
(Song: Broken Angel/ Arash)
"I'm so lonely broken angel š¶"
"I'm so lonely listen to my heart šµ"
"On n' lonley, broken angel š¶"
"Come n' save me before I fall apart šµ"
Diterangi cahaya bulan yang begitu indah meski di tengah gelapnya malam, nyanyian seorang perempuan dengan rambut emas terdengar begitu merdu dan indah. Ia duduk bersila di atas rerumputan di temani semilir angin malam yang menerbangkan rambutnya perlahan. Perempuan itu mulai memelankan suaranya hingga lagu yang dia nyanyikan benar-benar tergantikan dengan keheningan. Dilihatnya keindahan bulan dengan mata yang sulit diartikan.
"Tolong selamatkan dia..."
Kata-kata itu kembali terngiang di kepalanya. Mendesahlah gadis itu setelah beberapa saat.
"Meski kau bilang begitu... bagaimana caraku menyelamatkannya?"
Gadis vampir dengan rambut emas itu menggambar sesuatu di pasir dengan telunjuknya.
"Aku saja masih belum memahami situasi ini sepenuhnya. Tiba-tiba reinkarnasi ke dunia yang mirip dengan game. Tiba-tiba diminta menyelamatkan seseorang yang wajahnya serupa dengan diriku di kehidupan sebelumnya. Tiba-tiba bertemu orang-orang yang dipanggil dari dunia lamaku."
"Apa yang harus kulakukan... kakak...?"
"....."
"....."
"....."
"!"
"Tunggu..."
"Aku teringat sesuatu."
Rubylia Arsilla mendongakkan kepalanya dan melihat menara tempat dia dan teman-teman barunya berkumpul tadi.
"Aku sempat lupa karena diingatkan permintaan Aqua... tapi tadi itu... obat bius!?"
"Obat bius kan gak ada di dunia ini. Tapi si Mika itu menciptakan itu? Eli dan Aqua juga kayaknya udah tau dari awal apa itu obat bius. Apa jangan-jangan salah satu dari mereka atau malah mereka semua itu... reinkarnator? Sama sepertiku?"
"Kalau benar... itu menjelaskan kenapa begitu banyak perubahan yang terjadi di dunia ini. Kalau Aqua itu reinkarnator... tak heran dia keluar dari panti lebih cepat dan belajar di Hutan Sihir bersama Vashlana Magiya. Tak heran orang-orang penting dari game bisa berada di sekitarnya. Dan tak heran Citrine yang harusnya masuk akademi tahun ini dan menjadi Saintess di masa depan bisa mati terlalu awal."
".........."
"Tidak... memang apa gunanya tau itu. Meski Aqua memang reinkarnator sekalipun, itu tidak ada hubungannya denganku. Hubungan kami akan berakhir setelah aku selesai membantunya menyelamatkan kekasihnya."
Ruby berdiri perlahan-lahan sembari membersihkan gaunnya yang sedikit berdebu.
"Aku harus segera menyematkan cewek itu dan membalas Budi ke Aqua. Lalu, aku akan meninggalkan akademi dan berkelana mencari kakak."
"Aqua bahkan menempatkan kamarku tepat sebelah kamar ceweknya biar aku bisa mengunjunginya kapanpun. Ini sudah seminggu sejak masuk akademi, sampai sekarang aku masih belum mengunjunginya meski hanya sekali."
"Kenapa ya? Rasanya berat mau mengunjunginya... setiap kali aku melihat wajahnya, dadaku sesak..."
"Tapi aku tidak bisa menghindar lagi, kan? Semuanya melakukan yang terbaik yang mereka bisa untuk menyelamatkan cewek malaikat itu, aku juga harus melakukan yang terbaik karena mereka mengandalkanku."
"Oke, besok setelah pulang sekolah. Aku akan mampir sebentar," tekad Ruby.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya ~
Ruby berjalan pelan menuju gedung divisi attack magic setelah keluar dari gedung asrama wanita. Tak seperti murid lainnya yang berjalan bersama teman-teman mereka, Ruby hanya sendirian saja. Kebanyakan dari mereka menghindarinya. Bukan karena dirinya adalah bangsawan tinggi atau karena dia mantan tunangan putra mahkota Kekaisaran Levana. Mereka menghindarinya karena dirinya adalah vampir, seakan telah menjadi insting bagi mangsa untuk mengindari predator.
"Padahal bukan berarti aku akan memakan kalian hidup-hidup begitu, kan?" batin Ruby melihat reaksi ketakutan siswa yang melihatnya.
Ruby menghela napasnya kecil. Dia sudah terbiasa dengan perlakuan itu sejak dirinya lahir sebagai Rubylia Arsilla, jadi dia tak terlalu mempedulikannya. Hanya saja, ini agak merepotkan baginya karena terkadang guru akan memberikan tugas kelompok. Untung saja ada Eli dan Pietro yang dengan senang hati menjadi teman sekelompoknya saat itu terjadi.
Seperti yang telah diketahui bahwa ada 3 gedung utama di Akademi Mackenzie dan beberapa gedung besar yang merupakan cabangnya. 3 gedung utama itu dibedakan menjadi:
Gedung Tengah ā Markas Utama
Tempat para OSIS, guru, kepala sekolah dan direktur akademi berada. Serta fasilitas umum seperti aula, ruang arsip, ruang multimedia, UKS utama, dsb.
Gedung Kiri ā Divisi Garis Belakang
Berisi kelas-kelas untuk Divisi Healing Magic dan Support Magic.
Gedung Kanan ā Divisi Garis Depan
Berisi kelas-kelas untuk Divisi Attack Magic dan Protective Magic.
Kelas untuk Divisi Magic Tool sendiri berada di menara utama yang memang lebih cocok untuk para penemu muda agar dapat berkonsentrasi dan tak terganggu keramaian divisi lain.
"Hei, apa kamu udah ngambil Divisi Mission?"
"Jangan ngawur! Mana mungkin anak kelas 1 kayak kita bisa ngambil. Baru juga seminggu kita mulai pelajaran."
"Ehh... apanya yang ngawur, udah banyak yang ngambil tau!"
"Siapa?"
"Tuan Putri Elf udah ambil beberapa sekaligus. Orang-orang dunia lain juga masing-masing ngambil terus kerja sama nyelesaiin. Timnya Putra Mahkota Levana juga sibuk basmi monster."
".... Mereka itu yang pantas disebut monster. Gila banget gak sih itu!! Dibilangin baru juga seminggu jadi murid, udah ngebet aja mereka."
"Aku juga pingen ambil Divisi Mission!"
"Coba aja sana! Kalau bisa diizinin pengajar ya silahkan."
"Itu yang susah!! Biasanya yang mata pelajarannya dapet B-A itu kan bisa ambil. Tapi kita mana bisa, orang belum ujian juga!"
"Yah, aku sih selama punya poin yang cukup buat lulus, dah cukup kok. Ngapain juga sibuk nyari poin, ngehabisin masa muda aja."
"Poin bisa membeli segalanya loh. Mereka itu sekarang kek sultan akademi loh."
"..... Emang poin mereka berapa sekarang?"
"Lebih dari 500. Malah Si Tuan Putri itu katanya lebih dari 1000."
"Dalam seminggu!!?? Gilak!!!!"
"Makanya!!!!"
Obrolan yang didengar Ruby ketika dia meletakkan sepatu luar ruangannya ke rak sepatu dan menggantinya dengan sepatu dalam ruangan membuat gadis itu terhenti sejenak. Hingga kedua murid baru itu berjalan melewati Ruby, Ruby diam mendengarkan.
"Divisi Mission ya... itulah kenapa Aqua dan yang lainnya sangat sibuk akhir-akhir ini," batin Ruby agak tidak peduli.
Ruby kembali berjalan pelan menuju kelasnya.
"Yah, itu tidak ada hubungannya denganku. Karena aku akan keluar dari sini secepat mungkin, begitu aku membalas budiku ke Aqua."
[ Divisi Mission ]
Masing-masing divisi menyediakan cara yang berbeda untuk mendapatkan poin, namun cara termudah dan menghasilkan hasil terbanyak adalah dengan menyelesaikan Divisi Mission. Seperti namanya, Divisi Mission adalah misi khusus yang diberikan pada para siswa yang dirasa mampu. Untuk mengambil Divisi Mission, perlu tanda tangan setidaknya 3 pengajar yang terkait sebelum mengajukan pengajuan misi.
Divisi Attack Magic yang berfokus pada sihir serangan biasanya mendapatkan misi yang berhubungan dengan pemusnahan monster atau bandit. Semakin tinggi rank monster yang kau bunuh, maka semakin tinggi pula poin yang kau dapatkan.
Divisi Protective Magic dapat memperoleh poin dengan melakukan misi perlindungan atau pengawalan yang datang dari luar akademi. Seperti pedagang yang butuh pengawal saat berpergian, hingga penjagaan yang diminta oleh bangsawan. Poin misi dari sini lebih sulit di hitung daripada misi lainnya karena tak adanya tolak ukur atau batasan. Para siswa yang menyelesaikan misi akan mendapatkan "uang" dari orang yang mereka jaga tergantung dari tingkat kepuasan mereka. Lalu uang itu akan ditukar menjadi poin oleh akademi.
Cara Divisi Healing Magic berbeda dari Divisi lainnya. Misi yang mereka lakukan bukanlah suatu permintaan namun lebih ke magang. Para siswa harus menghabiskan waktu cukup panjang saat sedang dalam misi karena mereka akan dikirim menjadi healer pembantu di beberapa rumah sakit di berbagai kerajaan. Meski terkadang ada juga misi jangka pendek yang datang karena kebutuhan healer yang meningkat di party-party tentara bayaran dan prajurit. Dari semua divisi, divisi inilah yang menghabiskan waktu paling banyak namun menghasilkan poin paling banyak juga.
Divisi Magic Tool melakukan kerja sama dengan pedagang sebagai Divisi Mission mereka. Mereka dapat melakukan negosiasi untuk menjual setiap benda sihir yang mereka ciptakan. Dari akademilah, koneksi mereka dengan pedagang besar dapat terbentuk.
Divisi Support Magic biasanya mendapatkan misi dari para peneliti yang butuh bantuan assisten atau party yang butuh support dari mereka. Salah satu alasan divisi ini jarang diminati juga karena misi untuk mereka jauh lebih sedikit dari divisi lain dan sekalipun ada, jarang ada yang menghasilkan poin besar.
Selain dari divisi sendiri, siswa juga dapat mendapatkan poin dari Divisi Mission divisi lain jika siswa tersebut mengikuti kelas tambahan divisi itu dan pengajar utama divisi itu mengizinkan siswa tersebut diluar 3 pengajar yang sebelumnya.
Dapat juga dilakukan dengan "Free Divisi Mission" atau misi bebas untuk setiap divisi. Misi bebas ini bukan berarti semua orang dapat mengambilnya. Namun lebih ke sebuah misi yang perlu kerja sama dari berbagai divisi. Dengan kata lain, ini adalah misi yang membutuhkan party dari berbagai divisi yang terkait misi tersebut. Keuntungan poin misi tersebut akan terbagi menurut kontribusi dalam menjalankan misi.
Semua poin yang mereka dapatkan, dapat ditukar menjadi koin yang merupakan mata uang khusus Akademi Mackenzie dan Kota Siesta. Karena poin terlalu berharga untuk digunakan sebagai alat jual beli peralatan sehari-hari. Sebagai catatan, poin dapat ditukar menjadi koin namun koin tak dapat ditukar menjadi poin. Uang asli juga tidak bisa ditukar menjadi koin atau poin tanpa melalui prosedur Divisi Mission atau keadaan darurat. Jadi berhati-hatilah memutuskan berapa banyak poin yang akan kau tukar.
1 Poin setara dengan 1000 Koin.
Yang jika dijadikan "Collan", mata uang Demetria. Maka 1 koin akademi juga setara dengan 1 Collan. Atau 1 Poin setara dengan 1 koin emas kecil.