
Mendengar ancaman berbobot yang Aqua keluarkan, membuat atmosfer semakin berat disana. Mungkin bagi Ashlan dan Permaisuri yang sudah hidup sangat lama hal semacam ini sudah sering di jumpai, tapi bagi manusia tidak akan seperti itu. Apalagi karena ini bisa saja melibatkan seluruh Kekaisaran.
"Anda tahu kalau itu bisa menjadi deklarasi perang, bukan?" tanya Putra Mahkota serius.
Aqua menyeringai, "Tentu."
"Kalau begitu kenapa anda masih mengatakannya? Apa anda benar-benar ingin Kekaisaran dan Kerajaan berperang?"
"Jika memang harus begitu, saya tidak masalah. Karena Kekaisaranlah yang memulainya," jawab Aqua santai.
"!"
Putra Mahkota tidak bisa berkata-kata. Yang Aqua katakan benar. Seandainya perang terjadi, Kekaisaranlah yang lebih dulu memulainya. Tapi juga tidak bisa dibilang begitu, mengingat tidak ada dari mereka yang tau kalau tunangan Ruby adalah Pangeran Vittacelar.
"...... Apa anda bisa?" tanya Putra Mahkota.
"?"
"Anda hanya seorang Pangeran. Bukan Putra Mahkota maupun Raja. Apa anda bisa memutuskan hal besar yang menyangkut Kerajaan seperti perang?" pancing Putra Mahkota.
Putra Mahkota mencoba menggoyahkan Aqua.
"Setahu saya, seorang Pangeran atau Putri tidak memiliki wawenang setinggi itu."
Percakapan mulai memanas antara Putra Mahkota dan Pangeran Vittacelar. Kaisar menutup mulutnya sejenak untuk melihat lebih jauh bagaimana putranya akan mengatasi situasi ini. Sedangkan Machioness dan Nedura benar-benar berharap Putra Mahkota akan menyelamatkan mereka.
Tapi pancingan Putra Mahkota tidak ada gunanya. Aqua hanya tersenyum seperti biasa. Sebuah senyuman yang sulit diartikan.
"Memang benar kalau saya sendiri tidak mungkin menggerakkan Kerajaan Vittacelar untuk perang hanya karena tunangan saya diperlakukan tidak pantas. Tapi anda salah kalau berpikir aset yang saya miliki hanya Kerajaan saja."
"Apa maksud anda?" tegang Putra Mahkota.
"Apa anda pernah mendengar nama 'Raven'?" tanya Aqua tiba-tiba.
"!"
Putra Mahkota tersentak, tentu saja dia pernah mendengarnya. Meski belum terlalu lama sejak organisasi itu berdiri, seluruh kerajaan dan kekaisaran di seluruh dunia telah mendengar namanya.
Kelompok berbahaya yang tidak boleh dijadikan musuh. Anggota dari kelompok ini tidak diketahui. Mereka menggunakan nama 7 dosa besar untuk setiap anggotanya. Untuk saat ini hanya 2 saja yang pernah menampakkan diri. Yaitu Pride dan Lust yang merupakan guild master dari guild informasi yang memegang informasi dari seluruh dunia.
Jika 2 saja memiliki peran sepenting itu dan sangat mengancam kerajaan dan kekaisaran. Bagaimana dengan anggota lain? Semua bangsawan dan orang-orang penting dunia menganggap anggota lain sama berbahayanya.
Sebelum memastikan kekuatan dan kemampuan kelompok itu lebih jauh, ada baiknya untuk tidak menjadikan mereka sebagai musuh.
"Saya tau. Saya tidak tau dengan rakyat biasa, namun seluruh bangsawan pasti pernah mendengar nama itu," jawab Putra Mahkota.
"Tapi apa hubungannya dengan keadaan sekarang?"
Aqua lagi-lagi mengeluarkan senyuman itu.
"Saya mengenal kelompok itu. Dan saya juga adalah Klien VIP mereka. Selama saya membayar mereka dengan jumlah yang cukup, mereka akan membantu saya membalas Kekaisaran."
"!!!"
Kali ini bukan hanya Putra Mahkota, namun seluruh orang di ruangan tersebut terkejut. Untuk menjadi klien Raven adalah hal yang nyaris mustahil, mengingat seberapa sulit menemui mereka. Bahkan untuk anggota yang pernah terlihat, Pride dan Lust.
Tapi sekarang Aqua mengatakan dia adalah Klien VIP?
"Apa itu benar!?" kaget Kaisar yang akhirnya angkat bicara.
"Ya."
Aqua mengeluarkan sebuah cincin dengan hiasan batu permata onyx dari sakunya. Cincin itu terlihat sederhana tanpa desain yang berlebih.
Namun setelah Aqua mengalirkan sedikit mana ke dalam cincin itu, secara ajaib lambang Raven terpahat di atasnya dengan warna perak yang indah.
"!!?"
"Ini adalah cincin yang dimiliki semua Klien VIP Raven. Cincin ini tidak bisa dicuri dan dipalsukan karena ada kontrak kepemilikan di dalamnya. Klien Raven hanya bisa membuat permintaan melewati orang ketiga saja, mustahil mereka bertemu anggota Raven secara langsung. Tapi pemilik cincin ini berbeda. Mereka bisa bertemu dan mengajukan permintaan langsung pada Raven. Kalau beruntung bahkan bisa bertemu ketuanya," kata Aqua menjelaskan.
Semua orang terdiam, memandang kagum pada Aqua dan cincinnya. Bahkan seorang kaisar saja kesulitan menjadi klien biasa. Namun anak itu justru menjadi klien VIP.
"Apa kau yakin ini adalah cincin asli?" tanya Kaisar masih terkejut.
Ashlan mengambil cincin itu dari meja dan melihatnya sejenak.
"Ini memang asli."
"Anda tau itu Nyonya Vashlana?"
Ashlan mengembalikan cincin itu pada muridnya.
"Walau itu Aqua, kalau dia bohong aku pasti akan memukulnya. Tapi dia tidak bohong, ini asli."
"Karena aku juga punya yang sama," lanjutnya.
"!!?"
Lagi-lagi semua orang dikejutkan. Meski tidak separah saat Aqua. Karena Ashlan adalah Ratu Sihir, Pemilik Akademi Mackenzie dan Pemilik Menara Sihir, jadi masih bisa ditebak jika Ashlan memilikinya.
"Tentu saja kau punya Master. Kan aku memang secara khusus memberimu itu lewat Kak Vira," batin Aqua saat menerima cincin itu.
Kaisar dan Putra Mahkota semakin menganggap serius situasi ini. Berbeda dengan permaisuri. Dia tau Ashlan tidak akan membiarkan perang, jadi ini semua pasti hanya gertakan.
"Hmm, bahkan tanpa Raven dan Kerajaan... Aqua juga tetap bisa membalas kok. Dia adalah muridku, pemilik satu-satunya menara sihir. Dia juga calon pemilik menara sihir selanjutnya. Menggerakkan menara sihir adalah hal yang pasti dia bisa.",
Dan sekarang Ashlan justru menambah parah ketegangan mereka.
"Apa!? Aku tidak pernah dengar soal itu!!" kaget Aqua dalam hatinya.
Ashlan langsung menangkap maksud Aqua dari matanya. Wanita rubah ini hanya mengedipkan sebelah matanya.
"Oh iya aku belum bilang! Tapi itukan sudah jelas!"
"Master... kamu hanya ingin melimpahkan beban pekerjaanmu padaku, kan?" lelah Aqua.
"Seperti yang diharapkan dari muridku, kamu benar!"
Permaisuri melihat Aqua dan Ashlan yang saling berkomunikasi hanya dengan mata sambil tersenyum hangat.
"Meski Mio masih sulit melupakan kejadian itu... syukurlah dia lebih ceria karena party pahlawan dan muridnya."
Putra Mahkota sudah terpojok. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk mengatasi situasi ini. Melihatnya, Kaisar menggeleng lelah.
"Kami benar-benar minta maaf untuk semua yang Nona Arsilla alami. Namun itu semua tidak seharusnya menimbulkan perang."
"Anda benar, karena dari awal saya memang tidak ada niatan menimbulkan perang tapi hanya membalas apa yang tunangan saya alami," jawab Aqua agak dingin.
"..... Apa yang anda ingin Kekaisaran lakukan untuk mengatasi ini?" tanya Kaisar.
"Anda tidak seharusnya menanyakan itu pada saya. Karena bukan saya yang mengalami semua siksaan itu," ucap Aqua dingin.
Aqua mengelus lembut kepala Ruby yang sedari tadi terus diam meski dia adalah topik utama pertemuan ini.
"Katakan saja apa yang kamu inginkan. Apapun yang kamu mau, aku akan mengabulkannya."
Tatapan Ruby terlihat begitu tegas dan tajam, berbeda dengan gadis dengan mata mati yang ada sebelumnya. Seperti kepribadian gadis itu telah berubah sepenuhnya. Dan itulah yang membuat Machioness dan Nedura takut dan khawatir dengan apa yang akan Ruby katakan. Karena gadis itu sekarang memiliki sekutu yang sangat kuat dibelakangnya.
"Saya serahkan tentang pembalasan pada anda, Pangeran Aquamarine. Saya tidak masalah apapun itu selama tidak menimbulkan peristiwa berdarah."
"Yang saya inginkan... adalah pelepasan kontrak dengan Kekaisaran."
Mendengar tunangannya menjawab penuh keyakinan tanpa keraguan, membuat Aqua sepintas melihat yang berbicara adalah adiknya, Tiara. Tanpa sadar senyuman bangga telah terlukis sempurna di wajahnya.
"Sesuai keinginanmu, My Lady."