
"Lihat baik-baik! Inilah hukuman karena sudah berani menyentuh orangku."
Tepat didepan ayahnya, Aqua mulai menyiksa anak perempuan itu. Pertama dia membuka mulut gadis itu dan mencabut giginya satu persatu. Dia sama sekali tidak mempedulikan pendarahan yang terjadi, tapi akan gawat kalau targetnya mati saat masih penyiksaan.
Jadi setiap setengah jam, Aqua selalu meminumkan potion penyembuh pada Veni dan terus menyiksanya langsung didepan sang ayah sembari menyenandungkan lagu anak-anak. Berkali-kali Veni menjerit kesakitan dan Turquoise terus memohon ampunan Aqua tanpa jeda.
Di mata Aqua, pasangan ayah dan anak ini sangat menyedihkan.
"Seorang pemburu harus siap diburu dan seorang pembunuh harus siap dibunuh. Jika kau tidak ingin itu terjadi padamu, maka hiduplah dengan benar."
Setelah gigi Veni habis, Aqua berlanjut ke kukunya. Dia memasukkan jarum-jarum di celah kuku Veni dengan santai seperti hanya sedang merias kuku gadis itu.
Begitu kuku telah habis, dipotongnya tangan kiri Veni hingga menjadi potongan kecil-kecil. Hal itu terus berlanjut ke kanan kanan dan sisa kedua kakinya. Potion tidak mampu menumbuhkan bagian yang hilang, itu sedikit Aqua sayangkan. Aqua baru berhenti setelah tubuh Veni hanya terisa tubuh dan kepala saja.
Di jam pertama, Veni terus menjerit, memohon ampun dan meminta pertolongan ayahnya. Di jam ketiga, matanya mulai mati dan permintaan tolong berhenti. Terakhir di jam kelima, gadis itu sudah mati rasa atau justru terbiasa dengan rasa sakit yang Aqua berikan. Dia berhenti meminta ampun pada Aqua dan meminta Aqua membunuhnya saja.
Mulai jam ketiga, Khorin terbangun dari pingsannya. Saat itu juga, Aqua memerintahkan Khorin agar langsung memakan daging yang sudah dia potong rapi tanpa memuntahkannya. Meski sangat terpaksa, Khorin tetap memakannya sambil menangis deras. Karena jika Khorin tidak melakukannya, Aqua pasti akan melakukan hal yang sama padanya.
Selama 5 jam itu, satu-satunya yang bisa Turquoise lakukan hanyalah meminta ampun dan memohon agar Aqua berhenti, meski ucapan itu sama sekali tidak digubris olehnya.
Mata Turquoise, Veni dan Khorin sudah bengkak merah karena terlalu banyak menangis.
"Sudah cukup... aku mohon... bukankah ini sudah cukup?!" kata Turquoise putus asa.
"Yang aku lakukan pada Rin bahkan tidak ada ⅒ kekejaman yang kau lakukan!"
Aqua terdiam, sesaat kemudian dia tersenyum hangat.
"Memang. Tapi siapa yang bilang karma itu 1:1 keluarnya."
Jawaban Aqua membuat Turquoise semakin putus asa. Dia sudah sangat hancur secara mental, air matanya bahkan sudah tak bisa mengalir lagi. Melihat kondisi kedua anaknya dan mata mereka yang berhenti memancar keinginan hidup sangat menyayat hatinya.
Aqua menghela napasnya. Dia sudah tidak bersenang-senang lagi. Pada awalnya memang menyenangkan, tapi sekarang sudah tidak lagi.
"Memburu hewan ternak dan hewan liar itu berbeda. Kalau tidak ada kondisi perlawanan, tidak menyenangkan."
Aqua melihat ke langit. Sinar matahari mulai menghilang, tergantikan cahaya bulan. Setelah mengendalikan darah agar tidak mengotori tubuhnya, Aqua menghilangkan wujud naganya. Dia kembali menurunkan poninya lagi seperti sebelumnya.
Melihat itu membuat Turquoise, Veni dan Khorin merasa agak lega.
"Apa sudah berakhir?!"
"Jangan salah paham! Ini sama sekali belum berakhir," ucap Aqua menghancurkan harapan mereka.
Aqua melirik ketiga orang yang tersentak mendengarnya.
"Aku akan kembali besok pagi. Sampai saat itu tiba, aku ingin melihat Turquoise kehilangan kedua tangan dan kakinya."
"Ini adalah kesempatan yang kuberikan pada kalian. Kalau kamu ingin anakmu hidup, kamu harus mati di tangan anakmu sendiri dan menjadi santapan mereka. Yah, lagipula kalian selalu memakan daging Elf, kan?" sindir Aqua.
"Ini pasti mudah bagi kalian."
Tanpa melihat lebih lanjut ekspresi ketiga orang itu, Aqua berbalik dengan wajah dingin dan pergi keluar barrier dalam keadaan bersih dan rapi.
"Tunggu! Apa kamu bisa berjanji kalau aku melakukan itu, kamu tidak akan membunuh anak-anakku?!" tanya Turquoise memastikan.
Aqua tersenyum santai.
"Ya, aku berjanji."
"Jangan kecewakan aku."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Begitu Aqua keluar dari barrier, dia langsung dikerumuni oleh warga Kerajaan Vittacelar. Ribuan pertanyaan dilontarkan kepadanya. Tapi Aqua hanya mengatakan satu hal.
"Pertunjukan akan berakhir besok."
Begitu mengatakan itu, Aqua berjalan ke dalam istana didampingi para tetua. Melihat mata Aqua yang berubah dingin, membuat para tetua mengurungkan niat mencari tau lebih lanjut apa yang terjadi didalam.
"Yang Mulia, anda kedatangan tamu," ucap seorang tetua.
"Tamu?"
Aqua tidak merasa ada orang yang akan bertemu dengannya. Baik Ratu Elf maupun gurunya akan datang besok, jadi tidak mungkin itu mereka.
"Benar, tamu ini... mengatakan kalau dia adalah tunangan anda... apa itu benar, Yang Mulia Pangeran?" gugup tetua.
Aqua tersentak, dia pikir Raven sudah kembali ke markas semua. Senyuman hangat menggantikan mata dingin itu.
"Apa rambutnya biru muda?"
"Benar, Yang Mulia. Apa gadis itu benar-benar tunangan anda?"
Aqua tersenyum jahil.
"Iya juga tidak. Dia adalah ⅓ tunanganku," seringainya sembari meninggalkan para tetua.
"???????"
"⅓??"
"Aku akan pergi ke ruanganku sendiri! Para tetua kembalilah. Kita akan mengakhiri semuanya besok, jadi kalian juga harus istirahat."
Dibarengi salam para Elf, para tetua serentak menjawab.
"Baik, Yang Mulia. Semoga berkah Yggdrasil selalu menyertai anda!"
Dengan langkah ringan dan mood yang membaik, Aqua tidak membuang waktu lagi untuk menuju ruangannya. Dia menyingkirkan semua pelayan dan ksatria dengan alasan bahwa besok akan melelahkan, jadi mereka harus istirahat.
Dibukanya pintu dengan hiasan alami dari pohon yang terlihat estetik itu.
Begitu pintu terbuka, terlihat sosok asli Mika tanpa maskernya. Setelah dipikir-pikir, sudah lama juga Aqua tidak melihat wajah Mika tanpa masker. Karena selama ini, cukup jarang mereka punya waktu berdua.
"Apa sudah selesai?" tanya Mika lembut.
Dirinya yang sebelumnya sangat lelah secara mental dan menjadi hampa, langsung memiliki rona merah tipis di pipinya. Aqua langsung memeluk Mika yang duduk di kasurnya, kasur yang sama dengan saat Aqua pingsan setelah melawan Kraken dulu.
Karena Aqua menjatuhkan dirinya dan memeluk Mika begitu saja, gadis itu tidak sempat menahannya dan jatuh terbaring di kasur dengan Aqua berada diatasnya. Dalam posisi Aqua memelukanya erat sambil membenamkan wajahnya, Mika tidak bisa menolak anak itu.
Malaikat ini menghembuskan nafas kecil. Lalu membalas pelukan Aqua sambil mengelus-elus punggungnya.
"Apa charger-mu sudah selesai?"
Aqua menggeleng pelan, membuat Mika merasa Aqua hari ini cukup imut.
"Apa boleh buat... aku akan menemanimu sampai kamu pilih sepenuhnya," ucapnya lembut.
...***...
Malam berlalu dengan cepat, tak terasa pagi hari telah tiba.
Semalam Mika cukup kerepotan, karena Aqua yang biasanya tenang dan bisa diandalkan jadi agak manja malam itu. Tapi jika dipikirkan, itu cukup wajar. Selama ini tujuan hidup Aqua adalah balas dendam, jika tidak ada Mika... Aqua mungkin akan berjalan tanpa arah begitu dendamnya selesai.
Yang memberinya harapan dan tujuan yang baru di jurang keputus-asaan kala itu adalah Mika.
"Hari ini semuanya akan selesai, kan?" tanya Mika sambil mengganti pakaiannya.
Aqua memalingkan wajahnya dan melihat ke arah lain.
"Ya, semua akan berakhir hari ini."
"Setelah ini... adalah saatnya kita bertemu dengannya, ya... Aku penasaran... apa yang akan terjadi kalau kami bertemu," kata Mika.
"Yah, tidak akan terlalu berbeda dari saat Yue, kan?"
Setelah pakaiannya telah rapi terpasang, Mika memakai cadar biru muda yang terlihat agak transparan namun mampu sepenuhnya menyembunyikan wajah gadis itu.
"Hmm... firasatku mengatakan ini tidak semudah itu."
Aqua tersenyum, "Apapun itu, kalian pasti bisa mengatasinya."
"Tentu saja!" jawab Mika sembari menyentuh pundak Aqua dari belakang.
Karena Mika telah sepenuhnya selesai berganti pakaian, Aqua mengulurkan tangannya untuk memandu Mika. Dibalas tawa kecil, Mika menerima uluran tangan Aqua. Merekapun keluar bersama dari kamar dan bergabung dengan para tetua dan pelayan yang sudah siap menemani Pangeran mereka.
Kedatangan Aqua dan yang lainnya disambut seluruh rakyat didepan istana. Sepertinya bukan hanya Aqua yang tidak sabar mengakhiri semua ini. Dari awal Aqua sudah tau, dendam rakyat tidak akan mudah hilang hanya karena Aqua menyiksa Turquoise.
Bagian terakhir dari balas dendamnya adalah... pemenuhan dendam rakyat.
"Seluruh warga Kerajaan Vittacelar! Terimakasih karena telah menyempatkan diri berdiri di hadapanku sekarang! Hari ini akan menjadi akhir dari semua masalah ini!"
"Atas nama Pangeran Kedua Kerajaan Vittacelar, Aquamarine Valler El Vittacelar. Aku berikan janjiku pada kerajaan! Begitu ini selesai, Kerajaan akan kembali menemukan kedamaiannya!"
Tidak perlu diberi aba-aba, seluruh Elf yang hadir di sana langsung berlutut menghadap Aqua. Jika ada orang yang menyaksikan ini, pasti mereka akan berpikir, kalau Aqua adalah Raja mereka atau setidaknya Putra Mahkota.
Namun itu sama sekali tidak benar dan tidak akan menjadi kebenaran.
Karena Aqua sama sekali tidak tertarik dengan tahta kerajaan. Selain demi balas dendam, semua hal merepotkan yang dia lakukan semata-mata demi...
"Kak Rin, aku pasti akan menghidupkan kakak kembali dan mendudukkan kakak ke posisi kakak yang sebenarnya! Sampai saat itu tiba, aku akan menyingkirkan semua sampah yang mengganggu jalan kakak."
"Ini adalah balasan untuk semua yang sudah kakak berikan padaku mulai saat kita pertama bertemu dulu sampai waktu itu."
"Ini adalah prinsip hidupku. Jika ada yang yang membuang sampah padaku, maka aku akan mengirimnya ke tempat pembuangan sampah. Dan jika ada yang memberikan bunga padaku, akan kubuatkan ladang bunga untuknya."