
"Itu semua yang aku tau. Aku tidak terlalu mengetahui sisanya. Begitu aku membuka mata, aku sudah berada disini sepanjang waktu tanpa cincin halo-ku," ucap Mika mengakhiri cerita panjangnya.
"Ah, Luciel juga sempat cerita. Dia sama sekali tidak membunuh pasukan Zalacca dan justru membantu mereka menghabisi pasukan kami. Tidak ada yang selamat dari sana. Padahal mereka pasti memiliki keluarga yang menunggu mereka," sedih Mika.
"........."
Aqua tidak tau harus berkomentar seperti apa. Ada banyak kejanggalan dalam cerita Mika, aneh rasanya kalau Mika tidak menyadari itu.
"Lalu... ini hanya pendapatku saja. Setelah menjadi Fallen Angel, Luciel pasti kehilangan kekuatannya sebagai Arc-Angel. Karena belum pernah ada kasus seperti ini sebelumnya, bisa saja berubahnya Arc-Angel menjadi Fallen Angel sama saja dengan kematian Arc-Angel itu sendiri," sambung Mika.
"...... Maksudnya?"
"Kemungkinan besar... Arc-Angel baru telah lahir sebagai pengganti Luciel."
"Jadi seperti itu. Terimakasih sudah mau cerita," kata Aqua setelah selesai mencerna semua informasi tadi.
"Tidak... mungkin aku hanya... ingin menceritakannya pada seseorang."
"Mika, apa kau ingin balas dendam?" tanya Aqua agak dingin.
Cerita Michael tadi mengingatkannya pada pengalamannya yang serupa. Setiap hari sejak hari itu, Aqua tak pernah melupakan pengkhianatan Turquoise dan kematian Citrine barang sekalipun. Namun memikirkannya sepanjang waktu tak akan ada gunanya, lebih baik menggunakan waktu yang ada untuk hal yang lebih bermanfaat.
"Balas dendam, ya... Sejujurnya aku tidak tau. Aku marah! Sangat marah sampai aku ingin membunuh Luciel. Tapi... apa pembalasan dendam itu ada artinya?"
Jawaban Michael membuat Aqua sedikit tersentak. Dia tidak mengira kalau Michael akan mengatakan hal itu. Dilihat dari segi manapun, pengalaman Michael lebih menyedihkan dari dirinya. Mungkin satu-satunya yang bagus dari ceritanya adalah keselamatan Gabriel.
"Tentu sesaat setelah pengkhianatan Luciel, aku sangat murka. Ingin rasanya membobol dungeon ini dan berlari menusuk Luciel. Tapi apa kau tau? Selama bertahun-tahun aku terkunci disini, membuatku jadi memiliki banyak waktu untuk berpikir."
"Daripada balas dendam, saat ini yang paling aku ingin lakukan adalah merebut kembali cincin halo-ku dan mencari tau alasan sebenarnya Luciel mengkhianati kami."
"Mungkin ini terdengar bodoh bagi sebagian orang. Namun kupikir balas dendam itu tidak akan menguntungkan diri sendiri. Memang ada kepuasan dari berhasil membalas orang yang menyakiti kita, tapi setelah itu apa? Hanya luka yang ditinggalkan."
"Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi di masa lalu. Daripada masuk ke lingkaran setan, lebih baik aku mencari kebahagiaan untukku sendiri. Menurutku pembalasan dendam terbaik adalah menjadi bahagia."
"........"
Aqua terpana dengan kata-kata bijak yang dilontarkan Mika dengan mudahnya. Entah karena gadis itu adalah Arc-Angel atau karena itu memang Mika, kata-kata tadi sangat sesuai dengan dirinya.
Aqua mengepalkan tangannya.
"Mika memang benar. Tapi kasusku berbeda... ini bukan hanya tentangku sendiri, ini juga tentang Kak Rin!"
Mika khawatir melihat Aqua diam saja tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Anak itu berbalik menjauh dari Mika.
"Tolong biarkan aku sendiri."
"Aqua?"
"Apa dia marah?" pikirnya cemas.
Gadis itu tidak merasa ada sesuatu yang akan menyakiti Aqua dari ceritanya. Jadi dia bingung kenapa Aqua tiba-tiba seperti itu.
Kala itu... adalah kali terakhir Mika melihat Aqua.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
½ Tahun Kemudian, Dungeon Waktu
Michael POV
Ini sudah ½ tahun... anak itu tidak terlihat lagi. Melihat dungeon ini masih utuh, dia pasti masih didalam dungeon. Apa yang terjadi padanya?
Apa tanpa sengaja aku membuatnya marah? Kukira aku sudah terbiasa sendirian karena selama 15 tahun pertama, aku tidak bicara pada siapapun. Tapi begitu dia datang dan pergi dengan cepat... lagi-lagi aku merasakan apa yang disebut kesepian.
Aku benci perasaan ini...
TAP TAP TAP
Saat sedang merenung dan menunduk sedih, suara langkah kaki yang cukup ringan terdengar. Siapa? Apa ada orang yang mampu keluar dari deteksiku?!
Begitu kuangkat wajah dengan ekspresi was-was, kulihat sosok yang tak asing di mata. Mataku terbelalak melihatnya. Anak remaja yang cukup tinggi dan tampan yang memiliki rambut silver panjang terkuncir rapi. Berbeda dari sebelumnya dimana anak itu sering menampilkan wajah ceria dan hangat. Ekspresinya sekarang lebih tenang namun tetap hangat.
Bagaimana dia bisa begitu berubah hanya dalam waktu ½ tahun?!
"Aqu... a?"
Tanpa sadar air mata mengalir di pipiku. Kenapa ya? Rasanya seolah aku belum melihatnya selama ribuan tahun.
Anak itu tersenyum lembut padaku. Tanpa mengucapkan apapun, dia menghampiriku pelan-pelan. Kulihat perubahan terbesar anak itu sekarang bukanlah ekspresinya. Berbeda dari sebelumnya, dia berjalan memasuki barrier dengan mudah bagai melewati air biasa. Aku tak henti-hentinya dibuat terkejut. Sebenarnya apa yang dia lakukan ½ tahun ini?
"Maaf membuatmu menunggu lama," katanya dengan nada lembut.
Aqua melepaskan ikatan yang membelenggu dari tiang. Dia melakukannya selembut mungkin tanpa menggunakan tenaga yang berlebihan.
Padahal aku belum pernah diperlakukan seperti ini selain dari Arc-Angel lain. Tapi kenapa rasanya... sentuhan ini tidak terasa asing lagi.
Hal yang sama juga terjadi sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Aku bukanlah tipe orang yang akan mudah mempercayai orang lain, terutama setelah peristiwa pengkhianatan Luciel. Namun anehnya...
Seperti ada yang berbisik padaku...
Kalau anak di depanku ini bisa dipercaya.
Aku bisa bergantung padanya dan menjadi tempat bersandarnya. Perasaan bahwa aku harus melindunginya melebihi nyawaku sendiri ini terasa tak nyata. Kenapa? Kenapa aku memiliki seperti ini pada anak yang baru pertama kali kutemui?
Ikatan yang membelengguku sudah terlepas. Tubuhku oleng karena sudah lama tidak berdiri. Dengan gesitnya, Aqua menangkapku dan menggendongku di pelukannya.
Apa ini? Wajahku terasa panas...
Anak ini berjalan keluar barrier denganku digendongnya. Setelah keluar, dia memunculkan sebuah sofa yang cukup mewah ( ini sebenarnya punya si Medusa ) entah darimana. Dia menundukkanku disana dengan hati-hati.
Begitu aku mencapai posisi nyamanku, Aqua berjalan ke belakang dan menyentuh lembut sayapku. Cahaya hijau hangat keluar dari sana. Perasaan hangat yang sama mengalir ke seluruh bagian sayap.
Ini... sihir penyembuh yang sama dengan mantan Saintess?
Setelah dipikir-pikir, mantan Saintess juga adalah mantan Ratu Elf. Aqua pasti anak atau cucu dari beliau. Aku sudah membuatnya tewas dalam perang karena kesalahanku...
Apa yang harus kulakukan? Bagaimana kalau dia membenciku karena tau itu?
Perasaan bahwa dia bisa saja membenciku ini sangat mengganggu.
Sebenarnya ada apa dengan semua ini?! Siapa anak ini sebenarnya?!! Apa hubungannya denganku?!!!
"Kenapa wajahmu murung begitu? Apa ada yang sakit?"
Suaranya terdengar mencemaskanku. Meski sedikit takut, kuputuskan untuk jujur saja padanya daripada dia mendengarnya dari orang lain.
"........"
Lagi-lagi anak itu hanya diam mendengarkan dengan tenang. Sebelumnya juga begitu, saat aku cerita, dia menyimaknya baik-baik.
"Kukira tentang apa. Tidak perlu khawatir tentang itu. Itu bukan kesalahanmu. Nenekku pasti setuju ikut denganmu dan Gabriel. Kalau tidak, dengan sifatnya, nenek tidak akan datang. Ini hasil dari pilihannya sendiri," jawabnya.
"Apa kamu tidak marah padaku?"
"Aku tidak marah. Kamu sudah bilang sendirikan? Kita tidak bisa mengubah apa yang terjadi di masa lalu. Yang harus kita lakukan adalah berjalan maju sambil belajar dari masa lalu."
Begitu ya... Dia tidak marah... Syukurlah...
Aqua melanjutkan mengobatiku dengan sihirnya. Tak butuh waktu lama sampai sayapku merekat kembali.
"Terimakasih... benar-benar... terimakasih untuk semuanya..." ucapku terharu.
Semua yang Aqua lakukan padaku sampai sekarang terlalu banyak. Meskipun aku bukanlah seseorang yang dia kenal baik, tapi sejak awal pertemuan kami, dia sudah berlaku sangat baik padaku.
Tiba-tiba aku kepikiran. Apa jangan-jangan yang memiliki perasaan aneh itu bukan aku saja?!
Apa anak ini juga punya perasaan bahwa aku dan dia sudah saling kenal sebelumnya?
"Hm? Apa ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Aqua.
Tidak mungkin aku bertanya tentang itu!!! Setidaknya tidak saat ini!!
"Ah... anu... emm... apa yang... kau lakukan ½ tahun ini?"
Setelah sibuk memikirkan pertanyaan lain, hal yang paling ingin kuketahui sebelumnya adalah itu.
Anak itu tersenyum. Lucunya senyuman itu mengandung sedikit kesombongan.
"Aku kembali ke lantai 96 untuk meminta Leviathan melatihku menghadapi tekanan yang jauh dari kemampuanku. Tentu tidak itu saja, aku juga meminta Leviathan melatihku hal yang lain. Sesekali saat bosan, aku naik untuk leveling monster lain. Berkat itu, sekarang aku bisa dengan mudah melewati barrier ini."
Ini... sedikit menggemaskan...
Nadanya terdengar tenang, tapi kenapa ya... telingaku justru mendengar nada yang menyombongkan diri sendiri.
Ah...
Beneran...
Seluruh rasa kesepian yang sebelumnya bisa hilang tak berbekas begitu dia datang.
Perasaanku saat bersama anak ini... jauh lebih nyaman daripada saat aku bersama Arc-Angel lain.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[ Hiks, author terhura sama yang sudah mampir ke chat story ku. Padahal kukira gak bakal ada yang mampir :") karena itu bukan novel. Makasih untuk kalian semuaaa ]
[ Ah, tapi gak perlu sampai kasih hadiah atau vote kalau gak bener-bener suka ceritanya. Kasih di The Dragon's Blue Gem aja, yak... hehehehe :v ]