The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 115 [ Kembalinya Sang Pangeran ]



Dipandangnya Turquoise dengan mata yang dingin. Para Elf adalah ras yang angkuh, namun bukan berarti mereka begitu pada siapa saja. Buktinya sekarang tidak ada dari mereka yang berani mengangkuhkan dirinya didepan Raven. Aura dan tekanan yang menunjukkan perbedaan level besar ini tidak bisa mereka lawan.


Pride maju beberapa langkah menuju tempat Turquoise berdiri.


"Jadi dirimulah, Pangeran Turquoise dari ras Elf. Seharusnya dirimu sudah mengetahui tujuan kami datang kemari."


Turquoise merinding, dia belum pernah bertemu orang sekuat ini selain neneknya sendiri.


"Ya. Saya sudah mendengar semuanya dari tetua Elf. Para tetua berkata anda menyelamatkan dan melindungi adik saya. Untuk itu saya ucapkan terima kasih."


Meski dibawah tekanan seorang Pride, Turquoise masih bisa memperlihatkan ketenangannya. Dari situ bisa diketahui kalau tekadnya tidak serendah itu.


"Namun, sudah cukup banyak orang yang mengatakan hal yang sama demi mendapatkan hadiah dari Kerajaan Vittacelar. Darimana saya bisa tau kalau yang anda katakan bukan kebohongan?" tanya Turquoise berani.


Pride sempat tertegun, tak dia sangka Turquoise berani mengatakan itu pada dirinya. Entah lelaki itu benar-benar pemberani, nekat atau bodoh.


"Aku tau. Itulah sebabnya aku membawa buktinya."


"?"


Para Elf dibawah tanda tanya yang besar. Mereka penasaran "bukti" apa yang wanita itu sebutkan. Tentu saja, Turquoise adalah yang paling penasaran dan gugup tentang itu.


Namun semua rasa penasaran yang mereka simpan dalam hati langsung sirna dalam sekejap begitu Lust menarik seorang Half-elf 15 tahun dengan rambut silvernya dari dalam kereta kuda.


"?!"


Sekali lihat saja mereka langsung tau, anak yang dibawa kelompok mencurigakan itu memang Pangeran Kedua Kerajaan Vittacelar yang menghilang.


"Benar yang ini, kan?" tanya Lust dingin.


Wajah bahagia seketika terlukis di wajah para Elf, tentu saja tidak dengan Turquoise. Meski mulutnya tersenyum dan matanya mengeluarkan air mata terharu, dia terus mengutuk dan waspada dengan kemunculan anak didepannya.


"Ohh!! Pangeran Aquamarine... apa ini benar-benar anda?" tanya tetua Elf dengan raut wajah terharu.


"Itu Yang Mulia Pangeran!!!"


"Pangeran Aquamarine kembali!!!"


"Pangeran!!!!"


"Apa anda baik-baik saja?!!"


Sorakan demi sorakan terdengar memenuhi Kerajaan Vittacelar. Semua Elf disana bahagia melihat Pangeran baik hati mereka yang hilang 1,5 tahun lalu dan diduga telah tiada bisa kembali.


"A-Aqua?" tanya Turquoise khawatir.


"Apa ini... benar-benar kau?"


Para Elf menantikan respon Aqua, apa yang akan dikatakannya begitu dia akhirnya kembali ke rumahnya?


"T-Tidak!! Aku bukan Pangeran!!! Siapa kalian?!! Sebenarnya ada apa ini?!!" jerit Aqua histeris sambil melepaskan diri dan masuk kembali ke kereta kuda.


"?!!"


Respon yang diberikan sang Pangeran jauh berbeda dari dugaan mereka. Bukannya senang atau terharu bisa kembali dengan selamat, Pangeran Aquamarine justru meringkuk ketakutan di dalam kereta kuda.


"Ada apa ini?! Kenapa Aqua bertingkah seperti itu?!" kaget Turquoise.


Kali ini Envy maju tak jauh dari Pride. Dia mulai menjelaskan situasinya pada Turquoise.


"Kami memang mengatakan kalau kami menyelamatkan Pangeran kalian dan melindunginya. Tapi kami tidak bilang kalau keadaannya baik-baik saja."


"Seperti yang bisa kalian lihat, Pangeran Aquamarine tidak dalam kondisi baik-baik saja. Begitu kami menemukannya saat sedang menjelajah dungeon, Pangeran Aquamarine pingsan tak jauh dari jasad Putri Citrine."


"Entah karena gejala shock berat atau benturan di kepalanya, ingatan Pangeran Aquamarine berantakan dan mentalnya terganggu. Yah, kami bisa saja membuangnya saat itu. Tapi melihat warna rambutnya dan informasi yang kami miliki, sepertinya lebih baik membawanya kembali ke Kerajaan Vittacelar."


"Kehilangan ingatan dan... mentalnya terganggu?!" shock Turquoise.


Envy mengangguk tanpa rasa bersalah. Mendengar jawaban Envy dan keadaan Aqua secara langsung, membuat para Elf yang semula senang langsung lemas.


"Ba-bagaimana itu... bisa terjadi?"


Wajah Turquoise memperlihatkan bahwa dirinya sangat tertekan dan putus asa. Namun jauh didalam hatinya, dia menari senang. Karena meskipun adiknya berhasil kembali, dia tetap tidak bisa membahayakannya.


Tentu saja Turquoise bukanlah orang yang ceroboh hingga tidak memastikannya. Dia membawa alat pengecek kebohongan dan pengukur kekuatan bersamanya. Dan hasilnya adalah...


Kelompok didepannya tidak berbohong. Dan kekuatan Aqua benar-benar tidak berubah sejak terakhir kali dia melihatnya. Atau mungkin justru sekarang berkurang karena keadaannya.


"Jangan buang waktu kami lebih lama! Kami cuma ingin mengantarnya dan langsung kembali. Apa kau mau membawa anak itu atau tidak?! Dia ini benar-benar merepotkan!" seru Pride menyadarkan Turquoise dari lamunannya.


"Ah, maafkan saya. Cukup sulit bagi saya untuk menerima situasi ini. Anda tidak perlu khawatir lagi, aku akan merawat adikku baik-baik. Terimakasih sudah membawanya kesini. Tolong katakan saja apapun permintaan kalian! Saya akan berusaha sebisa mungkin memenuhinya sebagai bentuk terimakasih saya!"


Begitu cepat Turquoise menyatu dengan situasi. Dia langsung bertingkah seperti seorang kakak yang baik dan sangat menyayangi adiknya. Tentu itu membuat Elf lain tersentuh akan kasih sayang Turquoise.


Tapi itu justru membuat Raven jijik.


"Tidak perlu. Cukup ambil saja dia lagi. Kami akan melanjutkan urusan kami."


Begitu selesai mengatakan itu, seluruh anggota Raven langsung teleport ketempat yang tidak diketahui, meninggalkan kereta kuda dengan Aqua yang masih meringkuk ketakutan didalamnya.


"Huft... apa-apaan mereka ini? Tidak sopan sekali. Yah... syukurlah mereka tidak meminta imbalan," batin Turquoise kesal.


Dengan hati-hati dan penuh lemah lembut, Turquoise mendekati Aqua. Disentuhnya anak itu perlahan agar dia tidak terlalu waspada dan takut.


"Tidak apa-apa... semua akan baik-baik saja."


"Si-siapa kau?! Apa yang kau mau dariku?!" takut anak itu.


Turquoise tersenyum lembut penuh kehangatan.


"Lihat, warna rambut kita sama. Ini adalah warna rambut keluarga kita. Hanya keluarga kita yang memiliki warna rambut seperti ini."


"K-keluarga?!"


"Ya. Aku kakak laki-laki mu. Dan kamu adik laki-laki ku. Aku tau kamu sudah mengalami banyak masalah. Syukurlah kamu bisa kembali dengan selamat. Selamat datang kembali di rumah, adikku."


Mendengar kalimat penuh kehangatan seperti itu, membuat Aqua tak kuasa menahan air matanya. Dia memperlihatkan wajah bagai sudah lama tidak bertemu cahaya. Dalam waktu singkat, Aqua melompat ke pelukan Turquoise dan menangis meraung-raung.


"Kakak!!!!!" tangisnya deras.


"...!"


Meski agak lambat merespon, Turquoise langsung memeluk adiknya dan menepuk-nepuk punggungnya.


"Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Lupakan hilang ingatan. Kamu kembali dengan selamat saja sudah membuatku sangat bersyukur pada Dewi."


Melihat adegan mengharukan itu membuat seluruh Elf disana tak kuasa menahan air matanya. Mereka terbawa perasaan kakak adik yang berpisah dan bertemu kembali meski dalam keadaan yang menyedihkan. Semuanya bersyukur pada Dewi karena Dewi mengembalikan Pangeran mereka dengan selamat.


"Tunggu apa lagi?! Tutup gerbangnya!!! Adikku sudah kembali, biarkan dia beristirahat dulu di istana. Setelah itu kita akan merayakan pesta besar!!!" jerit Turquoise menggembirakan hati semua Elf.


"Ka-kakak??"


Layaknya perintah pangeran ini, para Elf langsung menutup gerbang dan berbaris rapi sampai ke istana sambil menebarkan bunga-bunga sebagai wujud rasa bahagia mereka.


"Tidak apa-apa. Aku akan menjelaskan kembali semuanya padamu. Jangan terburu-buru, kita bisa membangun kembali semuanya perlahan-lahan. Pertama terimalah statusmu sebagai Pangeran Kedua di Kerajaan ini. Kamu layak mendapatkan sorakan ini," senyum Turquoise menghangatkan Aqua.


Ekspresi Aqua menghangat, rona merah diwajahnya mulai menghiasi wajah pucatnya.


"Emm..."


.


.


.


.


.


.


.


Sementara itu di suatu tempat


"Wah... kalau tuh bajingan daftar ke Hollyw*od, aku yakin dia akan memperoleh penghargaan aktor terbaik," ejek Sloth sambil memperhatikan mereka dari teleskop senapannya.


TAP TAP TAP TAP


Langkah kaki yang terdengar mendekatinya, diabaikan begitu saja.


"Kalian sudah kembali?" tanya Sloth datar.


"Apa kamu memperhatikan dari tadi?" balas Envy dengan pertanyaan lainnya.


"Tentu saja. Aku inikan sniper."


Sloth melirik sebentar ke Raven lainnya.


"Bagaimana perasaan kalian saat menyaksikan langsung?"


Wrath menggeram kesal, dia membaringkan dirinya di rumput begitu saja.


"Ya begitulah. Apa yang harus dikomentari?!"


"Bajingan itu sama sekali tidak sadar kalau aku pernah bertemu dengannya."


"Fufufufu... bukankah itu hal yang bagus? Artinya penyamaran kita sempurna," tawa kecil Pride.


"Tapi aku tetap kesal!"


"Benar juga. Awalnya aku ragu kenapa kita harus capek-capek melakukan sandiwara ini..." timpal Lust.


"Tapi setelah dipikir-pikir... yang Gluttony katakan memang benar. Untuk bajingan sepertinya... dihancurkan secara telak oleh orang yang jauh lebih kuat itu tidak memuaskan."


"Ara-ara... pemimpin kita cukup sadis juga," senyum Pride.


"Bocah ini benar-benar tau cara terbaik untuk balas dendam," ujar Sloth dengan seringai khasnya.


Bayangan ingatan tentang hal yang dikatakan Gluttony pada mereka beberapa saat sebelum datang ke Kerajaan Vittacelar tiba-tiba terlintas.


"Hmm... apa yang harus kulakukan...? Menurut kalian lebih sakit yang mana? Dihancurkan oleh orang yang lebih kuat darimu secara telak


atau dihancurkan sedikit demi sedikit dari orang yang kau kira lebih lemah darimu?" senyum Gluttony licik.


"Tentu saja jawabannya sudah jelas~ Dia yang menghancurkanku dulu disaat ekspetasiku sangat tinggi, tentu harus dihancurkan saat ekspetasi nya sangat tinggi juga."