The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S2) Chapter 121 [ Balas Dendam Aqua ]



Para Raven sudah tak ada lagi. Dengan kata lain, Aqua kehilangan perlindungannya. Turquoise pikir ini adalah kesempatan untuk melarikan diri bersama anaknya sembari membalas kematian kekasihnya.


Tapi tidak semudah itu.


Sebelum Turquoise sempat melakukan apa-apa, Aqua melemparkan pedangnya ke langit hingga menarik perhatian semua orang.


"Nah, nah... perubahan rencana. Karena Pangeran Turquoise memutuskan melindungi anaknya dan menjadi musuh Kerajaan. Aku tidak bisa lagi membuat kalian membalaskan dendam sendiri-sendiri. Itu terlalu berbahaya."


"Jadi..."


DAAAARRGGG


Pedang meluncur ke bawah dengan cepat dan menancap tanah tak jauh dari Aqua. Pada waktu yang sama, pedang itu mengeluarkan cahaya merah keunguan dan memunculkan array yang mengelilingi Aqua dalam radius 5 m.


"Biarkan aku yang mewakili kalian. Aku akan menjamin, akhir bagi mereka yang menjadi musuh Kerajaan Vittacelar tidak hanya sebatas kematian," seringai Aqua.


[ Silent Barrier ]


Array yang keluar dari pedang semakin menutupi Aqua, Turquoise dan kedua anaknya. Dalam waktu singkat, array itu membentuk sebuah Barrier yang jika dilihat dari luar, maka hanya terlihat warna merah keunguan. Ditambah karena suara dari dalam barrier juga tidak terdengar, para Elf diluar Barrier tidak akan mengetahui apa yang terjadi didalamnya.


Karena tidak ada yang melihatnya, Aqua tidak punya alasan menahan dirinya. Topeng Pangeran ramah dan ceria namun tegas menegakkan keadilan sudah dilepasnya. Sekarang yang tersisa hanya bocah baru dewasa yang diingatkan kembali akan kematian kakaknya.


"Sudah cukup main-mainnya," ucap Aqua sambil menutup mata dengan tangan kiri.


Anak itu menyibak poni panjangnya ke atas hingga terlihat seperti model undercut. Karena itu, kedua mata beda warna yang Aqua miliki jadi terlihat jelas. Sorot matanya mendingin, aura membunuhnya kembali keluar. Berbeda dari anak polos yang terkesan tidak berbahaya sebelumnya, kini bahkan anak kecil pun tau kalau dia berbahaya.


Turquoise mengeluarkan keringat dingin. Rasanya aura yang Aqua pancarkan mirip dengan naga. Seluruh instingnya menyuruhnya untuk kabur.


"Ck, aku tidak boleh ragu disini! Nyawa Veni dan Khorin ada di tanganku. Aku harus melindungi mereka!!"


Turquoise langsung merapalkan mantra, namun seperti yang terjadi pada kekasihnya, lingkaran sihirnya langsung hancur.


"Tidak ada gunanya, kita tidak bisa menggunakan sihir didalam sini," kata Aqua dingin.


"...... Mari kita buat kesepakatan," ucao Turquoise tiba-tiba.


Aqua tidak merespon, jadi Turquoise memberanikan diri berbicara.


"Aku akan melakukan apapun yang kamu mau. Bahkan jika kamu menyuruhku mati atau hidup seperti neraka, akan kulakukan! Tapi sebagai gantinya, tolong jangan sentuh anakku."


Sebagai bentuk ketulusan hati, Turquoise memohon sampai bersujud pada Aqua. Itu karena dia tau, begitu Aqua memancarkan aura naga, dia tidak akan bisa menang. Karena perbedaan level yang terlalu besar.


"Ayahanda!!!" jerit Veni dan Khorin bersamaan.


"Ayahanda! Jangan lakukan itu!!! Apa gunanya memohon pada bajingan sepertinya!!!!?" marah Veni.


"Benar ayahanda, jangan menyerah!! Bukankah ayahanda adalah yang terkuat didunia?!" tangis Khorin.


Tapi meski kedua anaknya memohon-mohon dan menyemangati Turquoise. Elf itu tidak bergerak sedikitpun, dia terus bersujud memohon belas kasihan Aqua pada kedua anaknya.


"Hal paling berbahaya dari sebuah kebaikan tak bermakna adalah meninggalkan bibit yang bisa menghancurkan diri sendiri atau orang yang disayangi," kata Aqua tiba-tiba sambil memakai sarung tangan.


"?"


"Aku paling tau itu. Guruku pernah mengatakan padaku, jika kau ingin membunuh seseorang, maka bersiaplah untuk dibunuh juga oleh orang itu ataupun orang yang menyayanginya. Jadi jika kau tidak ingin di masa depan harus menanggung itu, maka habisi semua yang berhubungan dengannya."


Mendengar itu, menyadarkan Turquoise bahwa keputusan Aqua tidak bisa diganggu gugat.


"Begitu, kalau begitu jangan salahkan aku."


Pria itu tanpa ragu memakan sesuatu dari kantungnya. Terlihat sesuatu itu adalah kristal Ruby yang terlihat sangat cantik. Namun di mata Aqua, aura hitam keluar dari kristal itu.


"Ayahanda!!!! Jangan!!!!!!!" jerit Veni hampir menangis.


"Tidak!!!! Kakak, hentikan ayahanda!!!!!!!!"


Turquoise tersenyum menatap kedua anaknya. Sudah terlambat, pria itu sudah menelan kristal merah tersebut.


"Veni, saat barrier ini hancur... terbang lah dengan adikmu yang jauh."


Itulah kata-kata terakhir Turquoise sebelum aura hitam dari kristal menutupi seluruh tubuhnya.


"GAAAHHHHHHHGGGKKK!!!!!!!"


Suatu perubahan mengejutkan terjadi. Mata Turquoise berubah merah dan sklera nya (bagiaj putih pada mata) mengutam. Rambut perak itu ternodai oleh warna hitam, tanduk tumbuh di kepalanya dan ekor keluar dari tubuhnya.


"AYAHANDA!!!!!!!!!"


"Hmm... kristal yang dia makan itu... inti iblis ya... darimana dia mendapat sesuatu seperti itu?" batin Aqua


Baik kecepatan maupun kekuatan jauh melampaui batas normal. Dia bergerak sangat cepat didalam barrier hingga sulit dilihat mata telanjang.


"Kamu yang memaksaku menggunakan benda ini!!!! Jangan menyesal!!!!" teriak Turquoise di sela-sela pertarungan.


Turquoise melancarkan serangan demi serangan pada Aqua dari berbagai sisi. Aqua sama sekali tidak menghindarinya dan hanya dia menatap dingin. Namun anehnya, luka yang Turquoise sebabkan langsung sembuh saat itu juga.


"Apa?!!!"


Mata Aqua terlihat bosan, padahal dia sudah cukup menunggu balas dendam ini dari dulu. Tapi entah kenapa... saat itu sudah didepan mata, rasanya membosankan.


"Ini yang kau sebut perubahan? Membosankan. Apa seharusnya aku membuka segel sihirnya saja, ya?" keluh Aqua.


"Ah, tapi aku sudah membuat perjanjian untuk jangan memakai sihir. Apa boleh buat, aku akan bersenang-senang dengan cara lain."


Aqua langsung mencengkeram kepala Turquoise yang meluncur ke titik butanya.


"!!"


"Biar kutunjukkan padamu, apa itu wujud perubahan yang sesungguhnya."


Untuk pertama kalinya setelah keluar dungeon, Aqua memperlihatkan wujud dragonman nya secara penuh. Mata kuning dan birunya memunculkan tanda yang mirip dengan mata kucing. Sisik silver muncul di tangan dan kakinya. Tanduk, ekor dan sayap naga silver itu kembali muncul.


Berbeda dengan Turquoise yang berubah dengan membayar harga, Aqua bisa dengan bebas memunculkan wujud itu. Tetapi saat itu terjadi, sifatnya akan sedikit berubah.


Senyuman menyeramkan menghiasi wajah tampan Aqua.


"Inilah yang disebut wujud perubahan."


DAAAAAARRRRRRGGHHHH


Tanpa basa basi, Aqua langsung membanting kepala Turquoise ke tanah hingga tanahnya hancur.


"Gohkk!!!"


Mulut Turquoise mengeluarkan darah. Dia tidak sempat bereaksi saking cepatnya.


"Eh? Sudah? Gitu aja? Menyedihkan..." ucap Aqua merendahkan.


"Yasudahlah, toh yang terbaik untuk menghukum orang sepertimu bukan dengan siksaan."


Aqua melepas kepala Turquoise. Anak itu mengeluarkan tongkat perak tajam dari tangannya. Satu persatu dia tancapkan tongkat pendek sepanjang lengannya itu ke kaki kanan dan kiri Turquoise, tangan kanan dan kiri dan Turquoise dan seluruh titik gerak tubuhnya. Tongkat itu menancap dalam ke tanah dan menahan tubuhnya.


Berkali-kali Turquoise menjerit kesakitan, namun Aqua hanya tersenyum dan tidak mempedulikan semua itu.


"Selesai," senyum Aqua begitu melihat 24 tongkat silvernya tertanam rapi di tubub Turquoise yang tengkurap menghadap anaknya.


Dengan wajah sangat kesakitan, Turquoise berusaha mempertahankan kesadarannya.


"Kamu... apa yang... mau kau lakukan?!"


"Membuatmu merasakan neraka yang sama denganku," jawab Aqua dingin.


Melihat Aqua berjalan ke arah anaknya setelah mengatakan itu, membuat pikiran-pikiran negatif langsung memenuhi kepala Turquoise. Hal yang akan Aqua lakukan sudah pasti.


"Hentikan..." geleng Turquoise.


"HENTIKAN!!!!!!"


"JANGAN SENTUH ANAKKU!!!! AKU MOHON PADAMU!!!!!! KAMU DENDAM PADAKU, KAN!!!! SIKSA SAJA AKU SESUKAMU!!!!!!!!!!!"


Tanpa mempedulikan sedikitpun apa yang Turquoise lontarkan, Aqua menendang Khorin dengan keras hingga menabrak dinding barrier dan muntah darah hingga pingsan.


"Giliranmu masih nanti," kata Aqua dingin.


Karena Veni dan Khorin sudah kehilangan kedua kakinya, mereka hanya bisa terbang sedikit-sedikit untuk bergerak. Merasakan bahaya datang, sekuat tenaga Veni mengepakkan sayapnya. Namun apa daya? Baru melayang sedikit, sayapnya langsung disobek oleh Aqua.


"ARHHHHHHHH!!!!!! SAKITT!!!!!!!" jeritnya kesakitan.


"Veni!!!! Hentikan!!!!!!!"


Segera Aqua membanting gadis kecil itu hingga tengkurap didepan ayahnya dan menindih punggung kecilnya tanpa rasa kasihan. Rambut Veni dijambak tinggi hingga leher gadis itu hampir lepas.


"Lihat baik-baik! Inilah hukuman karena sudah berani menyentuh orangku!"