The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 123 [ Kembalinya Ratu Elf ]



Aqua mengangkat tangannya, sebagai tanda perintah agar rakyatnya bangun.


Begitu melihat Pangeran mereka melakukan itu, para Elf langsung berdiri dan berbaris dengan rapi di depan barrier yang Aqua buat. Aqua berjalan mendekati barrier itu dengan pakaian khas keluarga kerajaan Vittacelar. Di sentuhnya barrier itu pelan, namun begitu jarinya menyentuh barrier tak tertembus ini, barrier itu langsung hancur seketika bagai serpihan kaca.


Ekspresi para Elf langsung tersentak kaget begitu melihat apa yang ada didepannya. Keadaan Turquoise benar-benar mengenaskan sampai membuat mereka mempertanyakan rasa ke-elf-an Aqua. Tapi mereka juga mewajarinya di saat yang sama karena tidak sedikit dari mereka yang menjadi korban keluarga itu.


Terlihat Turquoise cukup mengenaskan. Tangan dan kakinya telah berada di perut anaknya sendiri yang menangis kejar sambil tetap memakan daging ayah mereka sendiri. Karena Aqua sama sekali tidak meninggalkan potion untuknya, darah terus mengalir hingga kulit Turquoise memucat.


"Aku sudah... melakukan apa... yang kau mau... sekarang... tepati janjimu..." ucap Turquoise terpatah-patah.


Aqua tidak bergeming, Turquoise hanya ditatapnya dingin.


"Aku selalu memegang janjiku."


Setelah mengatakan itu tanpa kebohongan, Aqua menarik kakinya mendekati Turquoise dan kedua anaknya. Ketiga orang itu sama sekali tidak bisa bergerak, baik kaki maupun sayap sudah tidak ada.


Para Elf menegang, bahkan meski kondisi mereka sudah seperti itu dan Aqua sudah menggantikan mereka menyiksa Turquoise, amarah mereka tak padam begitu mudahnya.


Aqua sangat tau itu, itulah alasan dia tidak membunuh Veni dan Khorin. Tangan kanan Aqua mengangkat kerah Veni dan tangan kirinya mengangkat kerah Khorin. Dia membawa mereka menjauh dari Turquoise.


"Tu-tunggu!! Apa yang mau kau lakukan?!" kata Turquoise dengan sisa energinya.


Aqua tidak menjawab. Anak itu berhenti didepan rakyat Kerajaan.


"Aku tau kalau banyak dari kalian yang memiliki dendam pada anak-anak ini dan ibunya yang sudah membunuh dan menyiksa keluarga kalian. Oleh karena itu..."


SWIIIIIINGGGG


BUGGGHH


Dilemparnya tubuh kecil Veni dan Khorin begitu mudahnya seperti melempar karung beras.


".... Kalian bebas melakukan apapun yang kalian mau pada mereka berdua."


Mika mendekati Aqua. Gadis itu merapalkan sihir cahaya tingkat Epic yang menyelimuti tubuh Veni dan Khorin.


"Seperti yang kalian lihat, mereka sudah dilapisi sihir cahaya. Sihir ini akan bertahan selama 2 jam. Selama itu, mereka tidak akan mati, apapun yang kalian lakukan," ucap Aqua.


"TUNGGU!!! INI BERBEDA DARI YANG KAU JANJIKAN!!!!!" jerit Turquoise dengan sisa tenaganya.


"BUKANNYA KAMU BILANG AKAN MELEPASKAN ANAKKU?!!!!"


Ekspresi Turquoise terlihat sangat marah, seperti dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.


Aqua pikir itu lucu, padahal beberapa tahun lalu, dirinyalah yang mempunyai ekspresi seperti itu di wajahnya.


"Sepertinya kau salah paham. Aku bilang kalau 'aku' tidak akan membunuh anakmu. Aku tidak pernah bilang kalau aku menjamin nyawa anakmu."


Wajah Turquoise terlihat sangat putus asa. Harapan terakhirnya diinjak-injak begitu saja.


Aqua menikmati ekspresi itu, tidak dia kira ini akan semenyenangkan ini. Anak itu berbalik, membiarkan Elf melakukan apapun yang mereka mau.


"Kalau kau ingin nyawa anakmu selamat. Maka minta maaf dan memohon lah pada semua rakyat Kerajaan Vittacelar yang menjadi korban kalian."


Tanpa beban, Aqua meninggalkan Turquoise bersama Mika dan duduk di singgasana buatan yang diletakkan di balkon istana. Para tetua juga menonton dari atas bersama mereka sembari dilayani pelayan.


Terlihat dari atas, Turquoise memohon-mohon pada Elf lain agar anaknya tidak dibunuh. Tapi sama sekali tidak ada Elf yang mendengarkan. Dengan cara mereka sendiri, mereka mulai melampiaskan dendam mereka pada dua anak iblis itu.


"Kamu cukup kejam juga, membuatnya berharap dan menghancurkan harapannya dengan cepat," kata Mika sembari memakan anggur dari pelayan.


Aqua meminum jus dinginnya sambil memutar-mutar gelas itu.


"Hmm... dia hanya menuai apa yang dia tanam."


"Fufufu... benar juga."


Melihat hawa yang di pancarkan Aqua dan Mika, membuat para tetua Elf tidak tahan. Mereka saling menyenggol satu sama lain, mencoba mendorong tetua lain angkat bicara. Akhirnya salah satu tetua memutuskan bertanya.


"Pa-pangeran Aquamarine... apa saya boleh bertanya?" tanya tetua itu agak takut.


"Tanyakan saja."


"Anu... nona disebelah Pangeran Aquamarine... siapa dia?"


Aqua benar-benar lupa memperkenalkan Mika. Pantas saja dari tadi para tetua begitu memperhatikan Mika.


"Tunangan anda bilang???!!!" kaget para tetua serempak.


"?"


Para tetua ragu-ragu untuk mengatakannya pada Aqua, tapi mereka tidak bisa menahannya lagi. Tetua yang paling tua angkat bicara.


"Pangeran, seperti yang Anda tau. Anda adalah satu-satunya pewaris tahta Kerajaan Vittacelar sekarang. Mungkin ini tidak akan terdengar bagus bagi anda."


"Tapi kami tidak bisa menoleransi percampuran darah lebih dari ini!"


Aqua tidak bergeming. Matanya terlihat malas meladeni para tetua.


"Dengan kata lain, aku harus menikahi Elf murni demi darah kerajaan?"


"..... Benar Yang Mulia."


Aqua tau ini akan terjadi. Inilah kenapa dia tidak ingin mewarisi tahta kerajaan maupun Kekaisaran. Dia mungkin memang akan menjadi orang dengan status tertinggi dan kekayaan luar biasa. Tapi kalau sebagai gantinya kebebasannya direnggut, maaf saja. Aqua tidak akan mengambil pilihan itu.


"Tidak perlu khawatir. Darah Keluarga Kerajaan tidak akan tercampur sedikitpun," kata Aqua membuat para tetua bingung.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aliran mana disekitar Aqua terasa berombak. Orang yang sensitif dengan mana seperti Aqua, Mika dan para Elf pasti menyadarinya. Tanda dari gelombang mana yang lembut ini adalah tanda kemunculan teleportasi.


"Sudah datang, ya..." batin Aqua senang.


Gelombang mana semakin terasa begitu Aqua dan yang lainnya mendekati ruang singgasana. Tak begitu lama, aliran mana itu memutar cepat dan memunculkan dua sosok wanita dewasa entah dari mana.


Kedua wanita itu menggunakan pakaian berwarna ungu dan lambang khas penyihir dari menara sihir.


Wanita rambut pirang panjang dengan telinga dan 9 ekor rubah lengkap dengan kimononya menyudut pipa cangklong berdesain dewasa dan elegan. Disampingnya wanita Elf rambut perak panjang rapi dengan Tiara di kepalanya terlihat sedikit kelelahan.


Para tetua yang melihat kedatangan mereka langsung berlutut seketika.


"Salam kami pada Baginda Ratu dan Ratu Sihir."


Ratu para Elf ini melambai pelan. Tubuhnya terhuyung dengan raut wajah penuh ketidakpercayaan. Ashlan memapah juniornya itu dan mendudukkannya ke singgasana.


"Ba-baginda... saat ini di Kerajaan..."


Disaat salah satu tetua mencoba menjelaskan apa yang terjadi, Ratu Amethyst menahannya.


"Aku sudah tau apa yang terjadi. Beberapa hari yang lalu, sosok yang menyebut diri mereka 'Pride' dan 'Lust' dari 'Raven' tiba-tiba mengajakku dan Senior Ashlan bernegosiasi..." kata Ratu Amethyst lelah.


Diliriknya Aqua dengan mata lelah itu.


"Dan tiba-tiba juga mereka memintaku menonton sesuatu yang akan terjadi di Kerajaan Vittacelar."


"Kalau Baginda mengetahui itu dan tidak menghentikannya, apa Baginda juga telah menyetujui hukuman Pangeran Turquoise?" tanya tetua dengan tenangnya.


Ratu Amethyst menggeleng namun tidak mengelak.


"Aku tidak setuju... biar bagaimanapun Turquoise tetap anakku. Sebagai ibu Turquoise... hukuman itu terlalu menyakiti hatiku," lirih Ratu.


"Tapi sebagai seorang Ratu dan ibu dari Citrine juga... aku tidak punya hak menghentikan hukuman itu," tegas Ratu.