The Dragon'S Blue Gem

The Dragon'S Blue Gem
(S3) Chapter 152 [ Sistem Poin Akademi ]



Tidak ada murid disana yang dapat menjawab soal dengan benar. Karena dilihat dari manapun, mereka hanya melihat kata "Bunga Hijau" yang memiliki coretan aneh sebagai tambahannya. Coretan aneh yang jadi tambahan itulah yang membuat anak-anak yakin kalau jawaban mereka tidak benar. Dan benar saja, sang guru sudah menyalahkan secara langsung.


Anak-anak ingin menangis rasanya. Karena kelas tambahan di Akademi Mackenzie bukanlah kelas tambahan biasa. Bagi siswa yang pernah mengikuti kelas tambahan, maka poin mereka akan berkurang banyak. Kekurangan poin itu akan memperlihatkan dampak nyata dalam kehidupan akademi mereka. Karena di tempat ini, semakin tinggi poin siswa, semakin baik pula kehidupannya.


"Ha~ahh... mau sampai kapan anda bermain-main, Bu guru?" tanya seseorang.


"!!!"


Pandangan seluruh siswa langsung menuju asal suara itu. Tentu saja termasuk sang guru itu sendiri.


Pemilik dari suara itu, tak lain gak bukan adalah Tuan Putri Elf tercinta kita. Ditengah kebingungan dan keputusasaan itu, sang putri hanya mendesah kesal tanpa sedikitpun kekhawatiran.


"Ohoho... apa maksudmu bermain-main Putri Vittacelar?" tanya sang guru tertarik.


"Jelas anda sedang bermain-main. Yang anda tulis barusan memang aksara kuno, namun itu lebih kuno dari aksara kuno yang diketahui orang-orang. Satu-satunya ras yang masih memiliki pengetahuan tentang aksara kuno itu hanyalah ras yang telah hidup ribuan tahun. Itu adalah aksara kuno para Kynlaus, bukan?"


Kata-kata yang keluar dari mulut sang putri seketika menyadarkan murid lainnya dari kebingungan mereka. Ada diantara mereka yang berasal dari ras berumur panjang, tidak mungkin mereka yang seperti itu tidak memahami aksara kuno yang diwariskan keluarga mereka. Tapi jika itu tetap tidak mereka pahami, artinya aksara kuno itu lebih kuno dari itu. Menyadari itu membuat para murid merasa kesal karena sudah dipermainkan.


"Benar. Itu memang aksara kuno Kynlaus. Terus kenapa?"


"!?"


"Aku memberikan kalian pertanyaan. Kalian akan mendapatkan hukuman kalau tidak bisa menjawabnya. Bukankah itu sederhana?" senyum sang guru.


"Da-Dasar Tirani!!!!"


Aqua kembali menghela napasnya, rasanya sifat guru barunya ini tak jauh berbeda dengan masternya. Itulah yang menganggu perasaannya sedari tadi.


"Saya hanya mengatakan pada anda untuk berhenti bermain-main, karena sepertinya kelas lain telah mulai memperkenalkan para siswanya. Saya tidak pernah mengatakan saya tidak bisa menjawabnya."


Mata sang guru sedikit terbelalak.


"Pfft... ahahahaha... menarik... kamu memang menarik... pantas saja Nyonya tiba-tiba berubah pikiran."


"?"


"Baiklah, jawablah. Kalau kamu benar, bukan hanya kelas ini bebas dari kelas tambahan. Aku juga akan menambahkan 50 poin untukmu," ucap sang guru begitu tawanya selesai.


"50 Poin!!!???? Masih hari pertama dapat 50 poin!!???? Bukankah ini rekor tercepat!!???" batin teman sekelas Aqua kaget.


"50 poin ya... itu lebih banyak dari yang kukira. Boleh juga," pikir Aqua.


⟨ Sistem Poin ⟩


Akademi Mackenzie memiliki apa yang disebut sistem poin. Poin ini disimpan dalam bentuk sebuah gelang biru muda yang terpasang di tangan mereka sejak awal masuk akademi. Masing-masing siswa baru memiliki 100 poin pada awal masuk mereka. Poin dapat bertambah dan berkurang dari tindakan mereka sehari-hari selama mereka hidup di akademi. Ditempat ini, semua bergantung pada poin. Setiap semester, anak-anak harus memiliki minimal 500 poin dan kelipatannya (Sem 1 500 poin, Sem 2 1000 poin, dsb). Jika para siswa tidak memenuhi standar poin, maka akan di DO dari akademi.


Ditempat ini, poin adalah nyawa mereka. Hidup mereka bergantung pada poin. Barang-barang kehidupan sehari-hari sampai makanan mereka tidak disediakan gratis oleh akademi. Mereka harus membelinya dengan poin, baik di akademi maupun di Kota Siesta. Poin juga dapat diperjualbelikan ataupun dipinjamkan, namun jarang ada transaksi seperti itu mengingat uang tidak berguna di akademi.


"Jadi? Apa jawabanmu, Putri Vittacelar?"


Aqua mengambil jeda sejenak sebelum bangkit dari kursinya dan berjalan menuju papan tulis. Dia menulis beberapa huruf yang mirip namun berbeda dari yang ditulis sang guru. Kata-kata yang ditulis Aqua mendapatkan sambutan positif dari teman sekelasnya, pasalnya yang dia tulis adalah huruf sebenarnya dari "Bunga Hijau" dalam bahasa kuno yang mereka tahu.


"...... Jawaban 'Bunga Hijau' yang disebutkan sebelumnya tidaklah salah. Hanya saja itu kurang tepat. Bahasa kuno yang diketahui kebanyakan ras adalah bahasa kuno yang telah diperbarui hingga menjadi lebih sederhana. Sedangkan bahasa kuno para Kynlaus lebih rumit dan banyak coretan."


Aqua mulai menjelaskan jawabannya selayaknya sedang presentasi.


"Kata yang anda tulis sedikit berbeda dengan Amani Khadrn yang artinya 'Bunga Hijau'. Meski sedikit rumit, sebenarnya cara membacanya tak jauh berbeda. Yang tertulis di papan tulis itu dibaca 'Khadra Zyon Amanee'."


"Yang memiliki arti Amanee Putri Khadra. Kalau menyesuaikan istilah jaman sekarang, bisa juga disebut Amanee Khadra dimana Khadra adalah sebuah marga. Dengan kata lain, yang ibu tulis di papan tulis adalah nama ibu sendiri, apa saya salah?"


Kelas menjadi hening begitu Aqua selesai menjelaskan. Sebenarnya sang guru tak menyangka Aqua akan benar-benar bisa menjawabnya meski dia sudah memperhitungkan kemungkinan itu. Senyuman lembut yang sempat menghilang itu kini kembali lagi. Tapi kali ini, bukanlah senyuman palsu yang dipasang sebagai topeng. Melainkan senyum tulus dan kagum pada anak muda yang menyelesaikan pertanyaan yang bahkan guru lain belum tentu bisa menjawabnya.


"Kamu benar."


"Wa-WAAAHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!"


Para murid menjerit kegirangan hanya karena dua kata itu. Kini mereka terbebas dari kelas tambahan dan pengurangan poin berkat sang putri Elf. Sorakan yang memekikkan telinga telah bergema ke penjuru kelas. Sepanjang Aqua berjalan kembali ke kursinya, puluhan rasa terimakasih tertuju padanya. Himawari dan Clelia yang juga berada di kelas itu ikut mengangumi sosok sang Putri Elf tersebut.


Sama senangnya dengan para murid, sang guru menghapus papan tulis itu dan menulis namanya lagi dengan aksara Demetria modern yang diketahui semua orang.


"Biarkan ibu memulai perkenalan diri yang terlambat ini. Nama ibu Amanee Khadra, ibulah pengajar utama Divisi Healing Magic tahun ini. Senang berjumpa dengan kalian, wahai murid-murid ibu yang baru," senyum Bu Amanee lembut.


"Yah, dari awal ibu tidak berniat memperkenalkan diri seperti ini dan tidak berniat mengadakan kelas tambahan meski kalian semua gagal kok. Semua ini terjadi berkat saran seseorang, menjahili para murid seperti ini bukanlah tipe ibu. Tapi sepertinya ibu sedikit berlebihan ya?"


"BANGETTTT!!!!!!!"


"Jangan khawatir, karena saran seseorang itu, yang mengalami hal-hal semacam ini bukan hanya kalian. Kelas lain juga mengalaminya. Bahkan ibu bisa mengatakan dengan percaya diri kalau ibu adalah yang paling mending."


"Eh?! Itu mending!!?"


"Lalu seperti janji ibu, murid yang berhasil menjawabnya akan mendapatkan 50 poin."


Bu Amanee menjentikkan jarinya, disaat yang bersamaan gelang Aqua bersinar redup. Angka yang tertulis didalamnya berubah dari 100 menjadi 150. Hal ini benar-benar membuat semua orang iri sekaligus kagum. Karena baru hari pertama, Aqua sudah mendapatkan tambahan poin yang cukup besar.


Ketika para murid terlalu fokus pada Aqua dan penambahan poinnya, sang guru diam-diam menyeringai misterius.


"Heh... jadi dia ya murid Nyonya Vashlana. Aku hanya berniat menghancurkan harga dirinya sedikit, tak kusangka dia bisa menjawabnya dengan benar. Dan kukira dia datang sebagai perempuan itu hanya rumor... pfft... benar-benar anak yang menarik."


"Ayo kita pantau anak ini lebih lama lagi, Vera."