
AQUA POV
Seluruh tubuhku sakit. Aku bahkan tak bisa menggerakkan seujung jaripun. Tidak, bahkan membuka mata saja rasanya berat.
Benar...
Aku terjatuh dari lantai 25...
Sensasi ini berbeda dengan saat aku mati di kehidupan sebelumnya. Jadi begitu... entah bagaimana aku masih hidup. Masih hidup pun apakah aku bisa bertahan?
Ini lantai berapa...
Monster di lantai ini pasti lebih kuat. Kalau begini terus, aku benar-benar bisa mati. Mati? Memangnya kenapa? Apa yang akan terjadi kalau aku mati? Apa akan ada yang berbeda?
Tidak ada yang akan berubah...
Bertahan hidup disini bukan berarti akan bertahan dari monster di lantai ini.
"KALAU KAKAK MATI DULUAN, AKU AKAN BENCI KAKAK!!!!!"
!!
Sebuah ingatan tiba-tiba terlintas di benakku. Seorang gadis berambut hitam panjang dan mata berwarna hitam menangis dengan kerasnya. Kenapa? Kenapa hatiku sakit mengingatnya? Aku bahkan tak kenal siapa dia, tapi kenapa ingatan itu seperti sebuah belenggu yang memaksaku tetap hidup apapun yang terjadi?
Sial!!!
Setidaknya berikan aku penjelasan!!!!
Sebenarnya dari mana kesalahan ini dimulai??
Sejak aku masuk dungeon?!
Sejak aku bertemu Turquoise?!
Sejak aku datang ke Kerajaan Vittacelar?!
Atau sejak aku meninggalkan panti asuhan?!
Ukhhh!!! Aku tau itu!!!! Kesalahanku dari awal adalah karena kenaifanku sendiri!!! Kalau aku tidak naif, aku tidak akan kehilangan orang yang berharga bagiku!
Orang yang berharga?! Kak Rin!!!!!
Bagaimana keadaan kakak?!!
Aku harus bangun sekarang! Aku tidak peduli kalau aku yang terluka. Tapi aku harus bagaimana kalau kakak yang terluka?!!!
Bangun!!!!!!
Bangun!!!!!!
Kubilang bangun sialan!!!!!!
NORMAL POV
TESS TES TESSS
"Hmm? Apa ini? Aku merasa ada air yang membasahi wajahku. Apa ada sumber air di atasku?"
"Apa kamu baik-baik saja?" ucap seseorang lirih. "Syukurlah kamu tidak terluka..."
Mata yang tadinya sangat berat dan sulit terbuka seketika terbelalak begitu mendengar suara yang tak asing itu.
Air mata yang sudah lama tak keluar, mengalir dengan derasnya. Ekspresi Aqua langsung memburuk dengan cepat.
"KAKAK!!!!" jerit Aqua panik.
Citrine menatap Aqua dengan pandangan yang mulai mengabur. Darah menetes dari kepala dan tubuhnya. Sembari menahan rasa sakit luar biasa, gadis itu tersenyum hangat pada Aqua.
"Aku minta maaf atas apa yang terjadi pada Kak Turky. Itu pasti pengalaman buruk untukmu, bukan?" kata Citrine.
Aqua menggeleng dengan kuat.
"Tidak!!! Itu bukan salah kakak!! Kenapa justru kakak yang minta maaf!!!"
"Bukan itu!!!! Menyingkir Kak!!!!!! Pergi dadi hadapanku sekarang!!!!" jeritnya sekuat tenaga dengan nada yang memilukan.
Citrine benar-benar sudah tak bisa melihat sekarang.
"Hahaha... apa kamu mengusirku?"
Aqua menggigit bibirnya hingga berdarah.
"Kakak tau maksudku, kan!? Menyingkir sekarang juga!!!!!!"
"Tidak bisa..."
"Setidaknya... aku ingin kamu punya seorang kakak yang bisa kamu panggil kakak..."
Tubuh Citrine gemetar, meski wajahnya tersenyum, Aqua bisa langsung tau kalau dia menahan sakit.
Aqua mencoba menggerakkan tubuhnya sebisa mungkin. Namun karena efek kehabisan mana 3x, tubuhnya tidak bisa bergerak sementara.
"Bergerak sialan!!!! Aku mohon... aku... mohon... kali ini saja..."
Air mata Aqua tak mau berhenti. Dia tak tahan dengan situasinya sekarang. Di atas tubuh kecilnya yang terbaring, Citrine meringkuk melindungi Aqua dari sebuah batu raksasa yang ikut terjatuh. Dan bukan hanya itu, benda tajam seperti cakar menusuk dadanya dan batu di atasnya hingga berlubang. Namun ironisnya, berkat Citrine yang seperti itu, Aqua sama sekali tidak tertindih maupun tertusuk cakar besar itu.
"Aku mohon... siapapun... aku mohon... tolong keluarkan kakak dari sini..." tangisnya.
"Padahal kakak bisa pergi saja... Kenapa malah melindungiku?!!!!"
Dengan matanya, Aqua bisa tau kalau HP Citrine terus menurun dengan cepat. Kalau begini terus, kakaknya bisa mati.
"..... Kamu menanyakan pertanyaan bodoh."
"Kau tau Aqua... aku selalu ingin punya adik dari dulu. Jadi saat kamu datang hari itu, aku sangat bahagia. Aku berjanji pada Dewi di waktu yang sama... Karena Dewi telah mendatangkanku adik... maka sebagai kakak... aku akan melindunginya..."
Air mata Aqua mengalir semakin deras. Seharusnya Citrine masih memiliki sisa mana dalam tubuhnya yang bisa dia gunakan untuk menyelamatkan diri. Tapi gadis itu menggunakan semua mana miliknya, bahkan sampai daya hidupnya untuk melindungi dan menyembuhkan Aqua.
"Tidak... aku tidak mau ini... jangan... jangan tinggalkan aku, kakak..."
Ekspresi yang seperti itu belum pernah dikeluarkan Aqua sejak ibunya meninggal dulu.
Tanpa melihat pun, Citrine bisa tau bahwa adiknya sedang menangis. Dia tak bisa menghentikan tangisan adiknya dengan kekuatannya yang sekarang. Gadis itu hanya bisa tersenyum hangat agar Aqua merasa mendingan. Namun senyuman itu justru semakin menusuk hati Aqua.
"Bukankah... kamu anak yang pintar dan tenang? Kalau itu kamu... harusnya kamu tau... bahwa kamu lebih harus selamat..."
"Tidak mau!!! Aku tidak mau selamat sendirian!!! Kita harus keluar dari dungeon ini bersama!!!! Lalu... lalu... bersama denganku... dan yang lainnya... bersenang-senang sampai bosan..." tangis anak itu.
"Jangan tinggalkan aku sendirian..."
"....."
Citrine sudah tau kalau waktunya tak banyak lagi. Meski dirinya dan Aqua sama-sama bisa menggunakan sihir penyembuh, lukanya terlalu parah sekarang. Dadanya berlubang, kepalanya hampir pecah, tubuh bagian bawahnya sudah hancur tertimpa bebatuan, ditambah ada racun di cakar yang mulai menyebar ditubuhnya. Jika lukanya separah itu, hanya sihir tingkat Legend ke atas yang bisa menyembuhkannya.
"Kamu tidak akan sendirian... kamu itu... adalah anak yang ceria dan hangat... dimanapun kamu pergi... kamu selalu bisa menemukan teman baru... yang akan selalu disamping mu..."
Padahal Citrine sudah menahan air matanya sekuat tenaga, namun dia masih tak bisa menahannya jatuh hingga membasahi pipi Aqua.
"Ah... padahal aku... ingin melihat masa depanmu yang... seperti itu..."
Walau mata Citrine basah akibat tangisan, mulutnya selalu tersenyum.
Tangisan Aqua semakin menjadi-jadi. Anak itu sudah mencoba Mana Coercion beberapa kali dari tadi. Tapi sepertinya 3x adalah batasannya. Meski dipaksa bagaimanapun juga, mana tak lagi masuk dalam tubuhnya.
"Kakak bisa!! Kakak pasti bisa melihatnya bersamaku!! Bertahanlah!!! Aku pasti akan menyembuhkan kakak!!!!"
Aqua marah. Marah pada dirinya sendiri yang tak bisa melakukan apa-apa saat orang yang disayanginya terluka.
"Tidak perlu memaksakan diri... tubuhmu bisa rusak kalau lebih dari ini... Aku mohon Aqua... hanya dirimu... meski hanya dirimu... tolong bertahan hiduplah..."
"Tidak mau!!!"
".... Tolong sampaikan pesan terakhirku pada ibu..."
"Tidak mau!! Katakan saja sendiri!!!!!"
"Bilang padanya... aku... tak menyesal karena berhasil menyelamatkanmu..."
Air mata Aqua sudah tak bisa di hentikan lagi. Itu mengalir deras seolah sudah tertahan sangat lama.
Mata Citrine yang sudah membuta mulai tertutup. Gadis itu menunduk sedikit dan menyium kening Aqua dengan kehangatan terakhirnya.
"Tolong... hiduplah dengan bahagia... aku... menyayangimu... adikku..."
Sembari meninggalkan senyum hangatnya, Citrine menghembuskan napas terakhir tepat didepan Aqua.
"KAKAKKKK!!!!!!!!!!!"
"WWWUUUUUUUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"
"AHHHHHHHHHH..... KAKAK!!!!!!!"
Jeritan Aqua terdengar sangat menyesakkan Hati. Siapapun yang mendengar atau melihat kejadian ini pasti akan ikut merasa sesak dan sakit terhadapnya.
Aqua belum pernah menangis sehisteris ini sebelumnya. Bahkan sampai air matanya habis dan berganti dengan darah, tangisan menyakitkan itu tak berhenti. Meski suaranya mulai menghilang dan membuatnya batuk darah. Jeritan memilukan itu sama sekali tak memelan.
Rasa shock dan putus asa akibat pengkhianatan dan kesedihan kehilangan anggota keluarga telah merusak akal sehat anak itu.