The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
Chapter 9 [ Master Kembali ]



NORMAL POV


Begitulah hari demi hari mereka lewati bersama. Lama kelamaan, mereka menjadi semakin akrab. Mereka saling berbagi informasi yang tak mereka tahu. Aqua merasa mempunyai adik perempuan baru dan Ruby merasa senang punya teman pertamanya.


BUK BUK BUK BUK BUK


Suara langkah kaki yang berat dan cepat terdengar.


"AAQUUUUAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!"


Jeritan seseorang mengejutkan Aqua dan Ruby yang sedang bersantai sambil memakan camilan di meja. Seorang wanita yang tampak sedikit berantakan terengah-engah didepan pintu rumah.


"Master?" kaget Aqua.


Dia segera berlari dan memeluk Aqua dan menguyel-uyel pipinya.


"Aku merindukanmu!!! Apa-apaan surat yang kamu kirim itu!? Karena surat itu aku segera menyelesaikan pekerjaanku dan pulang kau tau?" keluh wanita itu.


Ruby tidak bisa berkata-kata melihatnya. Ada berbagai alasan yang membuat Ruby seperti itu. Selain karena kaget dengan tingkah tiba-tiba wanita itu, alasan lainnya adalah Ruby sangat mengenal wanita itu.


"Va…"


"WAHH!!!!!! Ternyata ada Nona Arsilla! Apa muridku berbuat tidak sopan ke Nona?"


Ucapan Ruby terpotong oleh pertanyaan Ashlan. Ruby bingung, harus melanjutkan atau tidak. Dia hanya menggeleng menjawab pertanyaannya.


"Master, berhenti melakukan itu didepan tamu," kata Aqua kesal.


Aqua melepas pelukan Ashlan.


"Tamu… ya."


Ashlan diam mengamati Ruby dari atas hingga bawah. Walau tak kelihatan, Ruby gugup karena dipandang seperti itu.


"Nona Arsilla!"


"Ya!"


"Aku sudah membicarakan tentangmu yang berada di rumahku dengan ayahmu. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Sekarang ayahmu ada di menara sihir. Ini kertas teleportasi, pergilah temui ayahmu. Ada yang ingin kubiarkan secara pribadi dengan muridku," kata Ashlan ramah, namun terdengar nada tegas didalamnya.


Hanya mendengar itu saja, Aqua sudah tau kalau gurunya sedang dalam mode serius. Biasanya Ashlan adalah wanita kekanakan yang suka bermain-main, tapi adakalanya dia serius. Dan saat Ashlan seperti itu, Aqua akan sangat menghormatinya.


"Menara sihir? Apa master bekerja disana? Ya, master pernah bilang kalau kebanyakan penyihir bekerja di menara sihir sih."


Ruby menatap Aqua, dia bingung apa dia harus pergi begitu saja meninggalkan Aqua. Dia ingin segera menemui ayahnya, namun dia juga enggan meninggalkan Aqua. Aqua yang menyadari tatapan Ruby tersenyum hangat.


"Pergilah, jangan khawatirkan aku. Suatu saat nanti aku pasti akan menemuimu lagi. Lagipula kita sudah terikat," ucap Aqua.


Ruby mengangguk, dia berpose salam ala wanita bangsawan. Ruby juga tak lupa berterima kasih untuk semua yang telah Aqua lakukan padanya dan juga ke Ashlan yang sudah membantunya. Ashlan menatap Ruby dengan tatapan yang sulit diartikan. Tidak ada yang tau apa yang dipikirkan Ashlan saat itu.


"Nona Arsilla, Aqua tidak akan bisa menemanimu di pesta ulang tahun ke-12 mu, begitu juga untuk tahun-tahun setelahnya. Ada beberapa hal yang harus dilakukan Aqua. Tapi aku bisa menjamin saat pesta perayaan kedewasaanmu, aku sendiri yang akan membawa Aqua untuk menemanimu," ujar Ashlan yakin.


"Menjadi tunangan putri tunggal Marquess tak semudah itu. Meski keluarganya menyetujuinya, keluarga kekaisaran tak akan membiarkan begitu saja," pikir Ashlan kala itu.


"Saya tidak mempermasalahkan itu, Nyonya. Anda tidak perlu khawatir, namun saya akan memegang perkataan nyonya Ashlan," balas Ruby sopan.


"Jangan kaku begitu, panggil aku Kakak saja. Kamu membuatku terdengar tua," kata Ashlan sambil menepuk kepala Ruby.


"Saya mengerti… Kak Ashlan."


Setelah itu Ruby pergi meninggalkan rumah itu dengan kertas teleportasi yang mengarah ke menara sihir. Seperti kata Ashlan, ayah Ruby menunggunya disana. Dia marah besar pada orang yang berani menyerang putri tunggalnya. Tentang apa yang terjadi pada Ruby dan keluarganya, akan diceritakan di lain waktu.


"Apa kamu bisa memberiku penjelasan?"


Pertanyaan Ashlan terasa berat. Dia mengucapkannya dengan nada menekan.


"Semuanya seperti yang sudah ku jelaskan di surat," jawab Aqua tanpa tertekan. Aqua sudah sering menghadapi tekanan seperi ini saat dia berhadapan dengan atasannya di kehidupan sebelumnya. Jadi Aqua tidak terlalu terintimidasi dengannya.


Ashlan diam, tak berkata apapun. Namun aura mencekam itu justru bertambah.


"Ha~ah. Maksudmu semua itu, ini?" tanya Ashlan sambil menunjukkan sebuah surat.



Isi surat Aqua hampir tak menjelaskan apapun. Namun Aqua sama sekali tak merasa bersalah, dia sudah terbiasa menulis surat singkat dulu.


"Katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya dari awal sampai akhir!!" seru Ashlan sambil memegang kepalanya karena pusing.


Aqua mematuhi gurunya, dia menerangkan apa yang terjadi dari awal dia bertemu Ruby sampai masternya datang tanpa melewatkan satu hal pun. Ashlan mendengarkan dengan seksama. Semakin didengar, semakin pusing kepala Ashlan dibuatnya.


"Itu maksudmu terjadi begitu saja, huh."


Ashlan berjalan ke arah Aqua. Lalu membantunya berdiri. Setelah Aqua berdiri dengan benar, Ashlan mencubit pipi Aqua ke samping seperti marshmallow.


"Kwan swudwah kwu jwelwaskwan," ucap Aqua tak jelas. ( Kan sudah ku jelaskan )


Ashlan kesal, tapi apa yang sudah terjadi tak bisa di kembalikan.


"Aqua. Apa kamu tau artinya menjadi tunangan Nona Arsilla?" tanyanya capek.


"Sesuatu yang merepotkan pasti akan terjadi," jawab Aqua tanpa ragu.


"Itu kamu tau, meski begitu kenapa kamu menerimanya?"


"Master, aku tidak bisa membiarkan anak sekecil itu dalam bahaya begitu saja."


"Jelaskan!"


".... Master mungkin tidak percaya. Tapi di masa depan, darah vampir dalam dirinya akan mengamuk karena sesuatu. Dan saat itu mengamuk, Putra Mahkota mungkin akan terluka. Jika itu terjadi, gadis itu pasti akan mendapat hukuman berat dari kekaisaran," terang Aqua serius.


Ashlan mendengarkan dengan baik, dia diam dan sibuk memikirkan sesuatu sendiri.


"Darah vampir mengamuk? Itu pasti karena Raja Iblis. Dalam beberapa tahun lagi, kebangkitan Raja Iblis akan datang. Tapi sejauh ini hanya aku dan beberapa petinggi menara sihir saja yang tau, bagaimana Aqua bisa tau itu?"


"Baiklah, aku mempercayaimu. Kamu pasti punya alasan kuat, karena aku tau kamu bukan orang yang berpikiran sempit."


"Master…"


Mata Aqua berbinar-binar, dia tidak menyangka masternya akan mempercayainya. Karena kejadian ini, Ashlan semakin dihormati Aqua.


Entah kenapa Ashlan jengkel dengan binar mata Aqua.


"Rasa kesal apa ini? Anak ini… dia seolah tidak menghormatiku sebelumnya," kesal Ashlan tepat sasaran.


"Karena itu… aku akan melatihmu sihir tingkat Epic dalam 1 tahun. Setelah itu, akan kita bahas nanti," ucap Ashlan.


Aqua mengangguk, "Akhirnya… sihir tingkat Epic," senang Aqua.


"Kita tidak punya banyak waktu. Walau terkesan kejam, aku harus meningkatkan kekuatan Aqua sebanyak mungkin. Mungkin saja… 1 tahun lagi aku tidak akan bisa melatih anak ini lagi. Pekerjaan terkait Raja Iblis tidak bisa diserahkan ke orang lain. Agar aku bisa mengerjakannya dengan tenang, anak ini harus cukup kuat hingga aku tak perlu mencemaskannya."