The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
Chapter 26 [ Identitas Asli ]



Aqua tersenyum pahit, dia jadi mengingat kenangan tak mengenakkan yang dia kubur rapat-rapat. Aqua menyibakkan poni panjang yang menutupi mata kirinya. Aqua selalu membiasakan mata kirinya tertutup dalam keadaan apapun. Tapi kali ini… Mata yang selalu tertutup itu terbuka.


Mata emas dengan simbol cantik yang hanya bisa dimiliki oleh pewaris Kekaisaran Levana menyatu dengan rambut silver Kerajaan Vittacelar. Hanya dengan dua fakta itu saja, orang-orang dapat mengetahui banyak kebenaran.


Anak 13 tahun yang ada dihadapan mereka saat ini bukan hanya Half-Elf rendahan biasa.


Dia adalah Putra Kaisar Kekaisaran Levana dan Putri kedua Kerajaan Vittacelar. Anak yang bisa menjadi jembatan penghubung dua ras yang berbeda. Sekaligus anak yang akan menjadi Putra Mahkota Kekaisaran Levana jika keberadaannya diketahui.


Tak satupun yang ada di sana bisa mengeluarkan pendapat mereka. Rasanya apapun yang mereka katakan tak akan bisa mengekspresikan perasaan mereka saat itu. Dari semua fakta yang Aqua ucapan dari tadi, fakta inilah yang paling mengejutkan semua orang hari ini.


"........ Tentu saja. Tentu saja kamu akan menjadi incaran pembunuh bayaran."


Amethyst mengeluarkan suara untuk memecah keheningan.


"!"


Ratu segera menghentikan lamunannya. Dia juga ikut masuk dalam diskusi ini.


"Kita para Elf memang tak terlalu berhubungan dengan ras lain dan dunia luar. Tapi Kekaisaran Levana berbeda. Karena itu adalah wilayah terbesar di Benua Manusia yang memiliki berbagai ras di dalamnya, termasuk Elf juga."


"Mau tidak mau, sebagai keluarga kerajaan pasti akan mengetahui situasi politik di sana," lanjut Ratu.


Amethyst mengangguk.


"Mungkin kalian sudah tau, Putra Mahkota Kekaisaran adalah Pangeran Kedua, Pangeran Pertama adalah anak kandung ratu saat ini. Jadi banyak yang mendukung fraksi Pangeran Pertama. Apalagi karena kedua pangeran tak punya mata Dragon's Eye. Jadi kedudukan mereka hampir setara. Kaisar sendiri tak terlalu menyayangi keduanya, dia hanya memberi Putra Mahkota bantuan karena ibu Putra Mahkota adalah adik sahabatnya."


"Di situasi seperti ini… apa yang akan terjadi kalau Pangeran Ketiga muncul dan memiliki Dragon's Eye."


"......"


Situasi kembali hening, kata-kata Amethyst membuat banyak orang memikirkan ribuan pendapat dan kemungkinan. Namun ada 1 hal yang pasti dipikirkan semua orang disana.


"Pasti terjadi kehebohan besar. Dalam segi apapun Aqua ada di atas mereka. Terlepas dari Aqua adalah anak diluar nikah, dia jauh lebih baik dari Pangeran lainnya. Bakat? Aku belum pernah melihat anak seperti dia. Darah? Meski dia dari ras yang berbeda, darah bangsawannya itu darah murni. Keturunan? Apa lagi. Guru? Dia murid Ratu Sihir loh. Hanya semua itu saja Aqua sudah memimpin, sekarang ditambah diakui naga pertama sebagai pewaris ( punya Dragon's Eye )."


"Ah… kalau di tambah tunangan jadi lengkap," pikir Aqua geli.


"Aqua yang seperti itu sudah jelas akan diburu assassin sebelum keberadaannya terungkap."


Amethyst mengakhiri pernyataannya. Ratu mengernyit dan memegang kepalanya. Rasanya semua fakta hari ini sudah membuat kepalanya pusing.


"Haah… Sapphire itu… dari semua pria yang ada. Kenapa harus si Kaisar itu?" keluh Ratu sambil berjalan singgasana.


"Jadi Aquamarine. Apa hubungannya marga ini dan balas dendam mu?"


Aqua tersenyum, sejauh ini semua berjalan sesuai rencananya.


"Yang Mulia, menurut anda bagaimana tingkat keberhasilan saya dengan dan tanpa marga Vittacelar?"


"..... Tentu jauh berbeda. Kalau kamu menggunakan marga ini, itu artinya kamu diakui sebagai keturunan keluarga kerajaan Vittacelar. Jika tidak, kamu hanyalah sekedar anak diluar nikah mereka," jawab Ratu capek.


"Seperti yang anda katakan. Saya hanya ingin kesuksesan balas dendam saya saja. Saya tidak bisa membiarkan begitu saja orang yang memisahkan saya dan ibu saya selamanya. Tentang hak waris tahta, sejujurnya saya sama sekali tak tertarik. Baik dari Kerajaan Vittacelar maupun Kekaisaran Levana. Jadi anda tak perlu khawatir, Yang Mulia."


Aqua tersenyum licik. Dia sudah berhasil menggiring opini setiap orang ke arah yang dia inginkan. Amethyst hanya bisa tersenyum kecut melihatnya.


"Anak ini… dia berhasil membuat semua orang menari di telapak tangannya. Kalau sudah begini, bahkan para petinggi akan sulit menolak."


Ratu menghela napas panjang.


"Tentang permintaanmu tadi, aku dengan putri dan para petinggi akan mendiskusikannya dulu. Kamu dan teman-temanmu pergilah menemui Alesta!" seru ratu.


"Citrine! Turquoise! Kalian bisa berkenalan dengan mereka sambil mengantar mereka menemui Alesta. Lagipula Aquamarine itu sepupu kalian."


"Baik, Yang Mulia," jawab dua Elf muda.


"Pertemuan selesai! Putri dan Para petinggi, temui aku diruang rapat!"


"Baik, Yang Mulia!!"


Begitulah situasi menegangkan ini berakhir. Aqua, Lix dan Yue kembali ke kamar bersama untuk mengganti pakaian mereka. Rasanya umur mereka memendek karena adegan tadi. Lix dan Yue langsung menjatuhkan dirinya ke tempat tidur.


Yue dan Lix mengangkat tubuhnya malas. Yue menggembungkan pipinya, dia agak merajuk karena Aqua mengganggu istirahatnya. Lix menatap Aqua tertekan.


Semua yang terjadi hari ini melelahkan, tau! Bagaimana kamu akan mengganti nyawaku yang berkurang?!" kesal Lix.


"Yue mau tidur!! Yue gak mau pergi!"


"Kalian ini… bukannya yang ngotot mau tau rahasiaku itu kian sendiri?"


"Itu bener sih… tapi mana bisa aku nebak rahasianya sudah sebesar rahasia negara gitu," elak Lix.


"....... Kalau sudah begini, biar aku tetapkan. Di Raven, identitas anggota terhadap satu sama lain harus sudah jelas! Jadi bukan cuma aku yang harus bilang identitasku. Kalian juga!"


Aqua jadi sedikit kesal.


"Ehh… merepotkan," malas Lix.


Yue menatap Lix dan Aqua gantian. Wajahnya berseri-seri senang.


"Apa Yue juga boleh bilang itu ke Lix?" tanya Yue dengan nada bersemangat.


"Tentu, kalau itu Lix, aku yakin dia akan terlalu malas untuk peduli," ejek Aqua.


"Kalau gitu sekarang giliran Yue ya! Guhum! Anone, Yue itu bukan manusia!"


Kata Yue dengan PD-nya.


"......"


"Terus?"


Lix bertanya dengan malas. Dia tiduran dengan tangan menyangga kepala.


Yue tidak suka dengan reaksi Lix yang biasa saja. Dia mengambek, mata merah Yue terlihat menyala dan rambutnya perlahan menghitam kembali. Tanduk dan ekor yang sudah disembunyikan Aqua mulai keluar hingga terlihat jelas.


"!"


"Yang kamu maksud bukan manusia itu iblis?" kaget Lix.


"Benar!"


Yue meletakkan kedua tangan di pinggang. Dia merasa bangga karena berhasil membuat Lix terkejut.


Namun Lix hanya terkejut sebentar saja. Dia kembali tiduran lagi seolah tak terjadi apa-apa.


"Kenapa kamu gak lebih kaget?!!!" marah Yue.


"Habisnya… energiku sudah habis. Kaget hanya menghabiskan energi," jawab Lix santai.


Aqua hanya tertawa sendiri melihatnya.


"Syukurlah Yue, bukankah Lix tidak membencimu karena kamu iblis?"


"Sudahlah! Giliran Lix!" marah Yue.


"Aku?"


"........"


Lix sibuk memikirkan sesuatu.


"..... Ya… Aqua pasti sudah tau karena Dragon's Eye. Tapi kamu belum ya…"


Lix ragu mau mengatakannya atau tidak, sejujurnya rahasianya tak kalah besar dari Aqua atau Yue.


"Aku juga bukan sepenuhnya manusia. Aku itu setengah Ashura," kata Lix.