
(Ilustrasi Medusa from google)
"Ini terlalu gila! Apa aku mencoba melawan monster yang sekuat master?"
Aqua membentuk kuda-kuda bertahan. Menyerang monster yang jauh lebih kuat darinya adalah tindakan bunuh diri. Tidak, bahkan berada di sana sekarang sudah bunuh diri.
"Trik kecil yang biasa kulakukan tidak akan mempan melawan makhluk yang jauh lebih kuat dariku. Sekarang bagaimana? Berpikirlah Aqua!!"
Medusa tidak menyerang Aqua begitu dia melihatnya. Dia duduk di sofa panjang yang terlihat mewah sambil mengamati pergerakan Aqua.
"?"
"Kenapa dia tidak menyerang? Jangan-jangan..."
"Dia meremehkanku. Memang baginya aku cuma serangga numpang lewat, itu bagus untukku."
"Medusa tak akan menyerang sebelum aku menyerang, aku harus memanfaatkan kesempatan ini!"
Aqua terdiam memikirkan rencana mengalahkan Medusa.
"Aku tak tau seberapa mirip monster dunia ini dengan mitologi Yunani dari duniaku. Beberapa memang mirip, makanya aku bisa memahami mereka berkat pengetahuan itu."
"Pahlawan Perseus membunuh Medusa dengan membawa perisai yang seperti cermin dan memenggal kepala medusa, demikian lansiran situs mitologi Yunani. Tapi memangnya dimana aku bisa dapat benda semacam itu?!"
Tidak peduli rencana apapun yang Aqua pikirkan, semuanya berujung kegagalan maupun tingkat kematian ekstrim. Berhubung Medusa sama sekali tak menggubrisnya, Aqua memutuskan untuk mundur sementara. Boss lantai tak bisa meninggalkan areanya, jadi selama Aqua tak memasuki area boss, dia tidak akan mati.
"Sebenarnya kenapa hidupku penuh masalah, sih! Apa Dewi membenciku?!" kesal Aqua.
Aqua bersandar di dinding dungeon, sambil menunggu ular-ular tadi respawn. Dalam dungeon, setiap monster yang dikalahkan akan muncul kembali setiap 6 jam. Lebih tepatnya, selama inti dungeon masih ada, monster akan terus bermunculan.
Aqua duduk termenung memikirkan banyak hal. Mulai dari kejadian-kejadian yang dia alami sejak pergi dari panti asuhan, sampai setiap kenangan yang dia buat dengan teman-temannya.
"Apa yang terjadi dengan Lix dan Yue? Mereka tidak ada hubungannya dengan Keluarga Kerajaan, jadi seharusnya bajingan itu tidak akan langsung membunuh mereka," gumam Aqua.
"Tapi pasti mereka juga ikut mengalami hal buruk..."
"Siapapun itu... aku mohon... tolong lindungi mereka sampai aku kembali..."
{ Bocah! Sepertinya kamu masih hidup, ya? }
"!!"
Aqua langsung menoleh ke asal suara itu. Suara nyaring yang tak asing didengarnya. Meski Aqua menoleh kesana kemari, tak ada siapapun didekatnya.
"Aure??!! Apa itu kamu?!!" jerit Aqua.
{ Memangnya siapa lagi kalau bukan aku? }
"!! Dimana kamu?!!"
{ Kamu sekarang tak bisa melihatku, bocah. Bahkan peri sekalipun, memasuki dungeon akan berbahaya. Jadi dengan bantuan Nona Zephyr, aku hanya bisa mengirim kesadaranku untuk mencarimu }
{ Bersyukurlah karena dengan hanya kesadaranku saja, aku bisa sampai ke sini dengan cepat }
Nada sombong yang selalu meninggikan diri itu membuat Aqua merasa lebih tenang.
"Iya... aku bersyukur bisa bicara denganmu, Aure," ucap Aqua penuh kelegaan.
Blusshh
{ Me-meski kamu bilang gitu, aku gak senang loh! }
"Aku tau kok."
{ Ah... aku hampir lupa. Dengarkan aku baik-baik! Mengirim kesadaranku seperti ini cukup sulit, jadi waktuku tidak banyak. Aku akan memberi tau informasi penting yang harus kamu tau }
"!"
"Tolong, Aure!"
{ Aku harus mulai darimana ya... benar! Kamu tidak perlu mengkhawatirkan dua temanmu itu. Nona Zephyr sudah menyelamatkan mereka sebelum mereka di hukum penggal }
"Hukum penggal?!! Bajingan itu!!!!!"
{ Lalu... kamu tidak perlu tergesa-gesa keluar dari sini }
"Kenapa? Bukankah keluar lebih cepat lebih baik?"
{ Ini sulit Aqua. Situasi sekarang sedang berat. Sejak pengkhianatan di perang, banyak korban berjatuhan. Namun parahnya, para korban itu justru membakar semangat yang lain. Selain itu, kekaisaran dan kerajaan di seluruh dunia sedang mencari Sang Pahlawan karena Wahyu yang turun di Benua Suci }
"Pahlawan? Pahlawan ya..."
"Ada lagi?"
{ Dasar tidak sabaran. Tadi aku bilang kalau kamu tak perlu tergesa-gesa, kan? Ada alasan lain lagi }
"Alasan lain?"
{ Benar! Perbandingan waktu! Waktu dalam dungeon dan waktu di dunia nyata berbeda. Waktu dalam dungeon lebih cepat berjalan dari luar. 1 jam di dunia nyata sama seperti 1 hari di dungeon }
"1 jam sama saja 1 hari?! Kalau gitu... aku baru disini sekitar 2 hari aja?!" kaget Aqua.
{ Iya! }
{ Ahh!! Waktuku sudah habis. Aku akan bicara denganmu nanti lagi. Oh ya, apa ada yang ingin kamu sampaikan pada teman-temanmu? Aku akan membantumu kali ini }
"Terimakasih! Kalau begitu, tolong katakan pada mereka. 'Tak perlu mengkhawatirkanku! Fokus saja pada misi kalian sebagai Raven! Aku akan segera kembali' Tolong sampaikan itu."
{ Oke! Sampai jumpa lagi Aqua!! }
"Ya! Sampai jumpa lagi Aure."
Suara nyaring dan bising itu menghilang bersamaan dengan senyuman Aqua.
Anak itu menghela napas dan merenung sambil menatap langit-langit.
"Pahlawan, huh..."
"Di Dragon Wings, pahlawan hanya muncul sejenak dalam cerita utama. Rute Pahlawan adalah spesial rute. Tidak seperti rute tersembunyi Aquamarine, rute pahlawan spesial karena genrenya berbeda. Pemain bisa memilih pahlawan sebagai laki-laki atau perempuan. Tergantung pilihan pemain, maka genre rute akan berbeda."
"Genre rute pahlawan adalah... BL dan GL. Itulah sebabnya aku tak terlalu tau tentang rute pahlawan... Tiara tidak terlalu suka genre itu, jadi anak itu tidak memainkannya."
"Sekarang ini... apa gender sang pahlawan?"
Renungan Aqua diputuskan dengan kemunculan ular-ular berlevel tinggi yang sebelumnya Aqua kalahkan. Anak itu menatap mereka dengan tatapan sinis dan jijik serta tersirat kemalasan juga.
"Yasudah lah... lagipula aku sudah menyerahkan urusan sang pahlawan ke Kak Vira dan Vina. Sekarang aku hanya harus fokus dengan yang ada didepanku..."
Aqua memutar lengannya hingga berbunyi. Dengan dagger yang hampir rusak, anak itu bersiap membantai setiap dari mereka dan terus leveling sampai levelnya mendekati Medusa.
"Ahh... ahh... padahal aku tidak suka daging ular. Sepertinya dalam beberapa tahun, aku hanya akan makan daging ular sampai indra perasaku rusak," keluhnya.
...***...
{ Itulah yang disampaikan bocah itu. Karena permintaannya sudah kulakukan, sekarang aku akan pulang }
Aure datang dan pergi tiba-tiba tanpa pemberitahuan apapun. Kepergiannya membuat dua wanita serigala terdiam dan kebingungan.
Sang adik mendecak lidahnya.
"Master kita... padahal kita berencana menyelamatkannya. Tapi sepertinya dia tidak perlu bantuan."
"Kau benar. Sampai menyuruh kita fokus pada misi saja... terlebih lagi memakai peri sebagai perantara, beliau memang menakjubkan," puji sang kakak.
"Tapi aku benar-benar bersyukur... saat mendengar kabar kematiannya, aku sampai kehilangan akal sehat dan ingin segera membunuh baj*ngan sialan itu," ucap Elvina lega.
"Di bagian itu kita sama. Kalau bukan karena master yang sepertinya ingin membunuhnya sendiri, aku pasti sudah pergi ke Kerajaan Vittacelar dan memporak-porandakan tempat itu," balas Elvira setuju.
Mereka mengobrol dengan santai meski sedang dalam situasi yang menegangkan. Kedua wanita kembar itu sedang ditengah-tengah perkelahian. Mereka berdua di keroyok ratusan orang yang terlihat kekar. Namun sedari awal, perkelahian itu sudah berat sebelah. Perbedaan level mereka dengan si kembar terlalu jauh. Daripada perkelahian, lebih pastas kalau dibilang pembantaian.
"Oh iya, kakak. Bagaimana dengan misimu? Apa kakak sudah menemukan sang pahlawan?" tanya Elvina sambil menebas orang-orang.
"Ahh... sudah. Master itu luar biasa. Disaat orang-orang sibuk mencari sang pahlawan, beliau sudah menemukan lokasi pasnya dan memintaku membawanya," jawab Elvira dengan darah di sekujur tubuhnya.
"Bagaimana dengan misimu sendiri? Kita harus segera memindahkan sang pahlawan ke tempat yang aman."
"Kakak tidak perlu khawatir. Dengan uang yang sudah kita kumpulkan sesuai arahan Master Aqua, aku sudah membeli tanah pribadi yang diinginkannya. Segera kita bisa memindahkan pahlawan dan adiknya ke sana."
Elvina menyeringai senang.
"Master hebat banget!! Bagaimana dia bisa tau adik sang pahlawan yang sedang sakit dan apa obatnya? Ditambah dengan cara menyembuhkan adiknya dan merawat mereka sebentar, loyalitas sang pahlawan sudah berada di genggaman Raven!!"
Elvina memuji dengan semangat di mulutnya bersamaan dengan tangannya yang mengambil banyak nyawa. Elvira juga sama saja, dia terus menyetujui pujian yang dilontarkan adiknya.
"Tentu saja!! Master kita yang terbaik!!"
"Unn!! Aku bersyukur master kita adalah Aqua, kak!!!"
Elvira tersenyum senang.
"Kalau begitu... kita harus segera menyelesaikan ini dan lanjut ke misi selanjutnya!!"
"Oke!!!"