The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 57 [ Raven Masuk Akademi ]



Salju yang turun dengan cepat tanpa memberi jeda waktu untuk menghindar terlihat di balik jendela. Berbeda dengan suasana dingin di luar, bagian dalam gubuk kecil itu sangat hangat.


"5 bulan ya... kalau sudah 5 bulan harusnya Lix sudah masuk Akademi tahun ini. Asalkan semua berjalan sesuai rencana... Debut Raven akan sukses."


Aqua memainkan jarinya karena bosan, tidak ada yang benar-benar bisa dia lakukan selama berada di dungeon selain membunuh monster. Dalam inventory miliknya memang ada beberapa buku, namun itu sudah ribuan kali dia baca ulang karena tidak adanya bacaan lain.


"Aku bosan..."


"Setidaknya aku ingin tau kabar yang lainnya..."


...***...


Akademi Sihir Mackenzie


Seorang anak laki-laki tersenyum bangga memandang sebuah institut yang akan ditinggalinya selama 3 tahun ke depan. Karena menghalangi jalan, dua wanita dibelakangnya memukul kepala anak itu.


"Aduh! Apaan sih?!" marahnya.


Wanita berambut merah muda itu mencubit pelan tangan anak itu.


"Apanya yang apa?! Kamu itu menghalangi jalan orang lain!"


Begitu melihat sosok yang memukulnya tadi, raut wajah yang marah sang anak berubah.


"Eh, Kak Elvina dan Kak Elvira. Baju itu cocok dengan kakak," pujinya canggung.


Elvina terkikik geli, tidak biasanya seorang Feirlyx memuji seperti itu.


"Seragam akademi membuatmu terlihat lebih keren," ejeknya.


"Apa itu maksudnya aku gak keren sebelumnya?" kesal Lix.


"Hahahaha..."


Elvira menghela napas dengan tingkah adiknya, dia mengalihkan pandangannya ke gedung Akademi Mackenzie yang terlihat mewah. Sebuah bangunan dengan desain yang mirip istana berwarna putih dengan hiasan biru dan ungu yang menjulang tinggi.


Ada tiga gedung utama yang tersusun rapi. Beberapa gedung kecil disekitarnya pun terbilang mewah. Tak hanya satu menara saja, ada cukup banyak menara yang mengelilingi gedung-gedung itu. Dibelakang tiga gedung utama, ada sebuah lapangan yang sangat besar dan lapangan kecil untuk berbagai cabang olahraga. Sebuah danau juga terbentang luas di belakang lapangan. Tak hanya itu, pepohonan empat musim mengelilingi lingkungan Akademi seolah tak terpengaruh iklim.


Benar-benar bisa dibilang Akademi terbesar di dunia.


Demi kemajuan Akademi, sebuah kota khusus didirikan hanya untuk Akademi saja. Kota Pelajar Shiesta, sebuah kota yang dibangun untuk Akademi Mackenzie. Kota netral yang tidak memihak wilayah manapun dan hanya menerima pelajar dan profesor Akademi sebagai penghuninya.


Tentu demi membantu siswa, beberapa pedagang juga secara khusus boleh memasukinya untuk menjual perlengkapan yang dibutuhkan dalam proses mengajar belajar. Karena akademi ini adalah akademi sihir yang melatih para penyihir muda, tingkat keamanan disana sangat tinggi, bahkan melebihi istana di manapun.


Dan orang yang membangun serta memimpin Akademi Mackenzie beserta Kota Shiesta adalah...


Sang Ratu Sihir, Vashlana Magiya.


"Dilihat bagaimanapun tempat ini selalu membuatku kagum," gumam Elvira.


"Benar kak, Ratu Sihir benar-benar orang yang menakjubkan. Hanya dalam waktu 10 tahun saja, Akademi yang beliau buat sudah menjadi yang terbaik di dunia," timpal Elvina.


Elvira melihat berkas-berkas di tangannya.


"Sekarang kita malah jadi guru disini, huh."


"Ahaha... apa salahnya? Jadi guru tidak buruk juga!"


"Bukan itu... kamu sendiri taukan. Aku itu... tidak pintar mengajar," ucap Elvira gugup.


"Bukan tidak pintar! Tapi belum saja. Lagipula ini akan menjadi pengalaman pertama kita mengajar sebagai guru, terlebih lagi guru di Akademi Mackenzie."


"Itu... benar sih."


Ada alasan kenapa Elvira dan Elvina berada di Akademi Mackenzie sebagai guru baru. Sebelumnya, Aqua sudah memberikan beberapa misi pada tiga anggota Raven itu. Salah satu misi Elvira dan Elvina adalah menyusup ke Akademi Mackenzie sebagai guru di sana. Karena tidak seperti wilayah lain, hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapat informasi di Akademi. Kalau hanya mengirim Lix saja akan kurang cukup. Selain itu dengan menjadi profesor akademi, akan ada banyak keuntungan yang didapat Elvira dan Elvina yang bisa membantu mereka di misi yang lain.


Lix sudah cukup jauh dari Elvira dan Elvina. Dia melambaikan tangannya pada mereka.


"Dasar anak itu... Ya!! Pergilah duluan!!!" jawab Elvina.


Sudah tak ada lagi siswa didekat mereka berdua, seluruh siswa berkumpul di aula akademi untuk pengenalan ketua dewan siswa dan kepala sekolah. Sebagai catatan, Ashlan adalah pemilik Akademi Mackenzie dan Kota Shiesta, bukan kepala sekolahnya. Bisa dibilang semacam direktur akademi di dunia modern.


"Anak itu sudah pergi... ayo kita masuk juga kak!" ajak Elvina.


Elvira mengangguk dan tersenyum hangat.


"Iya."


Kedua wanita fenrir kembar itu berjalan bersama ke arah gedung besar di tengah-tengah 3 gedung utama. Gedung itu dikhususkan untuk Professor Akademi Mackenzie, kepala sekolah, para dewan siswa dan komite kedisplinan. Serta menara yang menjulang tinggi di sana adalah area Direktur akademi.


"Oh, apa kalian guru baru disini?" sapa seorang pria berkacamata.


Elvira tersenyum ramah, dia menjawab dengan sopan.


"Benar. Apakah anda juga guru disini?"


"Hahahaha! Iya. Aku guru di divisi Attack Magic. Bagaimana dengan kalian?"


Elvina menajamkan matanya. Wanita itu merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan tentang pria dihadapannya.


"Saya mengajar di divisi itu juga. Namun adik saya mengajar di divisi Support Magic," balas Elvira ramah.


Raut wajah pria itu berubah. Padahal tadi dia terlihat sangat ramah pada pendatang baru, tapi kali ini ekspresinya terlihat merendahkan Elvina.


"Hah!? Support magic?!!" decaknya kesal.


"?"


"Apa kau pikir orang sepertimu pantas bersama dengan orang seperti kami?" ejek pria itu.


"šŸ’¢"


Meski tetap tersenyum, Elvira kesal dengan perkataan pria itu.


"Aku sarankan sebaiknya kamu tidak usah dekat-dekat adikmu mulai sekarang. Bersama dengan orang dengan perbedaan level sejauh itu tidak baik untuk masa depanmu," bisik pria itu ke Elvira.


"Oi! Apa maksudmu, hah?!" marah Elvina.


Tanpa mempedulikan kemarahan Elvina, pria itu berdecak kesal dan segera pergi dari mereka berdua. Elvina masih terlihat marah pada ejekan orang yang levelnya jauh lebih rendah dari dirinya itu, tapi kakaknya tetap tersenyum sampai pria itu tak terlihat lagi.


"Ck! Dasar bajingan kecil itu... bahkan ditempat seperti ini juga ada sistem kasta, huh," kesal Elvina.


"Hei... Vina."


"Kenapa kak?"


"Master kita tidak melarang kita melakukan pembunuhan, kan?" tanya wanita itu dengan nada selembut mungkin.


Elvina bergidik ngeri. Meski kakaknya bertanya dengan nada lembut dan wajahnya terlihat ramah, hawa membunuh yang bocor keluar itu bisa menekan siapa saja didekat mereka.


"A-Aqua memang tidak melarang. Tapi... bukankah itu terlalu berlebihan?" jawabnya takut.


"Fufufu... tidak perlu khawatir. Aku akan melakukannya sebersih mungkin," kata Elvira sambil menyeringai menakutkan.


"......"


Elvina tidak bisa berkata-kata. Kalau itu sudah menyangkut dirinya atau masternya, sifat tenang dan rasional Elvira bisa dengan mudah rusak begitu saja.


"..... Lakukan saja yang kakak inginkan. Tapi tolong jangan sampai mengganggu misi kita," ucapnya pasrah.


"Tenang saja. Misi selalu menjadi prioritas pertama. Fufufu..."


"......."