The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
Chapter 6 [ Gadis Tersesat ]



2 Tahun Kemudian


Seorang anak laki-laki sedang dikejar seekor kadal raksasa. Dengan gesit, dia berhasil menghindari setiap serangan yang diluncurkan kadal itu. Anak itu tersenyum mengejek kadal yang tak bisa mengenainya. Setelah dia bosan, dia mengalahkan kadal itu dan menggeretnya ke sebuah rumah kecil di tengah hutan.


"Master! Makan malam hari ini dari kadal saja, gak papa?" ucap anak itu pada seorang wanita yang sedang membaca.


"Kadal??!! Ukhh… aku gak suka rasanya," keluh wanita itu.


"Jangan pilih-pilih makanan!!" seru anak itu.


"Cihh… tau gini aku beli aja makanan di kota," gumam wanita itu pelan.


Anak itu memotong kadal besar itu menjadi beberapa bagian dan membawanya masuk ke rumah untuk di masak. Sementara itu, sang wanita terus melanjutkan membaca sebuah pesan yang baru saja diantar merpati sihir.


"Ini merepotkan…" keluh wanita itu saat membaca surat.


Wanita itu, Ashlan berjalan masuk ke dapur untuk menemui muridnya. Muridnya sedang memasak dengan senang hati sambil bersiul-siul kecil menyadari keberadaan gurunya.


"Ada apa, master?" tanya Aqua ramah.


"Aquaaa… ada sesuatu yang merepotkan terjadi dan aku harus melakukan sesuatu tentangnya…" kata Ashlan sambil memeluk Aqua kecil dari belakang.


"Apa ini tentang pekerjaan Master? Kalau begitu pergilah, aku akan jaga rumah. Bukan sekali dua kali kan Master harus pergi mengurus pekerjaan," jawabnya sambil memotong daging.


"Tapi pekerjaan kali ini akan memakan waktu agak lama. Bisa sampai sebulan… mungkin kalau aku cepat akan butuh waktu 2 Minggu…" keluhnya lagi.


"Apa boleh buat. Bukankah itu pekerjaan master? Jangan bermalas-malasan!" seru Aqua.


Ashlan menggembungkan pipinya tanda merajuk. Dia menggelengkan kepalanya tidak mau.


"Ha~ah… memangnya master anak kecil? Pergilah, jangan membuat orang kerepotan karena master!" ujar Aqua sambil melepaskan pelukan masternya.


Ashlan memanyunkan bibirnya dan bergumam, "Memangnya kamu ibuku?"


"Baiklah… aku akan berusaha kembali secepat mungkin agar bisa bermala… ekhm, agar bisa melatihmu lagi. Jaga rumah baik-baik ya, Aqua!!" kata Ashlan.


"Master… kamu hampir bilang bermalas-malasan."


"Baik, baik. Cepatlah, aku yakin itu mendesak," balas Aqua tanpa belas kasihan.


"Okee…"


Ashlan mengecup pipi Aqua dulu hingga Aqua memerah sambil menyentuh pipinya. Ashlan tertawa dan melambaikan tangannya lalu terbang keluar dari hutan sihir ke suatu tempat.


Aqua menghembuskan napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku tidak tau apa pekerjaan master, tapi aku yakin dia semacam orang penting."


"Yasudah lah."


Aqua kembali melakukan rutinitasnya. Setelah selesai memasak, dia bersih-bersih rumah dan mengurus ladang. Tak lupa terus mengasah sihirnya dan berlatih pedang sendirian.


Hari berganti hari, kesendirian itu membuat Aqua bosan. Dia akhirnya memilih keluar rumah dan berjalan-jalan di hutan.


"Setidaknya ini lebih menyenangkan daripada berdiam diri dirumah," pikirnya.


WAAARGGHHHHHHH!!!!!!!!


Auman mengerikan mengejutkan Aqua.


"Itu auman chimera!! Makhluk itu tidak akan menyerang kecuali dia diganggu, siapa orang bodoh yang mengganggunya?" kaget Aqua.


Aqua segera berlari menuju asal suara Chimera, tentu saja sebelum itu dia sudah mewarnai rambutnya dan menutup mata kirinya. Dia bergerak dengan cepat berkat sihir petir. Saat Aqua tak jauh dari Chimera, Aqua jongkok di batang pohon raksasa menatap Chimera dari atas.


Seorang gadis menatap tajam Chimera meski keadaannya tak baik. Gadis itu berdarah di sekujur tubuhnya. Tapi tanpa mempedulikan lukanya, gadis itu tetap tenang dan tidak menjerit-jerit atau meminta tolong orang lain.


"Padahal anak itu seumuran denganku."


Aqua sedikit kagum dengan sikap tenang gadis itu yang tak sesuai umurnya.


Sebenarnya Aqua ingin mengamati lebih lama. Tapi jika dibiarkan lagi, gadis itu bisa mati terbunuh oleh Chimera. Jadi Aqua melompat dari atas pohon dan mendarat di kepala Chimera.


"Master pernah bilang, Chimera adalah monster yang benci bertarung. Pertama aku harus menenangkan amarahnya dulu." pikir Aqua tenang.


[ Anesthesia ]


Aqua mengeluarkan kabut tipis dari tangannya. Chimera yang awalnya mengamuk mulai tenang setelah menghirup kabut itu. Chimera itu terduduk dan Aqua turun dari kepalanya. Dia berjalan pelan ke depan wajah Chimera dan menempelkan tangannya ke kepala Chimera untuk melihat ingatannya dengan sihir kegelapan.


[ Seeing Memories ]


"Sihir tanpa rapalan? Siapa anak itu?" kaget gadis itu saat melihat Aqua.


Aqua menfokuskan dirinya melihat ingatan Chimera. Dia berhasil mengetahui alasan Chimera marah.


"Ternyata begitu…"


"Seorang pria asing menancapkan pasak yang dialiri sihir ke kaki Chimera dan membuatnya mengamuk. Dan gadis ini mendadak muncul di dekat Chimera karena sihir teleportasi. Melihat bagaimana gadis ini sekarang, kelihatannya seseorang mencoba membunuhnya."


Aqua berjalan mencari pasak yang tertanam di tubuh Chimera. Setelah menemukannya, dia berusaha mencabutnya. Namun ada listrik statis yang menyetrum Aqua. Aqua tidak menyerah dan terus mencoba hingga pasak terlepas dari Chimera.


Pasak berakhir terlepas, Chimera bangun dan menjilat Aqua sebagai tanda terima kasihnya.


"Ahahaha… geli!!" seru Aqua kegelian.


Setelah Chimera pergi, Aqua berbalik ke gadis kecil itu. Setelah diperhatikan lebih rinci, gadis itu memiliki rambut pirang platinum dan mata merah darah.


"Dia mengingatkanku dengan adikku saat masih kecil," pikir Aqua hangat.


Gadis itu terdiam dan belum bisa mencerna apa yang terjadi. Seorang anak laki-laki seumurannya tinggal di pedalaman hutan sihir dan berhasil menenangkan Chimera, tentu saja dia terkejut dengan fakta itu.


Aqua mengulurkan tangannya, membantu gadis itu berdiri. Tapi gadis itu hanya diam dan melihat kakinya yang terluka.


"Ah, dia tidak bisa berdiri dengan luka itu."


Aqua menarik gadis itu ke pelukannya dan menggendongnya ala tuan putri.


"!"


"Tu… tunggu! Apa yang kau lakukan?" tanya gadis itu agak panik.


"Disini berbahaya. Ayo kita pergi ke tempat lain," katanya santai.


"Hah?"


Tanpa menunggu lebih lama, Aqua melompat ke dahan pohon dan bergerak dengan cepat menuju rumahnya. Gadis itu agak bingung dan ketakutan, dia memejamkan matanya berharap mereka segera sampai.


Begitu mereka sampai, gadis itu membuka matanya. Dia melihat pemandangan yang sama sekali berbeda dari yang dilihatnya tadi. Kalau tadi dia melihat hutan gelap dan seram, kali ini dia melihat rumah kecil yang indah di samping sungai lengkap dengan ladang kecil.


"Kita… dimana?" tanya gadis itu.


"Ini rumahku dan guruku, kamu tidak perlu khawatir. Disini sudah dipasang sihir penghalang oleh guruku, jadi tidak akan ada monster yang bisa masuk," kata Aqua dengan senyuman ramah.


Gadis itu diam dan mengamati sekitarnya.


"Dia tidak banyak bicara."


"Ayo masuk! Aku akan menyeduhkan teh," ajak Aqua.


Gadis itu mengangguk dan berjalan mengikuti Aqua masuk ke dalam rumah. Aqua menarik sebuah kursi, mempersilahkan gadis itu duduk. Sebelum menyeduh teh, Aqua berlutut di hadapan gadis itu. Dia mengarahkan tangannya ke gadis itu dan sebuah cahaya hijau muda keluar dari tangannya.


[ Recovery ]


Luka-luka yang ada di tubuh gadis itu sembuh seketika.


"Sihir penyembuhan?"