga burung itu.


"Pergilah dan beritahu Aqua tentang itu!" serunya sambil menerbangkan burung sihir suara.


"Kekaisaran Anessa terlalu kejam. Bagaimana mereka bisa memberikan beban dunia ini pada kumpulan anak di bawah umur yang bahkan bukan dari dunia ini," keluhnya.


"Iya, aku juga benci ide itu. Masalah dunia ini seharusnya diselesaikan oleh makhluk dunia ini. Mereka ini hanya kumpulan sampah yang ingin hasil tapi tidak mau usaha," sindir Elvira.


Elvira berjalan mendekati Elvina dan memeluknya sambil menepuk-nepuk punggungnya.


"Tenang dulu... tidak baik emosi seperti itu."


"Berapa banyak anak dunia lain yang dipanggil?"


"....... 9 orang. Semuanya terlihat sedikit lebih tua dari Aqua. 3 perempuan dan 6 laki-laki. Semuanya punya rambut dan mata hitam pekat khas dunia lain," jawab sang adik.


"Class mereka?"


"4 penyihir dan 5 pengguna senjata."


"Begitu... mari kita berdoa saja, semoga mereka hanya fokus pada tujuan mereka atau memilih bersenang-senang di dunia ini. Jangan sampai mereka menjadi musuh Raven."


"Karena kalau mereka menjadi musuh Raven. Maka akhir mereka tidak akan menyenangkan."


"Aku juga tidak ingin membunuh anak-anak yang dipaksa membawa beban dunia ini. Tapi kalau mereka menghalangi jalan Raven atau mengganggu Raven barang sedikit saja, aku tidak akan ragu melumuri tanganku dengan darah mereka," balas Elvina.


"Begitu juga denganku."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


[ Moshi Moshi, Cha_nyann desu~ ]


[ Hari ini Author akan mengumumkan hasil voting. Ternyata yg nge-voting lebih dikit dari yg author Kira. Yaudah deh, yg komen sendiri juga dihitung. Jadi meski udah komen dan tetep voting lagi, anggap aja kamu kagebunshin :v ]


[ Ini yak hasilnya ]



[ Bagi yang komen sesuatu yang tidak ada di pilihan atau yg jawabannya setengah2 gak dihitung :D ]


[ Ntar jangan nyesel loh, kan aku dah ngasih waktu 1 Minggu lebih 2 hari :v buat kalian milih sendiri ]


[ Oke, itu aja! Sampai jumpa lagi!!! ]