
Pemandangan indah di tengah danau. Danau dan langit seolah menyatu membentuk harmoni yang menyejukkan mata. Di tengah-tengah itu semua, seorang gadis perempuan berdiri dan tersenyum hangat padaku.
"Kakak!" jeritnya senang.
Aahh… perasaan rindu macam apa ini?
Aku segera berlari dan memeluk anak itu seerat mungkin. Wajah cantik yang kupikir tak akan bisa kulihat lagi muncul di hadapanku.
"Kenapa kamu bisa ada disini? Apa ini mimpi?! Tidak, bahkan jika ini mimpi, tolong biarkan aku begini lebih lama."
Mataku tak kuasa menahan tangis begitu melihatnya.
Aku mengenalnya, gadis kecil riang ini…
Gadis itu membalas pelukanku, dia juga menepuk-nepuk punggungku hangat. Kukira tangan kecilnya itu benar-benar tak akan bisa menyentuhku lagi.
"Kakak ini! Udah besar masih cengeng," ejeknya dengan senyum lebar.
Aku tak peduli! Aku tak peduli semua orang mengejekku sekarang. Setelah aku mati kala itu, tak pernah sekalipun aku tidak memikirkan gadis ini.
"Apa kakak hidup dengan baik di kehidupan ini?" tanyanya.
"Iya… aku hidup dengan baik. Jangan khawatir! Bagaimana denganmu?"
"Aku juga!!"
Gadis itu melepas pelukanku dan berjalan sedikit menjauh.
"Hei! Aku bukan kesini hanya untuk menanyakan kabarmu. Ada hal penting yang harus kakak tau!"
"?"
"Apa itu sangat penting?"
"Tentu! Kalau tidak kenapa aku jauh-jauh, menemuimu?!"
Hal penting? Apa bahkan dalam mimpiku, aku tidak dapat berdua lebih lama bersamanya? Apa hal itu sepenting itu?
"Kak! Waktuku tidak banyak! Aku hanya akan mengatakan ini sekali, dengar baik-baik!!" serunya.
Tunggu!! Kalau waktumu tidak lama, kenapa kamu tidak menghabiskannya bersamaku saja?
"..... Baiklah, aku mengerti. Katakan saja, Tiara."
Argh, ucapanku benar-benar terbalik dengan yang kupikirkan.
"Bagus! Kak, kebangkitan Raja iblis sudah dekat. Kamu tidak boleh membiarkan Raja Iblis bangkit!!!" pintanya.
Tubuhnya perlahan mulai memudar dan menghilang. Tidak! Jangan! Aku baru saja bertemu denganmu!!!!
"Tolong… kak! Ini… demi…"
Tubuh bagian bawahnya sudah benar-benar hilang, tinggal menunggu waktu sampai bagian atas ikut menghilang.
"Apa maksudmu? Kenapa Raja Iblis ada hubungannya denganku?!!"
Tanganku mencoba menggapainya, namun tubuhnya seolah tertarik ke atas dan perlahan menghilang.
Gadis itu tersenyum pahit saat melihatku.
"Demi… aku dan… Airella…"
Perkataannya berhenti di situ. Tubuhnya sudah benar-benar tidak ada lagi. Aku tertunduk, sempat merasa putus asa.
Sadarlah!!!
Aku meninju wajahku sendiri. Jika ini bukan sekedar mimpi, berarti perkataan Tiara ada maknanya. Aku harus mencari tau itu. Apa hal penting sampai adikku rela jauh-jauh datang menemuiku.
Tenang saja, Tiara. Kakak akan mengabulkan keinginanmu.
Aku pasti akan mencegah kebangkitan Raja iblis!!!
.
.
.
.
.
Perlahan mataku terbuka, rasa lembut menghampiri tubuhku. Aku ingat, sepertinya aku tidur di atas ekor Elvira. Kelihatannya Elvina juga berubah wujud jadi fenrir, ekor mereka menyelimutiku agar aku tidak kedinginan di tempat terbuka.
Kugerakkan tubuhku pelan-pelan agar tak membangunkan mereka. Kami bermalam di bawah pohon yang tak jauh dari jalan utama. Matahari sudah mulai terbit dan memancarkan sinarnya. Indah…
"Hmm? Aqua, kapan kamu bangun?" kata Elvira sambil mengucek matanya.
"Baru saja. Apa aku membangunkan mu?"
"Tidak, aku bangun sendiri kok."
Elvira berubah wujud menjadi manusia serigala. Dia merentangkan tangannya ke atas dan sedikit melakukan peregangan.
"Setelah Elvina bangun dan kita sarapan. Ayo melanjutkan perjalanan!" serunya.
"Tentu!"
Aku tersenyum, Elvira dan Elvina menginginkanku dengan kakak perempuanku di kehidupan sebelumnya.
"Hahhh… hahh… hah…"
Seorang wanita cantik terbangun dari tidurnya. Wajahnya terlihat sangat sedih dan tertekan. Matanya basah karena air mata.
"Kenapa? Akhir-akhir ini aku selalu bermimpi aneh…"
"Kenapa hatiku sampai sesakit ini… Biasanya aku tidak seperti ini. Rasanya… seolah aku kehilangan sesuatu… sesuatu yang sangat berharga."
Wanita itu mengacak poninya agak kasar. Tatapan tersiksa itu bisa membuat siapapun yang melihatnya iba.
Wanita itu mengambil minuman tak jauh darinya. Dia meminumnya pelan-pelan.
"Sejak lahir aku memang selalu merasa ada yang kurang dari diriku. Tapi tak pernah sampai separah ini. Bukan, rasanya yang hilang ini berbeda."
TOK TOK TOK
KRIEEEEEETTTT
Pintu terbuka, menampakkan seorang wanita berambut putih kelabu.
"Michael, ini sudah saatnya."
"......"
Wanita itu berbalik dan mengambil jubahnya dengan cepat.
"Aku mengerti. Ayo pergi Rafhael!!"
"Tidak ada waktu untuk memikirkan itu. Perang sudah mau dimulai."
...***...
Setelah makan sarapan bersama. Aqua, Elvira dan Elvina kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka menaiki tubuh Elvina. Karena mereka sudah mulai mendekati pemungkiman, Aqua mengubah warna rambutnya menjadi coklat gandum.
Meski terlihat tenang dan santai, Aqua masih memikirkan mimpinya tadi.
"Mencegah kebangkitan Raja iblis ya… sejujurnya aku tak terlalu peduli pada Raja Iblis dan pahlawan. Tapi karena Tiara yang memintanya… akan kulakukan sesuatu."
"Justru yang menggangguku itu adalah orang yang bernama Airella."
Aqua menepuk pelan punggung Elvina.
"Kak Vina, Kak Vira, apa kalian mengenal seseorang bernama Airella?"
Elvira dan Elvina tersentak mendengarnya. Mereka diam dan saling memandang, bingung harus menjawab apa. Akhirnya Elvira angkat bicara.
"Dibilang kenal… lebih seperti kami hanya tau saja," jawabnya tak yakin.
"?"
"Airella… wajar kalau manusia tidak mengenalnya. Nama itu sudah lama hilang sejak ratusan tahun lalu. Umm… pertama, kamu pasti tau Dewi Athena, kan?"
"Tentu saja! Lagipula beliau kan satu-satunya Dewi Demetria, dunia ini."
"Iya, Airella itu adalah anak perempuan Dewi Athena."
"?!"
"Anak perempuan Dewi Athena? Dewi Athena punya anak?!" kaget Aqua.
"Punya, Dewi punya anak kembar laki-laki dan perempuan. Nama anak kembar itu adalah Aidan dan Airella," balas Elvira.
"Kamu akan tahu jelasnya nanti. Ras Elf menurunkan legenda terbentuknya dunia pada generasi mudanya, jadi kamu pasti akan mendengarnya nanti," lanjutnya.
"Baiklah… terimakasih."
Elvira mengangguk dan tersenyum hangat. Rasa penasaran Aqua sama sekali tidak terhapuskan mendengarnya, dia justru tambah penasaran.
"Kenapa Tiara bisa tau nama Airella? Sebenarnya apa yang akan terjadi? Gadis itu menyuruhku menghentikan kebangkitan Raja iblis demi dirinya dan Airella. Apa hubungannya dengan semua ini? Tiara… sebenarnya apa yang kamu tau?" pikir Aqua bingung.
"Semakin dipikirkan, dunia ini semakin aneh. Aku sudah tidak percaya kalau tempat ini adalah dunia game. Dewi, Raja Iblis, Malaikat, dll… cakupan mereka semua terlalu besar untuk sekedar dunia game. Aku akan lebih percaya kalau Dragon Wings lah yang meniru dunia ini. Mengingat aku bisa bereinkarnasi, apa seorang reinkarnator dari dunia ini pergi ke duniaku dan menulis kisahnya menjadi game? Itu lebih masuk akal."
"Apalagi aku juga tidak tau perbandingan waktu antara bumi dan demetria."
"Aqua!!!"
Panggilan Elvina membangunkan Aqua dari pikirannya.
"Kita sudah sampai!" ucapnya riang.
Aqua sedikit terpana melihatnya. Dia sudah mendatangi berbagai tempat sebelumnya. Tapi tempat ini berbeda dari semua itu. Kota Perdagangan, Aranyu adalah kota mandiri yang tidak berada dalam wilayah kekuasaan siapapun. Kota ini adalah kota besar yang berfokus ke perdagangan. Ratusan ras bercampur di dalamnya, jika di kota yang sebelumnya Aqua datangi masih banyak manusianya, kota ini benar-benar tercampur aduk antara semua ras.
Aqua, Elvira dan Elvina saat ini berdiri di bukit yang tak jauh dari sana. Dari jauh sekalipun kota itu terlihat luar biasa. Karena banyaknya pedagang berkumpul di satu titik, kemajuan kota itu sangat pesat dibanding kota biasa. Terlepas dari disini adalah benua sihir, yang mengunjungi tempat itu adalah orang dengan macam-macam pekerjaan.
Elvina berubah menjadi Beastskin, lalu mereka berjalan bersama menuju gerbang masuk Kota Aranyu. Tak seperti kota-kota yang pernah didatangi Aqua, tak ada penjaga yang menjaga di gerbang. Siapapun boleh masuk dan keluar dari sana, meski kriminal sekalipun. Namun karena setiap gedung memiliki penjaganya sendiri, kota ini menjadi salah satu kota teraman.
.
.
.
.
.
[ Sudah gak error, kan? ]