
Hembusan angin menerpa dedaunan jatuh. Suasana sejuk dan alami yang sesuai dengan image Elf. Rumah yang berada di dahan pohon besar itu terlihat indah. Meskipun terbuat dari kayu, desain bangunannya sangat estetika.
Aqua dan yang lainnya menapaki tangga yang mengitari pohon itu. Di ujung tangga terdapat teras rumah yang tertata rapi. Pintu kayu berwarna coklat gelap itu samar-samar mengeluarkan mana. Begitu Aqua menyentuh pintunya, lingkaran sihir berwarna kuning cerah muncul dan menghilang seketika.
Fungsi lingkaran sihir itu adalah menyampaikan pada orang rumah bahwa ada tamu yang berkunjung.
Langkah kaki yang ringan dan tenang terdengar dari dalam rumah. Begitu pintu terbuka, seorang pria berkulit coklat dan telinga runcing menyambut mata Aqua.
"Apa yang kau mau?" ucapnya tak ramah.
Rambut hijau muda panjang yang berantakan dan bola mata navy yang terlihat lelah nampak padanya. Aqua langsung tau bahwa mereka datang di saat yang tidak tepat.
Aqua memperagakan salam Elf.
"Nama saya Aquamarine. Saya murid pemilik Menara sihir, Vashlana Magiya. Guru saya memerintahkan saya untuk berguru pada anda. Dua orang disamping saya adalah rekan terpercaya saya, Yue dan Feirlyx."
"......"
Alesta menatap Aqua malas. Dia menghela napas dan berbalik masuk ke rumahnya. Tangannya menyahut, menyuruh Aqua dan temannya masuk. Aqua, Yue dan Lix memasuki rumah pohon itu. Meski penampilan pemiliknya sangat berantakan, rumahnya tertata sangat rapi. Bahkan tak ada debu sedikitpun di dalamnya.
Alesta duduk di sofa, dia menyuruh Aqua dan temannya duduk di depannya.
"...... Aquamarine, kan? Haaa… Ashlan sialan itu. Melempar muridnya padaku karena ketidakmampuannya," keluhnya.
Aqua, Lix dan Yue tak berkata apapun. Pria di depannya terlihat akan kesal dengan apapun yang mereka ucapkan.
"Aqua! Dia agak beda sama Elf lain," bisik Yue ditelinga Aqua.
"Memang berbeda. Yue, Tuan Alesta itu seorang dark Elf," balas Aqua pelan.
"Dark Elf?"
"Gimana ya… Elf yang kulitnya gelap."
"Jadi begitu!"
Telinga panjang Alesta bergerak. Pandangannya menajam.
"Berhenti bisik-bisik begitu! Telinga Dark Elf itu sensitif, aku bisa dengar!"
Aqua dan Yue tersentak. Mereka menyengir canggung.
"Entah kalian sudah dengar atau belum. Aku Alesta, seorang dark Elf. Biasanya Elf dan dark Elf tak hidup berdampingan. Jadi kasusku ini langka," ujarnya.
"Aku tinggal di Kerajaan ini karena sibuk melakukan penelitian. Itu saja!"
"Surat dari Ashlan sudah sampai. Aku sudah dengar tentangmu, penyihir cilik jenius. Katanya kamu mau belajar sihir kegelapan?"
"Benar! Saya ingin mempelajari sihir kegelapan. Tolong jadilah guru saya, Tuan Alesta," pinta Aqua.
"Sebenarnya aku gak ada minat punya murid. Tapi ini permintaan Ashlan, jadi apa boleh buat. Aku akan memberi kalian bertiga ujian, yang lolos dari ujian itu boleh belajar dariku."
Perkataan Alesta membuat Aqua dan yang lain sedikit panik. Memang benar Alesta tak akan dengan mudah menjadi gurunya, tapi dia juga belum siap mengikuti ujian dadakan seperti ini.
"Awalnya aku cuma mendengar anak Half-elf saja yang akan berguru denganku. Siapa sangka kalau anak iblis dan ashura akan ikut juga."
"!!!"
Aqua, Lix dan Yue kaget karena Alesta langsung tau identitas mereka dalam sekali lihat. Mereka langsung masuk ke mode waspada.
"Tenanglah… aku bukannya punya niat jahat atau semacamnya," lirik Alesta.
"..... Bagaimana anda bisa mengetahui identitas asli Yue dan Feirlyx?" tanya Aqua sedikit curiga.
"Kenapa kau pikir aku tidak tau? Yah… aku hanya merasa begitu melihat aliran mana mereka," jawabnya tenang.
"Seperti kataku tadi, aku tak ada niat jahat. Kupikir menarik saja mengajar iblis dan ashura," lanjutnya santai.
"Padahal anda sudah mengetahui kalau Yue itu iblis. Normalnya orang akan panik, takut atau bahkan marah saat melihat iblis. Kenapa anda tenang-tenang saja?" tanya Lix waspada.
"Memangnya kamu bisa bilang begitu?"
"Ah… anak-anak yang besar di dunia manusia tak tau tentang iblis yang sebenarnya, ya."
"?"
Jawaban dari Alesta membuat Aqua dan Lix bingung. Apa yang dia maksud dengan iblis yang sebenarnya?
"Begini saja. Kalau kalian lolos ujiannya, aku akan memberi tau kalian kebenaran tentang iblis dan legenda terbentuknya dunia. Bagaimana?"
"Apa ujiannya?" tanya Aqua dengan nada sedikit bersemangat.
"Karena kalian ada bertiga… baiklah, begini saja. Ambilkan aku embun kehidupan. Aku butuh itu untuk penelitianku. Simpel kan?"
"Embun kehidupan?!!!!!" jerit Lix kaget.
"Embun kehidupan hanya bisa ditemukan di sekitar Pohon Kehidupan, Yggdrasil. Untuk ke pohon itu saja harus melewati berbagai monster berbahaya. Bahkan orang dengan level diatas 300 saja kesulitan memasuki zona itu. Bagaimana mungkin kami bisa mengambilnya?"
Lix mulai kesal, Alesta memberi tugas yang mustahil dilakukan tiga anak di bawah umur. Tidak, bahkan anggota party pahlawan akan kesulitan untuk mengambilnya. Tapi dia meminta anak-anak yang levelnya hanya sedikit lebih tinggi dari anak normal mengambilnya.
"Orang ini!! Dia dari awal tak berniat mengajari kami!! Apa yang harus kulakukan?!"
Alesta menyeringai. Seperti dugaan Lix, dia memang dari awal tak ada niatan mengajari mereka. Alasannya karena saat ini dia benar-benar sibuk dengan penelitiannya. Dia tak punya waktu mengasuh anak-anak.
Lix mengeluarkan ekspresi pahit. Mereka tidak boleh berhenti di sini jika ingin jadi lebih kuat. Tapi pergi ke sana dengan level mereka yang sekarang sama saja bunuh diri.
Sebuah embun yang tercipta dari pohon kehidupan, Yggdrasil. Satu tetes embun ini saja sudah bisa menyembuhkan luka berat. Selama orang itu belum mati, luka seberat apapun bisa sembuh.
Aqua tetap tenang, dia sudah memikirkan puluhan rencana di kepalanya.
"!"
"Tunggu Aqua! Apa maksudmu?! Aku tau kamu kuat, tapi tempat itu sudah bukan levelmu lagi!" kejut Lix.
"Hoo~ kamu yakin?" tanya Alesta agak tertarik.
"Kukira dia akan menyerah dan kembali ke Ashlan. Boleh juga…"
"Saya akan pergi mengambilnya. Namun dilihat bagaimanapun, itu adalah syarat yang terlalu sulit. Hanya menjadi murid anda sebentar dan diceritakan legenda tak setimpal, menurut saya."
"..... Apa yang kau inginkan?"
"Saya sendiri yang akan mengambilnya. Level saya setidaknya sudah agak tinggi. Namun kedua rekan saya masih pemula. Tuan Alesta, tolong biarkan mereka berada di tempat yang aman. Selama saya tidak ada, tolong latih mereka!"
"Tentu itu tidak gratis, kecerdasan Lix pasti bisa membantu anda dan Yue juga seorang jenius dalam sihir kegelapan. Dia tak akan merepotkan Anda."
"!!"
"Oi Aqua! Apa maksudnya itu?! Kamu mau pergi sendiri?!!" marah Lix.
"Aqua! Yue tidak mau meninggalkan Aqua! Kalau Aqua pergi, Yue juga pergi!!!" rengek Yue.
"Tidak boleh! Seperti kata Lix tadi, jika kalian pergi kesana sekarang, itu sama saja bunuh diri."
Aqua melarang dua rekannya dengan nada tegas, dia benar-benar tidak ingin mereka memaksakan diri ke tempat berbahaya.
"Itu juga berlaku untukmu!!! Kaupikir kau bahkan bisa bertahan hidup di sana!?"
Lix kesal dengan Aqua yang seenaknya terjun ke medan berbahaya sendirian.
"Setidaknya lebih lama darimu."
Jawaban Aqua seolah menusuk Yue dan Lix. 1 kalimat pendek itu sudah menjadi fakta tak terbantahkan bagi mereka.
Lix tidak bisa membalas kata-kata Aqua lagi. Memang benar dia yang sekarang terlalu lemah untuk bisa menemani Aqua.
"Tawaran yang masuk akal. Nyawa anak itu sendiri sudah berharga. Kalau dia mati, aku bisa dibunuh Ashlan," pikir Alesta.
"Ini menarik. Padahal dia sangat tau harga nyawanya sendiri. Baiklah…"
Alesta berdiri dan berjalan ke arah rak-rak buku. Dia mengambil sebuah peta dari sana dan kembali duduk di depan Aqua. Alesta menggelar peta itu di meja. Peta yang dibawa Alesta adalah peta benua sihir yang terperinci.
Dia menandai suatu tempat dengan pena.
"Pergilah ke sini!"
"Tempat ini… bukan tempat pohon kehidupan berada?" bingung Aqua.
"Kau pikir hanya daerah Yggdrasil saja yang punya embun kehidupan? Daerah itu dijaga ketat oleh para Elf. Bagaimana caranya ras lain mendapatkannya?"
"Mereka akan pergi ke sini! Ini adalah tempat pelelangan ilegal yang menjual item-item tingkat tinggi. Pergilah ke sana dan beli embun kehidupan!"
Alesta menggulung peta itu dan menyerahkannya ke Aqua. Ketiga anak itu jadi lega karena Aqua tak harus pergi ke tempat super berbahaya seperti hutan pohon kehidupan.
"Terima kasih banyak!!" ucap Aqua.
"Tak perlu. Untuk pergi ke sana juga berbahaya. Walau tak seberbahaya hutan itu, perjalanan ke sana juga tak mudah," kata Alesta santai.
"Kau! Pergi kesana sendiri! Aku akan mengajari dua temanmu disini."
Mata Aqua berbinar-binar. Dia benar-benar senang karena Alesta menerima tawarannya meski dia tak harus melakukannya.
"Saya benar-benar berterima kasih!!!"
"Sudah kubilang itu tak perlu. Dua temanmu akan ku manfaatkan dengan baik," balas Alesta dengan senyum licik.
Lix dan Yue menelan ludah. Mereka harus bersiap-siap untuk apapun yang Alesta perintahkan nanti.
"Lalu… ini!"
Alesta menyerahkan kertas teleportasi ke Aqua.
"Koordinat kertas itu rumah ini. Kalau sudah selesai langsung saja teleport ke sini. Aku memberimu waktu 3 hari! Jika dalam 3 hari kamu belum datang, jangan harap kalian bisa menampakkan wajah di depanku."
"Baik! Serahkan saja pada saya!"
Aqua menjawab dengan yakin. Sebenarnya jika dilihat dari jarak, pergi ke sana membutuhkan waktu sekitar 5 hari naik kuda. Tapi karena yang kita bicarakan itu adalah Aqua, dia bisa sampai dalam waktu 2 hari. Tentu itu kalau perjalanannya tidak terganggu monster dan yang lain.
"Kalau begitu cepat pergi! Aku ini tidak punya banyak waktu!" usir Alesta.
Aqua mengangguk, setelah dia mengucapkan salam dan selamat tinggal pada Lix dan Yue, Aqua segera meninggalkan Kerajaan Vittacelar tanpa membuang lebih banyak waktu.
"Karena sudah sepakat, aku akan mengajari kalian dasarnya. Persiapan diri kalian! Aku ini bukan orang yang lembut."
Alesta sudah memikirkan akan menggunakan Lix dan Yue seperti apa. Apapun yang terjadi pada mereka nanti, Lix dan Yue hanya bisa menerima dan belajar sekeras mungkin agar tidak membebani Aqua.
"Baik!!"
.
.
.
.
[ Moshi Moshi! Cha_nyann desu~ Gak banyak, cuma mau bilang. Aku biasanya nulis sampai 5 chapter ke depan. Cuma aku atur biar waktu tayangnya beberapa hari lagi gitu ]